
"Dan saya tahu betul begitu banyak perubahan besar yang dibuat oleh Caelvita-47 ... saya jadi menantikan masa pemerintahan Yang Mulia." Banks mulai mengambil pedangnya yang berukuran kecil, ternyata disembunyikan dibalik jubah yang berada di lengannya.
"Jadi kau sudah mulai serius?" tanya Felix melihat Banks mengeluarkan pedangnya, "Tapi apa pedang itu tidak terlalu kecil? apa bisa melindungimu?" Felix dengan begitu percaya diri mulai menyerang.
"Selama ini saya hidup di zaman pemerintahan Caelvita yang lemah lembut kecuali Caelvita-47 dan yang ada dihadapan saya saat ini hehe ... saya tidak menyangka hal seperti ini ... jadi sepertinya saya harus lebih serius lagi hehe ... dan ... jangan meremehkan sebuah ukuran, Yang Mulia!" pedang kecil Banks tiba-tiba memanjang untuk menghalau pedang Felix.
Felix tersenyum melihat trik pedang Banks itu, "Jangan lengah, Yang Mulia!" kata Banks yang diikuti dengan pedangnya yang mulai memanjang menuju tenggorokan Felix.
Felix secepatnya menghindar dan mundur tapi pedang Banks bahkan terus mengikutinya.
"Pedang apa itu?" Felix tidak pernah membayangkan ada pedang yang bisa melakukan hal seperti itu. Karena Banks hanya diam saja, "Apa semua pedang di Mundebris seperti itu?" tanya Felix lagi.
"Harusnya begitu, Yang Mulia!" jawab Banks.
"Apa maksudnya?" tanya Felix.
"Tadi Yang Mulia bertanya soal pedang saya, tapi seorang pemilik pedang tidak seharusnya menanyakan hal itu ...." jawab Banks.
"Aku jadi semakin tidak mengerti?!" Felix menancapkan pedangnya.
"Pedang, bukanlah pedang ... Yang Mulia!" kata Banks.
Felix tertawa keras sambil duduk disamping pedang besarnya itu. Tapi lama Felix tertawa, Banks tidak ikut juga tertawa.
"Jadi apa yang ingin kau katakan sebenarnya? katakan dengan jelas supaya aku bisa mengerti!" kata Felix.
"Pedang adalah bagian tubuh dari penggunanya!" kata Banks.
"Aku juga tahu istilah itu, Pedang adalah perpanjangan tangan kan?" kata Felix dengan ekspresi kesal.
"Istilah itu memang benar adanya. Entah siapa yang mengatakan hal itu ... tapi pedang di Mundebris memanglah bagian dari tubuh penggunanya!" kata Banks.
Akhirnya Felix mulai mengerti apa yang sebenarnya ingin Banks katakan, "Tapi Cain mewarisi pedang Alvauden yang turun temurun itu ... bagaimana maksudnya?"
"Pedang Orogla sebenarnya hanya simbol yang dikatakan sebagai pedang terkuat tapi sebenarnya Alvauden yang memeganglah yang dikatakan terkuat karena tidak pernah terkalahkan ... Tuan Muda Alvauden, Cain ... hanya mendapatkan Pedang Orogla sebagai bonus karena beliau adalah Alvauden tapi sebenarnya beliau punya pedang sendiri ...." kata Banks.
"Maksudmu pedang yang hanya gagang itu?" tanya Felix tidak bisa menahan tawanya mengingat pedang Leaure Cain.
"Hanya gagang?" Banks terlihat terkejut.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan ...." Felix menghela napas.
"Hanya ada satu orang yang saya kenal memilki pedang seperti itu!" kata Banks terlihat seperti mengingat-ingat, "Tunggu dulu ... Tuan Muda Cain adalah Leaure kan? berarti memang tidak mengherankan jika begitu ...." Banks berpikir.
"Ada apa dengan itu?" tanya Felix mulai gelisah dengan penjelasan panjang lebar Banks. Ternyata apa yang dipikirkannya berbeda dengan apa yang dimaksud oleh Banks.
"Pedang terbuat dari bagian tubuh penggunanya sejak lahir ... bagian tubuh yang saya maksud adalah benar bagian tubuh. Viviandem saat lahir akan cacat atau ada kelainan karena kehilangan beberapa anggota tubuh yang disebabkan oleh kelahiran pedang juga tapi beberapa tahun kemudian akan bisa normal lagi."
"Yang kudengar memang Cain lambat perkembangannya dan umur 5 tahun baru bisa berjalan ...." kata Felix.
