
"Ib ... ibu?! ibunya Felix?!" Teo kaget bukan main.
"Aku ... ayahnya!" kata Pria Berambut putih yang kelihatan bersinar terang seperti memancarkan cahaya sendiri.
Teo semakin bingung dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. Melupakan beberapa saat yang lalu dia sudah pasrah kalau akan meninggal disana. Tapi kali ini ditampar oleh berita baru yang lebih mengejutkan daripada berita kematian yang tadi sudah ada di depan matanya dan pergi lagi.
"Aku seperti pernah melihatnya ...." kata Tan melihat Laki-laki yang menyatakan dirinya adalah ayah Felix, "Tapi kapan dan dimana ya?!" Tan kesulitan berdiri setelah mendapat serangan dari Efrain tadi.
Perempuan yang menyatakan dirinya adalah ibu Felix itu mengeluarkan asap berwarna merah dengan kilauan emas menutupi seluruh tubuh Felix, Cain, Goldwin, Banks dan Zeki.
"Jadi, teknik yang dipakai Bates dari Sanguiber?! tapi dia tidak ada tanda-tanda seorang keturunan Sanguiber sama sekali." kata Tom melihat Bates yang sedang duduk diam menutup mata sambil dikelilingi oleh iblis yang bertugas melindunginya selama berada di dalam mimpi.
Felix yang sedang berada di dalam ruangan gelap bersama Bates itu melihat ada sesuatu yang mulai masuk. Bates tidak peduli lagi dengan Felix yang berlalu-lalang bebas bergerak kemana saja karena tujuannya memang hanya untuk mengulur waktu.
"Aura ini ...." Felix meraba asap merah yang masuk melalui celah ruangan itu, "Sepertinya dia menarik informasi yang benar dari Cain. Tamu yang belum datang itu benar sudah datang." kata Felix dalam hati, "Apa Cain tidak bisa melakukan sesuatu dengan pikirannya sehingga memilih apa yang bisa diketahui dan tidak. Rasanya mustahil bagaimana seorang Cain tahu tentang hal ini tapi tidak berbuat apa-apa dan membiarkannya terjadi begitu saja. Ataukah Cain sengaja?!"
"Kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, katakan sekarang! tidak lama lagi aku akan bangun. Selama disini, Efrain tidak ada mengawasi dan tidak akan mendengarkan." kata Felix membuat Bates yang tadinya hanya diam dan menutup mata tiba-tiba kelihatan tertarik dengan apa yang didengarnya dan mulai membuka mata, "Apa hanya aku yang merasa aneh?! kau punya banyak kesempatan untuk membunuhku tapi tidak melakukannya bahkan sampai sekarang ini. Tapi aku masih ragu soal itu, mungkin saja kau memang hanya ingin mengulur waktu saja dan tidak berniat membunuhku ... tapi kenapa?! sebagai Quiris kepercayaan Efrain, kenapa kau membiarkanku hidup?! apa kau tetap menghormatiku sebagai Caelvita atau apa?! atau kau memang sengaja menempatkanku disini untuk menjauhkan diri dari pengawasan Efrain sehingga bisa punya ruang untuk menyampaikan sesuatu padaku?!"
"Kalau memang benar begitu?! berarti Cain memang sengaja melakukan hal ini. Memberiku tanda saat mengganti sepatuku, membiarkan saja dirinya tertidur padahal itu bisa membuat informasi rahasia bisa diketahui oleh Bates. Ataukah ... aku terlalu memuji kekuatan Cain sehingga sebenarnya bisa saja memang Cain tidak bisa lari dari mantra Bates ini. Dengan mengambil resiko bahwa akan ada juga yang datang menyelamatkan." Felix memikirkan segala kemungkinan, "Inilah ... kenapa perlu komunikasi yang baik sebelum bertarung. Bertarung berdampingan dengan seseorang yang dekat saja belum tentu kita mengenali kekuatannya dan mengetahui cara berpikirnya. Terlebih lagi yang memang tidak saling kenal sama sekali. Aku tidak tahu bagaiamana keadaan diluar sana. Aku dan Cain saja kacau begini ... bagaimana dengan yang lainnya?!" sambil masih menunggu apa tanggapan Bates yang tak kunjung memberikan jawaban.
...****************...
"Hahh ....." napas Felix tidak beraturan saat terbangun. Hal pertama yang dilihatnya adalah seseorang yang sangat dicarinya selama ini. Seseorang yang terus menjaga jarak dan tidak mau bertemu dengan Felix.
"Kau tidak lari?! bukankah saat melihatku ... biasanya kau lari!" kata Felix yang langsung dihadiahi tamparan.
