UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.517 - Perang Di Dunia Pikiran Part 10



Tom tahu bahwa serangan Efrain yang akan datang itu adalah serangan mematikan. Tan memang ada disana tapi Tom tidak terlalu berharap karena keadaan Tan kelihatan tidak baik-baik saja.


"Tan pasti kesulitan, aku belum pernah melihatnya begitu berantakan seperti itu." kata Tom meletakkan Zeki dan memunculkan Sesemax nya, "Sepertinya aku harus berusaha menyelamatkan diriku sendiri, Aw!" Tom bersiap menerima serangan Efrain tapi tidak disangka-sangka kepalanya terkena sebuah benda.


"Ah, sorry! kau kena ya ...." kata Teo.


"Ck!" Tom menahan makian yang sudah berada diujung lidahnya.


Efrain yang terkena banyak lemparan bola oleh Teo teralihkan sebentar dan mulai terdengar bunyi logam bertabrakan. Felix sudah ada dihadapan Efrain.


Banks memegang bahu Tan dari belakang, "Kau tidak apa-apa?!" tanya Banks melihat keadaan Tan yang dipenuhi luka.


"Aku mohon, katakan kalau kau punya vaksin rabies!" kata Tan.


"Hahh?!" Banks tertawa tidak tahu apa yang sedang dimaksud Tan.


"Bercanda! kelelawar Mundebris kan bukan pembawa rabies ...." kata Tan tertawa, "Tapi, aku berharap bisa istirahat sebentar.


"Wow, kau salah! kalau kelelawar Mundclariss merupakan pembawa ratusan virus ... kelelawar Mundebris lebih dari itu!" kata Banks membuat Tan memelototkan mata, "Tenang ... kau hanya perlu minum ramuan 1357." Banks mengeluarkan botol ramuan dan Tan langsung meneguknya hingga habis.


Banks menahan agar tawanya tidak meledak, bagaiamana tidak selama ini Tan terus menghindar jika akan membuat ramuan menggunakan ramuan 1357 itu. Ataupun sekedar lewat di dekat ramuan itu disimpan, Tan juga tidak mau. Tapi Tan tanpa pikir panjang langsung meminum ramuan yang dibencinya itu hingga habis.


"Jangan tertawa!" kata Tan.


"Aku tidak tertawa!" kata Banks, tapi dari ucapannya ada unsur tawa yang tertahan.


"Semakin pahit ramuan, semakin berkhasiat juga ... karena dengan proses panjang dan pencampuran berbagai macam ramuan lainnya." kata Tan.


"Memangnya aku bilang sesuatu ...." Banks merasa lucu saat Tan menjelaskan untuk membela dirinya disaat tidak ada yang meminta untuk itu.


Verlin dan Tom membawa Zeki mendekat ke arah Banks dan Tan berada.


"Padahal dia tidak pernah kalah kalau melawan seseorang dengan dunia pikiran sebelumnya." kata Verlin.


"Itu karena dia hanya Mantan Alvauden sekarang ... setelah gelar itu dilepaskan, dia hanyalah seorang Zewhit Manusia biasa yang hampir menjadi Amantasia. Terlebih lagi lawannya bukan Quiris biasa." kata Banks.


"Bahkan Efrain sekalipun tidak pernah menang kalau adu duel dengan Zeki di dunia pikiran sebelumnya." kata Verlin.


"Aku tidak menyiratkan bahwa Yang Mulia Efrain itu kuat makanya bisa mengalahkan Zeki. Tapi karena mereka saling kenal dengan baik ... seseorang yang paling mengenal lawan adalah pemenangnya dan sepertinya ...." kata Banks tidak selesai.


"Banks sangat mengenal Zeki ...." Verlin melanjutkan.


"Tidak terduga, aku pikir Efrain sudah buta akan segalanya karena sudah dikuasai obsesi dari tujuan utamanya." kata Tom.


"Itu juga variabel lain yang mendukung bagaimana Yang Mulia Efrain bisa menang. Zeki ingin membunuh dengan alasan untuk menghentikan sahabatnya. Tapi Yang Mulia Efrain punya tanggung jawab besar, bukan hanya sekedar untuk membunuh saja tapi kaum iblis yang digunakan sebagai Anti Caelvita menjadi tanggung jawabnya. Yang Mulia Efrain punya seseorang untuk dilindungi tapi Zeki tidak punya alasan untuk bertahan hidup sehingga hanya menyerang dengan tujuan untuk membunuh tanpa berpikir untuk hidup setelah membunuh. Ada perbedaan besar dari situ ... seseorang yang bertarung untuk hidup dan seseorang yang bertarung untuk mati." kata Banks.


