UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.319 - Cairo Si Bijaksana



"Aw! kau ini apa-apaan!" Cain merasakan sakit yang luar biasa di pipinya dan segera berdiri tapi Felix sudah tidak ada disana, "Hahh ... dasar anak nakal itu! tunggu pembalasanku!"


"Hahh ... rasanya lega sekali!" kata Felix tidak bisa menyembunyikan senyumannya dan sudah kembali ke Mundclariss menuruni gunung dengan semangat.


Tan, Teo dan Tom tidak menyusul Felix karena setelah mengambil kamera yang ada di desa lain dan memasangnya di Desa Parama, mereka berjaga jika seandainya ada iblis lain yang datang. Mereka memang penasaran dengan tempat Pemburu Iblis itu tapi rasa penasaran itu tidaklah bisa ditukar dengan nyawa penduduk desa yang sedang terancam.


Felix kembali masuk sekolah seperti biasa, begitupun Tiga Kembar. Jika sedang berada di dalam kelas begitu, rasanya mereka seperti anak biasa saja pada umumnya. Tapi setelah pulang sekolah mereka bukanlah sekedar anak kecil saja tapi anak kecil yang sudah menguasai bela diri dan memiliki senjata terkuat di tiga dunia itu. Anak kelas 6 SD berusia 13 tahun yang menjaga desa dan bersiap memburu iblis.


"Terkadang aku mengalami krisis identitas ...." kata Teo membuka pembungkus lolipopnya.


"Pagi hanya anak biasa, malam jadi anak luar biasa?!" Tom tertawa setuju.


"Aku Caelvita yang seharusnya tidak punya orangtua tapi ibuku Ratu Sanguiber dan ayahku Raja Aluias. Akulah yang benar-benar mengalami krisis identitas saat ini ...." kata Felix dalam hati setelah mendengar Teo.


Mertie dalam beberapa hari ini imagenya langsung berubah. Bahkan anak-anak yang biasanya hanya diam dan menonton bagaimana menyedihkannya Mertie saat di bully kini terus-terusan berada di belakang Mertie.


"Reputasinya orang bisa gitu ya? berubah hanya dalam semalam ... memangnya dia cinderella?!" kata Teo.


"Kak Cornelia lah pangeran yang memberinya sepatu kaca ...." kata Tan tertawa.


"Mendapatkan free pass untuk masuk osis di SMP nanti, siapa yang tidak tertarik?! bisa masuk organisasi tanpa harus melalui ujian, wawancara dan pelatihan menakutkan itu ... semua orang pasti memohon untuk dimasukkan dalam tim pelatihan osis SD. Karena memiliki pengalaman organisasi bisa sangat berpengaruh dalam resume di masa depan." kata Tom.


"Kau berbicara mengisyaratkan seakan tertarik ...." kata Teo.


"Aku memang tertarik, bodoh! kubilang kan ... siapa yang tidak akan tertarik?!" kata Tom.


"Kau mengajak berkelahi atau apa?! buat lebih jelas supaya aku menyiapkan diri!" kata Teo.


"Rasanya sudah jelas ...." kata Tom.


"Sini kau!" Teo hampir menarik kerah baju Tom jika saja tidak ditahan oleh Tan.


"Masih belum selesai?! kupikir kalian sudah damai ...." kata Tan.


Tom hanya pergi dengan ekspresi kesal terus menatap tajam Teo.


"Lepaskan saja! jangan ditahan ...." kata Felix.


"Apa?!" Tan heran.


"Mereka akan damai jika sudah saling memukul. Setelah itu mereka akan lega pastinya ...." kata Felix masih mengingat bagaimana kemarin sudah memukul Cain.


"Kau ini! tidak membantu sama sekali ...." kata Tan heran dengan saran tidak masuk akal Felix itu yang ingin membiarkan Teo dan Tom berkelahi.


"Laki-laki bisa lebih dekat lagi jika sudah saling adu pukul." kata Felix yang mulai berjalan mendahului.


"Aku tidak tahu bagaimana jika kau besar nanti tapi jangan sampai kau punya impian dibidang psikologi dan menjadi psikiater. Jangan pernah mendekati jurusan itu!" teriak Tan yang lengah sehingga Teo terlepas dan mengejar Tom, "Teo! hahh ... tidak ada satupun di kelompok ini yang normal ...." Tan tercengang dan mulai tertawa tapi dengan ekspresi yang menakutkan membuat anak-anak yang melihatnya menjauh.


Cairo juga ikut berjaga di desa itu bersama Felix dan Tiga Kembar. Sudah seperti menjadi rutinitas tiap malam mereka kesana. Bahkan Teo katanya sudah bisa menutup mata sambil ke desa itu karena saking seringnya kesana.


