
"Lucu sekali, kau terjatuh karena kau sendiri! bukan aku yang mendorong atau menyandungmu." kata Mertie kesal.
"Kau tidak tahu kejahatan secara tidak langsung, ya?! walau bukan kau yang secara langsung membuatku terjatuh tapi semuanya juga akibat dari perbuatanmu makanya aku terjatuh." kata Teo.
"Hahh?! memangnya kau jaksa atau apa?! berani-beraninya menceramahiku!" kata Mertie.
"Aku tidak tertarik tapi karena kau mungkin ... aku akan mencoba mendaftar untuk jurusan hukum." kata Teo.
"Ohya?! kalau begitu datanglah saat kau sudah menjadi jaksa! jangan sekarang! hanya anak SD kelas 6 menyebalkan yang meninggalkan pos jaga padahal sudah berjanji akan membantu ... tidak bertanggung jawab! kau tidak pantas menjadi jaksa! jangan berani-berani memimpikan hal yang tidak cocok untukmu! Kau pikir semua orang bisa menjadi jaksa kalau mau?! Bahkan kerja keras saja tidak cukup!" Mertie seperti kehabisan napas setelah mengatakan itu semua karena mengomel tanpa jeda.
"Wah ... kau ini masih saja kesal soal itu. Picik sekali! baru juga satu kali melakukan kesalahan, kau jadi lupa pekerjaan lainnya yang kami lakukan sebelumnya." kata Teo belum cukup mengutarakan kekecewaannya tapi Mertie sudah pergi, "Hahh ... menyebalkan!" Teo menendang panggung tapi bukannya kakinya sakit malah bagian panggung yang terkena tendangan Teo terlihat retak, "Ow ...." Teo segera kabur darisana karena panik, takut ada yang melihatnya melakukan hal itu.
"Lemah sekali!" kata Winn.
"Yang tadi kau bilang lemah?!" Teo tidak habis pikir.
"Pemilik sebelumku semuanya tidak hanya lincah tapi serangannya juga kuat. Bagaimana bisa kau tidak mendapatkan kekuatan itu ... padahal aku sudah terus mentransfer energi padamu setiap kau memakaiku bertarung." kata Winn.
"Aku ini manusia, semua pemilik sebelumnya bukan manusia. Kau tidak bisa menyamakanku dengan mereka dan merendahkanku karena alasan sepele begitu ...." Teo membela dirinya.
"Bukannya jaksa tapi jadi pengacara saja! Kau pintar dalam membela diri." kata Winn.
"Hahh?! kali ini giliranmu yang meledekku?! kenapa kalian semua memperlakukanku seperti ini?!" Teo tidak sadar langsung berteriak.
"Kau sudah gila?!" tanya Dea yang lewat didekatnya.
"Ada apa Teo?! ada yang mengganggumu?!" tanya Pak Egan yang sedang membawa barang langsung diturunkan untuk mendekati Teo yang tiba-tiba berteriak, "Apa ada yang membullymu?! katakan!" Pak Egan menepuk kedua pipi kemudian menggoyangkan bahu Teo untuk mendapatkan jawaban.
"Bapak juga kenapa begini ...." Teo dengan nada lesuh karena bahkan Pak Egan juga mengganggunya saat ini.
Disaat semua murid memandangi Teo yang tiba-tiba berteriak tidak jelas itu. Tan dan Tom tidak peduli sama sekali tanpa melirik sedikitpun juga tetap melakukan aktivitas biasa tanpa terganggu. Begitupun Felix hanya diam sambil menutup matanya berbaring di kursi depan tenda dekat mereka.
"Jadi, bagaimana menurutmu ...." kata Tan.
"Apanya?!" tanya Osvald.
"Kau tidak mendengarkan?! aku sudah panjang lebar menjelaskan dan kau tidak memperhatikan?!" Tan merasa tidak adil.
"Kau yang aneh, tetap menjelaskan ... padahal semua orang sedang memperhatikan Teo." kata Demelza.
"Dia memang sering begitu! apanya yang perlu diperhatikan?!" kata Tom.
"Kalian semua aneh!" kata Demelza.
"Lalu, kenapa kau mau bergabung di kelompok yang berisi orang aneh ini?!" balas Tom.
"Karena dia tidak diinginkan masuk oleh kelompok lain." kata Osvald tertawa.
"Kau pikir itu lucu?!" Demelza memukul Osvald tapi Osvald hanya terus tertawa dan Demelza tidak terlihat tersinggung juga.
"Kalian sudah mulai berubah ...." kata Tan tersenyum.
"Apanya?!" tanya Demelza dan Osvald bersamaan.
"Tidak ... lupakan!" Tan mengalihkan pembicaraan, "Aku akan menjelaskan sekali lagi, jadi kalau kalian tidak memperhatikan ... aku tidak akan menjelaskan lagi walau kalian meminta."