"Itu adalah ciri khas umum semua penduduk Mundebris, tapi bukankah beliau hanya Setengah Viviandem ... yang bisa mejelaskan adalah Tuan Muda Cain bukan manusia biasa atau sekedar Setengah Viviandem tapi seorang Viviandem murni! hem ... maaf Yang Mulia saya jadi berputar-putar dan tidak menjelaskan hal yang menjadi pertanyaan awal ...." kata Banks mulai merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kau bisa menjawab sekarang ...." kata Felix.
Felix masih setia mendengarkan, "Tidak semua bisa memiliki pedang, bagi yang terlahir normal tidak akan memiliki pedang dan yang memiliki pedang belum tentu bisa menghormati pedang yang dimilikinya dan hanya sekedar menjadi pedang berkarat saja ...." Banks melanjutkan.
"Apa ada yang berubah jika memperlakukan pedang secara khusus?" tanya Felix.
"Pedang akan benar-benar menjadi bagian dari tubuh dan menjadi pedang dengan level berbeda!" jawab Banks dengan senyuman bangga.
"Seperti pedangmu itu?" tunjuk Felix pada pedang Banks.
"Jadi, inti dari pembicaraan ini adalah agar aku tidak boleh menanyakan nama pedang seseorang?" Felix mulai bersiap tertawa.
"Hal yang ingin saya katakan adalah untuk mengenali lawan Yang Mulia. Lawan bisa dinilai apakah memilki pedang level sempurna dari caranya membicarakan dan memperlakukan pedang ...." kata Banks datar.
"Ternyata kau orang seperti ini!" kata Felix yang ingin tertawa tapi tidak jadi.
Banks mulai menunduk malu-malu dan menyembunyikan wajahnya, "Biasanya kepribadian saya ini hanya Orangtua dan Goldwin saja yang tahu ...."
"Tidak apa-apa! kepribadian yang terlalu serius melebih-lebihkan sepertimu adalah guru yang tepat untukku, walau memang sepertinya tidak cocok jika kita berteman ...." kata Felix yang mulai membuat Banks tertawa.
"Ow! sudah mau pagi Yang Mulia!" kata Banks kaget melihat jam tangannya yang memiliki tiga waktu dunia itu.
"Kalau begitu cukup sampai disini saja dulu kita latihan ... aku harus melihat keadaan Cain dulu!" kata Felix.
Duarte yang tadinya tidur dekat dengan Felix saat berlatih dengan Banks mulai bangun dan terbang ke hadapan Felix setelah mendengar kode dari Felix yang langsung membangunkannya.
"Duarte bisa mengantar Yang Mulia dengan cepat ke Istana Leaure, tidak perlu khawatir ...." kata Banks.
"Aku tidak mengkhawtirkan Duarte, dia bisa dengan cepat mengantarku kemana saja tapi aku mengkhawatirkan Cain yang saat ini tidak tahu sedang melakukan apa ... jadi aku harus buru-buru kesana, lagipula kita akan tiap hari bertemu juga ...." kata Felix mulai menaiki punggung Duarte.
Felix tahu jika Banks sangat kesepian dan saat ini masih ingin mengobrol.
"Sampai jumpa besok Yang Mulia!" Banks melambaikan tangannya, yang dari sudut pandang Felix yang sudah terbang Banks terlihat sangat kecil.
"Kau masih tidak bisa berbicara dengan Banks?" tanya Felix.
"Masih tahap larangan, Tuan Muda ... saya sangat ingin mengobrol juga tapi bagaimanapun juga dia adalah salah satu yang membantai perkumpulan Setengah Sanguiber. Jadi mau tidak mau saya harus menuruti peraturan larangan musuh Sanguiber ...." kata Duarte.
"Bagaimana kalau kita menghapus peraturan itu?" kata Felix membuat Duarte tertawa.
"Ratu akan sangat marah jika mendengarnya ...." kata Duarte.
"Biarkan saja kalau dia mau marah! lebih baik marah daripada ditahan dan hanya akan jadi penyakit nanti hahaha ...." kata Felix.
"Tuan Muda tidak kenal saja dengan Ratu, beliau sangatlah tegas, keras kepala, punya prinsip yang tidak bisa diganggu walau dunia ini jungkir balik sekalipun ...."
Belum selesai perkataan Duarte, Felix langsung memotong, "Kini aku tahu darimana aku mendapat sifatku ini ... hahh .... " kata Felix yang langsung membuat tawa Duarte menggelegar diatas langit.
Felix dan Duarte tidak berhenti mengobrol saat terbang bersama menuju Istana Leaure. Sesampainya disana, Felix kaget mendengar kalau Cain hanya terus di perpustakaan akhirnya berbicara melalui pikiran pada Goldwin.
...-BERSAMBUNG-...