Felix tidak ingin mengambil resiko kembali dengan menebarkan garam Ruleorum seperti yang pernah dilakukan Tom di Desa Kimber. Karena itu hanya akan menjadi bumerang dengan dikirimnya iblis kelas atas seperti Ditte lagi.


Desa Parama sangatlah sepi seperti tidak ada penghuninya sama sekali. Setelah malam tiba aktivitas berhenti, lampu mati dan tidak terdengar apa-apa lagi. Bahkan suara dengkuran pun tidak terdengar. Penduduk desa sepertinya tidak bisa tidur nyenyak tapi sama dengan mereka yang menjaga juga begitu.


"Jika terus menunggu begini ... aku jadi berpikiran buruk ingin iblis itu segera datang agar semua ini selesai." kata Teo sambil menguap.


"Jika disini selesai, mereka akan berpindah tempat lagi." kata Tom.


"Hahh ... rajin sekali mereka! apa mereka tidak pernah tidur?!" kata Teo.


"Mereka tidur juga, sama seperti kita yang memerlukan tidur juga untuk memulihkan tenaga. Hanya saja batasnya berbeda, iblis bisa tahan tidak tidur selama 10 tahun lamanya sedangkan kita manusia biasa hanya bisa menahan 11 hari berturut-turut tidak tidur." kata Tan menjelaskan seperti buku.


"Kakak bukan tipe yang suka bicara ya?!" kata Teo pada Cairo.


"Kau bisa menyebutnya begitu ...." kata Cairo tidak bisa menyangkal.


"Begitu? sudah 6 hari kita sama-sama berjaga tapi kebanyakan hanya diam saja ... bahkan mengeluhpun tidak." kata Teo.


"Atau jangan-jangan karena menganggap kami bukanlah lawan bicara yang setara?!" kata Tom tersinggung.


"Mana mungkin ... bahkan sepertinya kalian tahu lebih banyak daripada aku!" kata Cairo.


"Kak Cairo umurnya berapa?" tanya Tan.


"23 tahun." jawab Cairo.


"Seumur dengan Kak Luna. Sekolah dimana? eh ... sudah kuliah ya?" tanya Teo.


"Aku tidak pernah menempuh pendidikan formal seperti kalian. Aku lahir dan di besarkan di kuil Gunung Arlo." jawab Cairo.


"Pendidikan tidak harus formal, bahkan belajar secara informal terkadang lebih berkelas dan bermartabat dibanding yang menempuh pendidikan formal tinggi tapi terlalu sombong. Sehingga hanya bisa merendahkan orang lain, merasa berkelas tapi hati nurani miskin, mengira diri bermartabat tapi sebenarnya hanya gila hormat. Pendidikan terkadang mengubah seseorang ...." kata Tom.


"Tapi dari perkataanmu itu sepertinya menempuh pendidikan formal memanglah perlu. Aku bahkan tidak tahu apa bisa mengatakan hal seperti itu ...." kata Cairo tertawa.


"Pendidikan di zaman ini sudah bukanlah keharusan. Hanya perlu mengetahui apa yang kita impikan dan memilah apa yang perlu dilakukan untuk mencapai impian itu. Kak Cairo sudah hampir menginjakkan kaki ke semua kota yang ada di Yardley dan hafal semua jalan yang ada di Provinsi Eartha. Menguasai bela diri dari sejak kecil dan mahir menggunakan senjata. Semua yang diperlukan untuk menjadi Pemburu Iblis sudah dikuasai ... jika mendapat alamat misi tidak akan bertanya lagi tapi sudah tahu akan kemana dan tidak perlu takut karena bisa menjaga diri. Tapi yang menjadi pertanyaan apa benar impian Kak Cairo memang Pemburu Iblis?" kata Felix membuat Tiga Kembar tercengang apalagi Cairo.


"Saat pertama kali diajak berkeliling keluar kota untuk mengetahui semua tempat seperti semua keharusan bagi Pemburu Iblis untuk lakukan ... kukira aku ingin menjadi Pemburu Iblis karena hanya itulah satu-satunya tujuan di Kuil tapi setelah keluar melihat dunia ...." kata Cairo tidak selesai karena disela oleh Teo.


"Ternyata dunia punya banyak impian lainnya ...." kata Teo.


"Ternyata dunia ini memang membutuhkan kami ... aku tidak tahu jika ini memang mimpiku tapi aku tahu kalau pekerjaan ini dibutuhkan untuk diisi oleh seseorang." kata Cairo.


...-BERSAMBUNG-...