
"Tapi bagaimana kau bisa seyakin itu kalau di Bemfapirav tidak ada apartemen ini?" setahu Cain dia terus bersama Felix dan tidak melihat ia masuk Bemfapirav.
"Aku bisa melihatnya sekilas tadi saat berkedip!" kata Felix.
"Gawat!" kata Cain.
"Apanya yang gawat?" tanya Felix sambil merogoh saku celananya.
"Itu tandanya kekuatanmu semakin meningkat saja ...." kata Cain.
"Memangnya kenapa dengan itu?" Felix mengambil sebuah botol yang bertuliskan tulisan yang tidak bisa dibaca dan kemudian menaburkan isi botol yang merupakan serbuk emas itu di telapak tangannya.
"Nanti akan ada waktu dimana kau akan berpindah dunia tanpa kau sadari. Karena hanya dengan berkedip saja tadi kau bisa melihat Bemfapirav dan ditambah lagi kau bisa mendengar semua pikiran orang lain sekaligus ... bukankah itu sangat mengganggu dan tidak membuat nyaman ...." kata Cain.
"Ck, malah kau orang yang sangat mengganggu pikiranku ... kau tidak tahu bagaimana penasarannya aku dengan mimpimu tadi?! jika kau benar mengkhawatirkanku ... seharusnya kau mengurangi beban pikiranku ini dengan memberitahuku yang sebenarnya!" Felix jengkel tapi serbuk emas tadi kini sudah membentuk dirinya menjadi kunci.
"Aku sudah lupa! setelah bangun aku langsung lupa mimpi apa tadi. Kan biasanya memang saat bangun kita langsung lupa tadi mimpi apa ... tapi apa guna kunci itu?" kata Cain.
"Lupa? hal baru yang aku dengar tahun ini ... Cain lupa?! hahaha ...." Felix tercengang.
"Jadi apa guna kunci itu?" Cain terus menerus menghindari pertanyaan Felix.
"Ya untuk membuka pintu lah!" Felix kesal.
"Digital Door Lock! memangnya kunci seperti itu bisa dipakai untuk membuka pintu?!" teriak Cain.
"Memangnya kau berbuat apa sehingga begitu bangganya meneriakiku?!" Felix semakin kesal, "Ini bentuk awalnya! karena kita mengeluarkan serbuknya di depan pintu maka di deteksi kita membutuhkan kunci tapi jika didekatkan begini akan menyesuaikan diri ... lihat, dia berubah menjadi kunci mekanik!" Felix menjelaskan dengan emosi.
"Aaaah ... begitu!" Cain hanya mengangguk.
Pintu akhirnya terbuka dan mereke berdua masuk ke dalam mencari keberadaan Ibu Viola.
"Serbuk emas? berarti itu adalah peralatan ajaib dari Leaure dong?!" tanya Cain mulai mengingat pasir emas yang membentuk sayap untuk naik ke atas perpustakaan.
"Memangnya kau belajar apa saja saat di perpustakaan sampai hal dasar seperti ini kau tidak tahu ...." gerutu Felix.
"Aku hanya belajar bagaimana menjadi ahli pedang dalam waktu singkat ...." kata Cain.
"Setidaknya itu terlihat berhasil ...." kata Felix yang bernada mengejek.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mempelajari semua hal kecil lainnya ... tujuan utamaku adalah tidak membebanimu harus melindungiku lagi dan sebaliknya aku yang akan melindungimu!" kata Cain dalam hati.
"Coba cari di kamar itu! aku akan kesana ...." perintah Felix.
"Cain!" sapa seseorang yang tiba-tiba keluar dari kamar yang akan Cain masuki.
"Dokter Mari?!" Felix berlari ke arah suara itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Dokter Mari.
"Sepertinya kami perlu menanyakan hal yang sama!" jawab Cain ketus.
"Apa lagi menurutmu? ya ... kunjungan dokter! menemui pasiennya adalah hal yang biasa." kata Dokter Mari.
"Pasien?" tanya Felix.
"Ibu Viola menjalani perawatan setelah kejadian yang menimpa putrinya itu ditambah lagi setelah suaminya menyerahkan diri karena berhasil membunuh pembunuh putrinya itu ... bukannya malah membaik karena dendam putrinya terbalaskan tapi semakin parah!" kata Dokter Mari.
"Bukankah itu hal yang harusnya diketahui oleh Dokter Psikiater!" kata Cain menyindir Dokter Mari.
