
Tak terasa Tan yang memandangi Demelza begitupun Teo dan Tom yang memandangi Osvald kini memandangi sosok Felix.
"Kau masuk kesini, Felix?!" tanya Teo.
"Apa maksudmu?!" Felix balik bertanya.
"Kau masuk ke dunia Zewhit Kurcaci?!" tanya Teo.
"Kau sudah kembali, bodoh!" Felix memutar wajah Teo untuk menyadarkaan Teo yang tidak mengenali kamarnya sendiri.
"Barusan aku ... masih ada dihadapan Osvald perasaan. Bagaimana bisa aku sudah bangun tanpa aku sadari?!" kata Teo.
"Itu karena ... dunia mimpi sepertinya sudah diakhiri! secara otomatis kita tertarik kembali ketubuh kita yang sekarang ...." kata Tan yang sebenarnya juga heran karena kedua Zewhit itu ternyata tidak membuat mereka bergulat untuk kembali ke tubuh mereka masing-masing.
"Malam ini sudah memasuki dunia Zewhit yang sebenarnya ... bukan lagi dunia mimpi mereka ya?! Bukan lagi kedua Zewhit itu yang tanpa diundang masuk ke dalam mimpi mereka berdua dan mengacaukannya tapi kini Osvald dan Demelza lah yang masuk ke dunia Zewhit Badut dan Kurcaci." kata Tom.
"Menurutku akan tetap sama saja ... mereka sama sekali tidak pernah menunjukkan diri mereka untuk menakuti Osvald atau Demelza. Hanya mengawasi dari jauh saja." kata Teo.
"Ayo sarapan!" kata Felix sudah setengah keluar dari pintu kamar.
Tan, Teo dan Tom bangun dari tempat tidur untuk mengikuti Felix.
"Oh ...." Tan berhenti melangkah.
"Apa?! kau lupa sesuatu?!" tanya Teo saat mereka sudah agak jauh dari kamar.
"Aku tidak pusing sama sekali." kata Tan.
"Apa maksudmu?!" Teo heran Tan berbicara tidak nyambung, "Eh?!" akhirnya dia juga sadar apa yang dimaksud Tan.
"Apa karena hari terakhir dunia mimpi?! kan bukan kita yang berusaha bangun sendiri melainkan memang sudah langsung bangun tanpa disadari." kata Tom.
"Tidak, walaupun begitu ... efeknya akan tetap ada pastinya! bagaimanapun kita disana sebagai tamu tidak diundang." kata Tan.
Disaat Tiga Kembar sedang kebingungan karena tidak merasa kelelahan, sakit kepala dan pusing serta hal lainnya yang sangat menyebalkan dirasakan setelah bangun dari dunia pikiran. Felix berjalan dengan senyum bangga diwajahnya, "Ternyata berhasil, Cain! cara kita berhasil ...." kata Felix dalam hati sambil tersenyum.
Tan, Teo dan Tom tiba di ruang makan tapi tidak menemukan Felix dimanapun.
"Bukannya dia duluan kan ...." kata Tan.
"Hahh ... aku tidak peduli!" kata Teo hanya menyalakan tv besar yang ada di ruang makan agar bisa menikmati sarapannya sambil menonton acara favoritnya.
"Pasti dia ada disuatu tempat ...." kata Tom juga tidak peduli.
"Kalian ...." Tan menyipitkan matanya.
"Bukan satu atau dua kali juga ... aku sudah tidak heran lagi!" kata Tom.
"Dia bisa menjaga dirinya sendiri!" kata Teo.
"Dan kalian menyebut diri kalian Alvauden nya?! bahkan sahabatpun kalian tidak pantas!" kata Tan.
"Cari saja sendiri!" teriak Teo dan Tom sudah muak.
Tan kembali duduk setelah akting berlebihan mengkhawatirkan Felix yang tidak ditemukan di ruang makan. Tan memilih menghabiskan makanannya saja dulu baru mencari Felix.
Osvald dan Demelza juga terlihat sudah datang dan mengambil sarapan kemudian duduk di meja yang berbeda. Osvald bergabung dengan Tiga Kembar sedangkan Demelza sendirian di dekat dinding kaca.
Teo dan Tom terlihat berhenti makan dan mulai memandangi Osvald terus.
"Kau lahap sekali makannya ...." kata Teo.
Osvald hanya tertawa dan melanjutkan menyuap makanannya. Sementara Teo dan Tom masih kagum saja dengan Osvald yang berhasil bertahan hidup di tempat badai salju walaupun Osvald sendiri tidak ingat akan itu.
"Kau ternyata lebih hebat dari pikiranku ...." kata Tom.
"Selama ini kukira kau itu pengecut ... tapi sepertinya aku harus menarik perkataanku itu. Kau benar-benar hebat!" kata Teo.
Tidak semua orang bisa bertahan hidup di tengah badai salju yang tidak ada satu orangpun tapi Osvald berhasil membuktikan bahwa dia bisa bertahan dan menggunakan lingkungan sekitar untuk bertahan hidup tanpa bantuan siapapun.
