
Catatan Penulis :
Selamat malam para pembaca setia yang dari awal saya update sampai srkarang dan juga selamat datang untuk pembaca baru UNLUCKY, semoga betah dan tidak bosan. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena sudah memilih dan menyimpan UNLUCKY di rak buku kalian📚 sehingga bisa mendapat notifikasi secepat mungkin saat update.
Saya ingin meminta pembaca bijak dalam memilih bacaan. Bagi yang belum cukup umur mungkin bisa didampingi oleh orangtua saat membaca. Saya tidak menyiratkan bahwa yang dewasa bebas membaca cerita ini ... karena usia bukanlah ukuran bagi seseorang. Bisa saja hanya matang dari segi umur tapi pikiran masih hijau dan kekanak-kanakan.
Tujuan saya menulis catatan ini adalah ... berharap agar pembaca tahu bahwa ini hanyalah cerita karangan, karakter tokoh dan cerita hanyalah cerita fantasi yang tidak ada di dunia nyata. Semuanya hanya berdasarkan imajinasi saya sendiri ... jadi saya mohon agar pembaca hanya mengaggap ini sebagai sekedar hiburan saja.
Mungkin kalian sudah tahu kalau cerita ini agak berat atau bahkan sampai susah dipahami. Tapi saya ingin menjadi penulis yang bisa mengajak para pembaca dapat ikut berpikir juga.
Tapi mungkin saja setelah saya menulis ini dan bahkan ada yang sudah membaca cerita masih tidak mengerti tujuan saya menulis ini😓 saya katakan sekali lagi bahwa, bijaklah dalam memilih bacaan sesuai umur kalian. Ketika kalian sudah tahu mana yang baik dan buruk, saya tidak akan melarang untuk membaca😊
Selamat malam^^
..._____________________...
"Telah ditemukan tubuh Wakil Gubernur dalam keadaan sudah tidak bernyawa di kediamannya. Menurut saksi ... pengurus kebun melihat Wakil Gubernur melompat sendiri dari atap rumahnya ...." Reporter yang membacakan berita itu kemudian melihat petugas polisi keluar dari dalam rumah dan langsung menanyai lagi, "Apa benar Wakil Gubernur bunuh diri?"
"Saat ini masih dalam tahap penyelidikan jadi kami belum bisa memberikan pernyataan terkait kasus ini. Kami harap tidak ada asumsi tidak berdasar yang beredar sampai penyelidikan ini selesai ... terimakasih!" jawab Polisi itu kemudian buru-buru langsung masuk ke dalam mobilnya.
Felix yang sedang minum menjatuhkan botol minumannya karena mendengar berita yang diputar oleh Teo dan Tom itu.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Tan memungut botol minuman Felix.
"Kalau tidak salah, aku mengingat mendengar mimpi dari Wakil Gubernur yang mengatakan ingin bunuh diri tapi tidak punya keberanian makanya disitulah Ted datang memberi hasutan untuk memberanikan diri ... tidak bisa ditolerir lagi, Ted! walau sudah mati tetap saja membahayakan orang lain. Harus segera dihentikan!" kata Felix dalam hati kemudian bergegas keluar kelas.
"Mau pergi kemana?" tanya Cain mengikut dibelakang.
"Kau pikir aku akan pergi mencari kesana-kemari tanpa arah tujuan? kau pikir aku sebodoh itu?!" jawab Felix.
"Aku hanya menanyakan kau mau kemana kenapa jadi kesal begitu?!" kata Cain berpura-pura bodoh padahal jelas dia menanyakan hal yang dijawab oleh Felix tadi.
"Kau pikir kau siapa! kenapa juga aku harus melaporkan tujuanku akan kemana, denganmu!" kata Felix.
"Kenapa kau jadi melampiaskan amarahmu padaku?!" Cain tidak terima.
"Aku sedang tidak melampiaskan tapi memang marah padamu!" Felix penuh penekanan.
"Kalian sedang main drama ya? yang berjudul sahabatku yang posesif!" Mertie datang mengejek.
"Pergi kau sana!" teriak Felix dan Cain bersamaan.
"Memangnya kalian siapa berani menyuruh-nyuruhku untuk pergi?!" Mertie kembali usil.
"Kau!" Felix dan Cain menatap tajam Mertie.
Mertie yang menyadari keusilannya menimbulkan masalah mulai berlari menyelamatkan diri.
"Awas kalau kau kutangkap!" teriak Cain.
"Coba kalau berani!" tantang Mertie.
Mertie yang berlari tanpa memperhatikan sekitar akhirnya menabrak seseorang.
"Dea!"
Felix dan Cain berhenti mengejar dan melihat pemandangan menarik yang terjadi di depannya.
"Beruang vs Rubah! siapa yang akan menang?" kata Cain terlihat menikmati tontonan.
"Bukannya berusaha melerai, kau malah terlihat sedang menikmati!" kata Felix.
"Kau sendiri juga sedang menikmati ... kau sedang tidak melihat wajahmu sendiri sekarang! terlihat sangat bahagia ... ckckck!" kata Cain.
Kedua sahabat itu malah tertawa dan terus menikmati tontonan. Dea adalah petarung liar yang begitu ganas dan tidak mengenal belas kasih tapi Mertie juga tidak bisa dianggap remeh lagi. Setelah berhasil lepas menjadi budak Geng Halle, sifat aslinya muncul. Mertie adalah petarung yang sudah dipastikan akan selalu menang, jika kalah sekalipun pasti akan membuat lawannya merasakan kemenangan yang kosong. Begitulah Mertie yang baru, kata anak-anak lain dia seperti terlahir kembali.
