
"Yang menangkapnya kemana?" teriak Felix pada Duarte.
"Yang Mulia Ratu sudah pergi! orang itu adalah penjahat yang dibawa kesini untuk dikurung di penjara khusus setengah manusia." kata Duarte menjawab sambil terus mundur dari Felix.
"Hahh ... dia pergi?! begitu saja ... sudah sangat jelas kalau dia memang menghindariku!" kata Felix dengan ekspresi kesal yang coba ditahan tapi dari suaranya tidak bisa berbohong.
"Siapa maksudmu? Yang Mulia Ratu siapa maksudnya?" tanya Teo.
Hanya Cain lah yang tahu rahasia Felix yang itu. Masih terlalu beresiko memberitahu Tan, Teo dan Tom. Memang segel pikiran mereka sudah sangat tinggi sampai Felix sendiri pun tidak bisa baca tapi Felix hanya tidak ingin mengambil resiko memberi mereka sebuah umpan yang bisa menarik masalah datang.
Iriana mengajarinya bagaimana menjaga rahasia atau bagaimana memilih satu orang kepercayaan untuk itu. Iriana sendiri memilih Verlin, yang bukan Alvaudennya. Bukan karena Iriana terlalu menyayangi Alvaudennya atau Verlin memang sangat bisa dipercaya untuk itu. Tapi Caelvita memang diharuskan memilih satu orang untuk mengemban tugas seorang Secrevanques atau seorang pembawa rahasia.
Awalnya memang membingungkan Verlin itu sebenarnya siapa kenapa dia bisa begitu dekat dengan Iriana tapi bukan seorang Alvauden. Ternyata dia adalah seorang Secrevanques atau Pengemban Penyimpan Rahasia Caelvita. Nasib yang memiliki informasi rahasia seorang Caelvita tidak pernahlah berakhir baik. Verlin sendiri disiksa dan dibakar hidup-hidup untuk informasi yang disimpannya. Sampai jiwanya meninggalkan tubuhnya yang sudah terbakar dan akhirnya menjadi Zewhit, tapi Verlin masih setia menjaga mulut dan pikirannya bahkan sampai sekarang.
Secrevanques dipilih dari kaum Ruleorum, tidak bisa dari kaum lainnya. Karena kekuatan Hyacifla sangatlah diperlukan, terutama untuk melihat masa depan. Iriana sendiri memilih Secrevanquesnya yang merupakan orang buangan dari kaum Ruleorum. Keturunan Kerajaan Ruleorum yang tidak terpilih merasa tidak adil, kenapa Iriana harus memilih Verlin yang sudah diusir keluar dari Istana Ruleorum itu tapi alasannya memilih Verlin tidak pernah Iriana ungkapkan.
Dikarenakan Felix terbilang terlambat untuk membangkitkan Viviandem kembali makanya untuk memilih seseorang dari kaum Ruleorum untuk menjadi Secrevanquesnya juga harus tertunda. Sehingga sudah banyak rahasianya yang diketahui Cain yang merupakan Alvaudennya itu.
Menurut Felix itu adalah hal yang wajar tapi Iriana menentang hal itu, "Caelvita dan Alvauden di dunia Mundclariss memang sebutannya hanyalah sahabat tapi di Mundebris berbeda lagi. Terlebih lagi, Alvauden terbilang memiliki peluang hidup yang kurang dari Caelvita dan cara untuk menaikkan peluang itu adalah dengan memilih seorang Secrevanques. Tentunya yang membuat cara itu adalah Caelvita-47." Begitulah perkataan Iriana yang diingat Felix tapi menurut Felix cara itu akhirnya menjadi boomerang juga bagi Caelvita. Karena hal itu, banyak Alvauden sebelumnya yang masih hidup sampai sekarang dan menjadi Anti Caelvita baru.
Felix dan Teo pulang tanpa hasil, Tan dan Tom sudah tahu hal itu akan terjadi. Jika pelakunya adalah Hantu Jari Kelingking sudah menjadi hal pasti kalau korbannya tidak akan kembali.
"Bagaimana keadaan Balduino?" tanya Teo.
"Bagaimana lagi? sedang koma!" jawab Tom.
"Aku akan mencarinya lagi besok!" kata Felix.
"Berapa lama kalian disana?" tanya Tan.
"Entahlah ... aku sudah mulai berhenti menghitung setelah lewat 12 jam." jawab Teo.
"Itu terlalu lama, kau harus beristirahat beberapa hari untuk memulihkan tenagamu!" kata Tan.
"Sudah kubilang, waktu disana tidak mempengaruhi tubuh sama sekali!" kata Felix.
"Memang tidak, tapi pikiran yang terus menerus digunakan selama 12 hari tanpa istirahat bukanlah hal yang baik!" kata Tan.
"Ooooow kau sudah seperti Banks saja ...." seru Teo.
"12 hari bukanlah hal seberapa, selama ini bahkan lebih dari itupun tidak mengakibatkan apa-apa!" kata Felix keras kepala.
