
"Bagaimanapun juga dia yang terhubung dengan Kiana, jadi saat masih tahap proses pembuatan pelindung untuk Kiana, aku sering mengunjunginya ... tidak ... mengawasi lebih tepatnya! jaga-jaga saja kalau Bella berhasil mencabut bunga yang ada nama Kiana, aku harus menghentikannya ...." kata Felix.
"Berarti ... maksudmu ... Bella juga melakukan aktivitas sama seperti pemain lain di asrama sekolahnya?" tanya Teo kelihatan khawatir.
"Bukankah lebih baik kalau Kiana juga diberi bunga dengan nama semua pemain?! biar kita yang melakukannya ...." kata Tom yang kemudian dipelototi oleh Tan, Teo dan Cain.
"Kiana sudah terlindungi sekarang! kalian tidak perlu khawatir ...." kata Felix.
"Apa hanya aku yang memikirkan bahwa dengan memberitahu pemain soal permainan ini merupakan tindakan yang benar? maksudku ... dengan begini kita tidak perlu khawatir dan para pemain bisa mengurus diri mereka masing-masing ...." kata Tom.
Perkataan Tom tidaklah salah sehingga membuat yang lainnya tidak punya pilihan lain selain diam. Tapi sebagai Alvauden, tidaklah seharusnya mengatakan hal yang sangat egois seperti itu. Bahkan jika Caelvita tidak bisa melakukan sesuatu, Alvauden harus bisa mencari jalan keluar dan melakukan apapun itu. Efrain benar-benar pintar dalam memilih cara untuk meruntuhkan kepercayaan diri Alvauden mulai dari misi pertama ini.
"Kalian bisa kembali tanpaku ... aku harus ke suatu tempat dulu ...." kata Felix memecah kesunyian.
"Em ... iya! nanti aku taruh seragammu di loker seperti biasa ...." kata Cain.
Disaat Cain dan Tiga Kembar kembali ke Mundclariss, Felix memasuki Mundebris dengan gerbang besar emerald nya. Saat tiba di Mundebris, Felix hanya langsung menutup gerbang dan duduk padahal tadi katanya harus ke suatu tempat, itu hanyalah kebohongan belaka.
"Aku tidak tahu mau kemana tapi tidak tahan dengan suasana canggung tadi ...." kata Felix mengacak-acak rambutnya. Tapi seekor hewan datang menyisir rambut Felix. Hewan yang mirip seperti anjing tapi berjalan dengan cara yang sama seperti manusia. Bulunya berwarna biru bercampur hijau sangat panjang sampai-sampai harus memakai banyak ikat rambut dan jempit rambut bahkan model rambutnya disusun hingga tujuh susun. Hewan itu terus menyisir rambut Felix bahkan sudah rapi tapi terus disisir, "Mau sampai kapan kau melakukan ini?!" teriak Felix sudah tidak tahan.
Hewan itu tidak terkejut sama sekali mendengar teriakan Felix tapi hanya langsung mengeluarkan sesuatu dari balik tas selempangnya yang berwarna merah muda. Hewan itu mulai mengikat rambut Felix dengan serius. Membuat Felix yang ingin marah malah berakhir tertawa karena tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan hewan itu.
"Kau ini sebenarnya apa? kau terobsesi dengan rambut atau apa?!" kata Felix berbicara sambil tertawa tapi hewan itu tidak berhenti mengikat rambut Felix bahkan Felix sudah bosan dan tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan hewan itu dengan rambutnya.
"Aku hanya penasaran, kau tidak mengira aku ini bonekamu kan? sehingga kau dandani begini?!" kata Felix membuat hewan itu tersenyum lucu sekali. Ingin marah tapi rasanya tidak sanggup jika melihat ekspresi hewan itu, "Hahh ...." Felix menghela napas dan hendak mengelus-elus kepala hewan itu tapi karena model rambut yang membuat kepala hewan itu tidak kelihatan maka Felix berakhir mengelus-elus alis hewan itu, "Aku tidak akan marah ... jadi cepat lepaskan selagi kau masih terlihat menggemaskan ...." kata Felix membuat hewan itu panik dan langsung menjatuhkan dirinya pura-pura pingsan.
"Hahh! jadi maksudmu aku harus melepaskan ini semua sendiri?!" tanya Felix menggoyang-goyangkan hewan itu tapi terus saja pura-pura pingsan dan kini sudah mengeluarkan lidahnya untuk menambah aktingnya.
"Namamu siapa?" tanya Felix mulai melepaskan ikatan rambutnya satu per satu.
"Haera!" sahut hewan itu mulai duduk manis menghentikan akting buruknya.
"Kau tinggal di sekitar sini?" tanya Felix.
Haera mengeleng-gelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Felix.
"Lalu ... kau hanya sedang berjalan-jalan disini?" tanya Felix.
Sekali lagi Haera menjawab dengan geleng-geleng kepala.
"Kalau begitu apa yang kau lakukan disini?" nada pertanyaan Felix semakin meninggi seiring bertambahnya pertanyaan yang tidak terjawab.
