UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.296 - Target Ditte



"Jangan membuatku tertawa!" kata Felix.


"Tertawa? kau pikir aku sedang membuat lelucon? kau sendiri daritadi terus menggangguku dan kau sebut apa itu?" Tom merasa tidak adil.


"Aku hanya tidak ingin kau menggali lebih dalam soal dia. Karena apapun yang terjadi, dia akan tetap teguh pada pendiriannya." kata Felix.


"Ow, jadi kau mengakui bahwa kau memang sengaja menggangguku tadi?!" kata Tom.


"Jangan terlibat dengan seseorang yang tidak tahu secara detail tentang Mundebris. Terlebih lagi menyebalkan rasanya mendengarkan seseorang menyebut Mundebris dengan dunia kegelapan ...." kata Felix.


"Aku tidak akan membuat identitasku terbongkar begitu saja dan membuat informasi keluar begitu saja dari mulutku ... kau pikir aku ini tidak punya otak atau apa?" kata Tom.


"Hey, kau ini kenapa? santai saja!" Felix heran melihat Tom tidak seperti biasanya.


"Kita semua akan mati!" kata Tom heboh.


"Tidak, itu tidak akan terjadi malam ini!" kata Felix.


"Apa yang membuatmu seyakin itu?" tanya Tom.


Felix diam dan tidak menjawab pertanyaan Tom yang sudah jelas lama menghantuinya itu.


"Kita akan baik-baik saja ... satu Iblis tidaklah masalah untukku!" kata Felix.


"Ya, tapi masalah untukku! dan yang kita bicarakan disini adalah Ditte. Iblis yang kekuatannya hampir menyamai Efrain ...." kata Tom.


"Tapi bagaimanapun juga ... dia itu juga hanya Zewhit Iblis." kata Felix.


"Zewhit Iblis yang bahkan sudah hidup dari zaman ayah Efrain ... mau dia Zewhit atau masih hidup, kekuatannya itu membuat kita ini hanyalah seperti semut yang tidak berdaya yang bisa diinjak kapanpun dia mau." kata Tom.


"Baguslah, kau tahu itu ...." kata Felix tersenyum.


"Apa maksudmu?" Tom merasa tersinggung.


"Kau tahu bagaimana menentukan yang mana bisa kau jadikan lawan ... aku tidak perlu khawatir jika membiarkanmu berkeliaran sendirian." kata Felix.


"Aku ini orangnya rasional Felix, tentu saja aku berpikir sesuai fakta yang ada ... dan saat ini keputusan terbaik adalah membuat semua penduduk desa yang ada disini pergi dulu ... jika memang akan ada yang mati, setidaknya kita bisa mengurangi kemungkinannya menjadi hanya kita berdua saja." kata Tom.


"Kau mengatakan bahwa kau itu rasional tapi pada akhirnya kau juga tidak memikirkannya secara sehat ...." kata Felix.


"Secara sehat?" tanya Tom.


"Rasional itu haruslah egois dengan mementingkan diri sendiri dibanding kelompok ... membuat diri sendiri selamat dan hidup adalah cara yang rasional untuk membuat sebuah kelompok selamat karena kita memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi mereka. Jadi untuk sekarang, tenanglah! waspada pada serangan dadakan, jangan sampai kita terluka duluan!" jawab Felix.


Tom mulai mendengarkan nasehat Felix dan menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya. Tom melakukan itu berulang kali sampai detakan jantungnya sudah kembali normal, "Benar yang dikatakan Felix, jika ... aku terus-terusan panik bisa jadi aku akan lengah dan diserang oleh Ditte dan akhirnya tidak bisa melindungi penduduk desa yang disini ... andaikan saja ada Tan disini, dia bisa membuat penduduk desa tertidur dan itu bisa menjadi lebih mudah ...."


"Fokuslah mencari seseorang yang terlihat kelelahan dan terlihat kurang fokus, itu bisa membuat kita tahu target Ditte dan menghentikannya secepatnya ...." kata Felix.


"Tapi semuanya terlihat bahagia ...." kata Tom bingung dan mulai menahan tawanya sendiri.


Felix tidak bisa membantah karena pada kenyataannya semuanya terlihat tidak punya beban sama sekali dan hanya terus mengobrol sambil tertawa.


"Kita juga tidak bisa kesana dan menghadapinya ... pasti hanya akan mengabaikan kita dan mempercepat apa yang akan dilakukannya." kata Tom.


