
Cain merasa bersalah hanya terus mengeluh, sementara Felix ternyata terus memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa mengeluh sedikitpun, "Tentunya Felix melakukan ini bukan karena suka ... bukan karena terobsesi menjadi Caelvita yang harus melakukan kewajiban untuk melindungi tapi semata-mata mengutamakan perasaan sayangnya pada Kiana, Tan, Teo dan Tom. Seharusnya aku bisa mengurangi beban Felix tapi malah tidak membantu sama sekali. Mungkin aku adalah Alvauden terburuk sepanjang masa ...."
Dokter Mari yang baru saja datang karena panggilan mendadak Bu Corliss kaget melihat sekumpulan kelabang yang ada di halaman panti. Sebisa mungkin Dokter Mari mengatur ekspresinya agar terlihat biasa saja.
"Bukankah Dokter Mari punya gelang kaki dengan permata safir sepertiku sebelumnya, kenapa tetap bisa melihatnya?" tanya Cain mengutamakan rasa penasarannya padahal kenyataannya masih marah dengan Dokter Mari.
"Kekuatan setengah Viviandem akan tetap muncul saat berusia 17 tahun meski menggunakan gelang safir. Setelah 17 tahun gelang itu tidak akan berfungsi lagi meredam kekuatan tapi hanya melindungi dari Zewhit saja ...." jawab Dokter Mari.
"Jadi mau bagaimanapun, gelang safir tidak akan membuatku menjadi normal?!" kata Cain.
"Tidak ada kata normal bagi kita yang Setengah Viviandem!" kata Dokter Mari.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Bu Corliss membuka pintu ruang kesehatan di panti.
"Mereka digigit serangga yang mematikan tapi tidak perlu khawatir aku sudah memberinya obat penawar dan obat anti nyeri ...." jawab Dokter Mari yang ditatap sinis oleh Cain karena tidak melakukan apapun. Dikarenakan sudah mendengar penjelasan Cain dan Tiga Kembar yang memaksa tidak diberi obat apapun padahal sangat kesakitan karena takut akan mempengaruhi kontraknya. Walau sempat adu mulut karena Dokter Mari bersikeras memberinya obat tapi rasa sakit tidak membuat Tan, Teo dan Tom kehilangan kesadaran. Tiga Kembar tetap menjaga kesadarannya agar tidak menggagalkan kontraknya.
"Ini baru permulaan, kalau kami sudah menyerah hanya karena rasa sakit ini ... itu menandakan kami sudah kalah!" kata Tan terus meyakinkan Dokter Mari dan sebenarnya juga meyakinkan dirinya sendiri. Ini baru satu hewan Ruleorum tapi jika menyerah sekarang sama saja kalau sudah mengaku bahwa tidak mampu.
"Serangga apa, Marissa?" tanya Bu Corliss.
"Jenisnya aku kurang tahu Liss!" sahut Dokter Mari tidak ingin membuat khawatir.
"Bagaimana sih ... katanya serangga mematikan tapi serangga apa kau tidak tahu!" kata Bu Corliss marah-marah dan langsung mengeluarkan handphonenya menghubungi petugas pembasmi serangga.
Tepat tengah malam Felix baru kembali ke panti, "Bagaimana keadaannya?" tanya Felix yang melihat Tiga Kembar sudah tertidur lelap tapi dipenuhi keringat.
"Tadi mereka demam tapi sudah baikan ...." sahut Cain yang sudah setengah mengantuk.
Felix memeriksa bahu kanan Tan untuk melihat bekas gigitan. Tanpa sadar Felix malah tersenyum membuat Cain heran.
"Apa maksud senyum itu?" tanya Cain sambil tertawa kecil.
"Tidak ... hanya senang saja karena mereka sudah melakukan kontrak!" jawab Felix.
"Kalau hanya kontrak saja, tidak mungkin sampai-sampai kau menggunakan jabatanmu sebagai Caelvita membujuk hewan Mundebris untuk melakukan kontrak. Kau kan bukan tipe yang seperti itu ...." kata Cain yang tahu jika Felix tidak suka menyalahgunakan koneksinya untuk membantu.
"Mungkin aku, pada dasarnya orang yang seperti itu Cain ...." kata Felix tersenyum.
***
Dari dinding kaca ruang makan panti masih bisa terlihat para kelabang yang sedang bekerja, "Sebenarnya apa yang mereka lakukan hingga sampai sekarang masih belum selesai juga?" tanya Cain.
