
Karena pemimpin berperan penting dalam hal menang dan kalah di pertempuran. Bukan hanya sekedar pemimpin yang cerdas membuat strategi tapi juga yang bisa membaca strategi musuh dengan cepat dalam keadaan mendesak.
Bukan hanya penyumbang suara untuk teriakan memulai peperangan tapi kehadiran pemimpin dapat memberi semangat dan bisa mengubah alur peperangan. Bukan hanya sekedar pajangan untuk menakut-nakuti lawan dibelakang tapi sebagai pemimpin yang paling pertama maju. Tidak hanya berdiri dibelakang dan menonton.
Begitu halnya jika pemimpin dibunuh, maka otomatis pasukan juga ikut kalah. Lebih dari siapapun, pemimpin bagi Mundebris bukanlah seseorang yang harus sepenuhnya sempurna dalam segala hal. Tapi seseorang yang harus menguasai hal paling penting yakni menjadi yang paling kuat diantara semua pasukannya. Barulah pasukan bisa percaya dan mengikuti untuk berperang kalau pemimpin itu bisa dipercaya dan diandalkan. Maka dari itulah kenapa pemilik Sesemax sangatlah diinginkan, semuanya adalah tentang kekuatan.
Tatapan mata Felix dan Efrain tidak menandakan ada keraguan. Kalau ada kesempatan dan celah, masing-masing sudah siap untuk mengakhiri hidup lawan. Terutama untuk Efrain yang tahu bahawa Felix yang sudah memberi kehidupannya pada Tan, Teo dan Tom masih mempunyai nyawa lainnya. Harus membunuh Felix lagi bukan hanya sekali untuk sepenuhnya membunuhnya. Felix juga tahu kalau tidak semudah itu membunuh Efrain, bahkan setelah dibunuh dan menjadi Zewhit pun Efrain tetaplah kuat.
Felix yang memberikan nyawa Caelvitanya pada Tiga Kembar tidak disukai oleh Efrain tapi juga menjadi peluang menang untuk Efrain. Tidak usah bersusah payah lagi untuk membunuh tiga nyawa Felix yang sudah diberikan itu.
Lebih dari siapapun, Efrain sangat percaya diri untuk membunuh Felix dan merasa kalau dirinyalah satu-satunya yang bisa melakukan itu sebagai Raja Neraka yang memiliki kekuatan dan stamina yang besar.
Tapi variabel baru muncul mengacaukan rencana Efrain. Felix yang menjadi Caelvita Resmi malam itu tidak diketahui dan diduga oleh Efrain akan terjadi. Walau tahu kalau Felix memang sudah kelihatan ada tanda untuk membangkitkan kekuatan inti tapi dikiranya itu hanyalah salah satu saja bukan sekaligus seperti sekarang. Efrain juga punya pengalaman hidup dengan Caelvita, sehingga saat itu terjadi rasanya Efrain seperti dicurangi.
Sekarang, Felix bukan lagi orang yang sama. Bahkan tidak bisa lagi disebut orang karena sepenuhnya sudah bukan lagi manusia. Tubuhnya sudah menjadi Quiris seutuhnya. Tubuh manusianya sudah tergantikan dan itu membuat Veneormi juga langsung mati oleh darah Felix.
Darah di dalam tubuh Felix saat menjadi Caelvita Resmi seakan melakukan tour menyeluruh. Pompaan darah pertama yang keluar dari jantung setelah menjadi Caelvita Resmi. Melihat dan memeriksa keadaan tubuh Felix. Jika ada yang bermasalah langsung diperbaiki dan jika ada benda asing yang bukan bagian dari tubuh Felix akan langsung dihancurkan.
Felix tidak bisa, tidak menghiraukan perubahan pada tubuhnya itu. Sangat aneh dan sangat sakit, seperti sangat asing bagi Felix untuk memakai tubuhnya sendiri. Kekuatan yang menjadi sangat besar, penyembuhan yang menjadi sangat cepat dan yang paling menonjol adalah darahnya serasa mendidih saat ini di dalam tubuhnya.
Felix berusaha dengan kuat mengabaikan itu agar terus memasang wajah datar supaya Efrain tidak curiga. Karena yang dipelajari dari Ratu Sangiber dalam pertarungan bukan hanya soal adu kekuatan tapi juga adu akting.
"Saat Iriana menjadi Caelvita Resmi, bahkan tidak bisa bergerak banyak ... tapi dia ... bertarung seakan tidak ada yang terjadi dan tidak merasakan sakit sama sekali. Hanya terus bertarung tanpa kelihatan ada masalah." kata Efrain dalam hati heran, "Apalagi membangkitkan kekuatan dalam semalam sekaligus. Kukira tadi akan ada peluang dan mudah untuk membunuhnya karena itu tapi ... semuanya berjalan tidak sesuai apa yang seharusnya."
