
Cain dengan santainya sambil berjalan menutup mata dan langsung menghilang lalu setelah membuka mata sambil terus berjalan tanpa berhenti kini sudah sampai di Mundclariss lagi.
Felix duduk terdiam melihat Cain tiba-tiba menghilang, "Apa yang harus kulakukan?" dibaringkan kepalanya di meja makan yang berbeda dengan meja makan yang ada di Mundclariss. Tanpa disadari Felix terlelap tidur dan panik saat bangun, "Aku ketiduran?!"
Buru-buru saja dia menutup mata dan merapalkan Bemfapirav kemudian membukanya kembali, "Hahh!" teriak Luna, "Sejak kapan kau ada disini?" tanya Luna karena dari tadi duduk disana tanpa melihat ada Felix.
"Cain! Kak Luna melihat Cain?"
"Dia sudah berangkat daritadi subuh!" kata Luna membuat Felix bergegas berlari ke kamar.
"Aku yakin tadi tidak ada Felix disini?" Luna berbicara sendiri.
Felix masuk ke dalam kamarnya dan melihat Alger tapi tidak menyapa dan langsung bersiap-siap juga. Saat dibukanya lemari pakaian untuk mengambil seragam sekolah, "Heh ... kok?"
"Kak Cain tadi malam membereskan barangnya dan pindah ke kamar lain ...." kata Alger.
"Apa?" teriak Felix membuat Tiga Kembar yang hendak membuka pintu kamar Felix langsung kaget.
"Ada apa?" tanya Tan.
"Cain pindah ke kamar mana?" tanya Felix melempar seragamnya.
"Cain pindah kamar?" tanya Teo dan Tom bersamaan.
"Dia pindah ke kamar kak Zan di lantai tiga," kata Alger.
Felix segera berlari turun ke lantai tiga yang hanya satu lantai dibawah kamarnya, "Kak Zan itu siapa? dimana kamarnya?" teriak Felix kesal.
"Disana ... di lorong paling ujung!" Alger datang menunjukkan arah dengan langsung tembus turun dari kamar Felix tadi.
"Felix?" teriak Teo dan Tom menuruni tangga.
Langsung dibukanya pintu kamar yang ditunjukkan Alger, "Tidak ketuk dulu?!" kata seorang laki-laki yang sedang memakai dasi.
"Kak Zan?" tanya Felix.
"Iya, mencari Cain? dia sudah berangkat daritadi ...."
Ditatapnya barang-barang Cain yang kini berpindah tempat ke kamar itu. Perasaan Felix menjadi aneh dan kini matanya serasa basah tanpa disadari.
"Ow, halo kak Zan!" sapa Tiga Kembar.
Sedangkan Felix langsung keluar dari kamar itu dan berlari untuk naik tangga lagi.
"Kenapa anak itu?" tanya Tom.
"Wah, baru kali ini mereka bertengkar hebat sampai-sampai Cain pindah kamar begini," Teo diam-diam mengambil kerupuk di meja belajar Zan.
"Teo!" kata Zan pelan tapi penuh tekanan larangan.
"Haha ... Kak Zan lihat? wah ... haha ...." kata Teo sambil tertawa malu.
"Kak Zan, kami pergi dulu ya ...." kata Tom pamit.
"Semangat kak untuk ujian masuk universitasnya!" kata Tan menutup pintu.
***
Tanpa sarapan Felix langsung buru-buru berlari ke halte bus sendirian meninggalkan Tiga Kembar.
"Mereka berdua itu banyak sekali dramanya!" Teo dengan menyuap makanannya.
"Ada apa ya dengan mereka?" tanya Tan.
"Sudahlah, nanti juga baikan lagi ...." kata Tom santai.
Felix dan Cain memang sering bertengkar tapi cepat juga baikannya. Jadi Si Tiga Kembar sudah terbiasa dan tidak khawatir sama sekali.
Tanpa istirahat sedikitpun selain di bus, Felix terus saja berlari sampai di kelas dan melihat Cain yang kini duduk dengan Dallas lagi. Dengan bercucuran keringat Felix mendatangi Cain, "Bi ... sa bicara seben ... tar?" sambil kesusahan mengambil napas.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" Cain datar.
"Kalian mau bertengkar lagi?" tanya Dallas yang baru ada dia Cain dan Felix di kelas itu, "Aku keluar kelas tapi jangan sampai saling pukul ya!"
Dallas meninggalkan mereka berdua dan keluar kelas tapi tetap mengawasi.
"Apa masalahmu!" Cain memulai.
"Kau yang apa masalahmu? aku baru saja bangun setelah tidur selama enam hari tanpa tahu apa-apa dan kau marah begini!"
"Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari yang kau tidur selama enam hari itu!" Cain berdiri dari kursinya dan berjalan hendak keluar kelas.
