
Kemp menunjukkan jalan menuju bawah tanah, "Kau tidak menemaniku?" tanya Felix melihat Kemp hanya diam tidak memimpin jalan.
"Tuan Muda mau ditemani? tapi biasanya kaum kelabang tidak mau bertemu hewan Ruleorum lain dan juga hanya mau bertemu dengan satu Quiris saja, tidak pernah mau bertemu dua Quiris sekaligus ...." jawab Kemp.
"Pasti dia mau ...." kata Felix percaya diri.
"Bagaimana bisa Tuan Muda begitu percaya diri? baiklah akan saya temani dan kalau sudah dekat ... akan saya tunggu di luar!" kata Kemp.
"Sepertinya aku mendengar suara saat kau membuka pintu menuju bawah tanah tadi, apa itu mereka?!" kata Felix.
"Apa yang Tuan Muda dengar?" tanya Kemp.
"Katanya 'Kami sudah menunggu! ajak juga yang disamping Tuan Muda!' begitu tadi yang kudengar ...." jawab Felix.
Kemp mulai memimpin jalan tapi terkejut saat melihat lorong jalanan diubah menjadi satu saja, "Baru kali ini kaum kelabang membuat jalanan yang mudah dan dengan senang hati menerima tamu ...." kata Kemp yang dulunya selalu melihat ada ratusa ribu lorong.
Felix memegang sebuah obor dan menyala lah api biru dari obor itu, "Biasanya jalanan ada batu permata safir yang memenuhi dinding jadi tidak perlu menggunakan penerangan apapun jika berjalan tapi baru kali ini saya melihat lorong yang begitu gelap dan memerlukan obor untuk dipakai sebagai penerangan ...." kata Kemp.
"Katanya mereka membuat jalanan singkat yang langsung menuju inti istana dengan mudah ...." kata Felix.
"Kenapa? apa ada alasan khusus kenapa mereka memperlakukan Tuan Muda begitu istimewa?" tanya Kemp dalam hati dan menatap Felix.
Sampai diujung jalan, Felix dan Kemp langsung disambut oleh sebuah jurang yang dalam tanpa ada cara untuk menuruni jurang itu. Tapi muncullah kelabang, "Silahkan turun, Tuan Muda!" katanya sambil mensejajarkan kepalanya dengan jalanan agar bisa dinaiki dengan mudah.
"Aku juga?!" tanya Kemp tidak menyangka kelabang itu menunggu Kemp untuk naik juga.
Saat menuruni jurang muncullah sebuah tali dari tubuh kelabang itu yang meliliti tubuh Felix dan Kemp agar tidak jatuh karena kelabang itu turun ke dalam jurang dengan sangat cepat seperti sedang menaiki menaiki roller coaster. Tak lama kemudian mereka mendekati danau yang membeku, Felix mau tidak mau berteriak karena mengira akan terbentur keras di danau beku itu tapi nyatanya tidak. Danau beku itu dengan mudahnya langsung mencair saat mereka lewat, "Hahh ...." Felix mengehela napas lega dan melirik Kemp, "Kau juga baru pertama kali kesini kan?" tanya Felix melihat mulut Kemp tidak berhenti membuat angka 0.
Dengan gelembung yang melindungi agar tidak terkena air, kelabang mulai menuruni jurang dengan cara memutari jurang seperti menuruni tangga. Felix mengeluarkan tangannya dari gelembung dan langsung menarik tangannya karena air membekukan tangan Felix. Saat memasukkan tangannya kembali ke dalam gelembung, perlahan air yang membeku di tangan Felix mencair dan keluar dari gelembung dengan sendirinya.
"Air kematian! air ini sama dengan yang ada di bawah jembatan Ruleorum, tangan Tuan Muda tidak apa-apa?" kata Kemp.
"Tidak apa-apa ... rasanya segar saja ...." kata Felix.
"Biasanya tidak ada makhluk hidup yang bisa menyentuh air itu dan Tuan Muda sendiri masih mempunyai tubuh manusia ... biasanya kalau ada manusia yang menjatuhkan diri di jembatan Ruleorum, tubuhnya akan langsung meleleh seperti sedang terkena lahar api tapi air kematian malah membuat tangan Tuan Muda membeku ...." kata Kemp.
"Oh ... jadi seperti Asam Sulfat ya?!" kata Felix menyadari kebingungan Kemp yang wajar.
Tak lama kemudian air menghilang dan hanya tergantung di atas langit-langit, kelabang membiarkan Felix dan Kemp turun untuk berjalan menuruni tangga yang sudah tidak ada airnya.
"Ini yang betul-betul dinamakan di bawah air!" kata Felix tertawa menjulurkan tangannya tapi air kematian itu jauh di atas tidak bisa digapai dengan tinggi Felix saat ini. Tapi tak lama ada air yang menjulurkan dirinya sendiri mengenai tangan Felix, "Aw dingin!" kata Felix kaget. Serpihan bekuan yang berjatuhan dari tangan Felix naik kembali ke atas air.
