
Baik itu Osvald maupun Demelza, keduanya terus saja berlari ketakutan. Membuat Tan, Teo dan Tom juga harus terpaksa ikut berlari.
"Hahh ... hahh ...." Teo mulai merasa sesak napas dan menjatuhkan diri.
"Kau tidak apa-apa?!" Tom menanyakan hal yang konyol karena dirinya sendiri juga merasakan hal yang sama seperti Teo. Pasokan Oksigen di dunia Zewhit tidaklah banyak karena didukung oleh Viriaer.
Masker Matahari yang diberikan oleh Banks memang melindungi dari terhirupnya Viriaer tapi dengan begitu oksigen tidak akan cukup untuk membantu melakukan aktivitas berat. Sementara saat ini Osvald dan Demelza tidak berhenti terus berlari.
"Akhirnya tiba saatnya dimana aku iri pada Osvald, bukannya kasihan ...." kata Teo mencoba bernapas secara perlahan.
"Hanya rohnya yang tertarik kesini, tidak seperti kita yang tubuh asli." kata Tom.
"Seharusnya hanya roh kita juga yang tertarik kesini seperti sebelumnya ...." kata Teo sudah mulai pusing.
"Sebenarnya yang bisa masuk ke dunia Zewhit hanyalah makhluk hidup saja. Tapi mereka berdua menjadi pengecualian karena merupakan target. Jadi tentu saja, kita hanya bisa masuk kesini dengan tubuh bukan hanya roh saja ...." kata Tom masih sempat-sempatnya menjelaskan disaat kondisinya tidak jauh berbeda dengan Teo saat ini.
Demelza berhasil kabur dan masuk bersembunyi di dalam rumah yang dipenuhi kaca dan cermin. Demelza sudah berjalan lagi tapi Tan sudah tidak sanggup untuk mengikuti. Setelah dikejar-kejar oleh zombie yang ada di luar taman hiburan, Tan sudah menghabiskan seluruh energinya untuk kabur dari itu.
"Mau kemana lagi dia?!" Tan dipenuhi keringat dan napasnya tidak beraturan.
"Ssssssst!"
"Aaaaaaaa!" Tan mengira dirinya sudah kehilangan tenaga untuk berbicara tapi ternyata masih punya tenaga untuk berteriak. Zewhit Badut tiba-tiba datang dan menyuruh Tan diam, "Bikin kaget saja!"
Zewhit Badut itu terlihat berjalan pelan agar suara langkah kakinya tidak kedengaran sambil mengikuti Demelza yang sudah berjalan masuk lebih dalam di rumah yang dipenuhi cermin dan kaca itu.
"Kukira malam ini hanya akan ada kejar-kejaran dengan orang-orang diluar tapi ternyata dia juga sudah turun tangan. Fantastis sekali skalanya malam ini ...." kata Tan memakasa dirinya untuk berdiri, "Aku jadi merindukan malam sebelumnya yang membosankan ....."
Keunikan dari rumah kaca dan cermin di taman hiburan adalah dapat membuat pusing karena melihat pantulan diri sendiri yang tidak biasa dan banyak sedangkan kaca yang sangat jernih bisa membuat tersesat, lupa arah dan terbentur kalau tidak hati-hati.
Demelza tiba di depan cermin besar, "Pusing ...." Demelza menutup mata dan membukanya sedikit, "Siapa itu?!" teriak Demelza melihat bukan hanya dirinya yang dipantulkan cermin itu. Walau cermin itu menunjukkan pantulan yang tidak normal tapi jelas bahwa ada orang lain tadi dibelakangnya. Demelza mencari keberadaan yang mengikutinya tapi berakhir terbentur kaca karena terburu-buru, "Aw!" karena rasa penasaran dan takut sehingga membuat Demelza lupa dimana jalan menuju jalan keluar yang dilewatinya tadi masuk.
"Aku juga lupa ...." kata Tan tertawa canggung melihat Demelza panik padahal sebelum kemunculan Zewhit Badut, Demelza sudah mengingat jalan dengan baik tapi saat mengejar Zewhit Badut dia jadi lupa, "Bahkan jika dia bisa melihatku, aku tidak bisa membantu juga ...." Tan menutup matanya sebelah karena ada cermin yang membuat pusing jika dilihat.
