
Akhirnya misteri Dallas yang diikat dengan benang darah saat malam pelatihan itu terpecahkan. Bukannya untuk menghentikan Dallas melakukan kejahatan tapi untuk melindungi Dallas yang ingin ke luar dari ruangan saat itu. Bisa saja jika Dallas keluar pada saat itu maka dia akan dalam bahaya makanya benang darah Cain menahannya.
"Dari awal aku memang tidak mencurigai Dallas ... " kata Teo.
"Ohya? Ck!" kata Cain.
"Dari awal memang bukan suara Dallas yang aku dengar saat itu ... tapi akupun jadi sempat goyah ketika Dallas terikat oleh benang darah Cain, tapi sekarang sudah jelas kegunaan dari benang darah Cain yang sebagai pelindung bukannya menahan seseorang yang ingin berbuat jahat ...." kata Felix.
"Sepulang sekolah, kita harus ke Rumah Nenek yang meninggal itu!" kata Tan mengingat peserta pertama Permainan Tukar Kematian meninggal.
"Tidak, jangan!" kata Felix.
"Bagaimanapun juga kita harus ke sana setidaknya untuk turut berduka cita!" kata Cain.
"Ya, bisa jadi ada petunjuk yang bisa kita dapatkan kalau ke rumahnya ... kan kita bisa mencari alasan kalau kenal dengan Nenek itu, lagipula Nenek itu tidak mungkin hidup lagi dan mengatakan kalau tidak mengenal kita ...." kata Tom.
"Kau ini, bisa tidak ... pakai perasaan kalau berbicara!" kata Teo.
"Permainan ini dirancang agar perasaan kita tidak boleh diikut sertakan tahu!" kata Tom.
"Tapi awal mula kita mengikuti permainan ini didasari oleh perasaan juga karena Kiana ...." kata Tan.
"Jadi kalian ini memihakku atau bagaimana? buat jadi jelas dong!" kata Tom.
"Setuju ... kita memang harus ke Rumah duka!" kata Tan.
"Sudah jelas aku melarang kalian! kalian tidak dengar?!" kata Felix meninggikan suaranya.
"Mau kau melarang, kami tidak peduli! memangnya kenapa? kau mau merantai kami, begitu?!" kata Cain penuh tantangan.
"Aku sudah memperingatkan kalian ...." kata Felix berlalu pergi dengan emosi.
"Kita hanya disuruh untuk terus melaporkan petunjuk yang kita dapat tapi dia sendiri belum memberitahu kita cara menyelamatkan para peserta ... apa-apaan?!" kata Cain setelah Felix sudah jauh.
"Apa kita ke Istana Ruleorum, bertanya langsung?" kata Tom.
"Aku sudah pergi mencoba tapi tidak bisa melewati dinding pelindung, sepertinya Felix melarang kita masuk ke sana ... padahal sebelumnya aku bisa masuk dengan mudahnya ...." kata Cain.
"Sudah jelas, ada yang sedang dia sembunyikan ...." kata Teo.
"Sudah jelas!" kata Cain, Tan, Tom bersamaan membalas Teo.
***
Tiba di Rumah Duka Nenek yang membeli vas bunga dari Franklin dan Cain yang berusaha membuat Nenek itu agar tidak membeli tapi gagal, "Seharusnya aku lebih menghentikannya lagi ...." kata Cain dalam hati menyesal.
"Kalian siapa ya?" tanya Penyambut tamu.
"Kami dengar kalau Nenek Poppy meningal ...." Tom mulai akting menangis.
"Nenek pernah membelikan kami makanan ...." kata Cain ikut dalam sandiwara.
"Nenek Poppy sangat baik jadi kami setidaknya ingin mendoakannya!" Tan juga bergabung.
Teo memandang mereka yang sedang bersandiwara itu, "Kalian nanti jadi aktor saja kalau sudah besar!" kata Teo dalam hati.
"Jangan menangis dik, silahkan masuk!"
"Terimakasih banyak!" seru mereka berempat.
"Berani-beraninya kalian! siapa yang menyuruh kalian datang kesini!" teriak seseorang mengagetkan, "Dasar anak iblis! pergi kalian dari sini!"
"Maaf tante ... sepertinya ada kesalahpahaman ...." kata Teo mencari siapa yang dimarahi oleh tante itu tapi ternyata dia dan tiga lainnya yang menjadi target.
"Tante ini kenapa? kami salah apa sebenarnya?" tanya Tom.
"Kalian salah satu keluarga yang menjadi pemain permainan ini kan?!"
