
"Kalau begitu, kalian cepat pergi darisana!" kata Tan yang sudah menaiki anak tangga dengan wajah yang sebenarnya masih mengantuk.
"Ya, cepat! kalau itu benar ... ada dua musuh disana. Terlalu banyak orang untuk memulai pertarungan disana. Bahkan jika menariknya ke Mundebris atau Bemfapirav pasti mereka akan membawa kalian kembali ke Mundclariss untuk membuat kalian tidak bisa bergerak bebas dalam menyerang dengan banyaknya manusia disana dan itu akan membuat kita kalah sebelum bertarung." kata Tom yang menyusul Tan dengan wajah masih basah setelah cuci muka super cepat nya.
Felix dan Teo saling menatap dan berlari secepat mungkin untuk menjauh dari kerumunan.
"Bates! dia lawan yang sulit untuk dikalahkan. Bukan hanya karena kemampuan bertarungnya tapi karena dia mempunyai kekuatan lain. Bates terkenal akan ahli pikiran dan juga keahlian Isvintria nya yang melegenda. Viviandem yang mengubah dirinya sendiri menjadi setengah hantu karena tidak ingin terikat dengan Caelvita. Menjalani kehidupan menyakitkan demi untuk bisa terus hidup tanpa tergantung oleh Caelvita yang tidak bisa diperkirakan akan membangkitkan Viviandem kapan. Sangat sial kalau harus melawan Quiris seperti dirinya, seseorang yang membuat takdirnya sendiri." kata Felix dalam hati sambil terus berlari.
"Kalau manusia yang menjadi setengah hantu disebut Meinimeirav tapi kalau Viviandem ... apa lagi sebutannya?!" kata Tom yang otaknya sepertinya masih belum siap bekerja.
"Meinihwwwwwav!" jawab Tan sambil menguap.
"Apa?!" Tom tidak tahu apa yang dikatakan Tan.
"Meinivirav!" kata Tan kali ini dengan sangat jelas.
"Ah, hanya mengganti huruf saja ...." kata Tom memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.
Tan dan Tom terpaksa harus berjaga di hari liburnya itu. Dengan hanya memakai piyama dan juga jaket tebal langsung naik berjaga di atas lantai 16 gedung Tingkat SMP.
Felix dan Teo masih terus berlari, rasa lelah belum dirasakan karena ketakutan akan terjadi bencana besar di kota yang penuh banyak orang itu terus memberi semangat untuk berlari. Terlebih lagi Felix yang datang tiba-tiba kesana pasti auranya akan sangat terasa karena tidak sempat menyembunyikan diri dengan menggunakan Idibalte.
Dengan bermandikan keringat, Felix dan Tan tanpa sadar sudah berlari sangat jauh. Hingga sampai ke sebuah halte bus yang sepi hanya dikelilingi oleh hutan dan jauh dari pemukiman penduduk.
"Sepertinya disini sudah aman ...." kata Felix yang berhenti berlari.
Teo langsung menjatuhkan dirinya, kakinya sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri habis berlari sejauh itu. Terpaksa Felix harus menarik Teo untuk dibawa ke halte bus dengan cara diseret karena Teo berada ditengah jalan.
"Kau benar-benar sangat menyusahkan!" kata Felix membuang Teo dengan kasar di kursi halte bus.
"Mana aku tahu kalau disitu ada perangkap ...." kata Teo.
"Kau memang tidak bisa dibiarkan sendirian, pasti ada saja masalah yang kau buat." kata Tom.
"Diam! aku seperti akan mati ...." Teo sesak napas.
Felix juga duduk bersandar di kursi yang ada di halte bus itu dengan mencoba menstabilkan pernapasannya.
Tapi sebuah mobil kemudian singgah disana membuat Felix dan Teo pasrah saja. Karena sudah tidak punya tenaga untuk menyembunyikan diri.
"Bilang saja kalau kalian sedang latihan untuk mendaftar jadi polisi atau jadi atlet, apalah begitu ...." kata Tom memberi saran alasan.
"Ide bagus! kau atlet lari marathon sementara aku atlet sepak bola ... okey! begitu saja!" kata Teo langsung menyesuaikan alasannya dengan Felix.