Entah sudah berapa kali Demelza terbentur di kaca karena tidak bisa berpikir jernih lagi atau memperhatikan baik-baik membedakan mana jalan dan mana yang kaca karena ketakutan. Bahkan Tan karena kasihan hampir menaruh tangannya agar Demelza tidak terbentur langsung dengan kaca tapi akhirnya menarik tangannya dengan cepat setelah sadar bahwa itu bisa membuatnya celaka, "Hahh ... hampir saja!" Tan kaget sendiri dengan kepribadiannya itu.
"Aw!" Demelza meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.
"Maaf!" kata Tan merasa bersalah karena tidak jadi menolong, "Serasa sudah lama sekali disini, seharusnya sudah selesai dan waktunya bangun ...." memang di dunia mimpi terasa lama tapi ini lebih lama lagi rasanya. Saat bangun jadi seperti tertidur lama sekali tapi rasa lelah tidak hilang karena bukan tidur yang normal pada umumnya.
Demelza memberanikan dirinya lagi untuk mencari jalan keluar tapi terbentur lagi. Demelza memutar arah ke kanan tapi terbentur lagi, ke kiri pun juga sama.
Disaat Demelza panik, Tan juga ikut panik karena kini terkurung di ruangan sempit bersama Demelza. Tan harus pintar-pintar menghindar kalau tidak dia bisa tidak disengaja disentuh oleh Demelza.
"Apa ini?! hantu itu ... kurasa dia sengaja melakukan ini!" kata Tan kesal dan masih sibuk menghindari Demelza, "Dia mau membuatku menjadi target juga ...."
Sementara itu Teo dan Tom kehilangan jejak Osvald. Entah Osvald bersembunyi dimana karena ketakutan tapi Teo dan Tom sudah tidak punya tenaga lagi untuk mengejar. Teo dan Tom bersandar di pohon untuk menenangkan diri.
"Apa ini hanya halusinasiku?!" tanya Teo sudah tidak mempercayai apa yang dilihatnya karena saking pusingnya.
"Kalau begitu, akupun berhalusinasi ...." kata Tom yang juga melihat hal yang sama.
Terlihat pohon semakin mendekat dan jumlahnya semakin padat, "Bagaimana bisa?!" Teo mencoba memperhatikan lebih jelas bagaimana fenomena itu terjadi.
Tapi kedatangan Osvald dengan teriakannya membuat segalanya menjadi jelas. Pohon itu berjalan sendiri dan sedang mengejar Osvald.
"Gawat, arahnya kesini!" kata Tom menarik Teo untuk cepat bangun, "Hahh?!" Tom terbentur saat akan ke arah lain, "Astaga ... sepertinya dunia ini dipersempit!" Tom dalam mode panik.
"Kalau begini, tidak ada jalan lain selain lari!" kata Teo yang melihat Osvald menuju ke arahnya.
"Jangan sampai kita bersentuhan!" teriak Tom mendorong Teo berlari dengan cepat.
Teo memeriksa kanan dan kirinya tapi ada dinding. Memang kelihatannya tidak ada tapi saat akan kesana pasti terbentur. Kini jalan yang bisa diakses hanyalah jalan sempit untuk satu orang saja.
"Apa ini sudah dia rencanakan sejak awal?! hantu itu menginginkan kita juga sebagai target ...." kata Teo.
"Dimana Felix?! kenapa dia diam saja?!" kata Tom mulai melambat berlari.
Teo menyadari bahwa daritadi Tom terus membantunya dari belakang agar bisa berlari jadi Tom pasti lelah dua kali lebih dari dirinya. Jadi Teo menggengam tangan Tom dan bergantian kini dia yang menarik Tom untuk berlari.
Osvald sudah semakin dekat dengan Teo dan Tom. Demelza sudah stres dan tidak bisa diprediksi lagi gerakannya karena terlalu marah jadi memukul kesembarang arah sehingga Tan kesulitan menghindar.
"Apa kita akan menjadi target juga?!" tanya Teo seperti sudah mulai menyerah dan ingin berhenti lari.
"Teruslah berlari!" kata Tom memberi semangat dan mulai bergantian menarik Teo.
"Apa lebih baik aku pasrah saja?! mungkin akan lebih baik kalau aku bisa menjadi target dan membantu Demelza ...." Tan tiba-tiba berhenti bergerak untuk menghindari Demelza.
Tan, Teo dan Tom menutup mata dengan pasrah, "Terserahlah!" mereka sudah pasrah menerima nasib jika menjadi target juga.
...-BERSAMBUNG-...