"Dia?!" Demelza menunjuk Felix yang daritadi tidak memperhatikan.
"Walau terlihat begitu, dia mendengarkan juga." kata Tom.
"Bukannya dia sedang tidur?!" tanya Demelza.
"Walau dia tidur juga bisa mendengarkan." kata Tan.
"Omong kosong apa itu?!" kata Demelza.
"Karena kau yang begini, jadi ... anak-anak lain tidak mau menjadikanmu teman kelompok. Beruntunglah kita sudah mulai terbiasa dengan perkataan kasarmu itu!" kata Teo yang baru bergabung.
"Kau baru saja datang, mana tahu apa yang sedang terjadi. Jangan ikut campur! lagipula semuanya karena kau juga, tahu?!" kata Demelza.
"Ya ... ya ... ya!" Teo dengan nada usilnya.
Jadwal acara perkemahan berbeda-beda setiap tingkatan. Untuk angkatan Felix, lebih memilih waktu santai pada hari pertama mereka sampai. Kalau angkatan lain langsung melakukan aktivitas pada hari pertama.
Kemudian acara pertunjukan pada malam pertama di lokasi perkemahan. Jadwal disesuaikan sesuai kesepakatan dari setiap kelas yang digabung. Tapi angkatan Felix terkesan lebih menikmati waktu santai pada hari pertama dan acara pertunjukan pada malam pertama tidak pernah dilewatkan tiap tahunnya.
"Paling menyenangkan memang kalau bersama angkatan ini ...." kata Bu Latoya yang sudah duduk manis dengan meminum teh dengan cangkir mewah yang sengaja dibawanya.
Pak Egan yang sedang lewat susah payah menahan tawanya melihat Bu Latoya yang seperti itu. Memang sudah sering Bu Latoya dilihat seperti itu tapi tetap saja dengan kesan yang berbeda kalau dlihat lagi di waktu yang berbeda.
Sementara Tan dan Demelza bekerjasama sedang menyiapkan konsep pertunjukan, Teo, Tom dan Osvald mempersiapkan pakaian dan perlengkapan untuk dipakai. Semua kelompok terlihat sibuk di depan tenda masing-masing.
Kali ini bukan hanya yang ingin saja, yang maju kepanggung. Tapi semua murid harus berpartisipasi karena ini adalah acara perkemahan terakhir mereka sebagai murid SD. Tema pertunjukan telah ditetapkan sebagai 'Time Travel' mengenang kenangan dari kelas 1 sampai sekarang. Terserah dari masing-masing kelompok bagaimana cara menyampaikannya.
"Dimana Felix?! bukankah dia harusnya ikut latihan bersama kita." kata Demelza mencari keberadaan Felix yang tiba-tiba menghilang.
"Tidak usah, dia pasti sudah hafal apa yang perlu dilakukannya!" kata Tom.
"Bagaimana?!" tanya Demelza.
"Adalah ... kau tidak perlu tahu!" kata Teo.
Mereka berlatih dengan suara keras dan Tan menjelaskan apa yang harus dilakukan dan dikatakan oleh Felix. Begitulah bagaimana Felix mendengarkan dari jauh.
"Kau dengar kan?!" tanya Teo lewat Jaringan Alvauden.
"Kau mau aku mengatakan itu?! jangan mimpi!" sahut Felix tidak habis pikir dengan dialognya.
"Ini kan cuma pertunjukan, bekerjasamalah sedikit!" kata Teo terus mengomel sambil membujuk agar Felix mau, "Ini juga kenangan terakhir kita sebagai siswa SD, kau mau melewatkannya tanpa kenangan berharga begitu?!"
"Kenangan berharga apanya dari itu ...." kata Felix dalam hati tapi akhirnya terpaksa setuju juga, "Baiklah ...." karena Teo tidak berhenti terus mengganggu Felix yang sedang berpikir sambil berpatroli mengelilingi perkemahan.
Selanjutnya Tan masih terus membaca keras dialognya dan juga punya Felix serta mengatakan dengan keras apa yang harus dilakukan agar Felix bisa berlatih dari jauh.
Felix tidaklah khawatir dengan keamanan perkemahan tapi hanya sekedar berjalan mengitari lokasi perkemahan untuk sekaligus berpikir juga. Memikirkan bagaimana melakukan sesuatu dengan gerbang neraka dan bagaimana persiapan untuk perang pada malam tahun baru nanti.
"Aura ini ...." Felix yang sedang berjalan lurus kedepan tiba-tiba berjalan mundur dan berbalik langsung lari dengan kecepatan tinggi. Tapi setelah sampai aura yang dirasakannya tadi menghilang, "Apa ini?!" Felix melihat sesuatu di atas tanah.
...-BERSAMBUNG-...