
Kesadaran Felix mulai menghilang lagi, "Tidurlah ... aku tahu kau memang kuat tapi tidak menyangka bisa langsung menerima tugas Ultisidium dan Civisidium bersamaan begini ...." suara Iriana mulai menghilang seiring kesadaran Felix yang mulai hilang juga.
Berita utama yang ditayangkan di tv adalah jatuhnya pesawat Yardley Air tapi semua penumpang yang berjumlah 201 orang berhasil selamat.
Cain yang daritadi duduk melantai tidak berhenti berdoa untuk Felix agar baik-baik saja dan kejadian yang dilihat dari mata Felix semoga terjadi keajaiban dan bisa diselamatkan, kini Cain mulai bangun dan melangkahkan kakinya menuju tv yang tergantung itu dengan senyum bahagia dan menoleh keruangan Felix berada, "Kau sudah bekerja keras Felix!"
Karena tak kunjung bangun juga, Felix di rujuk ke Rumah Sakit Zion untuk pemeriksaan lebih lanjut. Suara sirene Ambulance membuat anak-anak yang sedang belajar terganggu dan menatap ke luar jendela. Cain dan Tiga Kembar hanya bisa melihat Felix dimasukkan ke dalam Ambulance dan tidak bisa mengantar.
"Kalian kembali ke kelas masing-masing!" kata Perawat Sekolah.
"Anak nakal itu akan baik-baik saja kan?" tanya Cain.
"Iya! anak nakal itu akan baik-baik saja!" sahut Teo dan Tom.
Sementara itu Felix di dalam bawah sadarnya takut terjadi apa-apa dengan Cain, "Bagaimana jika ada Zewhit yang mengerumuni seperti dulu lagi disaat aku sedang tidak sadarkan diri begini? tunggu ... tidak sadarkan diri tapi kenapa aku bisa?!" Felix mulai menyadari dirinya kini berada di sebuah ruang yang hanya dipenuhi permata emerald, "Iriana kah?!
"Kau masih tidak bisa melihatku?" tanya Iriana, "Padahal sekarang aku sedang berdiri di hadapanmu!"
"Aku tidak melihat apa-apa!" kata Felix.
"Hem, itu karena kekuatanmu belum sempurna ... untuk sementara kau tidak akan bangun selama beberapa hari karena tiba-tiba melakukan perlindungan besar-besaran padahal kau belum menjadi Caelvita sempurna!"
"Kenapa banyak sekali pintu di ruangan ini?" tanya Felix, "Tunggu ... tidak akan bangun selama beberapa hari?!"
"Ruangan ini adalah ruanganmu dan semua pintu itu adalah ruangan Para 118 Caelvita terdahulu termasuk aku!"
Felix mencoba melangkahkan kakinya menuju salah satu pintu tapi pijakannya langsung retak, "Hahh?!" Felix panik dan tidak bergerak lagi.
"Kau masih tidak bisa melangkah jauh karena belum menjadi Caelvita sempurna, untuk bisa membuka pintu dan berbicara dengan Caelvita sebelumnya kau harus menghidupkan Viviandem terlebih dahulu! untuk sekarang mundurlah!"
Felix mundur sampai ke tepi dinding, "Tapi kenapa kau bisa berbicara denganku begini padahal aku tidak membuka pintu ruanganmu sama sekali?"
"Itu karena aku adalah Caelvita pembimbingmu, nanti kalau kau meninggal dan muncul Caelvita baru ... kaulah yang jadi pembimbingnya!"
"Belum apa-apa kau sudah menyuruhku mati!" Felix duduk sambil berpangku tangan, "Apa aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk Cain diluar sana?!"
"Dia akan baik-baik saja!" kata Iriana mencoba menenangkan.
Walau kenyataannya kini Cain merasa ingin langsung berlari menuju Rumah Sakit dimana Felix berada. Luar biasa banyak hantu yang menatapnya dari luar jendela kelas sekarang. Kini gedung sekolah yang dekat dengan Cain dipenuhi hantu dan diluar gedung sekolah banyak hantu yang memanjat dinding dan bergelantungan menatap Cain.
Saat hendak keluar kelas langsung saja diserbu oleh hantu bayi yang memegangi kakinya dan hendak memanjat kaki Cain, "Aaaaaaaaa!!!" teriak Cain membuat anak-anak lain menatapnya dengan tatapan menghina dan menertawakannya tapi tidak lama kemudian salah satu yang tertawa tadi langsung pingsan karena terlihat ada hantu yang bolak-balik menghisap energi kehidupan nya, "Tidak ... gara-gara aku!" Cain merasa bersalah dan seluruh murid dalam kelas juga merasa pusing semua, "Apa yang harus kulakukan?!" tapi tak lama semua hantu yang ada pada Cain langsung terbakar.
