
Serasa sudah lama sekali Felix tidak menyebut nama Cain. Bukan hanya pada Cain tapi menyebut nama Cain pun, Felix rindukan.
Kedatangan Cain menandakan bahwa dia terus saja memeriksa masa depan yang selalu Cain dan Felix khawatirkan itu. Mungkin sudah berulang kali Cain periksa sehingga tiba saatnya pilihan di masa kini berubah, ikut merubah masa depan juga.
Selama ini masa depan itu perlahan mulai menjadi lebih baik seiring apa yang dilakukan Felix di masa kini. Semakin hari Felix yang menambah pengetahuan dan kekuatanya berkembang membuat masa depan itu perlahan bisa teratasi.
Tapi setelah Felix menyetujui menunda pencarian Balduino ternyata langsung merubah apa yang terjadi di masa depan. Selama ini Felix tidak terlalu tetarik mengikuti apa yang diinginkan Mertie itu tapi ternyata lama kelamaan hatinya tergerak juga dan merubah masa depan dengan pilihannya itu.
Cain yang sedang dalam tahap pemulihan dan terus malu dengan penampilannya terpaksa harus menemui Felix untuk meminta informasi tentang keberadaan Roh Balduino. Padahal Cain sudah susah payah menjauhkan Felix agar tidak mendatanginya di saat harga dirinya berada di dasar saat ini.
Setelah bertemu Cain, Felix kembali ke Mundclariss, bergabung dengan Tan, Teo dan Tom yang sedang makan.
"Kau darimana? baru datang ...." sapa Teo saat Felix bahkan belum duduk.
"Aku dari kamar sebentar!" kata Felix mengambil makanan yang sudah diambilkan oleh Tan.
Mereka berempat yang sedang menikmati makanan di ruang makan tertawa melihat tingkah laku Kiana yang menggemaskan. Kiana bolak-balik mengambil susu kotak satu per satu yang masih ada di dalam boks di depan kulkas minuman.
"Sepertinya dia mau membuat menara ...." kata Tom menebak.
"Hahh ... sudah kubilang pada pengirim barang agar tidak menyimpannya disana. Akhirnya dimainkan oleh Kiana lagi deh ...." kata Luna.
Tidak ada yang menghentikan tingkah Kiana itu, selama bukanlah tindakan buruk tidak akan ditegur. Di panti sudah dibuat peraturan kalau dilarang melarang tindakan anak-anak yang bukan merupakan tindakan yang harus dihentikan saat itu juga.
Terkadang ada anak-anak yang suka melakukan sesuatu yang aneh seperti Kiana. Tapi bukannya melarang, Bu Corliss menyarankan memindahkan barang yang belum dimasukkan ke dalam kulkas untuk menghindari tindakan Kiana lagi sehingga tidak harus melarangnya secara verbal. Tapi sepertinya sudah menjadi kebiasaan pengirim barang menaruh boks minuman di depan kulkas minuman.
"Larang langsung saja kak! Kiana kalau dilarang menurut kok ...." kata Tan.
"Bu Corliss melarang Kiana untuk dilarang. Katanya tidak baik untuk pertumbuhan anak-anak ... daripada melarang lebih baik mencegah Kiana melakukannya tapi sepertinya pengirim susu itu belum diberitahu." kata Luna.
"Oh ... ow!" Teo melihat menara susu kotak Kiana bergoyang hendak runtuh.
Tom dan Felix dengan berlari langsung menahan nenara susu kotak Kiana itu agar tidak runtuh, "Hahh ...." Felix dan Tom lega.
"Kiana, kalau susunya jatuh dan rusak bagaimana? kan tidak bisa diminum lagi ... sayang kan?!" kata Felix memarahi, "Aw!" Felix kesakitan karena punggungnya dipukul oleh seseorang.
"Jangan marahi, Kiana! seharusnya kakak menemani bermain bukannya memarahi. Seseorang yang sudah sibuk di sekolah terlebih lagi tinggal di asrama sekolah dan tidak pernah pulang-pulang tidak berhak memarahi!" kata Bu Corliss.
Kiana malah tertawa melihat Felix dipukuli membuat susu yang hendak diletakkan di atas menaranya itu jatuh dari tangannya dan membuat menara susu kotak itu runtuh. Felix dan Tom yang tidak siap, tidak sempat lagi untuk menyelamatkan menara susu kotak itu dan hanya tertawa agar tidak membuat Kiana merasa bersalah. Kiana yang kaget pun ikut tertawa juga setelah melihat Felix dan Tom tertawa.