Dea menampar Mertie dan tidak membalas tapi saat Dea akan pergi, Mertie menarik Dea dan menamparnya dua kali.
"Aku tidak suka berhutang jadi aku kembalikan tamparanmu plus bunganya!" kata Mertie.
Dea menendang Mertie sampai terjatuh tapi Mertie yang terjatuh langsung membuat Dea terjatuh juga dengan cara yang terlihat menyakitkan.
"Seru ya?!" kata seseorang diantara Felix dan Cain.
"Iya seru hahaha!" jawab mereka berdua kompak tapi setelah menyadari pemilik suara itu dan berbalik, "Pak Egan!" teriak Cain panik.
"Sudah kami hentikan pak tapi mereka berdua tidak mau juga ... hei kalian! berhenti tidak!!!" Cain dengan berpura-pura.
Pak Egan melirik Felix, menyadari hal itu Felix segera melerai Mertie dan Dea yang sedang saling tarik kerah baju dan rambut.
"Hei kalian! kalau mau menata rambut, ya ke salon saja jangan di sekolah begini!" kata Cain meledek karena rambut mereka berdua sudah seperti habis kesetrum.
Padahal Mertie dan Dea teman sebangku, membuat suasana kembali tegang saat mereka berdua ingin bertukar tempat duduk. Tapi Pak Egan melarang siapapun untuk bertukar dengan mereka berdua. Itu merupakan hukuman karena bertengkar dengan teman sebangku sendiri.
"Bukankah seharusnya kalian lerai?!" kata Tan.
"Lihat saja! mereka berdua akan lama baru bisa bertengkar lagi ...." kata Cain.
"Karena?" Teo dan Tom bersamaan
"Saat bertengkar, kita akan tahu kekuatan lawan kita seperti apa ... dan dugaanku, baik itu Mertie maupun Dea pasti sudah saling mengetahui kekuatan mereka itu sama!" kata Cain.
"Ck! bangga ya kau melihat anak perempuan bertengkar!" kata Tom.
"Lagipula, bukankah hal itu hanya berlaku bagi laki-laki yang bertarung dengan pikiran. Perempuan itu menggunakan perasaan, pasti dalam waktu dekat mereka akan bertengkar lagi karena terus terbawa perasaan. Sedangkan laki-laki harus memikirkan strategi apa bisa menang jika bertengkar lagi ...." kata Teo.
"Yang Mulia Trayvon sudah berbicara, bisa apa kami!" kata Cain menggoda.
"Dasar kau!" Teo mengejar Cain.
"Cain!!!" teriak Felix.
"Em?" Cain tidak menyadari jika dibelakangnya terdapat bahaya karena berlari sambil mundur karena sedang asyik menjahili Teo.
"Para Alvauden ternyata ada disatu tempat begini ... hari keberuntunganku!" kata seseorang yang terlihat familiar.
"Kau!" Cain berbalik dan mengenali wajah yang tidak asing itu, "Kau yang menghancurkan gelangku waktu itu kan?!"
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Teo.
"Ah!" Cain lupa sedang bersama dengan tiga kembar yang tidak bisa melihat hantu.
Hantu laki-laki itu mengeluarkan kilat di tangannya yang tidak lama kemudian menjadi petir berwarna biru dan mulai menyerang Teo. Cain langsung menjadikan dirinya perisai karena tidak ingin mengeluarkan pedangnya hingga terlihat oleh tiga kembar. Sayangnya itu hanyalah tipuan, saat Felix berlari hendak membantu ternyata hantu laki-laki itu mengganti targetnya menjadi Tan dan Tom yang berada di belakangnya.
"Tidak!!!" teriak Felix sekuat tenaga kembali berlari ke arah Tan dan Tom.
Tan dan Tom yang tidak tahu menahu dengan kelakuan aneh Felix dan Cain hanya berdiam diri mematung. Felix yang berhasil menjadikan dirinya perisai bagi Tan dan Tom, "Hahh?!!" Tan dan Tom panik melihat penampakan yang tiba muncul.
"Oh tidak!" Cain panik karena hantu itu tiba-tiba menampakkan diri dan bisa terlihat oleh manusia.
"Felix!!!" teriak Tan dan Tom setelah menyadari tangan laki-laki itu menembus dada Felix.
Cain hilang kendali setelah melihat itu dan tidak peduli lagi jika dilihat oleh tiga kembar. Ia langsung memanggil Pedang Orogla dan memotong tangan hantu laki-laki yang masih menembus dada Felix itu. Tiga kembar panik tapi lebih mengkhawatirkan keadaan Felix yang langsung terjatuh tidak sadarkan diri.
"Seperti yang dikatakan, kau sudah bertambah kuat!" kata hantu laki-laki itu saat terus menerus diserang oleh Cain, "Mungkin sudah cukup untuk hari ini!" lanjutnya kemudian langsung menghilang.
Cain menggila saat kehilangan jejak hantu laki-laki itu, "Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
"Ca ... in!"
Cain yang medengar suara Felix itu langsung menjatuhkan pedangnya, "Felix!" Cain berlari ke arah Felix yang kini ada dipangkuan Tan bersimpuh darah berwarna hijau.
...-BERSAMBUNG-...