UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.234 - Anak Dalam Ramalan



Felix yang tidak akan patuh jika diberitahu atau diperintahkan sesuatu, bila itu memang tidak sesuai dengan keinginannya. Saat diberitahu oleh Verlin dan Zeki soal saran untuk Caelvita tidak mengikuti permainan, jujur saja Felix tidaklah menerima saran itu hanya karena diberitahu tapi memang baginya hal itu tidak ingin dilakukan.


Felix hanya ingin Cain, Tan, Teo dan Tom bisa ikut disamping Verlin dan Zeki agar bisa mendapat pengalaman. Tapi setelah mendapati Kiana menjadi salah satu pemain, semuanya berubah.


Masih dengan jelas, Felix ingat saat baru masuk Panti Asuhan Arbor setelah keluar dari rumah sakit. Kiana, anak yang terus saja mengajaknya berbicara saat dirinya tidak bisa mengucapkan satu katapun.


Awalnya sangat menjengkelkan bagi Felix tapi lama kelamaan, Felix terbiasa juga dan Kiana juga sudah tahu kalau Felix tidak bisa berbicara makanya Kiana hanya menemaninya duduk di halaman belakang panti. Terkadang Kiana tidak berhenti berceloteh sendirian, terkadang juga hanya duduk diam untuk sekedar menemani Felix.


Bagi Felix, Kiana adalah sosok yang pertama kali menerimanya di panti saat itu. Dengan penyesalan menjadi satu-satunya yang selamat, penyesalan karena saat bangun tidak bisa berbicara. Selamat dari kebakaran yang meninggalkan bekas luka yang selalu mengingatkan akan kebakaran malam itu.


Biasanya pindah ke rumah baru merupakan kenangan indah dan mendebarkan yang tidak bisa dilupakan. Tapi pindah panti asuhan karena sebuah kejadian yang tidak menyenangkan memberi dampak lebih dalam untuk selalu diingat. Pindah ke rumah baru, lingkungan baru, teman baru. Memulai segalanya dari awal lagi dengan membawa penyesalan besar bukanlah hal yang mudah bagi Felix.


Tapi dengan Kiana yang menyambutnya dengan senyuman indah dan polos tanpa tatapan curiga yang selalu diterimanya dan juga senyuman yang dipaksakan selama pindah kesana. Setidaknya Felix bisa mempunyai sedikit semangat untuk terus melakukan tes psikologi, konseling, terapi pasca trauma dan terapi wicara.


Kiana lah yang membukakan jalan untuk Felix bisa terus bertahan di panti baru dan akhirnya bertemu Cain dan Tiga Kembar yang mengubah hidupnya. Maka dari itu, Kiana merupakan sosok istimewa bagi Felix dan memang layak untuk diperjuangkan.


Felix berusaha mencari informasi sebanyak mungkin tentang permainan tukar kematian agar bisa mendapatkan cara untuk menyelamatkan Kiana. Setelah mendapat pencerahan dan bimbingan dari Kemp, akhirnya Felix bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Kiana.


Walau terkesan agak berlebihan dan terbilang pemborosan karena harus memakai banyak batu permata safir, tapi Kemp dengan senang hati memberi Felix batu permata safir yang ada di danau depan Istana Ruleorum.


Batu permata safir yang sibuk dihancurkan Felix hingga menjadi pasir disaat yang lainnya sibuk memasang kamera dan mengawasi pemain dan kontribusi kelabang yang datang ke panti secara tiba-tiba saat pemain pertama meninggal ternyata adalah cara yang dilakukan Felix untuk melindungi Kiana.


Sinar biru yang baru setinggi mata kaki itu mengelilingi panti sehari sebelum permainan berakhir. Sedangkan sinar di kolam ikan sudah setinggi atap panti.


Luna masuk ke dalam panti untuk menyiapkan makanan untuk Tan, Teo dan Tom yang pulang cepat dengan alasan diliburkan dari sekolah karena ada acara penting sedangkan Felix dan Cain singgah di Rumah Daisy. Begitulah cara mereka berbohong, tapi karena tidak pernah berbohong selama ini maka dari itu Luna percaya begitu saja.


