
Latihan malam itu tidak terasa, baik bagi Felix dan Tiga Kembar yang latihan dengan dipenuhi keringat tidak merasa lelah begitupun yang hanya menonton yakni Cain dan Verlin. Latihan Felix dan Tiga Kembar malam itu memang layak untuk dinonton. Walau masih amatir tapi jelas terlihat perkembangannya dibanding sebelum-sebelumnya.
Felix sudah jelas yang paling unggul diantara mereka. Tan selalu mendampingi Teo atau Tom jika akan menyerang. Jadi jika Teo atau Tom kewalahan atau kekurangannya diketahui maka Tan lah yang melengkapi dan menutupi kekurangan itu.
Teo ceroboh dalam menyerang tapi tidak bisa diremehkan karena serangannya cepat. Tom tidak terlalu banyak menyerang tapi sekali menyerang bisa sangat fatal. Satu kali terkena dampak dari kapak Tom, bisa membuat pedang terlempar dan tangan yang memegang pedang untuk menahan serangan Tom mati rasa.
Pernah Tom mencoba kapaknya pada pisau dapur dan baru saja dikena sedikit, pisau itu langsung hancur. Tidak terbayangkan kekuatan dari kapak Tom saat mencapai kekuatan maksimal. Kombinasi serangan dari Tiga Kembar tidak bisa diremehkan dan Felix sudah bisa memprediksi bahwa mereka sudah di tahap bisa melindungi diri sendiri sekarang.
H-1 permainan tukar kematian berakhir, pasangan ke 49 yakni Dobry 26 tahun dan Inas 12 tahun. Keduanya merupakan korban dari kecelakaan besar yang menjadi sorotan tahun lalu. Dobry satu-satunya korban yang berhasil selamat saat terjadinya kecelakaan bus yang hampir menabrak bus yang ditumpangi oleh Felix dan Cain.
Penyebabnya sama yakni Malexpir yang membuat tidur sopir beserta penumpang bus yang ditumpangi Felix dan Cain. Saat itu Felix masih belum tahu apa-apa tentang kekuatannya dan cara menggunakannya untuk menolong. Terlebih lagi Cain saat itu yang masih belum mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Sedangkan Inas satu-satunya korban yang berhasil selamat saat terjadinya pengejaran dan adu tembak dengan ******* di Jembatan Gaincarlo. Saat itu Inas sedang ada di dalam bus sekolah bersama teman sekelasnya untuk pergi liburan musim panas sekolah. Satu bus yang berisikan 38 anak disandera oleh ******* dan hanya satu anak yang berhasil selamat yakni Inas. ******* berhasil kabur dengan menggunakan 38 anak sebagai perisai. Untung saja Inas berhasil diselamatkan dan ******* yang menyanderanya berhasil ditangkap juga.
Setelah kecelakaan itu, baik Dobry maupun Inas masih belum bisa menjalani kehidupan normal. Setelah perawatan luka bakar, Dobry divonis menderita kanker paru-paru. Sedangkan Inas mengalami cedera otak dan tulang belakang yang menyebabkan Inas susah untuk berbicara dan susah untuk berjalan. Saat ini Dobry dalam perawatan kemoterapi setelah melakukan operasi. Sedangkan Inas juga masih dalam tahap terapi fisik dan terapi wicara.
Alasan memilih Dobry untuk diselamatkan karena alasan yang terbilang egois. Baik itu Felix dan Cain merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun saat kecelakaan itu terjadi. Satu-satunya pilihan paling egois yang dilakukan oleh Felix dan Cain adalah pasangan pemain ini.
Tan, Teo dan Tom merasa tidak tega dengan Inas yang sedang berusaha sangat keras untuk bisa sembuh. Inas sudah bersusah payah melakukan terapi selama setahun ini, saat sudah mulai menunjukkan perubahan malah harus pergi meninggalkan dunia ini karena menjadi pemain permainan tukar kematian.
"Entah apa yang akan terjadi hari ini?" kata Teo, "Rasanya tiap hari selalu saja menakutkan ...."
"Pemain hari ini kasusnya cukup ekstrem, keduanya sama-sama merupakan satu-satunya korban yang berhasil selamat dari kecelakaan besar. Keduanya sama-sama memiliki keinginan hidup yang sangat besar. Entah kejadian apa yang akan terjadi hari ini ...." kata Tom.
"Tenang saja, Mertie terus mengawasi keduanya dan katanya tidak ada pergerakan aneh yang terjadi ...." kata Tan.
"Kamera yang kita pasang terbatas hanya di luar rumah saja. Tidak memastikan jika tidak ada yang aneh yang dilakukan di dalam rumah, tidak bisa membuktikan kalau tidak terjadi apa-apa. Terlebih lagi pemain tahu kita memasang kamera pengawas ...." kata Tom.
"Cain!" tegur Tan.
"Em?!" sahut Cain.
