
"Siapa yang kau maksud ayahmu?" tanya Cairo.
"Laki-laki berambut putih bersinar seperti berlian ...." kata Felix.
"Banyak yang berambut putih tapi tidak ada yang bersinar seperti yang kau maksud." Cairo mulai menahan tawanya.
"Bisa kita bicara, Felix ...." kata Kakek mengisyaratkan Cairo agar meninggalkan mereka berdua saja.
Cairo akhirnya pergi dan Kakek itu memimpin jalan ke sebuah ruangan. Kuil itu masih sangat tradisional dengan menggunakan kayu.
"Jadi kau sudah level berapa?" tanya Kakek.
"Level apa?" Felix balik bertanya.
"Kau tahu apa yang kumaksud ...." kata Kakek.
"Level 4!" kata Felix memanyunkan bibirnya mencoba pura-pura tidak tahu tapi ternyata kakek itu tahu apa yang dimaksud.
"Lumayan ... dengan umurmu itu." kata Kakek.
"Lumayan? Iriana ... diumurku ini sudah level 10 dengan peralatan Caelvitanya." kata Felix seperti sedang protes.
"Jangan membandingkan pencapaianmu dengan orang lain. Masing-masing manusia terlahir berbeda dengan masa kejayaan yang berbeda-beda ...." kata Kakek.
"Itu pemahaman disini! di duniaku ... Caelvita hanyalah satu orang yang terus bereinkarnasi dengan wajah yang berbeda. Pencapaianku yang terlambat ini akan mencoreng nama seluruh Caelvita." kata Felix.
"Orangtuamu tidak akan senang mendengar itu ...." kata Kakek.
"Caelvita tidak mempunyai orangtua." kata Felix.
"Lalu kenapa kau menyebutnya sebagai ayah?!" kata Kakek menyeringai.
"Lalu aku harus menyebutnya apa?!" kata Felix mulai agak sebal terus dituntun dengan percakapan yang kurang disukainya.
"Ada apa kau datang kesini? tidak mungkin anak 1 bulan kembali kesini karena ingat tempat ini ...." kata Kakek.
"Apa ... aku ... lahir ... disini?" tanya Felix lama menyambung kata-katanya hingga selesai, "Seingatku juga ... aku belum memperkenalkan namaku. Bagaimana kau ... bisa tahu?!"
"Dan cara bicaramu itu mirip sekali dengan ibumu ... hahh ... ya, kau lahir disini dan yang memberikan nama Felix itu adalah aku." kata Kakek.
Felix lama terdiam setelah mengetahui kebenaran itu. Bahkan Si Kakek sudah menyelesaikan banyak hal saat Felix sedang melamun.
"Kenapa mereka membawaku ke panti asuhan? aku bisa tumbuh besar disini saja ... daripada harus ke panti dan melalui banyak kejadian buruk. Aku bisa mengetahui siapa diriku lebih cepat dan bisa membantu lebih cepat ... bahkan mencegah kebakaran panti terjadi ...." penglihatan Felix tidak jelas karena air mata yang tertahan.
"Aku dengar dari ayahmu tentang kebakaran itu ... bagimu, kebakaran itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupmu tapi itu adalah awal dari perubahan besar di dalam dirimu. Orangtuamu tidak punya pilihan lain selain membawamu ke panti asuhan karena jika tinggal disini kau bisa membuat pelindung yang ada disini hancur dan percaya atau tidak mereka tidak pernah meninggalkanmu, mereka berdua selalu ada disampingmu meski kau tidak melihatnya ... makanya kau juga bisa selamat dari kebakaran malam itu. Jika terus bersama mereka, kau tahu kan bagaimana akibatnya?!" kata Kakek.
Kepala Felix sakit karena mengingat kembali kilasan malam kebakaran itu setelah mendengar perkataan Kakek itu. Tidak jelas, hanya sebuah potongan ingatan yang kacau.
"Itu Ayahmu! kau menanyakan bagaimana beliau tahu?! karena beliau adalah Raja Aluias! beliau tahu dimana akan terjadi kejahatan. Raja Iblis sepertinya tidak tahu jika ada Viviandem Aluias yang hidup saat ini jadi sebisa mungkin ayahmu menjaganya tetap seperti itu. Hidup seakan tidak hidup seperti Viviandem yang belum dibangkitkan ... begitupun juga ibumu." kata Kakek.
