UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.229 - Sebelum Badai Part 2



Iriana berperan penting dalam memunculkan kekuatan terpendam Caelvita pada Felix dan juga untuk melindungi empat Alvauden Felix. Iriana yang bisa melihat masa depan menitipkan lima pasang gelang pada Felix, Cain dan Tiga Kembar untuk dipakai.


Untuk Felix, gelang itu sangat berperan penting dalam memunculkan kekuatan dasar yakni pendengaran seorang Caelvita. Setelah kekuatan pendengaran itu muncul, maka kekuatan lainnya akan otomatis mulai ikut bermunculan juga.


Tersimpan juga sebuah senjata perlindungan yang melindungi dari Aloysius yang akan membunuh Nenek Alviani waktu itu. Walau gelangnya hanya berguna sekali untuk melindungi dan Felix hanya memakainya sebentar tapi manfaatnya berguna sampai sekarang. Tanpa gelang itu mungkin Felix belum bisa mencapai apa yang dilalui hari ini.


Felix memandangi gelang Alexandrite Cain dan Tiga Kembar saat menaiki bus, "Jangan pernah lepaskan gelang kalian!"


"Maksudmu gelang ini?" tanya Teo menunjukkan gelangnya.


"Iya!" sahut Felix.


"Jangan khawatir, setelah mengetahui kebenaran dari gelang ini ... sekalipun tidak pernah kami lepaskan!" kata Tom.


"Baguslah ...." kata Felix.


"Felix pasti sedang sensitif sekarang ... mengingat tinggal dua hari lagi puncak permainan berlangsung!" kata Tan dalam hati mengerti kekhawatiran Felix yang bukan hanya harus siap melindungi diri sendiri tapi juga melindungi mereka semua.


Sampai di halte bus dekat sekolah, pesan dari Mertie mengagetkan mereka. Mengatakan bahwa Erasma sekarang ada di luar pintu gerbang sekolah menunggu kedatangan mereka. Akhirnya Cain memakai garis pelindung agar tidak terlihat.


Felix dan Tiga Kembar hanya berjalan melewati Erasma yang menanyakan apakah mengenal Cain dan apakah melihat Cain ada dimana tapi tidak ada yang menjawab dan hanya buru-buru masuk ke dalam sekolah.


Kramer dan Linn sudah tidak terlihat lagi mengawasi di depan sekolah maupun di depan panti setelah membuat penayangan spesial di tv yang membahas soal permainan tukar kematian. Pada penayangan pertama memang mendapat minat yang banyak dan rating yang tinggi tapi setelah beberapa episode, semuanya jadi kehilangan minat juga dan acara itu dianggap hanya mengada-ada saja.


Tidak mudah memang menjelaskan sesuatu yang mustahil, kebanyakan orang memang menaruh minat yang tinggi pada hal misterius seperti itu tapi lama kelamaan mereka juga sadar harus memisahkan diri hal yang tidak nyata itu untuk melanjutkan hidup.


Apalagi setelah mengekspos seorang anak usia 11 tahun berinisial C yang menjadi dalang dalam permainan itu. Walau wajah dan identitas disembunyikan tapi masyarakat menjadi marah karena menggunakan anak kecil sebagai kambing hitam untuk kepopuleran acara tv dan juga sebagai penanggung jawab sebuah rumor yang tidak jelas.


Tanpa Cain melakukan sesuatu pun, dunia tetap melindunginya karena usianya yang masih muda.


"Kau bisa melihatku kan?" tanya Cain pada Balduino.


Balduino mengangguk melihat banyak anak-anak berlalu lalang menembus tubuh Cain, "Bagaimana bisa?" tanya Balduino.


"Aku sedang memakai perlindungan agar tidak bisa dilihat oleh manusia biasa!" jawab Cain yang menghapus garis pelindungnya dan Dallas yang hendak menembus Cain tiba-tiba terbentur.


"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Dallas.


"Apa maksudmu? aku sudah disini daritadi!" jawab Cain.


Dallas tidak membuat perdebatan berlanjut dan melanjutkan perjalanannya lagi.


Setelah menyimpan tas di dalam kelas, Cain keluar entah kemana. Felix melihat itu, memberi kode pada Tiga Kembar untuk mengikuti.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Teo melihat Cain mengumpulkan kayu dalam satu tempat di belakang sekolah.


"Hahh ... bikin kaget saja!" kata Cain.


Haera mengedipkan matanya berkali-kali karena tahu kalau Cain hanya akting kaget. Daritadi Cain tahu sedang diikuti dari awal.


"Kau ini tidak bisa berbohong ...." kata Cain lewat pikiran pada Haera.


"Aktingmu buruk sekali!" kata Felix yang mendengar juga.


"Kau mau membuat api?" tanya Tom.


"Sulit membuat api di cuaca dingin begini ... lagipula kau mau mengambil korek api dimana?" kata Tan.


"Aku tidak perlu itu!" kata Cain hanya menaruh tangannya di antara tumpukan kayu itu dan mulai meniupnya sehingga muncul asap.


