
Felix memukul kepala Cain, "Apa yang kau lakukan sehingga kesini? kau pikir kau sudah hebat dan seenaknya pergi ke masa lalu tanpa memberitahuku dulu ... bagaimana jika ada yang terjadi denganmu!" teriak Felix marah-marah.
Cain hanya pasrah menerima pukulan itu dengan diam tanpa membalas perkataan Felix.
"Kenapa kau hanya diam?!" teriak Felix lebih keras lagi.
Cain mengira jika diam saja akan menyelesaikan masalah tapi ternyata tidak, "Perasaanku tidak enak saja saat kemarin ... eh maksudku besok ... maksudku saat kita berpisah waktu subuh itu ... hahh ... bagaimana menjelaskannya, ya?!" Cain bingung menjelaskan karena sedang berada di masa lalu, "Pokoknya saat sedang dalam perjalanan ke sekolah entah kenapa aku ingin kembali ke hari ini dan mengecek semua pemain ...."
"Memang prediksi Leaure adalah yang terbaik!" kata Haera lewat pikiran pada Felix.
"Saat sudah kembali ke masa depan ... kita akan langsung dikejutkan dengan 19 pemain yang akan meninggal ... apa tidak apa-apa aku mengatakan ini pada Cain? Cain merasa tidak enak saat berangkat ke sekolah itu tandanya pagi-pagi sekali hal itu terjadi ...." kata Felix dalam hati.
"Kau dapat dia dimana? lucu sekali!" kata Cain mengacak-acak bulu Haera.
"Dapat dimana?! kau memperlakukannya seperti anak anjing ...." kata Felix tertawa.
"Ayo kita pelihara dia!" kata Cain masih tidak berhenti gemas dengan Haera.
"Mereka sudah berbaikan? padahal belum lima menit berlalu setelah mereka bertengkar ...." kata Haera dalam hati memasang wajah datar.
"Dia adalah makhluk yang terlahir bersamaan dengan permainan tukar kematian dimulai ... kehadirannya menandakan permainan sudah dimulai dan bertugas untuk membawa kes ...." entah mengapa Felix tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Hahh?!" Cain melepas tangannya dari Haera setelah mengetahui Haera ini sebenarnya apa, "Tunggu ... kes apa? kenapa kau berhenti?" tanya Cain.
"Apa Felix memang tidak mempercayaiku? seperti yang dikatakan Goldwin ...." tanya Cain dalam hati sambil terus menatap Felix menunggu jawaban.
"Lix sudah tahu bagaimana Leaure sejati itu bisa dengan bebas pergi ke waktu manapun dan mengubahnya dan Ian merasa kecewa karena Lix tidak jujur dengannya dan sudah menduga kalau mulai kehilangan kepercayaan Lix ...." kata Haera dalam hati melihat Felix dan Cain bergantian.
*catatan : Haera menyebut nama Cain dengan ian.
"Seharusnya mereka memang tidak bertemu!" kata Haera dalam hati menyesalkan kenapa kedua Quiris spesial yang bertolak belakang itu harus bertemu, saling mengenal dan terlebih lagi menjadi Caelvita dan Alvauden, "Tapi jika mereka menggabungkan kekuatan bersama ... dunia akan menjadi seperti apa ya?!" sambungnya dalam hati.
"Kenapa aku tiba-tiba takut begini dengan Cain ... apa aku mulai tidak mempercayainya lagi? tidak mungkin! Cain adalah salah satu yang sangat kupercayai di dunia ini tapi kenapa aku tidak bisa melanjutkan kalimatku ...." kata Felix dalam hati.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya, jangan katakan!" kata Cain tersenyum.
"Baiklah kalau begitu ...." kata Felix santai.
"Hahh?! apa-apaan! seharusnya tidak begini ... seharusnya setelah aku bilang itu kau langsung memberitahuku!" kata Cain protes.
"Jadi tadi kau hanya akting? sudah ... mau itu akting atau bukan kau sudah bilang tidak masalah dengan itu ...." kata Felix.
"Apa-apaan! tidak boleh begitu ... aku hanya mengetesmu saja tahu!" kata Cain.
"Secara alami mereka baikan lagi ...." kata Haera tersenyum kecut.
"Kau rajin sekali belajarnya Bella!" sapa teman Bella.
"Aku hanya senang sekali bisa sekolah dan bisa belajar di kelas ... bertemu teman baru ... hal yang mustahil untuk aku lakukan sebelumnya sekarang bisa aku lakukan ...." kata Bella.
"Hanya karena itu kau senang begini ...." kata teman Bella tidak mengerti dengan Bella yang bahagia dengan hal sederhana seperti itu.
Felix melihat ekspresi Cain yang tentu saja kasihan dengan Bella, "Bukannya aku tidak mempercayaimu Cain ... aku tahu betul kau akan menerima apapun keputusanku tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta kau yang seorang Leaure sejati ...." kata Felix dalam hati.