"Kerja bagus kalian berdua ...." kata Bu Corliss dalam hati, "Kalau memarahinya sekarang pasti akan membuat Kiana tumbuh menjadi sosok yang mudah ketakutan dan takut dalam memulai atau melakukan sesuatu ... pendidikan dini pada Kiana ini hal yang sangat penting untuk menjamin kepribadian yang berani dan tidak takut melakukan kesalahan nantinya."
"Ibu kelihatan kurus ...." kata Tom memperhatikan Bu Corliss saat membantu memungut susu kotak yang berjatuhan.
"Tapi masih tidak sebanding dengan Marissa ...." kata Bu Corliss, "Ibu, tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang ... terakhir bertemu saat mengurus kepindahan Cain. Sejak saat itu masih belum ada kabar ...."
"Sudah ... tapi Marissa tipe yang jika dihubungi tapi tidak diangkat atau menghubungi kembali itu tandanya dia memang tidak ingin diganggu. Ibu tahu karena sudah mengenalnya sejak kecil." kata Bu Corliss.
"Bibi dan keponakan memang sama saja ...." gerutu Felix dalam hati.
"Bagaimana dengan Bu Sissy? sejak masuk asrama, kami jadi tidak tahu kabarnya ... tapi saat tinggal di rumahnya pun sama juga sih karena dia jarang pulang ke rumah ..." kata Tan mengambil kardus susu kotak.
"Tapi setidaknya, kita bisa melihatnya sesekali, setidaknya dengan begitu ... kita bisa memastikan dia masih hidup walau terlihat seperti pengemis dan tunawisma." kata Teo mengundang tawa.
"Kalau dia ... tiap hari mengirim pesan untuk artikel beritanya dibaca supaya diberi feedback yang bagus. Dia itu tidak perlu dikhawatirkan kalau sedang ada di luar sana, malahan kalau tiba-tiba terus berada di rumah barulah perlu dikhawatirkan ...." kata Bu Corliss.
"Benar juga ...." kata Teo tertawa mengingat saat terjadi kebakaran di Rumah Daisy. Seseorang yang jarang pulang ke rumah itu tiba-tiba ditemukan sedang tertidur nyenyak saat akan terjadi kebakaran di rumahnya sendiri.
"Kalian sering-seringlah pulang setidaknya saat akhir pekan, jangan hanya sebulan sekali ... kalian pasti sudah jarang berolahlaraga, setidanya kalau tinggal di sini kalian sering berjalan kaki." kata Bu Corliss.
"Kamar kami di lantai 9 bu. Olahraganya bahkan melebihi kalau tinggal disini ...." kata Tan.
"Bahkan Tom menggunakan tangga itu sebagai olahraga dengan naik turun tangga berulang kali ...." kata Teo, "Aw!" Teo kena pukul Tom.
"Haha, sepertinya kalian baik-baik saja disana ... ibu belum sempat mengunjungi kalian karena sedang sibuk mengurus adik-adik kalian yang sudah mau masuk sekolah." kata Bu Corliss.
"Kiana juga sudah mau naik tingkat dua di TK ...." seru Kiana.
"Tidak terasa Kiana sudah 6 tahun ...." kata Tan.
Kiana menyisir anak rambutnya dan diselipkan ke telinganya, "Kiana makin cantik kan?"
Felix mengacak-acak rambut Kiana, "Begini yang dibilang cantik?"
"Kak Felix ...." Kiana berusaha menendang Felix tapi dengan mudahnya Felix memindahkan kakinya.
Malam tiba dan Mertie melakukan video call menyampaikan hal yang tadi lupa disampaikannya tadi saat di Rumah Pohon.
"Sudah kan? jangan menghubungi lagi! kami ingin tidur!" kata Teo menekan keras layar smartphonenya.
"Dallas sudah pulih sepenuhnya kalau dilihat-lihat ...." kata Tan yang mengingat-ingat Dallas tadi di sekolah sudah mulai aktif berolahraga lagi.
"Walau begitu, organ dalam yang sudah dirusak Veneormi akan tetap rusak." kata Tom.
"Dallas masih dalam tahap pertumbuhan, proses pemulihan juga lebih cepat ...." kata Tan.
Dallas dan Parish, kedua anak ini dicurigai menjadi peniru Hantu Merah Muda. Kecurigaan pada Dallas sudah mulai hilang tapi Felix juga tidak bisa membuka obrolan untuk membicarakan kemungkinan Parish yang menjadi Peniru Hantu Merah Muda karena Parish adalah sahabat baik Tan. Jadi, Felix hanya diam saja mendengarkan percakapan Tiga Kembar seperti biasanya.
...-BERSAMBUNG-...