UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.330 - Tidak Apa-apa Lelah Asalkan Tidak Membosankan



Cairo saling berkabar dengan Tiga Kembar di grup obrolan yang mereka buat. Tan dan Teo menggunakam voice note untuk menjelaskan apa yang sudah mereka dapatkan sehingga Cairo langsung bisa melanjutkan saja tanpa perlu harus memulai dari awal lagi.


"Pemburu Iblis dan Tiga Anak Tampan Seperti Bunga. Apa?! Tampan? seperti bunga?!" kata Felix berdiri di belakang Teo membaca nama grup yang baru saja Teo buat itu.


"Tidak ada salahnya." kata Tan menyetujui.


"Tapi tidak ada benarnya juga." kata Felix.


"Eeeeey ... kalau kami bersembunyi diantara bunga tidak akan ada yang menemukan kami." kata Teo membuat Tan dan Tom tertawa.


Felix melongo mendengar itu bahkan Tom juga sepertinya ikut bersenang-senang dengan cara Teo itu, "Terserahlah ... jadi kalian tidak akan makan siang denganku kan?!"


"Heh?! kenapa tidak?" tanya Tan.


"Kan kalian bunga jadi makannya pupuk saja sana." jawab Felix membuat Tiga Kembar tercengang.


Memang terkadang menakutkan untuk mengusili Felix, terkadang itu kembali lagi pada orang yang mengusili.


***


Sore harinya, Cairo sudah mendapatkan fakta tentang kepala desa yang meninggal dengan wasiat yang benar palsu itu. Cairo berpura-pura sebagai wartawan dan ingin mewawancarai pihak hukum dari kepala desa itu. Tapi pengacara kepala desa itu tidak mengetahui apa-apa. Bahkan terakhir bertemu kepala desa itu masih tergila-gila saja dengan saham, sudah merencanakan untuk melakukan wisata pribadi ke luar negeri, bahkan memamerkan bagaimana sehatnya dengan menunjukkan hasil pemeriksaan tahunannya, Tidak seperti orang yang akan meninggal sama sekali ...." kata Cairo dalam hati.


"Seseorang yang menggilai investasi saham jika memang mengetahui dirinya akan mati pasti akan menutup saham itu untuk uangnya bisa dicairkan agar bisa didonasikan juga. Wisata pribadi itu juga tiba-tiba berubah menjadi wisata untuk banyak orang. Seseorang yang memamerkan hasil pemeriksaan kesehatan rutin tahunannya itu ... mengidap penyakit? kemudian menulis wasiat tertulis sederhana tanpa adanya bagian hukum kepala desa yang turun tangan. Menyiapkan wisata ke luar negeri untuk warga desanya. Sudah jelas kalau ini adalah rekayasa ...." kata Cairo.


"Jadi maksud Kak Cairo ...." kata Tan mengetahui dari nada bicara Cairo ditelepon.


"Kita harus melaporkan ini pada polisi." kata Cairo.


"Tapi ...." Teo yang ikut mendengar merasa ragu.


"Bagaimana menurutmu Felix?" tanya Tom.


"Sudah jelas kalau itu pembunuhan maka tentu saja perlu diselidiki oleh pihak yang berwajib. Jangan membawa perasaan kalian dalam hal ini ... memang image dari kepala desa itu mungkin akan rusak setelah penyelidikan tapi pelaku dari pembunuhan itu bisa ditangkap. Bukankah itu bisa membuat yang meninggal lebih lega? menangkap pembunuhnya daripada menjaga imagenya?!" kata Felix.


"Tapi kalau iblis yang melakukan bagaimana bisa ditangkap? bukankah seharusnya disembunyikan saja?" kata Teo.


"Surat wasiat tertulis, perubahan dari wisata liburan pribadi menjadi wisata liburan dengan jumlah banyak orang. Menurutmu iblis yang melakukan itu?!" kata Felix.


"Tapi, kan ... bisa saja manusia itu hanyalah dirasuki saja." kata Tan.


"Bagaimana kalau tidak?!" tanya Felix.


"Kau berkata begitu seakan ada manusia yang bekerjasama dengan iblis?!" kata Tan.


"Tidak menutup kemungkinan ...." kata Felix mengalihkan pandangannya yang kini sedang berada di teras lantai dua sekolah pada Parish dan Dallas yang sedang menuju pintu gerbang untuk pulang.


