
Dokter Mari terkenal sebagai psikiater hebat yang pernah ikut membintangi program acara televisi tentang psikologi. Dokter Mari juga adalah dosen Universitas Yardley dan menulis buku tentang psikologi yang menjadi Best Seller. Terkenal juga sebagai dokter psikiater yang dermawan karena selalu memberi donasi ke semua panti asuhan yang ada di Provinsi Eartha, panti asuhan Arbor juga termasuk salah satu tentunya.
Maka dari itu kenapa pihak polisi dan sekolah setuju mengundang Dokter Mari untuk meneliti sikap dan sifat Cain serta kedua Ibu yang datang itu. Walau Bu Farrin tahu siapa Dokter Mari dan juga tahu tentang hubungan Cain dan Dokter Mari tetap memilih diam. Tidak sesuai dengan pemikiran Dokter Mari yang mengira Bu Farrin akan mengatakan yang sesungguhnya bisa membuat Dokter Mari dan Cain bermasalah.
Cain yang terdaftar sebagai anak yatim piatu tentunya tidak ada mengetahui fakta bahwa Dokter Mari adalah Bibi kandung dari Cain. Membuat Cain bisa mendapatkan keuntungan tidak perlu terlalu berusaha keras dalam akting untuk mengelabui Dokter Psikiater.
"Jadi kalian pikir kami ini gila, begitu?!" kedua Ibu-ibu itu menarik kerah jaket polisi yang didekatnya.
"Untuk sementara, anda berdua akan dibawa ke kantor polisi untuk ditanyai lebih lanjut!" kata Polisi.
"Apa?! aku tidak akan meninggalkan sekolah ini sebelum mendapat jawaban!" kata ibu Hauda.
"Jawaban apa yang ingin ibu dengar?! tidak ada jawaban untuk pertanyaan aneh ibu itu!" kata Polisi.
"Ibu juga harus menjalani pemeriksaan pemakaian obat-obatan terlarang ...." kata Polisi lainnya.
"Kalian pikir kami mengkonsumsi narkoba?! hahh ... dasar! kami ini bersih dari obat-obatan dan sehat secara mental. Tidak ada yang tidak normal dengan kami!" kata ibu Erasma.
Polisi itu memandang Dokter Mari dan Dokter Mari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak berbicara yang akan membuat kedua ibu itu merasa tersinggung. Bagaimanapun juga reputasinya sebagai psikiater dipertaruhkan.
Tidak mungkin dirinya melakukan hal yang tidak sesuai dengan seorang psikiater profesional hanya untuk menyelamatkan keponakan. Cain yang sebagai keponakan juga terlihat tidak membutuhkan bantuan sama sekali, bisa mengatasi semuanya bahkan tanpa bantuan.
"Apa aku hapus semua ingatan mereka saja?" tanya Haera yang masih tidak beranjak dari tempat semula karena merasa semuanya yang terjadi di ruangan itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
"Bukan hanya mereka yang ada di ruangan ini tapi sudah banyak yang tahu soal ini ... kalau mau, kita harus menyelidiki semuanya satu per satu. Lebih simpelnya, sebenarnya dengan kembali ke masa lalu dan mengalahkan Efrain sebelum permainan ini terjadi tapi aku belum bisa melakukan itu ...." jawab Cain.
"Mengubah masa lalu bukanlah solusi! mengubah sesuatu tidak selamanya berubah menjadi baik tapi bisa menjadi lubang hitam yang akan menjadi penghalang terbesar!" kata Haera yang lebih nemilih solusinya untuk dilakukan.
"Mereka memang agak curiga tapi belum sepenuhnya percaya dengan permainan ini, kecuali kedua ibu itu!" kata Cain.
"Jadi Ian hanya akan membiarkan ini terjadi begitu saja?" tanya Haera terlihat kecewa.
"Bahkan Franklin yang hebat saja tidak bisa menghentikan ini terjadi ... apalagi aku yang tidak punya pengalaman sama sekali! lagipula coba pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan Efrain ...." kata Cain.
Cain kembali ke kelas mengikuti pelajaran dengan banyak mata terus menatapnya seperti kelaparan meminta makanan informasi. Kedua ibu pemain itu bersikeras masih ingin tinggal maka polisi terpaksa membawa paksa mereka berdua untuk keluar dari sekolah.
Tan, Teo dan Tom tidak berhenti menanyai Cain apa yang terjadi tadi. Sementara Felix hanya diam saja karena sudah tahu, karena telah mendengar semua percakapan Cain tadi.
