
Di perjalanan pulang menuju panti setelah dari pemakaman "Kalian sudah sangat membantu ... sekarang biar aku yang ambil alih! bagaimanapun juga yang akan aku lakukan melenceng dari sebutan manusia yang baik serta Caelvita yang seharusnya. Tapi aku tidak peduli, mau disebut sebagai pembunuh, egois lah, Caelvita tidak bertanggung jawab atau apalah ... aku sudah tidak peduli selama aku bisa menyelamatkan Kiana dan dia bisa berumur panjang di kehidupan saat ini, tidak masalah aku disebut orang jahat atau Caelvita terburuk sepanjang masa!" kata Felix.
"Kami akan tetap membantu ...." kata Teo.
"Seharusnya kau yang keluar dari permainan ini! biar kami yang ambil alih ... kau itu seharusnya netral dalam segala hal dan tidak berat sebelah ... tapi dengan memilih akan menyelamatkan Kiana, kau sudah keluar dari jalur itu!" kata Cain.
"Kau tidak ingat kalau Caelvita dilarang ikut campur dalam permainan ini, biar kami Alvauden yang urus!" kata Tom.
"Lebih banyak yang membantu akan lebih baik, aku tidak melarangmu tapi kau juga tidak boleh melarang kami ...." kata Tan.
"Kalian tidak mengerti ... yang akan aku lakukan adalah menukar kematian Kiana dengan Bella ... apa kalian bisa menerima itu? apa kalian bisa melakukan itu?!" kata Felix.
"Apa benar tidak ada cara untuk menyelamatkan semuanya?" tanya Teo.
"Tidak ada, namanya saja tukar kematian Teo!" sahut Felix.
"Maksudku ... tidak ada cara untuk membuat para pemain bisa keluar dari permainan ini?" tanya Teo lagi memperjelas apa yang dipikirkannya.
"Namanya juga permainan Teo, kalau mau keluar ya setidaknya harus kalah atau menang dulu!" kata Felix yang agak sebal tapi sedikit terhibur dengan pertanyaan Teo yang sudah jelas itu.
"Kau mungkin salah paham Felix jika mengira kami akan segan dan tidak punya keberanian dalam permainan ini. Tapi sepeduli apapun kau dengan Kiana, tidak akan melebihi kami yang dari kecil merawatnya ... sekarang katakan bagaimana cara menukar kematian?" kata Tom.
"Kau mungkin juga salah paham Tom ... yah ... aku memang setuju kalau soal kalian yang lebih peduli dengan Kiana tapi untuk membunuh orang lain demi Kiana, itu beda cerita lagi ... tidak semua orang bisa melepaskan hati nuraninya untuk membunuh! apalagi kalian bertiga, mungkin memang hanya kau Tom yang bisa ikut membantu ...." kata Felix.
Cain, Tan dan Teo terlihat sedang merenung. Memang dari awal mereka sudah tahu akan melakukan hal yang egois itu tapi mengetahui Bella yang terhubung dengan Kiana, hati mereka ragu lagi.
"Jujur ... aku sudah sangat lelah karena permainan ini. Mungkin bukan cuma aku saja yang susah tidur walau bukan jadwal jaga untuk melihat monitor. Bukan baru sekarang aku begini tapi dari saat permainan ini mulai berlangsung aku sudah susah tidur dan kalaupun tidur aku akan mimpi buruk dan saat terbangun aku takut untuk tidur lagi, takut jika akan bermimpi buruk lagi. Jujur aku lega saat bisa terlepas dari permainan itu dengan Verlin dan Zeki yang mengambil alih jadi kita tidak perlu menjadi hakim dan memilih siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ... tapi setelah mengetahui Kiana menjadi salah satu pemain ... saat itu aku sempat berpikir kalau memang harus membunuh, akan aku lakukan jika itu bisa menyelamatkan Kiana ... mungkin ini memang adalah sifatku yang sesungguhnya dan selama ini aku hanya bersikap seperti orang baik ... aku ini munafik, Felix ... kau pikir aku orang baik? kau salah!" kata Tan panjang lebar.
Semua yang mendengar hanya bisa diam karena terkejut dengan Tan yang jujur dengan perasaannya.
"Terimakasih, Tan sudah mau mengeluarkan isi hatimu ... aku tahu sulit mengatakan itu tapi kau tetap mengatakannya ... itu sangat berarti untukku! maaf jika terkesan aku menyembunyikan sesuatu dari kalian, itu semua juga demi kebaikan kalian ... aku tidak mau pikiran kalian terlalu terbebani!" kata Felix.
