UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.469 - Surat Pengakuan



"Memang sekarang pendidikan disemua sekolah berbeda dengan zaman dulu. Apalagi untuk sekolah kita yang bukan menganut prinsip 'Kosongkan cangkir saat akan menerima ilmu baru' supaya kita bisa rendah diri dan tidak dipengaruhi oleh rasa sombong karena memiliki pengetahuan lebih. Di Gallagher, kita menganut prinsip 'Tambahkan cangkir lain saat cangkir sebelumnya sudah penuh' bukankah itu lucu?!" kata Pak Egan membuat suasana menjadi tenang karena tawa yang sejujurnya dari murid yang merasakan bahwa itu memang benar adanya.


"Itu menandakan Gallagher lebih baik daripada sekolah yang lain." kata Penonton.


"Ya, benar! itu tandanya kita bukannya sombong tapi terus memberi ruang untuk menerima pengetahuan bukannya membatasi diri atau dengan sok rendah hati." kata Penonton lain.


"Aku bukannya sedang menjelekkan sekolah kita. Tapi ingin mengingatkan kalian saja karena setelah ini tidak lama lagi kita akan berpisah karena ada yang lanjut di sekolah lain atau ada yang tetap lanjut di Gallagher. Apapun itu pasti kita akan terpisah-pisah. Intinya ... yang ingin aku katakan, pengetahuan tidak akan lari kemana. Kita tidak perlu berlari untuk mengejarnya. Selama kita bersekolah, pengetahuan lah yang akan mengejar kita. Aku tidak ingin kalian mengingat masa sekolah hanya dengan susahnya belajar tapi karena menyenangkannya belajar mendapat pengetahuan baru tiap harinya." tambahan dari Tan yang membuat tepuk tangan semakin meriah dari sebelumnya.


"Terimakasih Tan ... kau pasti INFJ ya?! Atau ENTP kah?!" kata Pak Egan kelihatan sedang menebak-nebak sendiri membuat tawa meledak dari penonton.


Tan hanya tersenyum dan melipat suratnya kemudian mundur ke barisan yang sama dengan teman kelompoknya karena telah selesai.


Giliran keempat adalah Osvald yang hanya maju satu langkah dari barisan. Tidak terlalu berada di tengah panggung, "Seharusnya aku duluan sebelum Tan, kan ya?!" kata Osvald disambut tawa, "Aku jadi terbebani karena Tan begitu hebat dengan apa yang disampaikannya. Katanya akan membosankan tapi seperti pidato presiden saja ... hahh ...." dengan suara yang gemetaran karena gugup tapi Osvald tetap bisa membuat lelucon.


"Aku mungkin lebih kearah seperti Teo yang akan menceritakan diri sendiri. Kali ini benar-benar akan sangat membosankan untuk didengar tidak seperti Tan barusan yang berbohong ...." kata Osvald yang membuat Tan tertawa kecil.


"Tidak terasa kita semua sudah akan lulus dari SD. Tahun depan kita sudah resmi menjadi murid SMP, itupun kalau ada SMP yang menerima sih ...." Osvald masih membuat lelucon, "Terimakasih aku ucapkan kepada kalian semua yang sudah menerimaku menjadi teman. Tidak pernah kubayangkan anak sepertiku bisa berteman dengan kalian ... orang hebat masa depan." sambung Osvald yang rupanya sangat disukai oleh penonton karena disertai pujian itu.


"Aku mendaftar ke Gallagher karena kudengar kalau di Gallagher tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan anak lain karena hanya masing-masing sibuk belajar. Karena sebenarnya aku ini bukan seseorang yang mudah bersosialisasi." perkataan Osvald itu dibantah oleh penonton, katanya Osvald lah salah satu murid yang paling friendly.