"Sampai kapan kau akan kesal begitu pada bibi?" Dokter Mari mulai kesal.
"Bibi? siapa? situ?!" kata Cain menunjuk Dokter Mari, "Aku lebih memilih tidak mempunyai keluarga sama sekali jika harus seseorang yang begitu mempermainkan sebuah hidup orang lain dengan membuat skenario yang licik!"
"Kita bicara diluar!" kata Dokter Mari.
"Tidak! Dokter Mari, berikan ini pada ibu Viola!" Felix menyerahkan sebuah gelang, "Sepertinya dokter sudah tahu sendiri kalau Cain itu tidak akan mudah memaafkan seseorang yang telah menipunya ...." kata Felix melalui pikiran pada Dokter Mari.
Dokter Mari menerima gelang itu dan membiarkan Cain pergi tanpa berbicara baik-baik.
"Salah paham?" Cain dengan emosi sambil membuat perisai kecil tergantung diatas pintu masuk, "Kesalahpahaman hanya terjadi jika pihak lain tidak mengetahui alasan pasti dari tindakan seseorang yang membuat salah sangka!"
"Maka dari itu pasti kau sudah tahu kan kalau alasan Dokter Mari begitu hanya untuk kepentinganmu juga!" kata Felix.
"Jangan menceramahiku Felix!" Cain sudah benar-benar marah.
"Kenapa kau seakan berpikir jika Dokter Mari tidak melakukan itu maka kita tidak akan bisa bertemu? Kau dan aku memang sudah ditakdirkan bertemu walau dengan cara berbeda tapi kali ini lewat bantuan Dokter Mari ... kenapa kau tidak memikirkan kemungkinan aku yang akan menyapamu duluan?" kata Felix.
"Kau tidak tahu saja jika alasan Dokter Mari melakukan itu untuk membuatku menjadi Alvauden agar bisa selalu aman dilindungi olehmu!" Cain dengan nada keras.
"Dokter Mari melakukan pekerjaan yang hebat! kau itu aset bagi tiga dunia saat ini ... memang akan sangat aman jika kau menjadi Alvauden!" kata Felix tenang.
"Kau tidak marah?! memangnya kau itu bodoh?! kami berdua sedang memanfaatkanmu!!!" teriak Cain.
"Bisa tidak ... kau tidak terus terbebani dengan gelar Alvauden itu? sebelum menjadi Alvauden kau itu adalah Sahabatku ...." kata Felix yang membuat Cain jadi diam dan menitikkan air mata.
Felix memeluk Cain erat, "Kau ... kau ... kau itu bodoh sekali!" Cain menangis terisak-isak.
"Ya! kali ini aku setuju saja!" Felix tertawa.
Cain mulai tenang di perjalanan pulang tapi membuat Felix merasa tidak nyaman karena Cain terus menggenggam tangannya, "Bisa lepas tidak! jauh-jauh sana!" Felix mendorong Cain.
"Memang benar ya kalau pertengkaran itu bukanlah sebuah tembok penghalang tapi hanyalah pintu yang harus dilewati. Setelah itu kita bisa semakin dekat dan sebuah hubungan akan menjadi lebih kuat!" kata Cain sambil senyam-senyum sendiri.
"Kau membuatku merinding!" Felix memukul Cain tapi Cain malah semakin mendekat ke Felix, "Kubunuh kau!" Felix mendorong Cain lagi kemudian berlari duluan.
"Kau mau kemana Sahabatku?!" teriak Cain membuat Felix makin malu.
"Bisa diam tidak?!" Felix berbalik membungkam mulut Cain.
"Tidaklah baik menyuruh seseorang untuk diam padahal seseorang itu punya mulut dan pita suara!" kata Cain sambil menyeringai.
"Kau sudah gila ya?!" Felix mulai mundur menjauh dari Cain.
"Ey hey mana mungkin! sahabat Caelvita gila? mana mungkin?!" Cain tidak berhenti mengusili Felix terus.
"Ini semua salahku! ya ... seharusnya aku tidak mengatakan hal menjijikkan tadi!" Felix mulai berlari lagi.
Cain hanya tersenyum melihat Felix dari belakang, "Terimakasih Felix ... selama ini aku terus memikirkan Alvauden ... Alavauden ... tapi kau sendiri ternyata tidak memikirkan hal itu. Bagimu aku hanyalah manusia biasa ... yang kau anggap sebagai sahabat. Terimakasih ...."
...-BERSAMBUNG-...