UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.154 - Hal Baik Ditengah-tengah Masalah



"Kau ini kenapa tidak pulang-pulang juga?" Cain masuk ke Ruangan Takdir berkat bantuan salah satu kumbang yang sedang bekerja di luar.


"Bagaimana kau bisa kesini? aku bahkan belum memanggilmu ...." kata Felix masih ingin berlama-lama disana, "Kau memakai seragam? hari sudah berlalu ya?"


"Aku datang bersama Duarte yang sedang mengawasi sekolah dan yang perlu kau tahu waktu Mundclariss sudah jam makan siang, tahu!" kata Cain.


"Kau melewatkan makan siang dan datang menemuiku?" tanya Felix sambil tersenyum.


"Jangan tersenyum! dasar!" sahut Cain yang sangat jelas bahwa di dalam hatinya sedang menyumpahi Felix.


"Aku akan datang lagi nanti ...." kata Felix pada Kemp.


"Baik, Tuan Muda ... Nona Iriana dulu juga bolak-balik seperti Tuan Muda sekarang ini tapi Tuan Muda setidaknya tidak perlu lari-larian karena punya seseorang yang memiliki waktu ...." kata Kemp memandang Cain.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Cain yang tidak mengira akan bertemu seseorang yang bisa mengetahui identitasnya tanpa diberitahu terlebih dahulu.


"Dia ini Tuan yang tahu segalanya!" kata Felix menunjuk Kemp.


"Tidak segalanya juga, Tuan Muda!" kata Kemp mengoreksi.


"Dia juga Tuan tidak bisa berbohong!" kata Felix.


"Kalau itu ...." Kemp pasrah dan Felix mulai tertawa.


"Anak itu mudah sekali akrab dengan yang ada di Mundebris, andaikan juga bisa begitu di Mundclariss ...." kata Cain dalam hati.


Felix melirik sebuah nama sesaat sebelum meninggalkan ruangan takdir, "Buku Takdir Cain tebal sekali! dengan buku setebal itu, apa dia akan hidup selama ratusan tahun? hahaha ...." kata Felix dalam hati sambil tersenyum, bahkan sudah lupa dengan masa depan tragis yang hampir menimpa Cain.


"Apa yang membedakannya dengan Duarte sehingga bisa masuk kesini?" tanya Felix pada Kemp saat berjalan hendak keluar istana.


"Sebenarnya hampir semua selain Ruleorum tidak bisa masuk kesini terlebih kaum Sanguiber ... Leaure menjadi pengecualian karena jiwa penolongnya disukai Ruleorum!" jawab Kemp.


"Padahal aku sudah mulai menyukai Ruleorum tapi ternyata juga suka mendiskriminasi begini ...." kata Felix.


"Ruleorum memang sangat tertutup dengan dunia luar dan memegang teguh prinsip dan aturan ... alasan Sanguiber tidak disukai oleh Ruleorum adalah karena tidak memperdulikan kaum setengah Sanguiber yang terlibat dalam kejahatan, seharusnya mereka bisa membantu atau setidaknya menindaklanjuti agar setengah sanguiber bisa sadar atau setidaknya menghukumnya sendiri ... terkadang Leaure juga dibatasi untuk masuk kesini karena Leaure yang terlalu baik akan memicu kerusakan takdir karena menolong yang seharusnya tidak boleh ditolong ...." kata Kemp.


"Ruleorum itu kaku sekali! jadi mirip seseorang!" kata Cain menatap sinis Felix.


"Tuan Muda Felix punya jiwa Leaure, dia salah satu yang berpotensi menghancurkan aliran takdir yang sudah tersusun rapi ...." kata Kemp menyipitkan matanya.


"Kau yakin dia bisa membantu kita?!" tanya Cain sulit percaya setelah mendengar kekakuan prinsip Kemp.


"Cara bicaranya memang mudah disalahpahami ...." kata Felix mulai menaiki Duarte yang sibuk ingin menangkap katak yang mengusilinya.


"Pintu Istana terbuka lebar pada pemilik Jam Junghans!" kata Kemp saat Duarte mulai mengepakkan sayapnya. Para katak menjulurkan lidah panjangnya mengejek Duarte.


"Tidak usah diperdulikan!" kata Felix.


"Andai saja saya bisa makan katak, Tuan Muda ...." kata Duarte kesal.


"Aku sudah menyimpan seragammu di dalam loker, nanti kau tinggal masuk Bemfapirav dan ...."


"Aku sudah tahu ... kau tidak perlu menjelaskannya, kau pikir aku ini bodoh?!" kata Felix.


Cain hanya bisa memaki dalam hati karena perkataan kasar Felix, "Sekedar informasi bukan menjelaskan ya ... semua kamera pengawas sudah terpasang!"


"Aku sudah tahu!" kata Felix.


"Bagaimana kau tahu?!" Cain heran.


"Karena sudah seharusnya kamera itu terpasang semua kemarin!" kata Felix.


