
...Disarankan untuk yang tidak nyaman membaca adegan kekerasan agar tidak membaca episode kali ini!...
Ted tidak memberikan waktu untuk Tan, Teo dan Tom berduka dan mengasihani diri sendiri. Tidak ada yang tidak takut saat kematian berada didepan mata. Tidak ada yang siap saat kematian datang menjemput. Apalagi jika yang merenggut kehidupan itu adalah seseorang yang sangat berharga.
Ted dengan menggunakan tubuh Daisy menyerang Tan, Teo dan Tom. Dengan menggunakan kekuatan berlebihan dan gerakan yang ekstrem. Membuat Tiga Kembar khawatir Daisy pasti akan mengalami cidera dengan gerakan yang tidak pernah dilakukannya itu.
"Setidaknya ... kita tahu satu hal yang penting." kata Tan disela-sela pertarungan dengan Daisy berbicara melalui Jaringan Alvauden, "Kematian kita akan menyelamatkan Bu Sissy."
Teo dan Tom setuju soal itu, keringat dingin dan tubuh yang terus gemetaran perlahan menghilang berkat ucapan Tan barusan. Tentu saja mereka punya ambisi untuk tetap hidup tapi ambisi itu disalurkan ketempat lain untuk dijadikan semangat. Bukannya semangat untuk terus bertahan hidup, tapi semangat untuk bertahan melalui apa yang sudah ada didepan mata. Hal yang harus mereka terima dengan lapang dada.
"Aku tidak paham kenapa Felix dan Cain membiarkan ini terjadi?! kalaupun karena ingin menyelamatkan Bu Sissy, ini bisa dilakukan pencegahan sebelumnya. Menyembunyikan Bu Sissy atau yang lainnya yang berpotensi untuk dijadikan korban. Sehingga tidak perlu ada sandera malam ini." kata Tan dalam hati, "Kurasa ada maksud lain dibalik semua ini, atau mereka memang sengaja membuat ini terjadi begitu saja."
"Mengikuti rencana Efrain begitu saja, pasti ada hal baik dibalik ini semua. Aku tidak tahu apa, tapi aku percaya inilah yang terbaik." kata Tom.
"Winn ...." kata Teo sambil terus menghindari serangan Bu Daisy sekaligus mengurangi kerasnya pukulan saat melindungi dan mempertahankan diri dari serangan Bu Daisy adalah hal yang paling menyusahkan. Menahan pukulan tanpa melawan balik pada lawan adalah hal yang sulit dilakukan.
"Maka dari inilah, kenapa aku tidak mengerti kenapa perang saudara itu bisa terjadi. Satu kaum, dari keturunan yang sama, pernah berjuang bersama, jatuh bersama. Setelah melewati semua hal itu, bagaimana bisa saling membenci dan melukai satu sama lain?!" Tom akhirnya bisa kembali ke pikirannya yang biasa. Memikirkan hal yang random sambil masih terus bertarung. Mendapat pelajaran penting dari setiap apa yang terlihat.
"Winn ...." Teo kembali memanggil karena tak kunjung mendapat respon setelah menunggu lama, "Aku tahu kau mendengarku, jangan mengabaikan seseorang yang akan mati tidak lama lagi ini!" dengan nada lelucon khas Teo.
"Apapun yang terjadi, semua sudah menjadi takdir. Kau adalah manusia yang terikat dengan itu. Walau kau bebas dari kematian malam ini, besok kau akan dikejar lagi." kata Winn sudah memperhitungkan bagaimana itu terjadi dari apa yang dilihatnya dari Teo saat perang akan dimulai. Ini bukanlah kematian yang mendadak tapi memang sudah takdir mereka begitulah cara Winn menilai situasi saat ini.
"Kau menyebutnya takdir?! aku menyebutnya kehidupan baru. Kau dan aku tahu kalau setelah kematian bukanlah akhir. Melainkan memulai kehidupan baru lainnya, walau bukan lagi sebagai manusia." kata Teo yang sebenarnya ingin menghibur Winn, "Sampai jumpa Winn! kita akan bertemu lagi dengan aku yang sudah menjadi Zewhit."
"Jangan bilang ...." kata Winn merasa ada yang janggal dari ucapan Teo.