"Beraninya kau berkata tidak sopan seperti itu!" kata Ratu Sanguiber kembali menampar pipi Felix yang baru saja ditampar.
Cain yang baru saja bangun kaget dengan pemandangan itu dan segera menjauh tapi mendapati Goldwin menghalanginya, " Hei ... minggir!" Cain meminta Goldwin tukar tempat.
Goldwin yang sebenarnya sudah bangun tapi melanjutkan tidur lagi, "Em! jangan menggangguku!" seperti sedang mengigau.
"Kau pikir saatnya untuk tidur sekarang?! kau lupa kita dimana?!" kata Cain langsung di depan telinga Goldwin.
Goldwin langsung bangun panik seperti habis terkena air panas karena melompat bangun.
"Setidaknya aku tahu ... kalau saat ini sudah tidak bermimpi lagi." kata Felix merasakan perih di pipinya.
"Ayo bangun!" Ratu Sanguiber menendang kaki Felix.
"Kau ...." Felix bukan hanya mengenali rambut putih yang pernah dilihatnya tapi kini wajah laki-laki itu juga sangat tidak asing.
"Ah, aku ingat sekarang ... Ed! pegawai di perkemahan itu." kata Tan memukul Tom.
"Jadi, kau ...." Felix tidak tahu bagaimana merangkai kalimatnya. Felix sudah tahu bagaimana rupa ibunya tapi baru kali ini mengetahui siapa dan bagaimana rupa ayahnya. Bahkan di buku ingatan Ratu Sanguiber tidak menjelaskan soal ayah Felix.
"Bukan aku yang diam-diam memata-mataimu, tapi kaulah yang datang sendiri disana. Dan namaku bukan Ed tapi ...." kalimat tidak selesai karena ada serangan mendadak dari Efrain yang melihat bagaimana Bates gagal melakukan tugasnya. Felix dan yang lainnya sudah bangun dari mimpi dan kelihatan baik-baik saja.
"Wah .. wah ... siapa ini?! bukankah ini pemandangan yang sangat jarang untuk dilihat. Bagaimana bisa Ratu Sanguiber dan Raja Aluias berdampingan berada dalam tim yang sama. Sementara selama ini selalu berada dipihak yang berlawanan." kata Efrain.
"Raja Aluias?!" Teo melongo melihat Ed yang merupakan petugas di perkemahan sekolahnya baru-baru ini ternyata merupakan seseorang yang memiliki jabatan yang tinggi di Mundebris.
"Itulah kenapa dia bisa menyembunyikan auranya dengan baik." kata Tan.
"Tidak ... bagaimana bisa Viviandem bisa hidup di masa sekarang ini?! disaat Caelvita masih belum resmi dan membangkitkan Viviandem." kata Ditte.
"Aku Ayah Caelvita-119!" kata Raja Aluias.
"Ayah?!" Quiris disana bersamaan kompak terkejut.
"Dan Ratu Sanguiber ...." Ditte menebak-nebak.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?! bukankah Sanguiber dan Aluias tidak pernah akur. Bagaimana bisa?!" kata Iblis lainnya heran.
"Jangan salah sangka! mereka berdua bukanlah ayah dan ibu Caelvita-119. Hanya saja saat Iriana meninggal, pasti saat itu hanya Ratu Sanguiber satu-satunya di Mundebris yang tengah mengandung. Dan tidak ada pilihan lain selain Caelvita harus terlahir dari Ratu Sanguiber. Kalian berdua! bukanlah ayah dan ibunya melainkan hanya alat yang dipakai untuk kelahiran Caelvita saja. Dia bukanlah putra kalian!" kata Efrain.
"Apa?! kukira Caelvita tidak dilahirkan oleh seseorang melainkan lahir sendiri secara ajaib." kata Camelia begitupun dengan Quiris lainnya yang juga menghentikan aktivitas karena mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Kalian tidak tahu saja, kalau selama ini Caelvita selalu lahir dari seorang Viviandem. Hanya saja selalu dirahasiakan, begitupun Iriana juga sama." kata Efrain.
"Aku tidak peduli apapun itu, yang jelas dia adalah putraku. Itu tidak merubah apapun juga. Aku kesini bukan untuk membantu Caelvita tapi untuk melindungi putraku." kata Ratu Sanguiber.
Raja Aluias juga merubah penampilannya menjadi sangat mewah dengan pakaian serba berkilauan dan berhiaskan berlian. Bahkan hanya dengan rambutnya saja sudah terlalu terang apalagi sekarang membuat silau mata.
...-BERSAMBUNG-...