"Apa besok akan lebih dari ini?" tanya Teo menendang-nendang sinar biru yang seperti kabut di kakinya itu.


"Bagaimana batu permata safir ini bisa melindungi Kiana dari permainan?" tanya Tan.


"Berarti kelabang itulah yang menanam semua batu permata safir yang ada di panti?" tanya Tom.


Mereka bertiga hanya bisa bertanya-tanya tanpa bisa mendapatkan jawaban karena hanya Felix yang bisa menjawab tapi Felix tidak ada.


Sebuah tangan menepuk-nepuk bahu sebelah kiri Dokter Mari tapi setelah berbalik tidak ada orang sama sekali. Tak lama kemudian Felix membuka idibaltenya membuat Dokter Mari menahan dirinya untuk tidak berteriak melihat kemunculan Felix yang secara tiba-tiba itu.


"Apa Roh Cain benar ada di dalam sana?" tanya Dokter Mari.


"Mustahil untuk mengetahui keberadaan seseorang di dalam sana karena pohon hias ini yang bisa menyembunyikan apapun ...." jawab Felix.


"Apa benar sudah dipastikan kalau Efrain yang membawa Cain?" tanya Dokter Mari.


"Hanya dia yang terpikirkan untuk saat ini! siapa lagi kalau bukan dia ...." jawab Felix.


"Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain masuk ke sana untuk mendapatkan informasi ... tapi resikonya terlalu besar, meski sedang Neumbell tapi seharusnya kita tidak bisa datang seenaknya begini ke tempat persembunyian musuh. Terlebih lagi mengatakan bahwa mereka menculik Cain, sama saja kita ingin menghentikan Neumbell dan itu hanya akan berakibat buruk bagi kita!" kata Dokter Mari.


"Tapi jika tidak bertanya, kita tidak akan tahu kalau Cain ada di dalam sana atau tidak. Tidak ada cara untuk mencari keberadaan Roh Cain sekarang ... kalau sudah diketahui tidak ada di dalam, baru kita bisa mencari di tempat lain!" kata Felix.


"Tempat ini Yang Mulia ketahui, tidak mungkin Cain akan disembunyikan disini ...." kata Dokter Mari.


"Sudah kubilang bicara informal saja!" kata Felix.


"Ah, iya ... baik! maksudku okey." Dokter Mari terlalu terbawa suasana sehingga berbicara formal.


"Aku sudah mengetahui bagaimana Dokter Mari merencanakan pertemuanku dengan Cain ...." kata Felix membuat Dokter Mari canggung, "Itu menandakan bahwa, Dokter Mari rela melakukan apapun untuk membuat Cain terlindungi ... dan Dokter Mari memilihku untuk melindunginya kan?! dengan menjadikannya Alvauden ...."


"Saya ... maksudnya ... aku, melakukan itu karena ramalan dari tetua keluarga mengatakan akan lahir seorang Leaure sejati lagi. Entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa anak dari ramalan itu adalah Cain ... maka dari itu, tanpa berpikir panjang lagi setelah mengetahui bahwa anak yang sedang melakukan konseling di hadapanku saat itu adalah seorang Caelvita ... langsung terlihat solusi untuk melindungi Cain ... maaf jika saya lancang melakukan itu!" kata Dokter Mari masih tidak terbiasa berbicara informal.


"Aku tidak menyalahkan Dokter Mari soal itu, bagaimanapun juga aku akan bertemu dengan Cain ... walau akhirnya lebih cepat karena bantuan Dokter Mari. Jadi ... sejauh mana Dokter Mari bersedia berkorban untuk Cain?" kata Felix.


"Untuk mengukur sejauh mana mungkin tidak bisa diketahui, tapi setidaknya ... aku mampu melangkah maju ke dalam kastil itu menanyakan keberadaan Cain." kata Dokter Mari.


"Itu sudah cukup!" kata Felix tersenyum dan menarik pedangnya keluar langsung menebang pohon hias membuat rumput yang melihatnya ketakutan. Felix dan Dokter Mari melangkah maju sudah dengan hati siap untuk bertempur demi mendapatkan Cain kembali.


...-BERSAMBUNG-...