UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.383 - Thunderbird



"Kau hanya tidak tahu saja semua yang telah dikatakannya tentang kita ...." kata Teo.


"Aku tahu kok!" kata Tan.


"Kalau kau tahu, seharusnya kau tidak kasihan." kata Tom.


"Hanya karena dia membicarakan hal buruk tentang kita, bukan berarti kita harus membencinya. Aku tahu kalian juga berpikiran yang sama ... hanya saja tidak mau mengakuinya." kata Tan.


"Ternyata ada malaikat disini ...." kata Teo meledek.


"Lagipula ... mengatakan tentang kita yang anak yatim piatu adalah fakta. Mengatakan bahwa kita parasit dari anak-anak lainnya yang membayar mahal di sekolah ini sedangkan kita dengan beasiswa. Semuanya benar, kenapa harus marah pada seseorang yang mengatakan kebenaran?!" kata Tan.


"Auuuuuh, aku sudah tidak tahan! silau sekali!" kata Tom memakai kacamata hitam, "Pakai kacamatamu juga Teo! sinar orang baik bisa membuat buta!"


Tan hanya bisa tertawa saja, dia tahu betul kedua saudaranya itu juga merasakan hal yang sama. Hanya saja tidak ingin memperlihatkannya. Bagaimanapun juga harga diri mereka akan terluka jika bersimpati pada seseorang yang menganggap diri mereka sampah masyarakat.


Teo dan Tom yang siap selalu membantu dan menyelamatkan orang asing, terlebih lagi ini adalah orang yang dikenalnya. Walau dibenci tapi bukan berarti harus dimasukkan ke dalam daftar hitam untuk tidak diselamatkan. Setidaknya mereka ingin terlihat tidak peduli saja. Sedangkan Tan tidak bisa menyembunyikan apa yang hatinya katakan.


Teo dan Tom duluan memasuki kolam renang dan sudah mulai berlomba sedangkan Tan masih melakukan pemanasan dulu.


Hingga sinar matahari berhenti memasuki jendela gedung kolam renang berada, mereka mungkin tidak berhenti berenang. Mereka mulai bersiap untuk menyambut malam yang panjang lagi.


"Senja hari ini luar biasa ...." kata Teo melihat pemandangan langit sore sambil kakinya yang berendam dalam air dimainkan.


"Sebenarnya mustahil membenci hal seindah ini ...." kata Tan.


Matahari terbit tentu saja selalu membuat mereka begitu bahagia dan juga lega. Bisa terbebas lepas dari malam panjang yang tiap detiknya sangat menyiksa. Sedangkan matahari terbenam adalah pertanda bahwa mereka harus mulai berjuang bertahan hidup sampai matahari terbit.


"Anggap saja pemandangan yang indah ini bonus untuk kita nikmati sebelum tenggelam dalam kegelapan malam." kata Tom yang langsung ditatap oleh Tan dan Teo dengan tersenyum.


"Kau jadi puitis begini ... membuatku jadi resah saja!" kata Teo meledek.


"Seperti biasa, kita pasti bisa melewati malam ini lagi ...." kata Tan memegang kedua bahu saudaranya.


"Tentu saja!" sahut Teo dan Tom bersamaan.


***


"Matahari sudah mulai terbenam ...." kata Iriana.


"Aku lebih jelas melihatnya daripada dirimu ...." kata Felix.


"Hanya mengatakan saja, siapa tahu kau tiba-tiba pura-pura buta ...." kata Iriana.


Felix masih sibuk berjalan ke sebuah kota yang sudah jauh dengan Kota Olubayo berada. Mencari titik selanjutnya tanpa harus mengikutsertakan Tan, Teo dan Tom. Felix sudah menghampiri beberapa titik tanpa sepengetahuan mereka.


"Mereka pasti akan marah kalau tahu kau bekerja sendirian begini!" kata Iriana.


"Tidak usah mengatakan hal yang sudah jelas!" kata Felix yang bersiap kembali ke sekolah karena sudah sore dan Tiga Kembar akan memasuki dunia pikiran lagi.


"Menurutku, mereka akan baik-baik saja! bagaimanapun juga mereka memang harus terbiasa merasakan bagaimana efek memasuki dunia Zewhit itu. Karena saat pertempuran sesungguhnya, efeknya akan lebih berat lagi. Kau tidak tahu saja bagaimana perang melawan pasukan Zehwit ...." kata Iriana.


"Kau sendiri juga tidak pernah merasakannya ...." kata Felix.


"Makanya ...." kata Iriana membela diri, "Karena tidak tahu bagaimana, aku tidak bisa memberimu gambaran jelas."


"Tapi kau hanya terus menakut-nakutiku saja, itu sama sekali tidak membantu ...." kata Felix.