Cain menyadari kalau sedang diperhatikan Felix. Tidak bisa mengatakan apa-apa dan mereka hanya saling membalas senyuman.
"Mereka berdua saling memahami bahkan tanpa saling memberitahu ... Lix tahu kalau Ian akan maklum kalau tidak dipercayai dan Ian maklum kalau Lix tidak mempercayainya ... padahal sebelumnya Caelvita dan Leaure sejati seharusnya tidak akur ... Beruntunglah mereka berdua yang menjadi Caelvita dan Alvauden ...." kata Haera dalam hati.
"Cain ...." tegur Felix agak ragu didengar dari nadanya memanggil.
"Em?!" sahut Cain sadar jika Felix ingin mengatakan sesuatu yang penting tapi tetap bersikap biasa saja.
"Apa Kiana juga termasuk?" tanya Cain.
"Tidak! Kiana dan Bella sudah kutempatkan paling terakhir ...." jawab Felix.
"Bagaimana kau melakukan itu?" tanya Cain.
"Aku bertemu Franklin ...." sahut Felix.
"Jika bertemu, kenapa Felix tidak menangkapnya? hahh ... sebanyak apa sebenarnya yang kau sembunyikan Felix ...." kata Cain dalam hati, "Hal itu bisa dilakukan? menempatkan posisi pemain sesuai yang diinginkan?" Cain menyerah dan memilih menanyakan hal yang bisa dijawab oleh Felix.
"Tentu saja ... pewaris papan permainan bebas mengatur hal itu!" jawab Felix, "Dia tidak menanyakan itu ...." kata Felix dalam hati beruntung Cain tidak menanyakan hal yang dipikirkannya, "Terima kasih sudah mengerti Cain ...." sambungnya dalam hati.
"Bella sekarang sedang di kelas, begitupun anak lainnya ... kita bisa mencari surat misi di asrama Bella!" kata Cain, "Setidaknya hal ini bisa kita lakukan kan Felix?" tanya Cain dalam hati.
"Iya, ayo kita cari!" kata Felix menyetujui membuat Cain tersenyum lega mendengar itu.
Felix, Cain dan Haera berjalan menuju gedung asrama sekolah, "Haera!" teriak seseorang.
"Kelin!" seru Haera senang bertemu Franklin.
Cain melihat Felix yang hanya diam saja tidak punya niat sama sekali untuk menangkap Franklin. Begitupun Franklin yang terlihat santai saja dan tidak merasa terancam sama sekali.
"Lix! Ian! Haera ... pamit!" kata Haera.
"Kau tahu bagaimana menemukanku kan? kalau mau bertemu jangan sungkan menemuiku!" kata Felix.
Haera mengangguk dan berlari langsung naik di atas kepala Franklin dan melambaikan tangan.
"Kau sudah memberitahunya?" tanya Franklin.
"Yap!" sahut Haera.
Franklin hanya saling tatap dengan Felix tanpa berbicara dan tak lama kemudian Franklin dan Haera langsung menghilang.
"Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanya saja ...." kata Felix merasa tidak enak dengan Cain.
"Lix?! Ian?! apa-apaan!" kata Cain tertawa mengalihkan pembicaraan.
"Itu karena dia takut kalau nama seseorang yang dipanggil mempunyai makna khusus ... Haera bisa mewujudkan apa yang dikatakannya!" kata Felix.
"Berarti dia itu ...." Cain menganalisa.
"Dialah yang punya peran penting dalam permainan ini ...." kata Felix.
"Jadi kalau dia menyebutkan nama pemain dan menginginkan pemain itu meninggal ... akan terjadi?!" tanya Cain.
"Tapi Franklin melarang Haera melakukan itu. Sebenarnya saat bertemu Franklin aku tidak tahu siapa yang dia maksud tapi setelah bertemu Haera akhirnya aku tahu kalau Haera lah yang dimaksud. Franklin dan aku sudah melakukan kesepakatan bahwa akulah yang akan memilih siapa yang akan aku pilih untuk hidup ... sayangnya Franklin sudah terlebih dahulu menghubungkan Kiana dengan Bella tapi setidaknya mereka ditempatkan paling terakhir ...." kata Felix.
"Dia tidak mengatakan apapun kenapa bekerjasama dengan Efrain?" tanya Cain.
"Dia tidak mau mengatakannya tapi sepertinya Efrain menginginkan Haera untuk menghidupkan kembali Iriana!" jawab Felix.
"Apa maksudnya yang menghidupkan kembali?! itu artinya ...." kata Cain.
"Kalau Iriana dihidupkan, maka aku akan mati!" kata Felix membuat mata Cain terbuka lebar karena kaget.
...-BERSAMBUNG-...