"Menjadi Alvauden bukan karena kau memilih kami secara sengaja Felix tapi memang sudah takdir kami ... jadi kau tidak perlu merasa terbebani, biarkan kami membantumu ... bukankah itu tugas Alvauden?!" kata Tom tersenyum.
"Benar jika permainan ini membuat perasaan kita campur aduk, mungkin karena ini pertama kalinya ... tapi ini juga tugas pertama kami sebagai Alvauden, benar begitu kan Felix?" kata Teo.
"Semua pemain kecuali Kiana, sudah tahu tentang ini dan sepertinya mereka juga tahu kalau Kiana adalah bagian dari permainan ini dan mengira bahwa kita adalah orang terdekat yang akan membantu Kiana ... itu artinya kita adalah musuh bagi pemain lain ... entah bagaimana Franklin menyusun permainan ini tapi dengan Efrain yang juga ikut campur, kalian bisa dalam bahaya ... permainan pasti tidak akan sesederhana yang dijelaskan Verlin dan Zeki ...." kata Felix.
Felix terkejut dengan perkataan itu dan saling tatap dengan Cain, "Seharusnya mereka tidak mengatakan itu!" kata Cain dalam hati.
"Kalian bisa mengandalkanku!" kata Felix tersenyum, "Walau kalian mati sekalipun ... aku akan menghidupkan kalian lagi!" kata Felix dalam hati.
"Jadi bagaimana ... kita mulai dari mana?" tanya Tan.
"Surat! terlebih dahulu kita harus tahu apa isi dari surat misi pemain ...." sahut Felix.
"Ah, yang aku temukan itu ...." kata Teo berbangga diri.
"Cara menukar kematiannya bagaimana?" tanya Tom.
"Hahh ... kau ini terburu-buru sekali! caranya nanti aku jelaskan saat kita sudah tahu akan menghidupkan siapa ...." jawab Felix.
"Memang lebih banyak orang yang membantu akan lebih bagus karena kita harus mengenal satu per satu pemain ... untuk mengetahui siapa yang bisa kita pilih ... dan untuk itu kita perlu membagi diri mencari informasi ...." kata Tan.
"Ini tidaklah seperti memilih pilihan ganda ujian yang jika salah akan membuat kita menyesal karena tidak belajar sebaik mungkin dan membuat kita menyesal sepanjang ujian semester dilaksanakan lagi ... tidak sebanding dengan rasa penyesalan yang teramat sangat besar yang akan kita rasakan dan bukan cuma beberapa bulan tapi bisa saja seumur hidup menghantui kita. Ini tidak seperti ujian sekolah yang jika nilai buruk di semester ini maka bisa diperbaiki di semester selanjutnya. Aku tidak akan marah jika kalian ingin berhenti di tengah jalan ... katakan saja kalau kalian ingin keluar dari permainan ini ...." kata Felix.
"Ini baru awal ... selanjutnya tugas Alvauden akan lebih besar, akan lebih sulit, akan lebih membuat stres ... kita memang harus mempersiapkan diri!" kata Tom.
"Karena ini pertama maka kita merasa ini adalah masalah besar, sulit dan membuat stres tapi bisa jadi setelah ini kita sudah bisa terbiasa ...." kata Teo yang jelas sedang memaksakan tersenyum.
"Cain?" Felix melihat Cain daritadi hanya diam saja.
"Kau tidak perlu memikirkan aku ... bagiku ini bukan tugas pertamaku sebagai Alvauden dan asal kau tahu saja sekarang aku sudah mengerjakan misi ke 67 sebagai Leaure!" kata Cain sombong.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku juga sudah memberi tahu Dokter Mari untuk membantu kalian bisa melakukan permainan dengan konsultasi tiap minggu dan membantu pikiran kalian pulih setelah permainan ini selesai ...." kata Felix yang tidak direspon baik oleh Cain.
"Seperti kau sudah tahu saja kalau kami akan menerimanya ...." kata Tan tertawa kecil.
"Sudah seharusnya kalian menerima, kalian adalah Alvauden dari generasi Caelvita-119! kalian tidak menjadi Alvauden hanya karena keberuntungan tapi karena memang kalian pantas menjadi Alvauden. Nasib tiga dunia kini ada di tangan kalian!" kata Felix.
"Rasanya aku akan muntah! jangan dilanjutkan lagi dan jangan pernah katakan itu lagi!" kata Teo membuat yang lainnya tertawa.
...-BERSAMBUNG-...