UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.287 - Peraturan Janji



"Cain ...." Felix yang daritadi mematung akhirnya mengatakan sesuatu, "Apa harus menyakitiku dulu untuk melakukan ini semua?" sambungnya dalam hati.


"Yang Mulia ...." Banks mulai khawatir melihat Felix hanya terus diam.


"Seharusnya kau memberitahu hal ini dari awal ... oh, iya kau sudah berjanji kan?! jadi ... kau ini tukang pelanggar janji?!" Felix mulai tertawa membuat Banks kebingungan.


"Yang Mulia tidak apa-apa?" tanya Banks.


"Apa yang kau harapkan? aku sedang sangat malu sekarang!" jawab Felix tertawa.


"Tidak terlihat begitu ...." kata Banks heran.


"Aku sedang sangat malu pada Cain! bagaimana tidak ... dia sedang menghimpun pasukan untuk perang tahun depan tapi yang kulakukan hanyalah mengkhawatirkannya meninggalkanku." Felix mengacak-acak rambutnya dan terus tersenyum, "Kukira semuanya bisa berjalan hanya dengan kami berlima ... tapi ternyata masa depan itu bukanlah pertarungan biasa tapi perang ...."


"Sekedar informasi saya juga salah satu pasukan Yang Mulia nantinya!" kata Banks tersenyum.


"Terimakasih Banks! kau mungkin seseorang yang pertama melanggar janji tapi bukannya menjadi Quiris tercela tapi terhormat karena melanggar janji." kata Felix.


"Sebenarnya, jujur ... sementara saya berbicara tadi saya tidak memikirkan apapun tapi setelah mengatakannya saya juga mengkhawatirkan jari kelingking saya ...." kata Banks tertawa, "Bagaimanapun juga Quiris yang kehilangan jari kelingkingnya akan dipandang sebelah mata di Mundebris."


"Aku tebak, peraturan janji jari kelingking ini dari Caelvita kan?" tanya Felix.


"Tepatnya Caelvita 46, Yang Mulia!" jawab Banks.


"Sudah kuduga, karena jika ini peraturan Alvauden maka kau akan kehilangan jari kelingkingmu tapi karena ini peraturan Caelvita maka tidak akan berlaku jika mengatakannya pada Caelvita. Tidak kusangka seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan seperti Cain tidak memikirkan hal ini." kata Felix menyeringai.


"Tapi di peraturan tertulis, tidak terkecuali pada Caelvita. Apa semua itu bohong? jadi ... selama ini tidak ada yang berani melanggar janji bahkan jika Caelvita yang memaksa untuk melanggar janji itu. Ternyata ...." kata Banks merasa dicurangi.


"Bukankah itu berita baik? jadi selama 73 pemerintahan Caelvita. Ini pertama kalinya baru terungkap? kalau hukum pelanggar janji itu tidak berlaku jika ditujukan pada Caelvita sendiri." kata Felix.


Banks hanya mengangguk dengan tatapan kosong karena masih belum percaya.


"Sepertinya aku harus pergi ...." kata Felix melihat matahari sudah mulai masuk dari sela pohon, "Apa ... Hadwin juga termasuk?" tanya Felix lewat pikiran yang sudah berjalan jauh kemudian berbalik lagi melihat Banks.


"Tuan Muda Cain meminta saya untuk menemaninya menemui Hadwin untuk membantu meyakinkannya tapi ternyata Hadwin langsung setuju bahkan tanpa mendengar pertanyaan Tuan Muda Cain terlebih dahulu ...." kata Banks.


"Tadi dia menyebutmu senior?" tanya Felix.


"Dia junior saya dulunya, Yang Mulia. Hadwin dulunya adalah junior yang sangat saya istimewakan. Sebelumnya Hadwin adalah Iblis yang berada dibawah bimbingan saya dan saya juga yang membantunya masuk menjadi Optimebris karena dia tidak punya bakat sama sekali di bidang ilmu penyembuhan atau ramuan hahaha ... tapi setelah lama tidak bertemu ... kami dipertemukan di medan pertempuran perang melawan Setengah Sanguiber. Rasanya saya dua kali mati saat itu juga ... melihat apa yang telah diperbuat oleh tanaman yang saya tanam dan melihat Junior saya meninggal di depan mata saya karena saya yang memasukkannya menjadi Optimebris." jawab Banks.


Keduanya hanya saling tatap dari kejauhan dan berbicara melalui pikiran.


"Makanya kau membawanya kesini bersamamu!" kata Felix.


