UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.253 - Bukankah Sudah Kukatakan ....



Mereka kembali melakukan aktivitas normal dengan bersekolah bersama dengan teman-teman seumuran dengan mereka. Di dalam kelas sedang ribut menceritakan soal perjalanan liburan musim dingin masing-masing. Ada yang ke luar negeri yang merupakan negara tropis sehingga bisa menikmati musim panas lebih cepat. Ada juga yang ke luar negeri tapi ke tempat yang lebih dingin lagi dibanding Yardley untuk melihat aurora katanya.


Ada juga yang ke luar negeri tepatnya di negara yang daging sapinya murah karena populasi sapi disana lebih banyak dibanding populasi manusianya. Kebanyakan dari mereka ke luar negeri, yang lainnya lebih memilih tinggal di rumah untuk beristirahat total atau ke rumah nenek dan kakek di desa.


Jujur saja Tan, Teo dan Tom ingin sekali menceritakan apa yang dilaluinya saat libur musim dingin. Bahkan kisah mereka sangatlah menarik dan jauh lebih hebat. Tapi apa boleh buat, selamanya kisah mereka hanyalah fantasi dari pandangan orang normal. Akhirnya mereka memilih tidur saja, setidaknya masih ada beberapa menit sebelum pelajaran pertama dimulai.


"Kau tidak pergi liburan, Felix?" tanya Dea.


"Tanpa kau bertanya, kau sudah mendapatkan jawabannya!" balas Felix.


"Kau pergi liburan kemana?" tanya Dea heboh.


"Hahh ....." Felix menghela napas panjang, entah Dea itu bodoh atau hanya pura-pura bodoh mengartikan ucapan atau seperti itulah dari sudut pandang Felix yang kelihatan.


"Kalau ada Cain, dia pasti akan menceritakan berapa buku yang sudah dibacanya dan menceritakan kesimpulan ataupun kutipan bagus dari tiap buku untuk dijadikan rekomendasi ...." kata Osvald.


"Tentu saja!" kata Felix tertawa, "Disaat anak-anak lainnya sedang sibuk menceritakan pengalaman liburan yang mewah, Cain tidak akan malu memberitahu pengalamannya yang sederhana saja ... dia selalu saja ikut dalam obrolan manapun, tidak pernah merasa rendah diri pada apapun!" kata Felix dalam hati, "Tapi ... pasti menurutnya itu bukanlah sederhana ...." kata Felix serasa ada Cain yang menatap tajam karena mengatakan bahwa hobby membaca bukunya itu sederhana.


Pelajaran komputer bersamaan dilaksanakan oleh empat kelas. Kelas Felix, Tan, Teo dan Tom. Walaupun ruangan praktek mereka berbeda-beda. Mertie mengirimkan tautan pada ruang obrolan mereka berempat. Tom melirik Mertie yang sekelas dengannya karena baru saja mendapat notifikasi grup.


"Telah terjadi serangkaian pembunuhan oleh pelaku yang mengakui bahwa dirinya lupa atau tidak mengingat sama sekali apapun sebelum dan setelah pembunuhan terjadi."


Mengerjakan tugas komputer sekaligus melakukan obrolan grup, "Memangnya ada apa dengan ini ... bukankah sudah kubilang ini tidak ada hubungannya dengan kami!" kata Tom.


"Kau ini egois sekali! memangnya jika tidak ada hubungannya dengan kalian, bisa dengan mudahnya kalian abaikan tanpa merasa bersalah?" kata Mertie seperti hampir merusak keyboard karena emosi mengetik.


"Merasa bersalah?" tanya Tom.


"Kau bisa melakukan sesuatu dengan itu tapi tidak melakukan apa-apa itu namanya egois! ah ... bukan! pengecut lebih tepatnya!" jawab Mertie.


"Tapi ini sudah bukan yang pertama kalinya, bukankah ini sudah aneh! sebaiknya memang kita periksa!" kata Tan.


"Jelas-jelas yang melakukannya adalah manusia bukanlah monster dari dunia lain!" kata Tom.


"Bahkan manusia bisa menjadi monster melebihi monster manapun di dunia ini ataupun dunia lain ... kau tidak melihat bagaiamana perbuatan Ted?!" kata Tan.


"Kau tidak tahu saja bagaimana monster sesungguhnya dari dunia lain ...." kata Tom dalam hati.


Tom bukannya ingin menghindari masalah yang bukan terkait dengan Mundebris tapi hanya ingin meminimalkan pekerjaan mereka saja. Tidak selamanya semua masalah harus mereka selesaikan. Jika memang harus memilih, yang diprioritaskan adalah masalah Mundebris dulu.