"Berhenti memasang ekspresi begitu!" kata Felix pada Kemp.
"Tapi ada alasan apa, kau begitu baik padaku?" tanya Felix.
"Kami sudah menerima ramalan!" sahut Kelabang membuat Kemp membelalakkan matanya, "Ramalan untuk mempermudah apapun yang diinginkan Caelvita karena Caelvita yang ke-119 akan mengalami masalah yang terburuk yang pernah ada ... setidaknya semua keluarga yang ada di Mundebris harus membantu Caelvita untuk meringankan beban, bukannya mempersulit ...."
"Entah aku harus senang atau sedih mendengar itu ...." kata Felix tertawa, "Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu!" Felix memperingatkan Kemp.
"Tuan Muda tidak takut? yang dikatakan masalah terburuk dalam sejarah Caelvita disini sudah pasti sangatlah tidak bisa dibayangkan ... bahkan dengan masalah luar biasa yang selama ini terjadi, bukanlah apa-apa jika ramalan mengatakan hal seperti itu ...." kata Kemp.
"Aku takut ... pastinya! tapi aku tidaklah sendiri ... saat ini saja ada kalian berdua disini ...." kata Felix.
"Kami akan membantu sebaik mungkin ...." kata Kelabang.
Tak lama kemudian tangga berakhir tapi tidak ada apa-apa melainkan hanya ruangan kosong. Felix tidak bisa melihat apa-apa hanya terus mengikuti suara langkah kaki kelabang raksasa yang banyak dan tiba di sebuah tempat yang ada kelabang membentuk dirinya seperti menara.
Kelabang itu perlahan menjatuhkan dirinya di hadapan Felix dan muncullah sinar biru di balik yang ditutupi banyak kelabang itu.
"Inti dari Istana Ruleorum!" kata Kelabang.
Felix menyipitkan matanya karena tidak sanggup melihat cahaya itu, "Tuan Muda tidak apa-apa? mata manusia tidaklah mampu menerima cahaya ini ...." kata Kemp khawatir karena Felix masih mempunyai tubuh manusia.
"Tidak apa-apa ...." Felix memaksakan dirinya untuk mendekati inti istana yang tidak bisa dilihat dengan jelas bentuknya itu karena cahayanya yang menyilaukan.
Saat Felix mulai meraba inti istana yang dirasa sudah dekat itu, tangan Felix seperti terbakar. Walau begitu Felix terus memaksakan diri untuk menyentuh inti istana Ruleorum, tapi air kematian datang dari luar menyelimuti tangan Felix, "Terimakasih ...." kata Felix merasa tangannya yang tadi terbakar tidak terasa sakit lagi berkat air kematian yang melindunginya.
Mata Felix tiba-tiba bisa melihat dengan jelas, tangannya yang dipakai untuk melindungi mata dari cahaya diturunkan. Sebuah pantulan dirinya di inti istana terlihat, perlahan sebuah mahkota yang dipenuhi batu permata safir dan simbol tengkorak muncul di atas kepalanya dan sebuah pakaian lengkap dengan jubah berhiaskan batu permata safir terpakai di tubuh Felix dengan sendirinya.
Felix berbalik melihat pemandangan yang jauh berbeda dari yang dilihatnya tadi, "Selamat datang Tuan Muda di istana bawah tanah!" kata semua kelabang bersamaan tak terhitung jumlahnya.
"Istana bawah tanah?" tanya Kemp.
"Hanya yang menyentuh inti istana Ruleorum dan yang melindungi inti istana Ruleorum yang bisa melihat serta yang memang hidup dan tinggal dibawah sini!" kata Kelabang.
Felix dengan jelas melihat dirinya tadi menuruni jurang ternyata yang dilihatnya bukanlah jurang sama sekali tapi sebuah istana yang sama persis dengan istana yang ada di atas permukaan tapi terbalik. Ibaratkan cermin, pantulan istana yang sama dengan yang ada di atas.
"Jadi inilah kenapa tidak boleh ada seseorang yang datang kesini ...." kata Felix melihat kumbang yang mirip dengan Kemp sedang berdiri saling berhadapan mengayun-ayunkan tangannya tapi tidak dilihat oleh Kemp.
"Yang hidup disini merupakan diri yang lain yang hidup di atas ...." kata kelabang, "Pastinya kami terkenal tidak suka bersosialisasi dengan makhluk yang ada di atas tapi ada alasan dibaliknya ...." sambungnya.
"Ruleorum adalah kaum yang memiliki rahasia di balik rahasia!" kata Kemp yang hidup di bawah tanah.
...-BERSAMBUNG-...