UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.441 - Fenomena Alam?



Tidak ada yang bisa menebak memang apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan apa yang akan terjadi satu detik kemudian.


Itulah kutipan yang tepat menggambarkan bagaimana mereka benar-benar tidak menyangka akan meninggalkan pelabuhan padahal sudah menunggu lama. Terlebih lagi Daisy yang sudah mengikuti dari dua minggu yang lalu, semuanya semata-mata untuk hari ini. Tapi langsung pergi saat mendapatkan telepon dari seseorang.


Felix yang mendengar suara yang berbicara dengan Daisy ditelepon menjelaskan kalau ada kejadian besar yang terjadi saat ini di tengah kota. Sebuah kejadian yang mustahil untuk dilewatkan oleh Daisy sebagai wartawan. Begitupun Felix dan Tiga Kembar juga tidak bisa kalau tidak ketempat kejadian memeriksa dengan mata kepala sendiri.


"Ada-ada saja! mana ada!" kata Teo tidak percaya.


"Kita harus cepat atau kalau tidak kita bisa melewatkan pertukaran Lucy dan Carlton group ...." kata Tom melihat jam tangannya.


Daisy juga bergerak cepat, dirinya ingin bisa menang dua berita ekslusif sekaligus. Meliput kejadian di tengah kota dan juga pertukaran di pelabuhan yang tidak lama lagi.


Sampai di dekat tempat kejadian di tengah kota, terlalu banyak orang yang berkumpul. Felix, Tan, Teo dan Tom kesulitan untuk maju kedepan melihat secara langsung. Sedangkan Daisy terlihat sangat mudah menerobos kerumunan.


"Wah, ibu seperti buldoser saja ...." kata Teo tertawa melihat keahlian Daisy yang tidak biasa itu. Dengan mudah Daisy sudah sampai di depan yang kata orang-orang disana itu adalah sebuah fenomena alam.


Felix dan Tiga Kembar menggunakan tubuh mereka yang kecil dengan baik agar bisa maju ke barisan depan juga.


Tanpa suara tapi ekspresi sudah menjelaskan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka lihat saat ini setelah sampai di barisan paling depan.


Daisy yang duluan sampai seharusnya sudah melakukan sesuatu tapi hanya terdiam mematung juga.


Felix melewati garis polisi dan mendekati lubang besar yang tercipta di tengah perempatan jalan raya Kota Pippa tepatnya di pusat kota Yardley. Lubang besar tanpa ujung itu memakan banyak korban. Pengendara dan penumpang kendaraan serta pejalan kaki banyak yang dilaporkan terjatuh ke dalam lubang itu menurut saksi yang berhasil selamat tidak jatuh ke dalam lubang itu.


"Sepupuku ... yang berjalan bersamaku terjatuh!" salah satu Saksi yang tidak berhenti menceritakan apa yang terjadi dan meminta agar ada yang turun kesana secepatnya melihat korban.


"Apa ini Felix?!" tanya Teo ikut berdiri disamping Felix tepatnya di tepi lubang atau lebih tepatnya disebut jurang.


"Aku tidak mendengar ada suara di bawah sana ...." kata Felix lebih mementingkan korban terlebih dahulu yang bisa diselamatkan dibanding menjelaskan fenomena yang terjadi itu.


Felix bisa melihat ada aura iblis yang tertinggal, sudah jelas kalau ini bukanlah sebuah fenomena alam atau bencana alam tapi ada yang sengaja menciptakan lubang itu dengan kekuatan yang bukan main besarnya. Kalung Tiga Kembar tidak memunculkan aura karena iblis sudah pergi.


"Apa kau bisa melakukan hal seperti ini?!" tanya Tom ingin mengetahui seberapa kuat yang melakukan, apakah sama dengan Felix atau diatas Felix.


"Lubang ini tentu saja bukan hanya sedalam ribuan meter saja, Tom. Kau pikir kekuatanku sudah setinggi itu?! ini sih sudah seperti serangan nuklir yang terpusat pada satu titik saja." kata Felix.


Daisy sudah mulai melakukan tugasnya sebagai wartawan. Para petugas yang berwajib menjaga garis pembatas agar tidak ada yang melewati batas. Sementara FT3 bebas berjalan kesana-kemari di dalam area karena tidak terlihat. Petugas pemadam kebakaran sudah bersiap untuk turun ke dalam lubang menyelamatkan korban.


"Mereka sudah gila! apa sebaiknya kita menghentikan mereka turun?!" kata Teo menahan tali salah satu pemadam kebakaran sehingga seperti tersangkut tapi nyatanya Teo lah yang menahan.