"Kalau ada Alvauden yang harus mati malam ini, biarkan hanya satu saja." kata Teo bukannya bergabung menyerang Ted melainkan malah memukul dengan keras Tan dan Tom menjauh darisana. Bahkan sengaja menghilangkan Winn saat mulai melangkah.
"Kau tidak mengerti!" teriak Winn berusaha menghentikan tindakan nekat Teo. Memumculkan dirinya sendiri tapi dihilangkan lagi oleh Teo dalam sekejap.
"Tidak!" Tan dan Tom segera ingin kembali ketempat tadi tapi saat sampai tangan Bu Daisy sudah menembus dada Teo dari depan hingga kebelakang tepat dijantung Teo berada.
Teo seakan ingin melakukan serangan palsu untuk menyerang tapi menghilangkan Moshasnya sesaat kemudian setelah berhadapan dengan Daisy dan menerima serangan tanpa penolakan, "Kau sudah memenuhi tujuanmu, keluarlah!" kata Teo dengan memuntahkan darah.
"Kau salah! tujuanku bukan hanya sekedar membunuh Alvauden. Tapi harus membunuh dengan jumlah yang sesuai. Dan aku membuatnya tiga, itu adalah keinginanku yang sesungguhnya. Hanya dengan kematianmu seorang tidak akan cukup untuk menyelamatkan perempuan ini. Hanya dengan jumlah itu, Raja Neraka akan memberiku hadiah besar." kata Ted.
Tan dan Tom ingin menarik lepas tangan Bu Daisy dari dada Teo. Tapi setelah itu terlepas semuanya akan berakhir juga.
Felix merasakan sakit yang teramat pada jantungnya, seperti merasakan rasa sakit yang sama dialami oleh Teo saat ini. Tidak melakukan apapun saat Alvauden butuh pertolongan adalah siksaan bagi Caelvita itu sendiri. Karena berada di tempat yang sama maka Ultisidium tidak terjadi.
"Kenapa dia tidak bergerak?!" Efrain mencurigai sikap Felix yang acuh itu, "Harusnya sekarang dia histeris dan melakukan sesuatu dengan emosi yang meledak-meledak." Efrain kecewa dengan respon Felix yang biasa-biasa saja.
"Ah, aku tahu ... kalian pasti berpikir menerima saja keadaan ini karena mereka sebagai Zewhit akan lebih berguna dibanding sekarang yang manusia?! tapi bagaimana ya ... kalian salah besar!" kata Efrain.
Cain menahan matanya untuk tidak melihat itu secara langsung. Walau sudah melihatnya berulang kali, tapi Cain sepertinya ragu untuk melihat itu secara langsung. Tidak ada teriakan kesakitan Teo, tidak ada teriakan histeris Tan dan Tom yang kehilangan saudaranya. Semuanya begitu sunyi, hingga seperti tidak ada hal besar yang terjadi. Padahal salah satu Alvauden-119 sedang diambang kematian adalah peristiwa yang besar bagi tiga dunia.
"Kau memang bodoh! kukira saat akan mati, kau setidaknya akan lebih dewasa tapi nyatanya kau lebih bodoh lagi!" kata Tom terus memaki Teo.
"Maaf ...." kata Teo terus memuntahkan darah tapi masih bisa tersenyum dengan keadaan seperti itu. Mereka ingin heran tapi itu adalah Teo.
Tan dan Tom saling melirik memberi kode dengan mata merah yang sudah sembap dan air mata masih tertahan memaksa untuk keluar tapi ditahan lebih kuat oleh Tan dan Tom. Tom mendorong Daisy dan Tan menarik Teo lepas dari tangan Daisy.
Tubuh Teo kelihatan kejang-kejang dan tidak mendengarkan lagi apa yang diucapkan oleh Tan dan Tom yang sangat khawatir melihat keadaan Teo saat ini. Tan tidak tahan melihat itu, langsung membuat ramuan untuk menghilangkan rasa sakit Teo. Perlahan tubuh Teo berhenti mengalami kejang dan suhu tubuhnya turun drastis saat tangannya masih sedang digenggam oleh Tan dan Tom.
"Aku akan menyusulmu secepatnya ...." kata Tan dan Tom bersamaan meneteskan air mata.