"Semua Raja Aluias sudah menjadi kewajiban untuk terus menjaga hubungan dengan kami yang merupakan keturunan Aluias yang manusia. Walau hanya Raja saja yang tahu, Viviandem Aluias tidak mengetahui apa-apa tentang kami yang selalu berkomunikasi dengan Raja Aluias. Raja Aluias menjaga kami untuk terus meneruskan apa yang leluhur kami mulai. Hingga kini nama kami menjadi Pemburu Iblis tapi sebenarnya bukan hanya itu ... kami juga membantu hal lainnya jika ada yang membutuhkan pertolongan berkaitan dengan supernatural." cerita Kakek itu berlanjut.
"Sepertinya tidak ada yang mengetahui dia selain kakek." kata Felix.
"Akhirnya kau memanggilku kakek ...." kata Kakek itu tertawa, "Setelah aku meninggal, barulah Raja Aluias akan memilih siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin di kuil ini ...." Kakek cepat melanjutkan setelah melihat wajah Felix yang sama persis dengan ibunya jika akan marah.
Felix mengambil kertas dan pena di atas meja kakek itu tanpa permisi dan menuliskan sesuatu lalu meletakkannya, "Jika ada informasi baru kirimkan aku juga di alamat ini! akan lebih baik jika aku mengetahuinya duluan ... aku tidak meremehkan pemburu iblis tapi akan lebih baik jika aku disana duluan. Aku tidak akan mengganggu kalian jika melakukan misi jadi bekerjasamalah ...."
"Untuk sebuah permintaan itu terdengar sangatlah buruk ...." kata Kakek.
Felix sudah berjalan untuk meninggalkan ruangan setelah menaruh alamat Rumah Daisy. Tidak mungkin ia menuliskan alamat panti atau alamat sekolah. Jadi hanya Rumah Daisy lah yang paling cocok. Daisy jarang pulang kerumah, jadi tidak akan ada yang curiga jika ada yang mengirim surat. Tidak seperti di panti atau sekolah yang menerima bisa siapa saja dan terkesan tidak adanya privasi. Listrik tidak ada di kuil itu jadi Felix tidak berharap jika mereka bisa mengirim email.
"Nama kakek siapa?" tanya Felix sebelum menutup pintu.
"Felix." jawab Kakek itu yang membuat Felix tidak jadi menutup pintu, "Namamu diambil dari namaku yang berarti beruntung ... aku terkenal karena sangat beruntung, orangtuamu yang jadi saksinya jadi mereka setuju memberikan nama yang sama ... agar kau bisa hidup dengan dipenuhi keberuntungan juga."
Felix mulai menutup kembali pintu itu, "Aku tidak pantas mendapatkan nama itu ... hidupku dipenuhi kesialan dan terkenal akan tidak beruntung." Felix mulai menghapus air matanya segera, bahkan tidak dibiarkan menetes setetespun.
Pemburu Iblis yang kembali sibuk berlatih di halaman berhenti lagi ketika Felix keluar. Cairo juga hanya memandang dari kejauhan dengan sudah mengganti pakaiannya dengan seragam warna putih tulang seperti yang lainnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan kuil itu, Felix berbalik melihat kuil itu kembali, "Disini aku lahir ... aku bahkan baru tahu saat berusia 13 tahun." Felix tertawa tidak habis pikir.
"Kau disana ...." suara yang tiba-tiba masuk ke telinga Felix.
"Cain?" Felix melihat ke Mundebris dan Cain berada tepat dihadapannya saat ini. Berhadapan tapi berada di dunia yang berbeda.
"Kau sudah menemukan tempat itu ...." kata Cain.
"Tangan kananmu sudah kembali seperti semula ...." kata Felix.
"Kau tidak boleh berlama-lama disana! cepat tinggalkan tempat itu ...." kata Cain.
"Rambutmu sudah kembali juga ...." kata Felix.
"Apa aku sedang berbicara sendiri?! kau mendengarku atau tidak?!" kata Cain jengkel.
"Bagaimana dengan Goldwin?" tanya Felix.
"Kau itu Caelvita ... pelindung Aluias yang ada di Mundclariss akan kacau jika kau yang mempunyai aura yang banyak itu terus disana. Kita masih membutuhkan Pemburu Iblis yang ada disana ... mereka sangatlah membantu! jadi cepatlah pergi sebelum kau menghancurkan perisai yang ada disana." kata Cain, "Apa yang kau tunggu?! cepat pergi darisana! jangan tinggal melamun saja seperti orang bodoh ... Aw!" Cain terkena pukulan dari Felix yang tiba-tiba masuk ke Mundebris dengan memanggil Marsden secara cepat dan muncul secara Horizontal sehingga Felix yang sedang menuruni anak tangga langsung melompat masuk ke dalam gerbangnya dan bisa sampai dengan cepat di Mundebris.
...-BERSAMBUNG-...