Haera menunjuk Felix, "Aku? kau mencariku? mau bertemu denganku? atau apa?" tanya Felix.
"EeEeEEeem ...." dengan nada naik turun Haera menggeleng-gelengkan lagi kepalanya dan mulai mendekat dengan jari telunjuk menunjuk dada Felix, "Anna!"
Haera mengangguk, "Akhirnya setelah sekian lama kau mengganti caramu menjawab juga ...." kata Felix tertawa, "Jadi kau mencari Iriana?"
"Yap!" sahut Haera.
"Tapi bagaimana ini, Iriana sekarang tidak bisa muncul karena sudah membantuku akhir-akhir ini dan menghabiskan sekaligus energinya ... nanti setelah beberapa hari kalau sudah mengisi ulang energi baru bisa muncul lagi ...." kata Felix.
Haera menunjuk kalungnya, "Kau menyuruhku melihatnya?" tanya Felix.
"Yap!" sahut Haera.
Felix meraih liontin Haera dengan tulisan mulai muncul, "Aku adalah Dicoisvi atau disebut hewan berumur paling pendek yang berumur panjang ... hehh?! apa maksudnya ...." Felix melanjutkan lagi membaca, "Lahir disaat pusaka papan permainan tukar kematian mulai diwariskan pada Franklin dan mati bersama dengan pemain terakhir mati kemudian hidup lagi disaat permainan dimulai kembali. Menghilang selamanya jika sang pewaris juga meninggal. Dicoisvi baru akan terlahir kemudian bersama dengan pewaris baru. Tugasku menyebar energi keseimbangan di tiga dunia ... Mundebris, Bemfapirav, Mundclariss. Menyeimbangkan segala sesuatu yang ada di tiga dunia, menyeimbangkan yang berat sebelah, menyeimbangkan yang sudah seharusnya seimbang ...." Felix lama terdiam setelah membaca membuat Haera menyuruh membaca ulang karena mengira Felix belum mengerti, "Lalu kenapa kau mencari Iriana?" tanya Felix.
"Apa maksud dari ekspresi itu? seakan-akan kau tidak tahu kalau Iriana sudah meninggal saja ...." kata Felix tertawa kecil, "Kau benar tidak tahu?" Felix berhenti tertawa.
"Seharusnya Anna belum boleh mati!" perkataan Haera membuat Felix susah bernapas.
"Jangan mengajaknya berbicara! yang dikatakannya bisa saja menghidupkanku lagi dan tentunya bisa membunuhmu!" kata Iriana yang terpaksa muncul untuk menjelaskan dengan cepat tanpa spasi sedikitpun.
"Jadi karena itu dia tidak menjawab pertanyaanku?!" kata Felix berusaha menyesuaikan napasnya ketika Iriana mulai menghilang lagi setelah menggunakan energi cadangannya untuk menghentikan Felix melakukan hal bodoh.
"Tangkap dia!" teriak suara yang sangat familiar.
"Efrain?!" Felix yang masih belum bisa mengatur napasnya kembali normal harus dikagetkan oleh kehadiran musuh terbesarnya dengan ratusan pasukan dibelakangnya, "Mati aku!" kata Felix menyumpahi dirinya sendiri.
Felix mencabut pedangnya dan sudah dengan hati pasrah menerima kalau kematiannya sudah di depan mata. Haera menatap Felix kemudian berjalan mendekati Felix dan duduk di atas sepatu Felix.
"Haera! jangan berkhianat! kau harus menghidupkan Iriana sekarang! bukankah kau sudah mengatakan kalau Iriana akan berumur panjang ...." teriak Efrain penuh amarah sampai-sampai udara berubah menjadi sangat panas seperti ada api yang mengelilingi.
"Tapi Lix juga berumur panjang!" kata Haera membuat paru-paru Felix yang tadinya sakit dengan cepat membaik.
"Lix?!" kata Felix tidak percaya Haera memanggilnya begitu.
Seseorang tiba-tiba jatuh dari langit dan mendarat dengan meretakkan tanah yang dipijakinya, "Cepat pergi dari sini!" kata laki-laki dengan banyak anak panah di punggungnya. Felix tidak sempat melihat wajah laki-laki itu karena langsung memutar otaknya untuk memikirkan cara untuk kabur dari serbuan ratusan pasukan Efrain.
"Dicoisvi! bawa Caelvita-119 ke Vandi!" kata laki-laki itu sedikit menolehkan wajahnya.
"Jangan mati! kau juga masih punya sisa umur yang banyak!" kata Haera membuat kobaran api biru menyelimuti laki-laki itu.
Laki-laki itu mulai berlari, seiring dengan langkah kakinya membuat tanah retak, "Apa dia bercanda? melawan ratusan iblis dengan dirinya yang hanya sendirian?!" kata Felix tidak habis pikir. Tapi perkataan Felix langsung dipatahkan dengan laki-laki itu yang langsung menembakkan anak panah dan menumbangkan puluhan iblis sekaligus, "Hahh!" Felix tidak menyadari dirinya melongo melihat pemandangan itu.
...-BERSAMBUNG-...