Felix tetap merasakan rasa sakit dengan perubahan tubuhnya yang tiba-tiba itu. Tapi bersikeras untuk menutupinya, bukan karena gengsi semata tapi karena keras kepalanya yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang.
"Dia sudah seperti Caelvita yang sudah lama menjabat. Padahal baru malam ini dia dinobatkan." kata Ratu Sanguiber diam-diam juga terus melirik ke arah Felix.
"Memang masa kejayaan seseorang berbeda-beda. Caelvita lainnya bisa saja membangkitkan Viviandem dari usia yang sangat muda. Felix yang dikatakan terlambat, bisa dibilang pencapaiannya sekarang ini langsung menebus semuanya." kata Raja Aluias.
"Wow, sorry!" Cain tidak sengaja menyentuh kaki Alex menimbulkan api menyala disana tapi saat Cain akan mematikan api itu, semakin besar saja.
"Berhenti menyentuhku!" kata Alex dengan mudah mematikan api yang membakar sisiknya, "Kau tidak lihat Leaure semuanya menjauhiku, tapi kau malah terus mendekatiku!" keluh Alex.
Goldwin menggeram marah pada Alex yang menceramahi Cain. Cain mencoba menengahi tapi Alex protes, "Cara terbaik adalah kau menjauh!" teriak Alex marah-marah, "Pakaianmu saja Leaure tapi kau tidak tahu kalau aku ini api itu sendiri. Tentu saja Leaure tidak bisa menyentuhku!"
"Aku hanya Setengah Leaure." kata Cain.
"Lalu apa lagi?!" tanya Alex.
Alex yang sebal menarik pohon dan melemparkannya pada Cain, "Kau ingin membunuhku?! Leaure dan Aluias?! pemicu api dan pembuat api. Jauh-jauh kau!" Alex memperingatkan.
"Tempramennya buruk sekali sama seperti seseorang ...." kata Cain menahan pohon dengan satu tangannya. Pohon itu sendiri tidak peduli dan hanya terus tertidur mendengkur saat Cain mengembalikannya di tempatnya tadi tertanam.
"Jujur saja, kau memang sengaja melakukannya kan?!" tanya Goldwin.
"Kalau kau tahu aku begitu, kenapa tadi kau marah?!" tanya Cain.
"Karena aku tahu kau tidak sengaja." jawab Goldwin.
"Lalu kenapa ...." Cain heran bukan main.
"Ow, awas kepalamu!" Goldwin menarik turun kepala Cain tapi tidak ada apapun yang akan mengenai Cain.
"Sepertinya kepribadian kita tertukar." kata Cain menghela napas seperti sedang diusili oleh dirinya sendiri.
"Tenang saja, apapun yang terjadi ... mau kau sengaja atau tidak aku tetap dipihakmu." Goldwin menepuk bahu Cain.
Ditte dan Bates datang disamping Efrain untuk membantu melawan Felix.
Batu permata pada pedang Cairo kelihatan bersinar terang sampai-sampai menyilaukan lawan hingga harus mundur bahkan Cairo sendiri juga terganggu akan hal itu. Cairo entah bagaimana merasakan kalau inilah saatnya untuk bergerak menjalankan misinya. Bukan hanya sebagai Pemburu Iblis tapi kali ini bagian dari Aluias juga dan Pasukan Caelvita-119.
Serangan pikiran Bates agak mempengaruhi keadaan Felix hingga mudah kehilangan fokus. Memang itulah tujuannya, agar Efrain punya celah untuk menyerang.
"Ini bukan karena aku semata ... tapi memang dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja." kata Bates dalam hati menyadari kalau Felix goyah seperti itu bukan murni karena kekuatannya tapi karena pikiran dan tubuh Felix memang saat ini sedang tidak stabil. Bagaimana Felix bertahan sampai saat ini pasti hanya karena keras kepalanya saja.
Serangan gabungan dari Efrain dan Ditte meruntuhkan pertahanan Felix. Anaevivindote yang ada diatas rambutnya terus memberi semangat tapi Felix sudah benar-benar sampai batasnya. Sangat aneh memang, bagaimana serangan pikiran dapat membuat pertahanan keras tubuh runtuh seketika.
Efrain dan Ditte melihat kesempatan itu untuk menghabisi Felix. Sambil saling melirik dan membuat strategi dengan terus berlari hingga sampai didekat Felix berada.
"Kau kehilangan empat nyawa malam ini ...." Efrain menyeringai.
Cain menatap Cairo sambil mengedipkan mata, "Inilah saatnya! Maju!"
Bunyi senjata sedang menyayat sesuatu terdengar. Tapi Efrain baru mengayunkan pedangnya, setelah menoleh baru sadar kalau Ditte terkena serangan dari Cairo.
...-BERSAMBUNG-...