"Kau kenapa?" tanya Teo mengulurkan tangannya membuat semua hantu yang disentuhnya langsung terbakar.
"Ah, kalian ... terimakasih!" Cain bangun dan memeluk Teo.
Fungsi gelang Cain yang melindungi dari hantu jadi teredam karena kekuatan Leaurenya mulai muncul. Tapi fungsi gelang Tiga Kembar tidak berubah, "Ternyata ada cara ini!"
"Anggap saja sedang berolahraga sekaligus berbuat baik!" kata Cain.
"Kau sudah gila ya?! tidak lucu Cain!" teriak Teo.
"Aku tidak gila! dan memang sedang tidak melucu!"
Untuk sementara Cain jadi menempel dengan Tiga Kembar tapi tetap saja hantu tetap datang mengerumuni dan membuat anak-anak lain jadi pusing karena terhisap energi kehidupannya. Banyak anak-anak yang sedang berjalan membawa nampan makanannya dan serentak langsung berjatuhan semua karena pusing, "Kalian sedang mengerjai kami ya?!" kata petugas dapur kantin, "Kalau melakukannya lagi tidak ada makan siang untuk kalian!" petugas dapur kantin mengira sedang dikerjai karena tidak hanya sebagian anak tapi hampir semua anak menjatuhkan nampan berisi makanan. Bahkan ada yang sudah mengambil tiga kali makanan.
Cain jadi merasa bersalah dan kini anak-anak mengantri untuk diberi vitamin di Gedung Kesehatan.
Pelajaran selanjutnya oleh Bu Farrin, Cain jadi tidak tahu harus bagaimana lagi karena terpisah dengan Tiga Kembar. Cain jadi merinding luar biasa dan kemudian berbalik melihat iblis berwajah buaya membuka mulutnya lebar-lebar dengan postur tubuh tinggi hampir menyentuh atap kelas, Cain berdiri dan mencoba untuk melarikan diri tapi Bu Farrin mencegahnya dan tiba-tiba iblis berwajah buaya itu langsung pergi saat Bu Farrin menatapnya.
"Apa Ibu bisa melihatnya juga?!" bisik Cain.
"Kau ini keturunan Leaure ya? aku selalu membenci Leaure yang sok baik itu!" kata Bu Farrin setelah menarik Cain keluar kelas, "Ternyata kau yang mengundang semua hantu itu dan membuat seisi sekolah jadi kacau begini!"
"Lepaskan keponakan ku Sanguiber!" Dokter Mari menarik paksa tangan Bu Farrin.
"Kau harusnya mengajarinya untuk melindungi diri atau setidaknya membuat energi kehidupannya langsung dihisap habis oleh para Zewhit! bukankah itu motto hidup dari Leaure!"
"Jangan menghina keluargaku Vampir!"
Mata Bu Farrin jadi berubah menjadi warna merah dan kukunya memanjang serta keluar gigi runcing dari balik mulutnya.
Sementara mata Dokter Mari matanya berubah menjadi emas dan rambutnya memanjang kemudian dari rambutnya muncul sebuah pedang emas yang besar dan panjang dengan simbol singa.
"Hentikan!" teriak Cain setelah merasakan sekolah bergetar.
Mendengar anak-anak hendak keluar kelas melihat, Bu Farrin dan Dokter Mari kembali seperti semula.
"Gempa lagi?" tanya Dallas.
"Ada apa bu? Cain salah apa?" tanya Demelza penasaran.
"Apa saya boleh minta izin bu ke Rumah Sakit menjenguk Felix?" kata Dea yang diluar pembahasan.
"Tidak ada apa-apa! tadi Cain mau saya antar ke Gedung Kesehatan karena katanya sakit tapi ternyata sudah ada yang menjemput ... dan Dea maaf ya! pulang sekolah baru kamu boleh menjenguk Felix!" Bu Farrin dengan senyuman di paksakan karena dalam hatinya ingin sekali mencakar Dokter Mari.
Cain dibawa oleh Dokter Mari dengan paksa karena Cain bersikeras masih ingin mengikuti pelajaran, "Aku tidak menyangka ada penghisap darah di sekolah ini!" Dokter Mari marah-marah.
"Lepaskan! sakit bibi!" teriak Cain.
Dokter Mari menampar Cain, "Dimana Gelang Safirmu? bagaimana bisa kau menghilangkannya? kau tidak ingat bagaimana susahnya kita mencarinya dengan berkeliling mencari permata safir yang sudah susah payah disembunyikan itu?!"
...-BERSAMBUNG-...