"Jangan bilang kau masih menaruh curiga pada Parish?" tanya Tan.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk mengeluarkan Dallas dari list yang patut dicurigai?! dia diberi Veneormi, mana mungkin yang bekerjasama dengan iblis akan dibuat menderita seperti itu?!" kata Teo.


"Atau bisa jadi itu hanya pengalihan untuk membuat kita mempercayai Dallas. Aku hanya tidak ingin menghilangkan kemungkinan apapun itu ...." kata Felix.


"Lebih baik, sebelum dilaporkan. Felix ke desa itu dulu untuk mendengarkan dan membaca pikiran yang ada disana. Kalau memang hanya manusia yang dirasuki untuk melakukan itu berarti kita urungkan niat kita untuk melaporkan hal ini." kata Tom.


"Besok baru semua warga desa yang berwisata itu pulang. Kalau ingin membaca pikiran harusnya besok setelah semua warga desa lengkap." kata Tan.


"Baiklah ...." Felix menyetujui dengan mudah saran Tom itu. Bagaimanapun Felix hanya ingin membuat mereka sadar bahwa bukan hanya iblis yang mereka lawan tapi bisa jadi juga manusia. Felix tidak ingin mereka lengah, itu saja.


***


Tan, Teo dan Tom berjalan ke arah rumah yang ada di tengah-tengah petak sawah itu. Felix tidak ikut karena akan ke desa Parama lagi.


"Kenapa Felix terobsesi sekali dengan desa itu?! padahal sudah jelas kalau disana pengorbanan sudah selesai." kata Tom.


"Memangnya ada yang bisa tahu apa yang ada di kepala Felix itu?!" kata Tan.


"Kalian tidak takut? di sawah itu banyak ular loh!" kata Teo berjalan sambil berjinjit dan melompat.


"Apa dia ingin mencabut batu permata yang ada disana lagi?" tanya Tan.


"Tidak, dia masih belum pulih betul untuk melawan iblis yang datang saat batu permata akan ditarik, apalagi untuk menjadi korban pengganti dengan mengeluarkan banyak darahnya ... tidak mungkin." kata Tom.


"Kalian tidak mendengarku?! apa aku tidak kelihatan? apa aku meminum ramuan tidak kelihatan?! hahh?!" Teo menghadang kaki Tan dan Tom sehingga membuat mereka terjatuh.


"Teo?!" teriak Tan.


"Apa-apaan kau?!" teriak Tom.


"Ow, jadi kalian bisa melihatku ...." kata Teo menyeringai.


"Jangan berisik!" kata Cairo yang membuka pintu rumah kecil itu.


Tan dan Tom membersihkan pakaiannya dengan kesal sementara Teo dengan bahagia sudah naik ke rumah kecil itu.


"Bisa-bisa kita gatal terus malam ini." kata Tom.


"Kita harus ganti baju." kata Tan.


Memang mereka selalu membawa baju ganti untuk persiapan. Karena ditakutkan jika penampilan mereka dipenuhi darah akan membuat mereka kesulitan mencari transportasi yang mau membawa mereka pulang sebagai manusia normal.


"Padahal baju ini untuk diapakai setelah misi selesai." kata Tom menatap tajam Teo yang sibuk mengeluarkan makanan dan minuman dari dalam tasnya untuk Cairo makan.


"Aku sudah makan sebelum kesini ...." kata Cairo merasa sungkan dibawakan makanan.


"Ini untuk dimakan bersama, bukan hanya untuk Kak Cairo saja." kata Teo usil.


"Anggap saja cemilan kak ...." kata Tan.


Tan dan Tom mengintip dari celah yang ada di dinding rumah kecil itu sambil mengemil. Sedangkan Teo merasa lebih baik menunggu saja kotak mainan terbuka sehingga tidak perlu mengawasi terus menerus. Jadi Teo menjadikan kotak mainan itu sebagai bantal.


"Kalau terbuka kepalamu akan sakit!" kata Tan pada Teo.


"Apa pedulimu dengan seseorang yang tidak kelihatan ini." kata Teo masih ngambek.


"Mereka sudah seperti ahli, melakukan hal seperti ini dengan santai ...." kata Cairo dalam hati memperhatikan mereka bertiga.


"Kalian tidak lelah melakukan hal seperti ini terus menerus?" tanya Cairo.


"Tentu saja lelah ...." sahut Teo, "Tapi kami tidak bosan." sambungnya sambil tertawa.


...-BERSAMBUNG-...