
"Entahlah ... selama ini Custodicurae disini tidak pernah kemana-mana. Jadi aku juga tidak tahu ...." kata Iriana.
"Efrain tidak mungkin tidak merekrut Zewhit yang disini. Rasanya Custodicurae disini sangatlah kuat, pasti merupakan Zewhit Viviandem dari kaum Ruleorum." kata Felix.
"Kalau tidak direkrut pasti ditangkap, hanya dua kemungkinan itu. Efrain tahu betul Custodicurae disini sangatlah kuat, karena dulu bahkan aku hampir mati dibunuh disini. Dia Zewhit Viviandem dari kaum Ruleorum, jadi kau sangat sial karena dia menjadi musuhmu sekarang." kata Iriana.
"Haha, terimakasih penjelasannya." kata Felix tertawa dengan wajah datar.
Felix terus berjalan masuk ke dalam hutan hingga berhenti setelah 30 menit berjalan, "Disini ...." Felix mendongak.
"Memoriasepirav hantu penjaga hutan ini." kata Iriana.
"Ini sih bukan rumah, tapi lebih mirip seperti penjara." kata Felix melihat Memoriasepirav yang besar dan luas dengan 10 lantai itu.
"Hobby hantu penjaga hutan ini atau Custodicurae disini suka mengoleksi roh manusia. Yang masuk ke hutan ini dan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Custodicurae akan dibuat tersesat, tidak bisa menemukan jalan keluar. Kalau beruntung hanya roh saja yang ditangkap dan dikurung sedangkan tubuh diletakkan di luar hutan untuk ditemukan. Tapi ada kasus juga yang menahan tubuh sekaligus roh, membuat keluarga korban terus mencari padahal tidak mungkin karena dikurungnya di Bemfapirav." kata Iriana menjelaskan disaat Felix memasuki Bemfapirav untuk melihat secara langsung Memorisepirav itu.
Felix melihat semua pintu kamar yang terbuka lebar, "Sepertinya dia sudah tidak tertarik melakukan hobby itu lagi ... tidak ada siapapun disini."
"Saat aku melepaskan Dave dulu, aku juga melepaskan semua tahanan disini. Sejak saat itu, Custodicurae disini berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Itupun karena aku sudah menjadi Caelvita resmi, kalau tidak aku bisa saja mati dibunuh olehnya saat itu." kata Iriana.
"Maksudmu aku harus berhati-hati kan?! okey! okey!" kata Felix ingin agar Iriana berhenti berceramah.
"Maksudku kau harus melatih kekuatan Ruleorum mu lebih giat lagi. Lawanmu nanti kebanyakan adalah Zewhit jadi cara untuk melawannya bukan hanya dengan kemampuan bela diri saja. Tidak usah terlalu mengkhawatirkan soal gerbang neraka ini. Butuh waktu lama untuk menciptakan hal besar seperti itu. Lebih baik kau minta dilatih oleh Kemp atau siapa saja di Istana Ruleorum saat ini." kata Iriana.
"Padahal jika kau ada dalam posisiku sekarang kau juga akan melakukan hal yang sama." kata Felix menyeringai, meledek perkataan Iriana yang berbanding terbalik dengan kepribadiannya.
"Jangan jadi sepertiku! Sudah menjadi tugasku membimbingmu untuk tidak jadi sepertiku. Untuk tidak melakukan kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya dimasaku. Memang akan terus ada korban karena penciptaan gerbang neraka. Tapi kalau kau terus fokus disitu, aku yakin kau akan mati saat perang yang terjadi akhir tahun ini." kata Iriana.
"Kau akan diingat sebagai Caelvita baik hati sementara membimbingku menjadi Caelvita kejam ... lucu sekali!" kata Felix.
"Caelvita dinilai dari pencapaiannya bukan dari kepribadian." kata Iriana.
"Sudahlah ... sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Lagipula aku ini memang dikenal kasar dari kecil. Tidak masalah bagiku selalu membawa image itu sampai mati." kata Felix kembali ke Mundclariss dan tiba di sisi lain hutan yang terlihat kota sudah dekat, "Apa sudah sampai disana?!" Felix duduk di atas tebing melihat pemandangan malam kota dengan cahaya yang terang seperti bintang di langit.
"Ayo!" kata Iriana.