"Bukan kau yang bekerja tapi kau yang banyak sekali mengeluhnya!" sahut Felix.
"Kalian mau ke sekolah?" tanya Luna melihat Tan, Teo dan Tom yang datang untuk sarapan dengan wajah masih pucat.
"Sudah baikan kok kak!" sahut Teo bertolak belakang dengan ekspresinya yang jelas tidak baik-baik saja.
"Iya, Dokter Mari juga sudah membuatkan surat keterangan sakit ...." kata Felix.
"Lagipula tidak ada yang penting juga di sekolah, kau tidak perlu memaksakan diri begini ...." kata Cain.
"Kalau kalian tidak berhenti mengomel, kami akan langsung berangkat dan tidak sarapan!" kata Tom mengancam dan sudah mulai berdiri dari kursinya.
"Ya sudah, kakak akan bawakan tambahan makanan ... tunggu disini!" kata Luna menyerah.
Felix merasa bersalah sekaligus senang karena ketiga sahabatnya itu ternyata lebih kuat dari yang ia duga. Dengan senyuman, Felix melanjutkan memakan rotinya lagi tapi senyumannya langsung berubah bersamaan dengan menjatuhkan garpu. Sesaat Felix hanya tinggal melamun membuat Cain dan Tiga Kembar tidak berhenti bertanya, "Ada apa?" tapi Felix tidak menjawab dan hanya langsung berlari setelah berhenti melamun.
Cain, Tan, Teo dan Tom langsung ikut menyusul. Felix memaksa Dokter Mari untuk segera mengantarnya ke suatu tempat.
"Kami juga ikut!" kata Cain dan Tiga Kembar yang susah payah mengejar Felix.
Tidak ada pertanyaan lagi setelah Felix memberi alamat yang akan dituju. Tapi kekhawatiran terus bertambah, bahkan bunyi detakan jam tangan saja membuat emosi.
"Bisa tidak Dokter lebih cepat lagi?!" pinta Teo yang terus menerus menggoyangkan kakinya karena tidak sabar untuk segera sampai.
Tempat yang dituju sudah dekat tapi karena macet, mobil Dokter Mari hanya maju sedikit demi sedikit. Akhirnya Felix membuka pintu mobil dan mulai berlari diikuti Cain dan Tiga Kembar yang masih sakit juga ikut berlari, "Hati-hati!" teriak Dokter Mari menurunkan kaca mobil, "Hati-hati? tidak kusangka datang hari dimana aku mengatakan hal ini pada Caelvita dan Alvauden?!" kata Dokter Mari dalam hati yang terkadang lupa dan belum terbiasa dengan identitas sebenarnya dari kelima anak itu.
Walau tidak enak badan tapi Tan, Teo dan Tom tidak ketinggalan di belakang. Sesampainya mereka di depan pintu pagar rumah tiba-tiba ada orang asing yang keluar, "Siapa?!" tanya Cain tapi orang asing itu malah langsung berlari.
"Hah?! apa perlu kukejar?" tanya Cain pada Felix.
"Tidak usah!" sahut Felix, "Kita hanya harus cepat mengeluarkan Bu Daisy!" kata Felix langsung berlari masuk ke dalam Rumah Daisy.
"Dari sekian banyak hari, kenapa juga ibu pulang ke rumah sekarang!" kata Teo.
"Ini bukan kebetulan semata, ada yang berniat mencelakai ibu!" kata Tom.
Daisy terlihat sedang tertidur nyenyak dengan Lia yang panik mencoba membangunkan Daisy tapi tidak berhasil juga. Bahkan Lia sudah menjatuhkan banyak barang untuk dipecahkan tapi Daisy tidak juga bangun. Padahal menyentuh sebuah barang akan mengurangi umur seorang Zewhit tapi Lia tetap melakukan itu. Lia terlihat lega setelah melihat kedatangan Felix dan kawan-kawan.
"Apa ibu dibius?" tanya Tan memukul-mukul pipi Daisy tapi tidak bangun juga.
"Seseorang yang jarang pulang ke rumah tapi sekarang sedang tidur begini sangat mencurigakan ...." kata Tom.
"Tidak ada waktu, ayo cepat kita bawa ibu keluar!" perintah Felix.
"Bau ini ...." kata Cain mencium bau gas.
"CEPAT!!!" teriak Felix.
...-BERSAMBUNG-...