Sepulang sekolah mereka segera menuju asrama, sesuai yang dijanjikan oleh Darien, penjaga asrama laki-laki tadi pagi yang katanya akan menyiapkan kamar untuk mereka.
Kamar untuk mereka berada di lantai 9, perlu menaiki tangga yang membuat kaki seperti akan lepas.
"Mungkin karena kita belum terbiasa ...." kata Tom menyeka keringatnya, "Awalnya juga dulu kita kelelahan saat berlari dari panti ke halte bus tapi lama kelamaan sudah terbiasa ...." sambungnya.
"Kamar kalian di 965 dan 935! 965 untuk Felix dan Cain, 935 untuk kalian Tiga Kembar!" Darien menyerahkan kunci kamar.
Pertama mereka memeriksa kamar Tan, Teo dan Tom yang sudah ditambah ekstra tempat tidur, "Luas juga kamarnya, walau sudah kubayangkan sih bagaimana ... tapi tidak kusangka akan sebagus ini untuk sebuah asrama sekolah." kata Cain.
Kemudian mereka menuju kamar Felix dan Cain. Sama saja dengan kamar Tiga Kembar hanya saja perbedaannya lebih luas lagi karena hanya dua tempat tidur. Dua meja belajar, dua lemari pakaian, sofa dan meja, kamar mandi dalam.
"Jadi kapan kami bisa tempati?" tanya Tan.
"Bulan januari mungkin baru bisa setelah libur musim dingin, karena belum peresmian dari kepala yayasan dan kepala sekolah. Untuk sementara, kalian perlu mengisi formulir dan melengkapi dokumen persyaratan untuk memasuki asrama dulu!" jawab Darien.
"Ribet banget, bisa tidak tinggal kasi masuk fotocopy kartu siswa? kan itu sudah menandakan kalau kami siswa sekolah ini!" kata Teo malas.
"Kalian sudah 4 tahun sekolah disini tapi masih saja belum tahu bagaimana Gallagher yang terlalu ribet kalau soal pengurusan dokumen ... kalian pikir aku juga tidak malas? jujur saja ... menjadi penjaga asrama seharusnya bisa santai tapi ternyata banyak hal yang perlu diurus juga!" kata Darien jujur membuat mereka tidak bisa membahas lebih lanjut lagi.
Setelah melihat bagaimana Tan, Teo dan Tom yang kelelahan menaiki tangga tadi membuat Felix dan Cain bertanya-tanya karena seharusnya mereka juga mendapat peningkatan kekuatan. Felix bisa menaiki tangga bahkan tanpa merasa terlalu kelelahan seperti Tiga Kembar, seharusnya Tiga Kembar juga begitu karena Felix yang sedang menjadi sarang Veneormi pun bisa pulih begitu.
Haera seharian memasang wajah murung, Teo mengira kalau Haera sedih tidak lama lagi akan pergi tapi nyatanya pikiran Haera memikirkan masalah tadi. Haera menarik-narik tangan Cain yang menggandengnya, "Em?" tanya Cain.
"Kalian duluan!" kata Cain saat bus sudah datang.
"Ada apa?" tanya Tom.
"Haera mau ditemani pulang dulu!" sahut Cain.
"Pulang?" tanya Teo.
"Kau pikir Haera tidak punya rumah?!" jawab Cain, "Aku pergi ya!"
Felix menoleh ke arah sekolah memikirkan banyaknya korban yang sekarang ada di Bemfapirav. Berita yang disiarkan di radio bus mengatakan bahwa banyak mayat yang ditemukan dari lokasi yang berbeda dengan kondisi sama seperti korban Setengah Sanguiber pada umumnya yang darahnya terkuras habis dengan luka gigitan seperti dari ular.
Sementara Cain berada di atas Jembatan Ruleorum bersama Haera, "Siapa kau?!" tanya air sungai yang membentuk gelombang besar hendak menghempaskan Cain.
"Berkali-kali rasanya kita bertemu tapi selalu saja begini ... kau tidak lelah? bisa tidak langsung membiarkanku masuk?!" jawab Cain berteriak karena suara air begitu keras seperti air terjun besar.
"Katakan siapa dirimu?!"
Cain langsung mengeluarkan pedang berhiaskan batu permata safir yang tidak diketahui oleh Tiga Kembar maupun Felix, "Akulah Sang Pewaris, Sang Penyeimbang Takdir Kehidupan!" dengan menaruh pedang di atas pundaknya.
...-BERSAMBUNG-...