"Kau tidak ikut masuk?" tanya Felix melihat Cain hanya berdiri mematung.


"Saat ini masih pagi, aku sedang bersama dengan Tan, Teo dan Tom menuju sekolah ... akan aneh kan kalau ada dua Cain!" kata Cain sarkastik.


"Baiklah!" kata Felix santai.


"Kenapa kau dingin begitu?!" kata Cain.


"Kan kau juga nanti akan datang kalau sudah masuk Mundebris! datanglah saat makan siang, sekarang pergi sebelum kau yang lain datang!" kata Felix.


"Yo, Felix!" teriak Teo dan Tom dari kejauhan.


"Kau sudah datang ... cepat pergi!" kata Felix pada Cain yang sedang bersembunyi dibelakangnya karena takut dirinya yang lain melihatnya.


"Kukira kau tidak akan datang!" kata Tan.


"Sampai ketemu di kantin!" kata Cain mulai menghilang masuk ke Bemfapirav.


Felix mulai berjalan setelah mengetahui Cain sudah tidak ada dibelakangnya.


"Padahal aku barusaja ingin menjemputmu!" kata Cain.


"Kau memang harus menjemputku!" kata Felix lewat pikiran.


"Hem?!" Cain bingung, "Aaaah! oke oke!" kata Cain mengerti jika memang dialah yang menjemput Felix sehingga bisa datang tepat waktu kesini.


"Terimakasih karena sudah membuatku tidak harus terlambat masuk sekolah! dan harus kesusahan sendiri karena kembali ke masa lalu dan harus bersembunyi supaya tidak dilihat dirimu yang lain ...." kata Felix dalam hati.


Tangan kanan sibuk mencatat pelajaran sedangkan tangan kiri sibuk mencatat apa yang dilakukan oleh para pemain lewat tablet yang disimpan dalam tas. Felix sangat menghargai kerja keras mereka yang berusaha menolong Kiana. Tapi disisi lain Felix merasa mulai ragu karena sudah mengetahui misteri dari permainan tukar kematian ini. Apa ia harus mengikuti saja seperti yang Franklin sudah atur atau harus merusak keseimbangan demi Kiana bisa berumur panjang? Felix memukul kedua pipinya, "Apa yang aku pikirkan?! bukankah sudah jelas aku harus menyelamatkan Kiana! aku tidak perduli, yang jelas Kiana harus bisa berumur panjang di kehidupan saat ini ... apa ini egois? tidak! ini adalah hal yang wajar dan harus aku lakukan!" kata Felix dalam hati sudah kembali tidak ragu akan pilihannya.


"Felix, kalau mengantuk ... cuci muka sana!" kata Bu Janet mendengar tamparan keras Felix pada pipinya sendiri.


"Baik bu!" Felix menurut saja pergi mencuci muka padahal tidak mengantuk.


***


"Maaf Kiana, tapi kakak ingin kau bisa hidup lama di kehidupanmu yang sekarang ... maafkan kakak yang egois!" kata Felix memandangi dirinya sendiri di cermin setelah mencuci wajahnya di wastafel.


"Hah! bikin kaget saja!" kata Felix melihat kemunculan tiba-tiba Cain dibelakangnya, "Kau sedang apa? kembali ke Bemfapirav sana! bagaimana kalau kau yang sedang berada di kelas juga kesini?!"


"Panggilan alam!" kata Cain langsung masuk ke dalam bilik kamar mandi.


"Aku pergi ya?!" kata Felix.


"Ck! sejak kapan kau berpamitan begitu ...." kata Cain dalam hati, "Jangan lupa beritahu aku yang ada di kelas sekarang supaya masuk Mundebris! kalau tidak aku akan ada dua terus di masa ini!" teriak Cain.


"Iya! jangan berisik! bagaimana kalau ada yang dengar!" kata Felix berbisik.


"Kau pikir yang mendengarnya akan percaya?! malah akan lebih mencurigakan disaat kau berbisik begitu!" kata Cain.


Felix membanting keras pintu kamar mandi, "Lihat! bagaimana jelek kepribadiannya!" kata Cain mengutuk.


"Dia sudah kembali! Cain yang dulu sudah kembali!" kata Felix tersenyum sambil berjalan kembali ke kelas.


Cain yang sangat tertekan karena melihat masa depan Tiga Kembar membuat dia jadi berlebihan dalam melindungi sampai-sampai tidak bisa menjalani kehidupannya seperti biasa. Tapi setelah Kiana menjadi salah satu pemain permainan tukar kematian, Cain sudah perlahan mulai kembali ke dirinya yang dulu. Hal itu bukan berarti menandakan Cain sudah tidak memikirkannya lagi tapi pasti saat ini dia juga tetap memikirkan masa depan Tan, Teo dan Tom hanya saja emosinya sudah mulai bisa ia kendalikan.


...-BERSAMBUNG-...