"Inilah kenapa tidak boleh memandang seseorang dari luarnya saja." kata Tan.
"Apa maksudnya? apa sebenarnya yang kalian bicarakan?!" Osvald bingung sendiri.
"Maksudnya kau terlihat lemah tapi ternyata kau berbeda saat dihadapkan dengan masa sulit. Kau bisa diandalkan ...." kata Tom.
"Apa aku mendapatkan penghargaan tanpa sepengetahuanku sendiri?!" tanya Osvald.
"Hahh ... tapi sepertinya kau masih saja bodoh!" kata Teo.
"Apa-apaan?! tadi kau memuji sekarang menghina ...." Osvald jadi tidak napsu makan.
"Tapi, kenapa dia selalu saja makan sendirian?! setahuku dia itu punya banyak teman ...." kata Tan melihat Demelza yang makan sendirian.
"Teman?! anak-anak hanya mendekatinya saat dia punya cerita atau gosip yang menarik. Kalau tidak, tidak akan ada yang mendekatinya! dia itu sebenarnya anak yang kesepian." kata Osvald.
"Ada yang mendekati Demelza hanya saat ingin mendengar cerita. Ada yang membenci Demelza karena telah dijadikan bahan cerita. Miris sebenarnya ...." kata Tom.
"Kalau kau Osvald orang yang seperti apa?!" Felix datang tiba-tiba saat mereka sedang teralihkan oleh Demelza semua.
"Ehhem!" Osvald dengan nada komediannya, "Kalau aku ...." Osvald yang sudah bersiap ingin membuat tertawa tapi tidak bisa melanjutkan kalimatnya, "Aku juga sama seperti Demelza tapi hanya mencoba menjalani kehidupan yang berbeda saja. Demelza melakukan cara yang ekstrem untuk menarik seseorang mendekatinya, tapi sayangnya dia tidak tahu kalau itu salah ... sedangkan aku menggunakan cara simpel tapi ternyata itu juga salah. Rasa kesepianku masih saja ada dan tidak terisi walau berapapun teman yang kumiliki." kata Osvald dalam hati yang hanya didengar oleh Felix sementara Tiga Kembar hanya melihatnya melamun saja, "Aku ... ya, kalian pasti sudah tahu! Osvald supel, ramah, baik, suka menolong dan rajin menabung ...."
"Apa?!" Tan, Teo dan Tom meminta Felix menceritakan apa yang ada dipikiran Osvald lewat Jaringan Alvauden.
"Kalian akan tahu juga nanti ...." kata Felix.
"Apa kita ke titik selanjutnya?! hanya memeriksa saja ... kita pulang saat sudah sore." kata Tom saat mereka meninggalkan ruang makan.
"Tidak ... kalian harus bersiap! malam ini bukan hanya roh kalian yang masuk ke dalam dunia Zewhit tapi kali ini kalianlah secara langsung yang masuk." kata Felix.
"Kurasa kita akan baik-baik saja ...." kata Teo sambil menjelaskan bagaimana keadaannya saat bangun tadi.
"Itu karena Cain!" Felix hanya bisa berdecak kesal karena tidak bisa mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah melakukan eksperimen diam-diam bersama Cain, "Kali ini berbeda ... walau berada di dimensi yang berbeda tapi efeknya akan lebih besar daripada hanya roh saja. Tubuh manusia sangat tidak cocok dengan dunia pikiran. Jadi, bersiaplah ... kalian akan merasakan tekanan yang luar biasa. Kali ini aku juga akan ikut masuk dan mengawasi dari jauh ... tidak bisa dekat-dekat karena itu bisa membuat Zewhit tidak nyaman."
"Jadi selama ini kau tidak masuk karena tidak ingin membuat mereka tidak nyaman?!" tanya Teo.
"Bayangkan saja ... kau sedang makan ice cream bersama dengan pencipta ice cream yang sedang kau makan. Apa kau bisa nyaman makan?!" jawab Felix.
"Nyamanlah ... aku bisa mengekspresikan bagaimana betapa sukanya aku dengan ice cream itu, aku bisa memujinya dan meminta atau memberi saran untuk membuat ice cream yang lebih baik lagi. Pokoknya ... rasanya akan seru! apa maksudmu yang tidak nyaman?!" Teo heran.
"Maka dari itu ... kedua Zewhit itu akan bereaksi berlebihan kalau aku melihat. Mereka bisa sangat bersemangat untuk pamer padaku daripada melakukan apa yang biasa dia lakukan. Kau kan bisa makan dan menikmati ice cream mu dengan nyaman tanpa harus bereaksi berlebihan dan pada akhirnya kau jadi melupakan ice cream yang kau pegang telah mencair. Kedua Zewhit itu bisa saja lupa apa yang ingin dilakukannya dengan targetnya karena keberadaanku." kata Zewhit.
"Aneh juga kau harus menjelaskan denga. perumpamaan seperti itu ...." kata Tan.
"Itu karena ... dia hanya bisa mudah mengerti kalau begitu." kata Tom menunjuk Teo.
...-BERSAMBUNG-...