"Aku minta maaf!" teriak Felix membuat Cain jadi menghentikan langkahnya.
"Aku yang harusnya minta maaf!" kata Cain dalam hati, "Minta maaf? untuk apa!" Cain dengan nada ditinggikan lalu menoleh sedikit melihat Felix.
"Jika aku tahu salah apa ... aku akan minta maaf dengan disertai kesalahan yang aku perbuat tapi aku tidak tahu ... jadi aku hanya minta maaf saja! untuk semua hal yang kusengaja maupun tidak kusengaja, untuk yang kau dan aku ketahui bersama dan kesalahan yang hanya kau yang tahu ... aku minta maaf!"
"Kau jadi lemah begini, segampang itu meminta maaf!" Cain mulai melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Lalu maumu aku bagaimana?!"
"Tinggalkan aku sendiri! jangan dekat dan jangan ganggu aku lagi!" kata Cain mulai membuka pintu kelas.
"Kau satu-satunya sahabat baikku!" Felix dengan suara serak.
"Jadi Tan, Teo dan Tom kau anggap apa selama ini?" kata Cain tanpa memperlihatkan wajahnya dan hanya terus memunggungi Felix.
"Mereka juga sahabatku, tapi hanya kau satu-satunya yang bisa mengerti aku! dan kau adalah sahabat pertamaku ...." walau malu mengatakan hal seperti itu bagi Felix tapi kali ini dia dengan percaya diri tanpa ragu sedikitpun.
"Kalau begitu kau tinggal cari sahabat lainnya yang hanya bisa mengertimu tanpa kau harus repot mengerti dia! seperti kau selama ini yang hanya mementingkan diri sendiri!" Cain mulai keluar dari kelas.
"Aku akan berubah! makanya ajari aku mengenalmu dan mengerti perasaanmu juga! maaf jika selama ini aku egois ...." Felix berlari menghadang Cain.
"Sudah terlambat!" Cain berjalan menabrak Felix.
"Jadi kau benar-benar ingin meninggalkanku sekarang?! Felix sambil berteriak.
"Iya!" Cain datar.
"Kau bisa meninggalkanku ... tapi aku tidak akan meninggalkanmu!" teriak Felix lagi.
Cain berbalik dan berlari ke arah Felix dan memukul pipi kanan Felix, tubuh Felix langsung tersungkur ke lantai. Cain menarik kerah baju Felix lagi dan hendak memukulnya lagi dengan genggaman jemarinya yang memerah diatas wajah Felix tapi ditariknya lagi dan mendorong Felix lagi hingga jatuh ke lantai, "Hentikan!" teriak Dallas yang kecolongan jadi pengawas.
Cain pergi dan Dallas membantu Felix berdiri dengan pipi yang memerah, "Nanti pipimu akan bengkak dan memar, ayo ke ruang kesehatan untuk dikompres!"
"Kuat juga pukulannya, sampai gusiku rasanya ikut sakit!" kata Felix sambil tersenyum membuat Dallas bingung.
"Apa kepalamu juga kena pukul?"
"Sepertinya begitu!" sahut Felix dengan tertawa kecil.
"Kalian ada masalah apa?" tanya Dallas.
"Tidak ada masalah apa-apa hanya saja dia terlalu baik ... hahaha."
"Terlalu baik?!" Dallas semakin bingung.
"Iya! terlalu baik ... dan terlalu bodoh!" kata Felix lagi dengan senyuman.
"Kau habis cedera kepala kan? apa tidak perlu ke rumah sakit periksa lagi? orang yang baru memukulmu kau bilang terlalu baik ...."
***
Pelajaran pertama dimulai, Felix menatap Cain dari belakang, "Ternyata begitu ... baiklah, aku akan ikut permainanmu saja!" sebenarnya saat Cain memukul Felix, saat itu tiba-tiba Felix mendengar pikiran Cain, "Aku minta maaf Felix, aku minta maaf ... tolong jauhi aku! aku orang jahat ... tidak pantas menjadi sahabatmu! aku mohon ... maafkan aku! aku dari awal hanya sahabat palsumu ... tinggalkan aku! tidak ... buang aku!" kata-kata Cain itu terus diulang-ulang membuat Felix hanya diam saja saat dipukul.
"Tidak kusangka Dokter Mari merencanakan ini semua dari awal tapi jika bukan kau, tidak akan ada yang bisa Cain!" Felix hampir melihat segala kenangan Cain yang selalu datang melihatnya hanya dari balik pintu dan semua kejadian yang dialami Cain selama Felix tertidur, hampir sampai detail terkecil, "Ternyata orang yang sedang emosi lebih mudah dibaca pikirannya sampai seperti aku masuk ke dalam ingatan Cain ... hahh ... dasar pembohong!"
...-BERSAMBUNG-...