
"Aku tidak perlu meragukan segel pikiran kalian kan?" tanya Cain pada Verlin dan Duarte, "Rahasiakan ini!" perintah Cain.
"Baik!" sahut Verlin dan Duarte bersamaan masih dengan tatapan bengong.
Cain memutar jam kembali ke waktu ia dan Felix memasuki Mundebris, "Kami pergi!" kata Cain pamit.
Felix dan Cain terlihat tersedot bersama jam itu dan tiba di Bemfapirav tak lama kemudian mereka berdua tiba di Mundclariss dengan jam serta hari yang sama saat mereka memasuki Mundebris. Dapat dilihat pada jam yang ada di taman.
"Jadi ini rahasiamu?" tanya Felix sambil tersenyum.
Cain hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum malu saat bunyi bandul jam mulai bergerak kembali dan perlahan menghilang seiring bunyi detakan jam yang juga mulai tidak terdengar lagi.
"Tapi siapa ya yang menaruh jam di sana?" tunjuk Cain pada jam yang ada di taman, "Seakan ada yang sengaja menaruhnya disana ... tahu betul kalau kita perlu itu?!"
"Terlebih lagi ditaruh di taman ini yang merupakan sisi lain dari Rumah Verlin ... bisa jadi ini hanya kebetulan saja atau memang ada yang mengetahui kita akan sering keluar masuk Mundebris dari sini ...." kata Felix.
"Kau percaya hal yang kukatakan tadi?" tanya Cain.
"Aku tidak bisa mempercayainya!" jawab Felix.
"Tapi apa hanya aku yang merasa kaupun berharap itu benar?" kata Cain.
"Itu hanya perasaanmu saja!" balas Felix.
"Tapi kenapa kau merespon saat aku mengira-ngira bahwa ada seseorang yang memperhatikan dan membantu kita secara diam-diam?" tanya Cain dalam hati.
Felix dapat mendengarnya tapi pura-pura tidak dengar. Di perjalanan pulang terlihat di Videotron menampilkan berita tentang Ted Si Pewaris Carlton Group Pembunuh Darah Dingin yang akan melakukan sidang akhir penetapan hukuman.
"Hukuman mati pasti kan?" tanya Cain.
"Sudah seharusnya! bahkan menurutku tidak cukup ... dia harus mati berkali-kali sesuai jumlah korban yang dibunuh baru bisa sebanding!" balas Felix dengan tatapan dingin.
Cain jadi takut sendiri mendengar perkataan Felix itu, "Terkadang kau ini terdengar seperti orang lain saja!"
"Aku memang orang yang seperti ini! kau lupa ya?!" kata Felix membuat Cain menelan ludah.
"Siapa sebenarnya pembunuh itu? apa mereka dari planet lain? bagaimana bisa ada seseorang yang tega melakukan hal keji seperti itu? rasanya mustahil kan ya? hanya satu hal yang bisa dipastikan ... jika mereka berasal dari planet lain barulah terasa mungkin ...." kata penyiar radio yang terdengar di dalam bus.
"Mereka adalah manusia biasa, bukan dari planet lain tapi lahir dan tumbuh besar berdampingan dengan kita ... hanya saja mereka sedikit berbeda dan tidak bisa diterima oleh dunia. Padahal mereka tidak menginginkan untuk hidup berbeda ... keadaan menuntutnya untuk berubah. Mereka juga dulunya adalah manusia yang sangat peka bisa merasakan perasaan orang lain tapi karena terlalu sering disakiti, merekapun mencoba menyakiti orang lain karena saat orang lain menyakitinya terlihat sangat menikmati ternyata saat melakukan hal yang sama itu barulah mereka sadar memang benar menyenangkan," jawab tamu radio itu diselingi candaan.
"Mereka hanyalah korban dari kejamnya kehidupan ... saat mereka mencoba beradaptasi hidup dengan identitas baru yang berbeda itu banyak yang ingin mengulurkan tangan untuk menolong tapi sudah terlambat ... mau tidak mau mereka kini hidup diantara kita dan sebenarnya sifat pembunuh itu ada pada diri kita masing-masing ... bagian dari diri kita yang masih tersembunyi ... jadi jika kalian melakukan tindakan tidak baik pada seseorang belum terlambat untuk kalian hentikan ... jika kalian melihat kejadian yang tidak baik, beranilah dan tolong korban itu ... mari ulurkan tangan kita sebelum terlambat!" akhir dari dialog penyiar radio sebagai penutup.