(Flashback)
"Dari semua Zewhit, kenapa harus Ted yang merasuki Bu Daisy?! kita tidak tahu hal kejam apa yang akan dilakukannya." kata Felix tidak tahu cara apa yang akan dilakukan oleh psikopat seperti Ted.
"Daripada itu, apa aku harus menggantikan salah satu dari mereka saja?!" tanya Cain yang mengajukan diri karena bagaimanapun juga dia adalah Alvauden, tentunya juga bisa memenuhi tujuan utama Ted.
"Mereka itu kembar, maka dari itu juga rencana ini sempurna untuk dilakukan." kata Banks sehingga tidak ada lagi yang menentang.
...****************...
Earl yang melihat Daisy akan menyerang Tan dan Tom, mulai bergerak cepat. Tapi Tom melemparkan Sesemaxnya tepat dihadapan Earl menghentikannya maju lebih jauh lagi.
"Apa maksudnya?! dia rela untuk mati begitu saja?!" Earl heran dengan pilihan Tom yang menurutnya sangat bodoh itu.
Felix membuka matanya, kali ini ingin melihat semuanya dengan jelas, "Akan aku ingat dengan baik setiap detail yang terjadi pada mereka. Semua yang mereka alami, akan aku balas berkali-kali lipat nantinya!" Felix menggenggam erat tangannya. Lebih tersiksa lagi karena melihat wajah penyerang adalah Daisy. Perasaan Felix campur aduk, ingin mengingat dan membenci Si Penyerang tapi tidak bisa juga karena memakai wajah Daisy.
Cain meneteskan air mata melirik ke arah Tan, Teo dan Tom, "Aku harus melihat sosok terakhir mereka sebagai manusia ...." Cain memaksakan dirinya.
Daisy datang dengan tertawa keras merebut tombak dari salah satu Iblis, "Apa yang akan kau lakukan dengan itu?!" teriak Iblis yang tidak mengerti kenapa Ted melakukan itu. Tapi membiarkannya saja, lagipula selain itu masih punya senjata lainnya.
"Kita akan jadi hantu, ayo kita jadi hantu tiga kembar paling menakutkan nantinya." kata Teo dengan tersenyum, tapi setelah itu tidak ada lagi kata keluar dari mulut Teo.
Tan dan Tom tertawa sambil merasakan genggaman tangan Teo yang sudah tidak bertenaga lagi. Menyembunyikan fakta bahwa Teo telah meninggal, Tan dan Tom menggenggam kuat tangan Teo.
Ted melemparkan tombak panjang menembus kepala Tan dari belakang hingga mengenai matanya didepan dan sampai pada Tom juga yang berhadapan dengannya dipisahkan oleh Teo ditengah-tengah. Tom sempat melihat mata Tan terkena serangan dan setelah itu dia kehilangan kesadaran juga karena tombak yang mengenai Teo itu juga mengenainya tepat dileher tembus kebelakang.
Felix berteriak histeris membuat angin ribut dan langit dipenuhi petir dan bunyi guntur. Bahkan tanah yang dipijaki bergetar hebat. Mengikuti suasana hati Felix yang sedang dipenuhi amarah.
Banks menahan air matanya mencoba menenangkan Felix, "Yang Mulia ... sekarang saatnya! semua ini hanyalah sementara ...."
Ted keluar dari dalam tubuh Daisy, Cain mengambil kesempatan itu untuk secepatnya menyerang Ted dan membawa Daisy menjauh. Daisy dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan tulang yang banyak patah dan luka dimana-mana. Tentu saja karena Ted seeanknya menggunakan tubuh Daisy.
"Kau lihat, Zewhit mereka tidak keluar kan?! kau pikir sudah membuat keputusan yang bijak membiarkan mereka mati dan menjadi Zewhit. Lagipula memang menggiurkan, melihat Zeki yang sebagai Zewhit Manusia bisa sekuat itu. Kau pasti sudah merencanakan ini. Tapi, sayangnya ... rencanamu itu tidak akan berjalan sesuai yang kau inginkan. Zewhit mereka tidak akan kelaur!" kata Efrain memanas-manasi Felix. Tapi tidak menyangka juga kalau itu sudah direncakan juga oleh Felix.
...-BERSAMBUNG-...