"Hadwin masih sangat muda, umur kami bahkan terpaut 5922 tahun, Hadwin menjadi Optimebris baru 10 tahun lamanya ... impiannya menjadi Optimebris hanya bisa bertahan selama 10 tahun. Semuanya karena saya ... tapi setelah menjadi Zewhit dia datang menemui saya untuk menjadi Nucusno dekat dengan pohon saya ini ...." kata Banks.


"Maksudmu ... kau ingin aku mengecualikannya dari perang atau bagaimana?" tanya Felix agak bingung karena Banks terdengar sangat mengkhawatirkan Hadwin.


"Dia masih sangat muda jadi masih sangat dipenuhi oleh jiwa bertarung yang tinggi. Akan sulit menghentikannya ikut setelah ditawari tawaran yang ditunggu-tunggunya itu ...." jawab Banks.


"Jadi maksudmu ... kau ingin aku memberinya perlakuan istimewa?" tanya Felix tertawa.


"Apa Cain tidak menawarkan apa-apa? maksudku saat sedang menawari Hadwin pekerjaan, apa dia tidak menjanjikan sesuatu?" tanya Felix mengira hal itu sudah dilakukan oleh Cain.


"Tuan Muda Cain hanya menawarkan kesetiaan pada Caelvita, tidak menjanjikan apapun ... karena ingin membawa pasukan yang memang benar-benar setia saja." jawab Banks.


"Hahh ... dasar! bisa-bisa yang datang hanya sedikit kalau begitu ...." Felix menghela napas kesal tapi tertawa kemudian.


"Jadi, apa yang akan Yang Mulia lakukan sekarang?" tanya Banks setelah melihat Felix memunggunginya.


"Bukankah sudah jelas ... menebus rasa maluku ini!" jawab Felix yang kemudian mulai menghilang dari pandangan Banks.


***


"Ada tidak?" teriak Tan.


"Tunggu sebentar!" Tom terdengar membuat suara aneh karena sedang kesusahan mengangkat batu, "Oh ... ada!" teriak Tom begitu senang, "Hahh?! tidak! lepas!" Tom memeriksa genggaman tangannya yang dikira berhasil menangkap ternyata tangannya hanya berisi air.


"Sudah kubilang ajak bicara! jenis mereka itu sangat ketakutan dengan Viviandem apalagi manusia ...." kata Tan sedang menumbuk daun di pinggir sungai.


"Kau bilang mereka itu tidak bisa mendengar, bagaimana diajak bicara?!" Tom sebal karena pakaiannya sudah basah semua.


"Ajak bicara menggunakan bahasa isyarat!" kata Tan.


"Mana aku tahu!" Tom sudah kesal daritadi mencari di dalam sungai.


"Pakai bahasa tubuh saja menjelaskan!" kata Tan sibuk melirik buku sambil menumbuk daun.


"Bagaimana? maksudmu aku harus begini?" Tom memeragakan membuka mulutnya dan mengangkat lidahnya lalu mengambil liurnya sendiri.


Tan tertawa keras melihat itu sampai-sampai ramuan yang sedang dibuatnya tumpah semua, tertawa sambil berguling-guling di atas bebatuan tidak sadar karena melihat Tom yang terlalu lucu saat memperagakan bahasa tubuh untuk berbicara.


"Berhenti tertawa! kau lihat sendiri kan bagaimana cara menjelaskanku yang akan membuat siapapun akan salah paham. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau kita meminta air liurnya untuk digunakan sebagai salah satu bahan ramuan?" Tom mulai menyerah.


"Ayo cari lagi! kita hanya perlu satu bahan terakhir itu!" kata Tan membereskan hasil kekacauannya karena habis tertawa keras tadi.


Tom memerciki Tan dengan air karena kesal melihat Tan masih dalam keadaan kering sedangkan dirinya sudah basah. Tom mulai mencari lagi yang terlihat seperti kadal tapi berwarna biru yang tinggal di balik bebatuan di sungai. Air liur kadal itu adalah salah satu bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan penggemuk hewan.


"Kalau aku yang disana, pasti sudah daritadi aku tangkap." kata Teo.


"Awas saja kau! kalau pulang kau akan dalam bahaya!" Tom mengancam.


"Apa tidak ada yang terjadi di Mundclariss?" tanya Tan.


"Tidak ... tapi sudah mulai subuh. Apa kalian bisa kembali tepat waktu?" kata Teo.


"Waktu di Mundclariss cepat sekali berlalu, padahal kami disini baru sebentar sekali rasanya." kata Tan.


...-BERSAMBUNG-...