"Hah?!" Cain dan Tiga Kembar kaget, "Bagaimana dia bisa tahu soal itu?!"
"Kalian datang kemari untuk menertawai kan? karena aku sudah gagal? kalian pikir ini mudah?! tunggu saja giliran kalian! lepaskan! lepaskan kataku ...." banyak yang mulai menyeret tante itu pergi.
"Maaf ya dik, akhir-akhir ini dia sering sekali berhalusinasi dan mengatakan hal yang tidak wajar ... mungkin karena stres, mohon dimaklumi ya!"
"Iya, kami mengerti kok ...." kata Cain sambil tersenyum, "Tidak, dia tahu yang sebenarnya ... tahu semua tentang permainan ini!" kata Cain dalam hati.
"Tetap tenang, sekarang hanya perlu mencari apa yang bisa menjadi petunjuk ...." kata Tom menenangkan dirinya sendiri agar tidak panik dan tetap bisa berpikiran jernih supaya bisa mencari apa yang dilewatkan dan tidak dijangkau oleh kamera pengawas yang dipasang.
"Bagaimana ini?" tanya Teo berbisik saat sedang berdoa di depan foto mendiang Nenek Poppy tidak bisa berkonsentrasi lagi untuk berdoa.
"Tenang, Teo!" kata Tan.
"Bagaimana aku bisa tenang?!" kata Teo.
"Karena inilah Felix melarang kita kesini ... dia sudah tahu hal ini ...." kata Tom.
"Tidak menutup kemungkinan kalau semua peserta juga tahu soal ini ...." kata Cain.
Mereka berjalan perlahan agar bisa melihat semua yang ada di dalam rumah itu sebelum keluar. Tapi tidak ada yang istimewa bahkan Cain tidak melihat aura Iblis, Zewhit atau makhluk Mundebris lainnya disana. Roh dari Nenek Poppy juga tidak kelihatan.
Setelah itu mereka diberi jamuan makanan yang disiapkan di halaman rumah dekat dengan tanaman bunga, " Ini bunga yang dicurigai Mertie!" kata Tom.
"Ayo cepat makan supaya kita bisa pulang dan menanyai Felix! aku juga takut kalau tante itu datang lagi ...." kata Teo.
"Kau pikir Felix akan memberitahu kita?!" kata Cain.
"Sudah kuduga kalian ada disini ...." kata Felix yang tiba-tiba datang membuat mereka hampir memuntahkan makanan yang ada di mulut.
"Ada apa ini Felix? bisa tidak kau jelaskan!" kata Tan.
"Para pemain mendapat surat pemberitahuan soal permainan ini dan satu anggota keluarga atau satu kenalan yang dipercaya bisa dipilih untuk ikut berpartisipasi membantu agar bisa menang dalam permainan ini!" kata Felix ikut bergabung.
"Surat?!" kata Teo.
"Iya, kerja bagus Teo! surat yang datang setiap hari kamis adalah surat berisi misi untuk dilaksanakan agar bisa lolos dalam permainan dan menukar kematian dengan orang lain. Sebelum surat selanjutnya datang, misi itu harus selesai dilakukan, jika tidak ...." kata Felix tidak bisa meneruskan kalimatnya dan tahu jika mereka pasti sudah mengerti tanpa perlu dijelaskan lagi lebih lanjut.
"Dengar, kan! informasi yang aku berikan ternyata sepenting ini ... tapi kalian abaikan dan tidak anggap sama sekali!" kata Teo.
"Seharusnya kau memberi tahu kami!" kata Cain.
"Jika aku memberitahu kalian apa yang akan berubah? sekarang semua pemain berlomba agar bisa lolos dalam permainan ini ...." kata Felix.
"Kalau begitu katakan siapa yang terhubung dengan Kiana?" tanya Cain.
"Ini menandakan bahwa Kiana juga mendapat surat misi kan?" tanya Tan.
"Yang terhubung dengan Kiana adalah Bella dan soal surat misi, Kiana tidak mendapat surat sama sekali ... sepertinya Efrain tahu Kiana itu siapa ...." jawab Felix.
"Bella? hahh ... kenapa harus dia?!" kata Teo frustasi.
"Ada apa Cain? kau mulai ragu kan? makanya aku tidak memberitahu kalian soal ini ... karena tahu pasti kalian akan kasihan dengan Bella juga yang hidupnya tidak beruntung juga ...." kata Felix melihat ekspresi Cain dan yang lainnya mulai terlihat bimbang.
...-BERSAMBUNG-...