"Lebih baik takut daripada sombong, mengira dirimu akan menang ... lebih baik jika kau terus waspada dan mencoba melakukan segala hal untuk bisa menang daripada merasa lega dan bersantai-santai saja." kata Iriana.


Felix sampai di stasiun kereta Kota Pippa disambut oleh hujan deras. Tapi itu tidak menghentikan Felix, ia terus saja berjalan menerobos hujan seakan tidak hujan sama sekali. Felix sampai di depan gerbang masuk sekolah mendapati Zeki dan Verlin yang berjaga dengan ekspresi menakutkan.


"Tidak heran kalau kalian adalah Zewhit ...." kata Felix menurunkan tudung hoodie nya melihat wajah pucat tanpa ekspresi Zeki dan Verlin yang masing-masing memegang senjata.


Suara dan cahaya petir membuat suasana semakin menyeramkan saja.


"Kau juga harus bersiap-siap! hujan badai petir seperti ini biasanya mengingatkanku pada seseorang ...." kata Zeki.


"Siapa?! Aloysius?! dia ada di Neraka Proferce sekarang." kata Felix mengerti kekhawatiran Zeki, "Bahkan Efrain sendiri tidak bisa membebaskan yang berada disana."


"Dia bukanlah satu-satunya iblis dengan kekuatan alam ...." kata Verlin.


"Katamu, hanya Aloysius yang berada dipihak Efrain?!" tanya Felix.


"Menurut informasi yang kudapatkan begitu ... tapi tidak ada salahnya kita berjaga-jaga." kata Verlin.


"Kau hanya berhasil mengalahkan Aloysius karena gelang pemberian Iriana, tapi sekarang ... bagaimana kau akan mengalahkannya?!" tanya Zeki.


"Kalian begini ... seakan ada yang akan benar-benar datang saja." kata Felix.


"Dalam sejarah, iblis yang mempunyai kekuatan alam tidak bisa dikalahkan oleh siapapun selain Caelvita resmi. Sang Caldway sudah meramalkan pertemuanmu dengan Aloysius makanya memberikan gelang yang memiliki kekuatan Caelvita resmi itu untuk melindungimu yang belum menjadi Caelvita resmi." kata Verlin.


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ... Iriana hanya memberiku satu pelindung maka dari itu pasti itulah yang terakhir." kata Felix.


"Semoga saja ...." kata Verlin.


Sementara Iriana yang seharian terus berbicara tidak bisa diajak berkomunikasi karena sedang mengisi ulang jiwanya.


"Saat dibutuhkan dia menghilang ...." Felix mengomel sendiri.


Felix berpatroli mengelilingi sekolah bersama dengan Zeki dan Verlin yang terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak khawatir, Efrain sendiri akan sangat kesulitan mengalahkan iblis yang mempunyai kekuatan alam itu, apalagi dirinya yang belum menjadi Caelvita resmi. Felix terus memanggil nama Iriana tapi belum ada jawaban sama sekali.


"Padahal seharian dia hanya mengomel tidak penting, disaat sangat dibutuhkan begini dia pendiam sekali." kata Felix masih dengan kondisi hujan-hujanan mengelilingi sekolah.


Iblis dengan kekuatan alam tidak terikat dengan kerajaannya. Sehingga tidaklah perlu patuh pada Raja Neraka. Jadi, Felix mengira bahwa hanya Aloysius seorang lah yang berpihak pada Efrain. Nyatanya salah, Felix berlari setelah melihat sebuah kilatan petir menyambar turun ke tengah lapangan.


Felix tiba ditengah-tengah Zeki dan Verlin yang terlihat tanpa keraguan sama sekali tapi sangat jelas bisa dirasakan ketakutan dimata mereka.


"Hormatku pada Caelvita-119, Alvauden-118 dan Secrevanques-118." kata Seseorang yang membuat petir dan guntur saat mengedipkan matanya.


"Selama ini, kau tidak pernah berpihak pada siapapun. Apa yang membuatmu berubah pikiran?!" tanya Zeki pada iblis dengan tubuh seperti elang besar berwarna biru terang.


"Thunderbird ...." kata Verlin memegang erat senjatanya.


"Maaf, tapi saya tidak suka dengan nama panggilan itu ...." kata Thunderbird terlihat tersinggung.


"Harvard ...." kata Felix menyebutkan nama yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu siapa.


Thunderbird terlihat tersenyum mendengar Felix menyebut nama yang hanya sebagian kecil saja yang tahu.


Zeki dan Verlin menoleh ke arah Felix, "Kau tahu namanya?!" tanya Zeki.


"Bagaimana bisa?!" kata Verlin.


...-BERSAMBUNG-...