"Jika di masa sulit memang aku tidak melarang. Memangnya aku pernah melarangmu untuk berlama-lama di Mundebris atau di Bemfapirav selama ini? tidak kan?! baru sekarang ... kita harus menggunakan masa damai ini untuk beristirahat yang banyak. Masuk Mundebris atau Bemfapirav bisa saja tapi setelah kembali harus diimbangi dengan istirahat, setidaknya sekarang!" kata Tan.
"Wah ... kau terdengar seperti Bu Corliss saja!" kata Teo merubah ekspresinya yang tadi bangga menjadi ekspresi jengkel.
"Kembali? hahh ... apa benar aku seharusnya kembali kesini? apa benar rumah untukku pulang adalah di Mundclariss ...." kata Felix dalam hati.
Tan dan Tom menyepakati tentang mereka yang bergantian ikut Felix untuk mencari Balduino.
"Tapi, bukankah seharusnya ibu Balduino datang menemui kita meminta bantuan atau semacamnya?" tanya Tom.
"Kau sendiri tidak punya keinginan untuk membantu!" kata Teo menatap tajam.
"Walau begitu ...." kata Tom membela dirinya, "Putranya sedang koma dengan setengah rohnya entah berada dimana ... sudah sewajarnya seorang ibu melakukan segala cara untuk menyelamatkan putranya." sambungnya.
"Kemungkinan besar ibunya mencari sendiri tidak perlu bantuan kita." kata Teo.
"Oh iya ya ...." kata Teo malu sendiri.
Fakta bahwa ibu Balduino adalah Setengah Viviandem juga masih menjadi dirahasiakan Felix. Sekarang saja Tan dan Tom sudah sangat curiga apalagi jika mengatakan bahwa ibu Balduino juga Setengah Viviandem seperti Balduino. Mungkin Teo pun akan menentang untuk mencari Balduino lagi.
***
Keeseokan harinya Felix dan Tom berencana mencari Balduino setelah pulang sekolah.
"Dimana Tom?" tanya Felix pada teman sekelas Tom.
"Dia sudah kembali ke asrama daritadi." sahut Teman sekelas Tom.
Felix akhirnya kembali ke asrama untuk menjemput Tom tapi bertemu Tom di tangga lantai satu.
"Katanya kau sudah pulang daritadi. Kenapa masih disini? kau habis kemana berkeringat begini?" tanya Felix.
"Aku hahh ... habis olahraga!" jawab Tom.
"Hahh?! hari ini kau akan menemaniku mencari, bagaimana bisa kau pergi dengan tubuh yang sudah lelah begini." kata Felix.
"Biasanya aku juga begini tiap hari, hanya saja kau tidak tahu karena langsung masuk Mundebris tanpa pulang ke asrama. Biar aku menaiki tangga sekali ini saja sebelum kita pergi ...." kata Tom.
"Sudah berapa kali kau naik turun tangga?" tanya Felix.
"Baru 8 kali!" jawab Tom sudah ada di tangga lantai dua.
"Kau sudah gila ya?! kau harus terus fokus nantinya karena memasuki area musuh tapi kalau kelelahan begini, bahkan kaupun akan kesulitan menggunakan ramuan penyembunyi itu!" teriak Felix.
Tom tidak peduli dan hanya terus menaiki tangga. Menjadi pemilik senjata Alvauden yang paling berat membuat Tom harus melatih stamina dan ototnya, "Akupun tidak suka melakukan ini tapi sudah menjadi tanggung jawabku!" kata Tom terus menaiki satu per satu anak tangga.
Felix menunggu di lantai dasar, beberapa saat kemudian Tom sudah datang.
"Kau benar baik-baik saja? bisa ikut denganku? atau aku panggil Tan saja ...." kata Felix.
"Tan pasti sudah masuk Mundebris sekarang! dia menggunakan waktunya sebaik mungkin, tidak lebih dan tidak kurang. Kau tahu kan? kukira dia lebih hemat soal uang ternyata dia lebih hemat menggunakan waktu." kata Tom menghabiskan air satu botol dalam sekejap.
"Baiklah ... ayo berangkat! aku tidak akan memaafkanmu kalau kau jadi tidak fokus nantinya ...." kata Felix.
"Ini aku, Tom ... kau pernah melihatku gagal melakukan sesuatu?!" kata Tom sombong.
"Aku mengalahkanmu saat kenaikan kelas! kau peringkat dua!" kata Felix.
"Itu ...." Tom jadi tidak bisa berkata-kata.
"Apa? kau pikir menjadi peringkat dua bukanlah kegagalan?" perkataan Felix yang menohok.
"Itu kesempatan ... karena itu, aku tidak akan pernah gagal lagi!" kata Tom.
"Kita memang tidak sekelas lagi, kau tentu saja tidak akan pernah gagal lagi ...." kata Felix menyipitkan matanya.
"Kau ini ...." Tom menghela napas kesal karena tidak bisa berdebat lagi, "Baiklah, salahku memang yang berolahraga disaat harus pergi ke neraka. Aku setuju ini salahku!" kata Tom akhirnya mengalah.
"Tidak perlu mengatakan setuju segala, memang dari awal kau memang salah!" kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...