"Bagaimana bisa?" Teo takjub.


"Kau sudah bisa mengeluarkan api ...." kata Felix tercengang, "Tunggu ... itu kan ...." Felix melihat Cain mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Api merah itu berubah menjadi biru dan mengeluarkan asap hitam, "Apa gunanya itu?" tanya Tom.


"Hantu tidak suka mencium batu permata safir yang dibakar ... akan membuat hantu menjauh karena seperti membakar hidung, tenggorokan dan dada." jawab Cain.


"Kau tahu soal ini?" tanya Felix.


"Kau juga tahu soal ini?" Cain balik bertanya.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan batu permata safir yang sangat langka itu?" tanya Tan.


"Haera punya banyak!" jawab Cain.


Haera hanya memasang senyuman canggung.


"Kau melakukan ini untuk Balduino? bukankah kau juga belum mempercayainya?" tanya Teo.


"Aku melakukan ini bukan hanya untuk dia! walau memang alasannya juga itu ...tapi alasan utamaku adalah untuk menjauhkan hantu jari kelingking itu mendekat. Kalau memang tetap saja mendekat, berarti dia bukan hantu melainkan iblis. Setidaknya kita bisa mengetahui itu ...." jawab Cain.


"Kau berniat menangkap hantu jari kelingking itu?" tanya Tom.


"Aku hanya ... ingin melakukan sesuatu, setidaknya!" jawab Cain yang membuat Tan, Teo dan Tom diam dan menyadari diri sendiri.


"Aku tahu ... kalian merasa harus melakukan sesuatu! tapi kalian tidak perlu terbebani soal itu ...." kata Felix.


Haera mengambil kayu dari gudang yang didatangi Cain tadi mencari kayu bakar. Haera menyeret kayu yang lebih besar dari dirinya sendiri itu membuat suasana canggung berubah mengundang tawa karena kelakuan Haera itu.


Tapi setelah melihat tingkah lucu Haera itu, Haera memotong kayu panjang itu dengan mudahnya membuat mereka tercengang dengan kekuatan Haera. Setelah itu Haera bermain-main dengan api yang dibuat Cain itu. Tingkah laku Haera yang terkadang menggemaskan kemudian berubah memiliki kekuatan menakjubkan bisa menghibur pagi mereka yang suram saat itu.


Kepopuleran Cain tentang rumor permainan tukar kematian tidak membuat anak-anak ketakutan atau menjauhinya. Bahkan sepertinya mereka sudah lupa soal itu. Memang Cain sudah membangun reputasinya dalam pertemanan dari awal masuk sekolah jadi tidak ada yang percaya jika seorang Cain melakukan hal itu. Bahkan jika memang bisa, pasti Cain tidak akan melakukannya juga. Begitulah yang dipikirkan anak-anak lainnya tentang Cain.


Rombongan guru baru yang merupakan Setengah Sanguiber lewat menatap Cain dengan tersenyum.


"Entah kenapa aku tersinggung!" kata Cain.


"Kau juga tidak tahu apa yang dipikirkannya ... bisa jadi guru itu baik!" kata Teo.


Haera mengalihkan pandangannya lagi dan mulai mengedipkan matanya berkali-kali karena Cain pasti akan berbohong lagi.


"Mereka tahu betul kalau berita itu benar ...." kata Tan.


"Mereka terbilang cukup berani, mendaftar sebagai guru di sekolah ini saat tahu Felix ada disini ...." kata Tom.


"Felix lah yang terlalu sial karena harus pindah sekolah kesini ... dari awal memang di sisi lain sekolah yang di Bemfapirav adalah perkumpulan Setengah Sanguiber tapi malah pindah kesini ... dari awal mereka memang sudah menargetkan sekolah ini dan Felix hanya kebetulan saja pindah ke sekolah ini ... mau tidak mau mereka pasti tetap menjalankan rencana mereka meski tahu Felix ada disini!" kata Cain.


"Apa ini takdir?" tanya Teo, "Felix pindah kesini seakan sudah direncanakan saja ...."


Tom menyenggol Teo yang tidak peka.


"Tentu saja, ini sudah takdir! kebakaran Panti Asuhan Helianthus jika tidak terjadi pasti akan ada bencana lainnya juga yang terjadi ...." kata Felix tidak ingin membuat suasana menjadi lebih canggung lagi.


"Panti Asuhan Helianthus?!" kata Dea yang menguping pembicaraan, "Padahal dulu hampir tiap hari aku kesana bermain ...."


Teo dan Tom saling tatap dan menahan tawa karena Dea tidak tahu malu langsung saja ikut bergabung dan ikut dalam percakapan anak laki-laki.


"Kalau dipikir-pikir kalian berdua sudah kenal sejak lama kan ya?!" kata Tan pada Felix dan Dea.


"Tentu saja! jauh lebih lama dari kalian ...." kata Dea.


...-BERSAMBUNG-...