"Sebaiknya memang kita tidak memprovokasinya ...." kata Felix.


Felix, Tom dan Antonia terus mengamati jalannya pesta ulangtahun malam itu di Desa Kimber sampai larut malam. Ditte masih diam saja seperti patung dibawah lampu jalan. Tetapi penduduk desa tidak terlihat memiliki niat untuk beranjak pergi dari pesta, bahkan suasana semakin meriah seiring waktu berlalu.


Tom sudah beberapa hari kurang tidur membuatnya jadi cepat mengantuk karena tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk saja malam ini. Antonia sepertinya sangat siap karena masih terlihat segar mengawasi pergerakan semua orang.


"Mintalah dibuatkan kopi, Tom. Antonia pasti dalam keadaan prima karena menyiapkan diri untuk tugas malam ini dari jauh hari tapi kau melakukan ini tiap malam dan sudah melakukannya untuk waktu yang lama ...." kata Felix melihat mata Tom sangat kelelahan.


"Bisa jadi aku yang akan dirasuki oleh Ditte kalau begini ...." kata Tom tertawa.


"Tubuhmu terlindung dari hal seperti itu, Alvauden memiliki perisai pelindung dari hal buruk seperti dirasuki atau semacamnya ...." kata Felix tertawa dengan lelucon Tom.


Felix dan Tom teralihkan sebentar karena berusaha menghibur satu sama lain dan berbalik melihat Ditte tapi Ditte sudah meninggalkan tempatnya. Felix dan Tom berdiri, rasa kantuknya langsung hilang dalam sekejap.


"Kemana dia?" tanya Tom mencari.


"Tentu saja ...." kata Felix.


"Apa?" tanya Tom.


"Tentu saja targetnya hanya anak kecil itu! daritadi anak kecil itu sudah meminta untuk dibawa pulang karena mengantuk." jawab Felix.


"Oh, tidak!" Tom panik.


Ditte yang daritadi memilih sasaran empuk untuk dirasuki tapi tak kunjung mendapatkan target karena semua yang berada di pesta sangat ceria dan dikelilingi oleh energi positif. Akhirnya targetnya adalah anak laki-laki berusia 5 tahun yang tadinya tidur dipangkuan ibunya yang sedang mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.


"Kau yakin?" tanya Tom karena kini tidak bisa melihat Ditte jika masuk ke dalam tubuh manusia dan tidak bisa melihat aura Iblis juga.


Keraguan Tom itu terpatahkan saat anak laki-laki itu meraih pisau yang ada di meja. Pisau yang baru saja dipakai untuk mengupas apel itu kini menancap di paha ibu anak laki-laki itu sendiri.


Teriakan kesakitan ibu dari anak laki-laki itu memulai keributan di pesta. Semuanya mulai menjauhkan anak laki-laki itu dari ibunya tapi tidak berhasil dan malah terlempar saat ingin menghentikannya.


Kedua polisi yang sedang menyamar heran melihat apa yang disaksikannya.


"Dik, letakkan pisau itu!" perintah Polisi perempuan yang sudah menodongkan senjata.


"Apa yang kau lakukan? turunkan senjatamu!" teriak Sang Ibu, bahkan saat setelah dilukai ia masih memihak putranya sendiri yang baru saja menusuknya.


Semua penduduk desa tidak ada yang meninggalkan tempat itu karena ingin membantu ibu dari anak yang kerasukan itu, yang sedang terluka dan ingin membantu menghentikan anak laki-laki itu bersama-sama. Meski sudah diperintahkan oleh polisi untuk pergi tapi semuanya bersikeras untuk tinggal membantu.


Ibu yang pahanya sedang berdarah kini berada di atas kursi lebar yang seperti meja itu bersama dengan anak laki-lakinya yang sedang memegang pisau dan mengarahkan pisau itu ke leher ibunya sendiri.


Felix dan Tom saling melirik kemudian keduanya berlari berlawananan arah. Tom pergi ke depan sebuah rumah yang berada dekat dari pesta dan Felix berlari ke arah arah anak laki-laki yang dirasuki oleh Ditte dan akan diserang oleh Antonia.


"Hentikan!" suara Felix menggema ditelinga Antonia meski tidak bisa melihat wujud Felix tapi tangannya yang hendak menebas leher anak itu berhasil dihentikan oleh Felix.


...-BERSAMBUNG-...