"Teo! kenapa kau diam saja! memangnya kau tidak mendapat keyboard atau apa? tentukan dimana kau berpihak!" kata Mertie.


"Jangan ganggu aku! tugasku masih belum selesai ...." kata Teo menutup grup obrolan itu dan mengerjakan tugasnya.


"Apa-apaan dia!" kata Mertie melihat Teo meninggalkan grup obrolan, "Bagaimana denganmu Felix? tunggu ... bahkan dia belum pernah membaca daritadi ...." kata Mertie heran, "Kalau ada Cain pasti dia akan langsung menyelidiki ini!" Mertie berusaha memancing Felix.


"Kau pikir aku tidak melakukan apa-apa! aku tidak diam saja ... aku sudah selidiki tapi tidak menemukan apa-apa makanya aku meminta bantuan kalian." kata Mertie.


"Kalau tidak menemukan apa-apa kenapa kau yang heboh begini!" kata Tom.


"Justru kalau tidak menemukan apa-apa itu aneh ...." kata Tan.


"Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian!" kata Tom.


"Dimana Felix? apa tugasnya masih belum selesai? padahal gampang begini ... aku saja sudah daritadi selesai!" kata Mertie.


Felix sendiri memang sudah selesai mengerjakan tugas daritadi. Teman-teman disampingnya pun begitu bahkan kini mulai bermain game. Itulah seninya saat pelajaran komputer, setelah menyelesaikan tugas mereka bisa melakukan hal lain. Felix hanya melihat obrolan dari notifikasi yang terus muncul saja, malas untuk masuk dan ikut mengobrol. Tapi dari awal ikut membaca obrolan grup. Yang ada dipikiran Felix saat ini hanyalah bagaimana menemukan keberadaan Cain. Waktu yang dimiliki Felix tinggal 24 hari Mundclariss, 24 jam waktu Mundebris.


***


Cain yang tinggal di sebuah ruangan gelap yang tidak diketahui lokasinya ada dimana. Di luar ruangan gelap itu tidak ada tanaman atau hewan Mundebris yang hidup sehingga tidak bisa ditemukan oleh Tan, Teo dan Tom. Pijakan bukanlah dari tanah atau kerikil yang hidup melainkan pasir hiasan yang tidaklah hidup sehingga tidak bisa ditemukan oleh Felix. Tempat persembunyian Cain itu dikelilingi oleh segala sesuatu yang tidak hidup untuk menjauhkan dirinya dari ditemukan.


"Sampai kapan kau akan disini terus?!" tanya Goldwin.


"Jangan menceramahiku! kau sendiri tidak pernah menampakkan diri saat penampilanmu begitu ...." kata Cain menunjuk Goldwin yang tidak mempunyai bulu sama sekali. Menjadi seekor kucing dengan tidak ada bulu atau mengubah diri menjadi singa yang tidak mempunyai bulu. Goldwin bingung untuk menampakkan diri bagaimana agar bisa tampil lebih baik.


"Kau sendiri pasti malu karena kepala botak kan? alasan kalau kau tidak mau terlihat lemah tapi sebenarnya kau hanya malu!" kata Goldwin.


"Hahh ... lihat kita berdua! saling mengejek padahal dengan keadaan yang sama!" kata Cain menggaruk-garuk rambut pendeknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


"Beruntung kita masih hidup ...." kata Goldwin merendahkan suaranya.


"Aku berangkat!" kata Cain.


"Jangan lupa bawakan aku ramuan penumbuh bulu juga, persediaanku sudah mulai habis!" kata Goldwin.


"Cepat sekali habisnya?! kau memakainya sebagai air untuk mandi atau bagaimana?" kata Cain heran.


Cain tiba di suatu tempat setelah berjalan jauh. Tidak menggunakan gerbang karena Felix mempunyai gerbang utama yang mengetahui aktivitas semua gerbang. Tidak menggunakan kuda yang bisa membuat Tan, Teo dan Tom mendapatkan informasi. Jadi cara satu-satunya hanyalah berjalan kaki menggunakan garis pelindung.


"Ow kau sudah datang ...." suara yang mengagetkan Cain setelah membuka pintu.


"Felix?!" seru Cain, "Kau menemukanku ...."


"Bukankah sudah kubilang aku akan menemukanmu ...." kata Felix memperlihatkan jam tangannya, "Bahkan lebih cepat dari yang aku katakan ...." Felix menyeringai.


...-BERSAMBUNG-...