"Entah hanya perasaanku saja tapi rasanya kau terlalu pasif akhir-akhir ini disaat permainan akan berakhir ...." kata Tan.
"Itu hanya perasaanmu! aku lebih sibuk dari yang kalian pikirkan tahu!" kata Cain.
"Apa maksudmu, Tan ... menurutku, Cain lah yang paling sibuk saat permainan akan berakhir!" kata Teo tidak mengira kalau Tan berpikir seperti itu.
"Sibuk memang ... tapi entah bagaimana, Cain jadi tidak terlalu memperhatikan pemain seperti biasanya ...." kata Tan.
"Itu hanya perasaanmu saja ...." kata Tom.
"Kau ini membuatku jadi terlihat buruk saja!" kata Cain tertawa, "Haha ... tentu saja Tan pasti merasakannya ...." sambungnya dalam hati masih memaksakan diri tertawa agar terlihat meyakinkan.
Seperti biasa, Haera tidak berhenti mengedip-ngedipkan mata besarnya berulang kali karena Cain berbohong lagi. Felix yang sudah mengetahui pola tingkah laku Haera itu mengetahui ada yang sedang disembunyikan Cain. Tan tidak pernah salah dalam menebak perubahan pola perilaku. Baik itu teman sekelas apalagi Cain yang tinggal seatap dengannya.
"Aku penasaran misi apa hari ini yang diberikan Efrain ... akhir-akhir ini rasanya Efrain terbilang pasif juga, karena hanya memberikan misi kecil ...." kata Tom.
"Baik itu Dobry maupun Inas tidak mampu dari segi fisik, entah bagaimana cara mereka saling melawan hari ini ...." kata Tan.
"Inas lebih setahun darimu!" kata Felix.
"Memangnya ada apa dengan itu?" tanya Teo, "Maksudnya ... kau memujiku, begitu?" Teo senyum-senyum sendiri, "Aku bisa melakukan apa saja di usia 11 tahun apalagi Inas, begitu kan?"
"Terserah kau mau berpikiran bagaimana ...." kata Felix.
Pesan masuk dari Mertie mengatakan bahwa Rumah Dobry dan Inas malam ini, keduanya tidak pernah mematikan lampu. Tidak bisa dipastikan apa yang dilakukan di dalam rumah tapi pastinya tidak ada yang bisa tidur karena hari yang ditakutkan sudah tiba.
"Aku tidak pernah tidur karena mengawasi kamera dan kalian terlihat segar sekali seperti habis tidur begitu nyenyak ...." Mertie menyinggung sambil lewat di dekat mereka saat baru saja melewati halte bus.
"Dasar tukang ngeluh!" teriak Teo.
"Kau dengar itu, Felix?" tanya Cain.
"Jangan! kita bisa menghindarinya ...." sahut Felix.
"Ada apa?" tanya Tan, Teo dan Tom bersamaan.
"Mertie sudah jauh kan?" tanya Cain melihat Mertie.
"Ada apa?" teriak Teo.
"Kejar Mertie sekarang untuk mengawasi kamera dan memanggil pihak yang berwajib jika terjadi sesuatu! kita tidak boleh membiarkan adanya korban hari ini ...." kata Cain.
"Memangnya ada apa?" tanya Tan.
"Jelaskan secara singkat!" kata Tom.
"Akan ada yang menculikku sekarang, kalian harus bersikap seperti anak 11 tahun pada umumnya. Jangan melakukan sesuatu yang mencurigakan." kata Cain.
"Apa aku mengejar Mertie dan meminta alatnya untuk kau ambil supaya kau mudah ditemukan?" tanya Teo panik.
"Tidak, Felix bisa menemukanku dengan mudah!" jawab Cain tersenyum.
"Kau yakin akan melakukan ini?" tanya Tom.
"Terlalu banyak mata yang melihat ...." jawab Cain.
"Aku bisa membuat mereka semua tertidur!" kata Tan tidak rela jika Cain membiarkan dirinya diculik.
"Kita tidak bisa membuat kejadian aneh di dekat sekolah lagi ...." kata Cain, "Percaya saja padaku!" Cain mulai melangkah mundur dari barisan Felix dan Tiga Kembar untuk memudahkan dirinya ditangkap.
Beberapa pria berjas melangkah cepat dari belakang Cain dengan memakai masker dan topi. Felix meraih tangan Cain, "Tidak apa-apa!" kata Cain melepas tangan Felix dan melangkah mundur.
Dengan terpaksa Felix dan Tiga Kembar berjalan meninggalkan Cain yang berjalan sendiri di belakang. Tidak lama kemudian Cain berteriak dan suara teriakannya diredam kemudian Cain dibawa paksa masuk ke dalam sebuah mobil. Cain mengedipkan matanya, Felix dan Tiga Kembar sebisa mungkin bereaksi seperti anak-anak pada umumnya yang ketakutan melihat temannya diculik.
...-BERSAMBUNG-...