Felix bangkit dan mulai memanggil Marsden, "Tuan Muda ...." Marsden menyapa dengan bunyi besi yang bergesakan membuat gigi Felix ngilu sendiri.
"Ganti jadi Gerbang Leaure! aku mau ke Istana Ruleorum." kata Felix menoleh kembali ke arah kota sebelum memasuki gerbang.
"Tidak akan ada yang kau capai jika kau tidak berani mengorbankan apapun, menurutku itu adalah nasehat bodoh. Saat ini kau harus bertahan hidup dulu supaya bisa menyelamatkan orang lebih banyak lagi. Semakin kau kuat maka semua yang ingin kau capai juga akan kau gapai bahkan tanpa ada yang perlu kau korbankan lagi." kata Iriana membujuk Felix untuk memasuki gerbang.
Felix memasuki gerbangnya dengan menghela napas dan menutup matanya. Saat membuka matanya dia sudah tiba di halaman istana Ruleorum.
"Apa ada Unimaris di istana sekarang?" tanya Felix.
"Nanti katanya Enzi akan datang ke istana." jawab Kemp dengan memamerkan giginya yang dipenuhi warna kilau biru karena batu permata safir.
"Kalau begitu aku akan ke ruang pikiran dulu. Kalau dia sudah datang, suruh menemuiku disana." kata Felix.
"Tuan Muda akhirnya mau berlatih lagi setelah sekian lama." kata Kemp dengan senyuman menyebalkan seperti meledek tapi sebenarnya tulus.
Felix hanya bisa membalas seadanya saja dan mulai masuk ke dalam istana. Sementara Kemp kembali melakukan pekerjaannya di danau Ruleorum.
"Kanan!" kata Iriana saat Felix berhenti karena lupa jalan.
"Istana ini saja saja sudah seperti permainan pikiran ...." keluh Felix yang kini tiba di sebuah pintu besar, "Bagaimana kau bisa ingat dengan jalan disini?!"
"Percayalah aku tidak ingat, hanya menebak saja. Di dalam istana ini semua tempat dan jalan selalu saja berubah. Kalau hanya bermodalkan hafal jalan saja tidak bisa. Kau harus mengingat setiap detail kecil." kata Iriana.
"Tidak perlu, kan ada kau yang menunjukkan jalan." kata Felix.
"Kau keluar sendiri nanti tanpa bantuanku!" kata Iriana sarkastik.
Felix menaruh tangannya di pintu besar itu, kemudian muncullah banyak tangan menariknya masuk.
"Tunggu ... aku baru di level 8 kenapa dekorasinya sudah begini?!" kata Felix yang baru saja masuk sudah protes.
"Naik level secara perlahan hanya untuk yang tidak punya masalah darurat sepertimu. Dalam kasusmu kau bisa melompat ke latihan pikiran level tinggi." kata Iriana.
"Itu sangat tidak membantu, menurutku! lebih baik secara perlahan saja ...." kata Felix yang perlahan terbalik karena yang dipijikinya juga perlahan mulai terbalik.
"Zewhit yang akan kau lawan ada yang sudah berada di level 900 lebih. Kau bisa terkurung selamanya di dalam dunia pikiran Zewhit jika tidak serius latihan!" kata Iriana.
Felix tidak jelas mendengar Iriana karena sedang panik saat ini semua yang ada disekitarnya terbalik. Atap dan lantai terbalik membuat Felix kini berpegangan pada meja yang yang terbalik karena menjadi atap saat ini.
"Ayolah Felix ...." Iriana sebal karena Felix begitu lambat berpikir.
Felix menenangkan dirinya dan mulai memutar dirinya untuk melompat ke arah lantai yang menjadi atap itu, "Yang kupijak sekarang adalah lantai!" Felix terus meyakinkan dirinya padahal saat ini tubuhnya bergantung terbalik tapi perlahan, "Hahh ...." Felix bisa bernapa lega setelah merasakan dirinya tidak tergantung lagi. Semuanya menjadi normal lagi dan Felix melihat ke atas, "Aku hampir saja jatuh mengenai lampu tajam itu ...." Felix yang terus melihat ke atap tidak sadar bahwa saat ini yang dipijakinya berubah.
...-BERSAMBUNG-...
Catatan Penulis : Banyak cerita yang tidak dimuat langsung di novel ini karena rencananya saya akan membuat spin-off nya sendiri.