"Ya, aku bisa melakukan sesuatu dengan ramuan agar mereka semua kembali naik karena ketakutan." kata Tan sudah siap ingin memamerkan sulapnya.


"Bukankah sebaiknya mencegah ada korban lain lebih baik?! Felix!" kata Tom juga ikut membujuk.


Tan dengan senang hati mengeluarkan bermacam-macam botol ramuannya. Teo dan Tom sama sekali tidak terlihat tertarik karena sudah terbiasa melihat aksi Tan itu saat latihan.


Tan melempar sepuluh botol ramuan ke dalam lubang sekaligus kemudian merentangkan kedua tangannya. Setiap ujung jari Tan terlihat berdarah sedikit. Setelah diperkirakan botol ramuan itu sudah lebih dalam dari semua pemadam kebakaran yang turun menggunakan tali. Tan menyatukan kedua tangannya dengan menghubungkan masing-masing ujung jarinya dan semua botol ramuan yang ada di dalam lubang itu saling tertarik satu sama lain terkumpul jadi satu kesatuan dan meledak.


Semua pemadam kebakaran dengan buru-buru kembali naik untuk menyelamatkan diri. Semua orang yang menonton juga langsung meringkuk ketakutan kemudian berlari menjauh darisana.


"Setidaknya, sekarang mereka tidak akan turun sebelum memastikan dibawah sana aman ...." kata Tan.


"Setidaknya penonton berkurang ...." kata Teo melihat berkurangnya orang yang tinggal saat ini.


Tentunya Tan tidak bisa melakukan sihir atau semacamnya. Yang dilakukannya tadi adalah sebuah trik dari ahli ramuan yang diajarkan Banks. Biasanya hal itu dilakukan untuk mencampur sesuatu dari kejauhan agar peramu tidak terluka. Caranya dengan memberi sedikit darah ditiap botol ramuan kemudian diatur dari kejauhan dengan menyatukan semua jari yang terluka untuk menyatukan semua botol ramuan.


Botol ramuan di Mundebris diatur untuk saling tarik menarik dengan darah yang sama melekat di masing-masing botol. Penemu cara itu tentunya adalah Banks, yang menemukan pertama kali dan juga mengajarkan pada Tan kali ini. Tan tentunya merasa sangat bangga karena bisa diajarkan langsung oleh penemunya.


"Apa mungkin lubang ini sampai ke neraka?!" kata Daisy berlebihan untuk membuat beritanya menarik perhatian.


"Mana ada bu! neraka ada di dunia lain! walau menggali sedalam apapun tidak akan sampai ke Mundebris juga. Harus pakai gerbang untuk ke neraka." kata Teo terus membalas perkataan Daisy padahal tidak bisa didengar. Tan dan Tom hanya bisa menahan tawa mendengar celotehan Teo yang berada tepat disamping Daisy yang sedang melakukan rekaman berita.


"Sepertinya aku harus turun sendiri!" kata Felix.


"Em?!" sahut Tiga Kembar masih terdengar biasa saja, "Apa?!" reaksi mereka berubah setelah tahu Felix bersungguh-sungguh.


"Bukankah aneh, bagaimana aku tidak bisa mendengar suara di bawah sana. Sudah sebaiknya aku memeriksanya!" kata Felix.


"Jangan bodoh!" kata Tom.


"Aku ini peringkat 1!" balas Felix.


"Makanya ... kau sudah tahu betul kalau ini berbahaya tapi tetap mau ke bawah sana. Itu namanya bodoh! percuma kau peringkat 1! menyedihkan rasanya ... aku bisa kalah darimu." kata Tom.


Tan sendiri tidak habis pikir bagaimana soal peringkat sekolah menjadi perdebatan antara Felix dan Tom.


Sudah pukul 12 tengah malam, mereka terpaksa melewatkan pertukaran Lucy dan Carlton Group di pelabuhan. Karena saat ini lebih penting apa yang ada di depan mereka. Memikirkan banyaknya korban di bawah sana, tidak diketahui apa selamat atau tidak adalah nomor satu. Dibanding dengan hanya pertukaran benda yang tidak jelas apa, menyelamatkan nyawa lebih penting.


Rekan kerja Daisy juga sudah datang dan mendirikan tenda untuk terus meliput kejadian terkini. Begitupun wartawan lainnya juga sudah berdatangan.


"Harusnya ibu bisa bersantai di studio saja membawa berita, ini dia sendiri yang meliput di lokasi kejadian. Dasar aneh!" Teo kemudian menatap Felix, "Sama saja dengan kau yang lebih aneh lagi! mau ke bawah sana sendirian."


"Kalau begitu kami ikut!" kata Tan.


...-BERSAMBUNG-...