"Setidaknya dimulai dari hal kecil seperti itu ...." Cain menarik kepala Felix untuk bersandar di bahunya.
"Bagaimana ya keadaan Era sekarang?" tanya Felix sambil menutup mata.
"Haha ... aku bahkan tidak tahu kau tahu namanya?!" balas Cain menggoyangkan lengan yang disandari Felix.
Sementara itu Carlton Group walau gedungnya tidak hancur tapi dari dalam sudah hancur menjadi serpihan debu tanpa bisa ditolong lagi. Konglomerat yang jika jatuh biasanya akan tetap menjadi konglomerat. Karena sekali konglomerat tetaplah konglomerat. Tapi situasi Carlton Group berbeda yang karena menyediakan bahan daging dari manusia mengakibatkan kontroversi yang sangat besar. Bukan hanya di Yardley tapi seluruh dunia kini bersatu mencaci maki dan berusaha menghancurkan Carlton Group. Seakan yang dilakukan Ted kini tenggelam karena masyarakat fokus pada daging dari Carlton Group yang mereka konsumsi. Pada akhirnya orang-orang hanya peduli pada dirinya sendiri dan tidak terlalu memperhatikan para korban Ted yang seharusnya perlu lebih diperhatikan oleh media.
"Jangan khawatir, dia itu bukanlah saudaramu! ayahmu pun tidaklah sama ... dari awal kau tidak punya hubungan darah dengan monster itu!" kata Roseanne memeluk Era melihat berita di tv.
Mertie yang melihat berita itu serasa ingin masuk ke dalam televisi itu dan melakukan hal yang sama pada Ted seperti yang dilakukan pada orangtuanya, "Hukuman mati terlalu mewah untuk pembunuh sepertimu! kau perlu dibunuh perlahan-lahan dan merasakan rasa sakit luar biasa ... tidak! bahkan setelah mati aku berharap bisa membangkitkanmu lagi dan membunuhmu lagi ... melakukan hal yang berulang-ulang untuk menyiksamu barulah dendamku ini bisa berakhir." Mertie menyumpahi dengan berteriak keras sambil menangis.
"Bagaimana keadaan Mertie saat ini? apa sebaiknya kita menjenguknya?" tanya Cain.
Felix tidak menjawab karena sudah tertidur nyenyak. Cain yang baru sadar hanya tersenyum dan mulai ikut tidur juga. Mereka berdua ketiduran sampai-sampai supir bus harus membangunkan mereka.
"Jadi apa yang terjadi selama tiga hari ini saat kita tidak ada?" tanya Felix.
"Kan kita kembali ke hari dan jam yang sama saat memasuki Mundebris," jawab Cain tapi setelah melihat reaksi Felix akhirnya sadar jika bukan itu yang dimaksud, "Ah ... itu, kita tidak tahu apa yang terjadi karena belum terjadi kan!"
"Bukankah seharusnya saat kembali ke masa lampau harusnya kau melihat waktu yang terlewati itu dan apa yang terjadi?" kata Felix.
"Aku tahu maksudmu Felix! kau berharap aku melihat sesuatu dan kau ingin menghentikannya kan? tapi karena kita di Mundebris dan tidak menjalani hari di Mundclariss kita tidak tahu apa yang terjadi ...." Cain tahu betul apa yang ada pikiran Felix.
"Jadi misalkan saat ini ada kecelakaan yang terjadi dan kau kembali ke masa lampau untuk mencegah kecelakaan itu ... apa kecelakaan itu tidak akan terjadi?" tanya Felix serius.
"Memangnya apa yang ingin kau cegah sih sampai seserius itu?" kata Cain heran melihat ekspresi wajah Felix.
"Aku ingin mencegah masa depan mengerikan kalian!" kata Felix dalam hati mengingat kembali ingatan yang membuat Felix gelisah itu.
"Aku tidak tahu apa bisa berubah tapi bukankah itu tujuannya kembali ke masa lalu untuk memperbaiki masa depan ...." Cain mulai menjelaskan lagi karena Felix tidak kunjung memberikan jawaban.
Felix langsung memeluk Cain, "Aku tidak perlu khawatir kehilanganmu lagi ...." kata Felix dalam hati sambil menitikkan air mata sambil memikirkan kemungkinan terbaik dengan kekuatan baru Cain itu.
"Kau ini kenapa sih?" Cain bingung dengan tingkah laku Felix, "Kau mimpi buruk ya?"
"Ya! mimpi buruk ...." jawab Felix.
...-BERSAMBUNG-...