"Sedang apa kalian disini?!" tanya Seseorang yang keluar dari dalam mobil itu.
"Kami sedang latihan ... dia atlet lari marathon! aku atlet ...." kata Teo yang mengucapkan alasannya secara otomatis tapi langsung disenggol oleh Felix, "Apa sih?! kan kita sudah setuju tadi kalau kau atlet ... hahh?!" Teo kaget setelah melihat siapa orang yang bertanya tadi. Teo akhirnya tahu kenapa Felix tidak berhenti menghentikannya berbicara, "Kak Luna? sedang apa disini?!"
"Sedang apa maksudmu?! tentu saja untuk ke panti. Kalian sendiri sedang apa disini?!" kata Luna tertawa.
"Panti?!" Felix akhirnya memperhatikan sekitar, "Ah, ini halte yang dekat panti ya?! pantas saja sangat familiar rasanya ...." Felix menertawakan dirinya sendiri.
"Kalian mau jadi atlet?! makanya latihan malam begini?! tapi kukira kalian sedang di asrama sekolah ... kapan kalian datang?" tanya Luna.
"Barusan!" sahut Teo tanpa berpikir, "Ah, maksudku tadi ... tadi sore!" Teo memperbaiki ucapannya setelah dikode Felix.
"Baguslah ... setidaknya kakak tidak jalan sendirian ke panti." kata Luna yang direspon oleh Teo dengan tawa yang dipaksakan.
"Sepertinya kami akan bermalam di panti ...." kata Teo.
Tan dan Tom yang terus tertawa jadi hilang kantuknya karena kejadian tidak terduga itu. Felix dan Teo tanpa sadar berlari ke arah dimana panti berada.
"Inilah mungkin yang dinamakan rumah ... tempat pelarian teraman! tanpa sadar kita berlari kesini." kata Teo membaringkan dirinya di kasur Cain.
"Aku sendiri lupa kalau Kota Olubayo dekat darisini ...." kata Felix yang duduk di meja belajar Cain memandang keluar jendela.
"Wangi shampo Cain masih ada di bantalnya ...." kata Teo mengigau yang berbaring tengkurap.
Akhirnya alih-alih Tan dan Tom yang beristirahat, Teo dan Felix lah yang beristirahat malam itu. Teo mendapat bonus istirahat double. Saat akan berangkat sekolah, semua anak di panti heran melihat kedatangan mereka berdua.
"Katanya mereka datang sore, kalian tidak lihat?!" Luna heran dengan anak-anak panti yang tidak melihat kedatangan Felix dan Teo.
"Kami datang tiba-tiba, memang tidak ada yang melihat ...." kata Teo dengan akting canggungnya.
"Kalian bahkan tidak ikut makan malam, padahal menu makan malam tadi malam kesukaan kalian." kata Bu Corliss.
"Kami langsung ketiduran karena lelah ...." kata Teo.
"Bu, katanya mereka mau jadi at ...." Luna yang langsung dibungkam oleh Teo.
"Hahaha ...." Teo tertawa sambil menghentikan Luna.
Setelah sarapan yang dibuat terburu-buru oleh Bu Corliss. Mereka berdua berjalan ke halte bus dengan Luna yang akan berangkat kerja juga.
"Kenapa malu segala mengatakan mimpi kalian menjadi atlet itu?! Bu Corliss bisa membantu kalian menggapai mimpi itu kalau diberitahu lebih awal." kata Luna.
"Belum tentu ... kan bisa berubah lagi nanti suatu saat! jadi masih terlalu dini untuk dikatakan." kata Teo.
"Baiklah ... akan kakak rahasiakan. Kau baik-baik saja kan, Felix?!" kata Luna yang mengarahkan pandangannya pada Felix yang tidak pernah berbicara. Felix hanya membalas dengan anggukan.
"Wah, Kak Luna diantar jemput ya?! tapi kenapa bukan langsung ke panti saja? kenapa cuma sampai disini?" tanya Teo.
"Kakak duluan ya! kalian hati-hati!" Luna masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Teo itu.
"Zewhit yang selalu bersamanya juga menghilang." kata Felix.
"Kita juga harus melawan Zewhit pelindung Kak Luna nanti ... sepertinya!" kata Teo.
...-BERSAMBUNG-...