"Tapi saat aku baru memasukkan formulir saja sudah mendapat masalah karena Tan, Teo dan Tom. Tidak kusangka hari pertama aku sudah mendapatkan tiga teman yang punya wajah yang sama hahaha ... padahal biasanya satu teman saja susah untuk kudapatkan. Ditambah lagi Si Beruang Madu Gallagher ... Cain ...." tawa penonton karena julukan yang familiar itu disebut, "Karena dia aku jadi seperti orang lain saja saat baru hari pertama sekolah di Gallagher. Yang tadi dikatakan Tan soal sistem pembelajaran sekolah kita yang ketat itu bisa membuat murid yang ingin mendaftar akan mundur tapi sebenarnya menarik perhatian seseorang sepertiku yang kurang bersosialisasi. Kupikir, masa sekolah dasar hanya akan kulalui dengan tenang dan terus belajar tapi ternyata diluar dugaan. Selama ini aku selalu saja kesepian, tidak punya teman tapi hari pertama sekolah saja aku sudah mendapat teman banyak. Membosankan kan?! inilah kisahku ... anak yang kesepian, Si Itik Buruk Rupa yang berubah menjadi Angsa. Terimakasih ...." akhir kata dari Osvald yang masih ingin lebih dari penonton tapi Osvald menyingkatnya karena tidak sanggup lama menjadi pusat perhatian.


"Pakai pakaian angsa kalau acara kelulusan nantinya!" teriak Penonton usil.


"Ide yang bagus! akan aku carikan!" sahut Teo sangat setuju dengan maju membuat Osvald harus membawa Teo mundur.


"Kenapa jadi kau yang sibuk?!" Osvald mengatupkan giginya sambil berbicara.


"Kalian ...." Osvald menyesal menggunakan Si Itik Buruk Rupa dalam suratnya.


Giliran kelima, Demelza maju melangkah hampir saja ditepi panggung pertunjukan bagian depan, "Sebenarnya aku ingin yang terakhir karena tidak ada yang seru dari ceritaku. Tapi ternyata Felix bahkan tidak menulis apapun ...."


"Hahh?!" Tiga Kembar dan Osvald menatap Felix dengan tatapan melotot. Tapi Felix santai saja padahal Tan, Teo dan Tom panik kalau saja Felix tidak akan mengatakan apa-apa.


"Kalian pasti tidak akan suka mendengarku berbicara karena sudah bosan. Selama hampir enam tahun kalian pasti sudah muak mendengarkanku berbicara dan saat ini kalian harus pasrah mendengarku berceloteh lagi." Demelza terang-terangan mengakui fakta tentang dirinya. Penonton juga memberi respon dan ekspresi yang tidak suka dengan majunya Demelza berbicara.


"Aku tidak akan berbicara panjang lebar jadi tahan sebentar saja ...."Demelza peka melihat wajah para penonton, "Katanya rumah itu adalah tempat ternyaman bagi kita tapi bagiku sekolahlah tempat ternyaman itu. Katanya keluarga itu adalah mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kita. Tapi bagiku keluarga itu bukanlah orangtuaku yang hanya bisa kutemui 6 bulan sekali atau bahkan pernah hanya setahun sekali. Yang menghabiskan banyak waktu bersamaku adalah kalian ... bagiku kalianlah keluarga itu. Seseorang yang nyaman untuk kuajak berbicara dan seseorang yang menghabiskan banyak waktu denganku." ucapan Demelza mengejutkan penonton bahkan teman kelompok yang bersamanya dipanggung, "Bagiku Gallagher adalah rumah dan kalian adalah keluarga. Tentu saja itu hanyalah perasaanku saja ... maaf jika aku terang-terangan selalu menceritakan hal buruk dengan kalian. Itu karena aku tidak punya teman bicara di rumah orangtuaku. Terimakasih karena sudah tenang bersedia mendengarkanku berbicara." akhir kata dari Demelza masih membuat penonton terdiam dengan tatapan kosong. Tidak menyangka dengan perasaan Demelza tentang mereka.


"Tepuk tangan!" kata Pak Egan karena penonton masih terdiam membisu tidak memberi respon apapun.


Felix maju karena kini gilirannya, sambil mendengarkan tanggapan tentang ucapan Demelza barusan lewat pikiran. Tidak ada yang menyangka kalau Demelza ternyata berpikiran seperti itu. Perasaan bersalah terus terpikirkan tapi ada juga yang menganggap itu hanyalah pertunjukan dari Demelza saja.


Tan, Teo dan Tom gugup karena Felix benar-benar tidak mengeluarkan surat ataupun sepotong kertas.


"Kau tidak memberitahunya?!" tanya Osvald.


"Sudah!" sahut Tiga Kembar kompak.


Lama Felix hanya tinggal diam saja di tengah panggung. Ingin dikatakan gugup tapi sikapnya yang santai tidak mengatakan demikian. Felix hanya terus menatap kearah penonton dan masih diam.


"Felix?!" karena sudah lama menunggu Pak Egan menegur juga.


...-BERSAMBUNG-...