Banks membaringkan Tan, "Ini menandakan kalau ramuannya bekerja, bersabarlah sebentar ...." kata Banks.


Tan tidak punya tenaga untuk menjawab, "Saat pertarungan dunia pikiran sebelumnya pun aku terluka dan Teo Tom yang sibuk bertarung. Sekarangpun sama lagi ... hahh ...." Tan merasa tidak berguna.


"Setelah dunia pikiran ini tergabung, siapa pemiliknya kalau begitu?!" tanya Teo, "Tidak mungkin kan kita masih ada di dunia pikiran sementara tidak ada yang mengendalikan."


"Yang memiliki level dunia pikiran paling tinggi." jawab Verlin.


"Jadi siapa diantara mereka?!" Teo menatap satu per satu iblis.


"Kurasa ... dia!" Tom menunjuk Ditte.


"Aku juga berpikir demikian ...." Verlin terpaksa menyetujui ucapan Tom itu.


Ditte kelihatan menyeringai disamping Efrain. Penggabungan dunia pikiran itu dipelajari dari Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci. Walau ada permasalahan yakni akan terjadi hal yang tidak diinginkan kalau saja level dunia pikiran Zewhit ternyata berbeda jauh. Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci bukan hanya saling cocok dari segi kisah hidup tapi memang karena level dunia pikiran mereka sama. Jadi, mereka tidak saling menghancurkan atau menekan dunia pikiran masing-masing.


Tapi tujuh dunia pikiran yang berbeda-beda itu akan menimbulkan masalah karena level mereka berbeda-beda dan kabar buruknya lagi dunia pikiran itu menjadi lebih besar dari sebelumnya. Tujuh dunia pikiran yang menjadi satu itu tidak bisa dibayangkan bagaimana bencana yang bisa diciptakan oleh siapapun yang sekarang menjadi pemiliknya.


Banks dan Verlin saling melirik dan menggelengkan kepala tanda sudah kehilangan kendali atas dunia pikiran disana. Tidak bisa lagi merasakan semua hal di dunia pikiran itu.


Dua pemilik dunia pikiran sudah dibunuh, satu diantaranya sudah benar menghilang dari dunia ini berkat Banks. Bahkan Banks yang membunuh sendiri sudah mulai samar-samar mengingat iblis itu karena yang meninggal di dalam dunia pikiran akan terhapus dari kenangan atau setidaknya membuat seseorang menjadi gila.


Sementara yang dibunuh oleh Zeki masih punya sisa nyawa Zewhit dan keluar bersama iblis lainnya saat disuruh Zeki karena ingin bertarung satu lawan satu dengan Efrain.


Verlin sudah membunuh semua iblis yang ada di dunia pikirannya kecuali pemilik dunia pikiran sebelumnya yang sangat tangguh itu.


Jadi, 5 pemilik dunia pikiran sebelumnya sudah berjejer rapi didekat Efrain berada. Ditambah iblis lainnya yang sudah dipersiapkan untuk hal yang tidak terduga seperti saat ini. Karena dilihat dari bagaimana mereka hanya bersembunyi dan baru memperlihatkan diri sekarang.


"Kita punya rencana, dia punya bala bantuan. Tidak adil!" kata Teo.


Ditte kelihatan maju paling depan dan mulai menatap Felix, "Hati-hati Felix ... dia bisa membaca apa yang paling kau takutkan." kata Verlin memperingatkan.


Beberapa saat setelah Verlin memperingatkan muncul juga sebuah gedung besar dengan api yang mulai melahap seluruh gedung itu. Ditte kelihatan menyeringai, iblis memang paling ahli mengetahui isi hati seseorang dan yang dilihat dari Felix adalah itu.


"Itu kan ...." kata Teo tidak selesai.


"Panti asuhan Helianthus, panti asuhan Felix yang dulu." kata Tom.


"Dimana ... semuanya berawal dari sana." kata Felix.


Teriakan demi teriakan mulai terdengar dari dalam gedung itu. Felix mengepalkan tangannya erat-erat, "Kau pasti salah membuatnya ... saat itu tidak ada teriakan sama sekali. Karena mereka semua meninggal dalam keadaan terpaksa harus tidur dengan suhu dingin. Dan api yang disana ...." Felix tidak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri menandakan dia hanya berusaha terlihat tegar saja tapi suaranya yang bergetar tidak bisa berbohong kalau Felix terpengaruh oleh itu.


...-BERSAMBUNG-...