UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.553 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 36



Cain membawa Daisy ketempat yang jauh dari zona peperangan, hingga menemukan Zeki yang juga sedang terbaring tidak sadarkan diri. Cain sambil menangis mengikat tangan dan kaki Daisy dengan rantai Aluias. Walau Ted sudah keluar, tapi sisa energi buruk pasti masih tertinggal dan untuk mencegah agar Daisy dirasuki lagi oleh iblis lain, Cain memasang rantai emas sebagi pelindung dengan menyertakan Zeki juga didalamnya. Cain merasa lega bisa meninggalkan Daisy disana dan ikut kembali dalam arena pertarungan.


"Maaf bu, memanfaatkan ibu seperti ini ...." kata Cain berbalik melihat keadaan Daisy lagi sebelum benar pergi darisana.


"Aku tidak tahu ... apa ini keputusan yang salah dipilih Felix. Membiarkan saja Alavudennya mati untuk dijadikan sebagai Zewhit memang bukanlah ide buruk. Tapi kalau Zewhitnya tidak keluar, ini adalah hal buruk." kata Raja Aluias dalam hati menyesalkan Felix yang tidak memikirkan keputusan itu matang-matang sebelumnya.


Felix melepaskan dirinya dengan paksa dari Banks dan tiba secepat kilat ditempat Tan, Teo dan Tom berada. Pasukan Felix dan Pasukan Efrain terdiam melihat keadaan itu. Mau itu musuh atau bukan, kematian Alvauden adalah duka untuk semua. Kecuali bagi Efrain mungkin sekarang, yang hanya terus menyeringai.


Dari semua pasukan Felix, Earl lah yang paling kelihatan marah dengan kejadian itu. Merasa semuanya sangat sia-sia, orang berbakat seperti Tom harus meninggal dengan cara seperti itu.


Felix menjatuhkan dirinya didekat Tan, Teo dan Tom berada. Keadaan ini lebih kejam dari apa yang dilihatnya saat itu. Memang kemunculan Ted mengubah variabel bagaimana mereka mati. Tapi mereka yang saling berpegangan tangan masih tetap sama dengan apa yang dilihat oleh Felix sebelumnya. Dengan wajah tersenyum tapi luka yang mereka dapatkan sama sekali tidak bisa membuat tersenyum juga, hanya sakit dihati Felix yang terus dirasakan seperti terus tersayat tanpa henti ditempat yang sama.


Cain juga tiba didekat Felix, "Tenangkan dirimu! mereka saja bisa melewati ini, kau yang lebih kuat dari mereka harus membuktikan ini hanyalah masalah kecil."


Semuanya memandang keatas kecuali Felix. Bulan dilangit kelihatan semakin besar dan mendekat. Banyak bebatuan disertai api jatuh dari langit dan getaran tanah semakin kencang.


"Felix! hentikan! kau bisa membunuh semua manusia ...." Cain panik melihat situasi yang tidak pernah dilihatnya dimasa depan itu.


"Yang dari Kerajaan Aquamarine, lakukan sesuatu! hentikan air laut!" teriak Ratu Sanguiber.


Memang air laut belum sampai sana. Tapi Ratu Sanguiber sudah memperhitungkan kalau saat ini pasti yang ada dipesisir pantai sudah terkena gelombang besar air laut. Mencegah hal itu semakin merusak adalah yang terbaik. Pasukan Felix yang dari Kerajaan Aquamarine berdekatan dan memegang tanah, merasakan air laut dari kejauhan dan mendorongnya mundur kembali ke lautan.


"Felix!" Cain terus menggoyangkan Felix yang tidak kunjung menghiraukannya juga. Masih meratapi bagaimana sosok terakhir Tan, Teo dan Tom saat ini dihadapannya. Bahkan Cain tidak sempat untuk berduka karena merasa itu akan menjadi bencana kalau mereka berdua tidak ada yang berpikir jernih dan jatuh kedalam duka yang dalam bersama-sama.


Efrain tersenyum meraih kemenangannya melihat Felix dalam kehancuran. Tapi Pasukan Efrain kelihatan panik karena jika bulan jatuh mengenai bumi, itu akan menjadi kiamat. Bukan hanya bagi Mundclariss tapi dunia lainnya juga ikut merasakan.


Bencana alam memang tidak memandang siapa, baik itu kawan dan lawan semuanya diperlakukan sama oleh alam. Tinggal keberuntunganlah yang bisa merubah alur cerita dari amarahnya Felix itu.


Gerbang emas mulai muncul didekat Felix, Cain dan Tiga Kembar berada. Dari dalam sana muncul Dokter Mari dan dua orang lainnya juga ikut berjalan dibelakang.


"Yang Mulia ...." Balduino dan Ibunya datang langsung berlutut, "Kami datang untuk melaksanakan misi."


Felix terlihat mulai tenang melihat Balduino yang selama ini dicarinya muncul dihadapannya, "Aku yang menemukannya, kerja bagus kan, aku?!" Cain sempat-sempatnya menyombongkan dirinya sendiri.


Bulan semakin menjauh, meteor tidak lagi berjatuhan dan sudah berhenti gempa.


Dokter Mari melirik Cain tapi Cain membuang muka. Dokter Mari sabar saja dengan itu dan mulai menarik tombak yang ada pada Tan dan Tom. Dengan bantuan Banks yang juga ikut membantu agar tubuh mereka tidak terlalu hancur saat itu dilakukan.


"Cain ...." Felix dengan suara serak.


"Aku tahu ... serahkan padaku! kau lakukan yang terbaik disini!" kata Cain.


Kembali terjadi adu tempur setelah bulan dilihat sudah mulai menjauh. Cain bersiap melindungi Felix dan yang lainnya saat menangani Tan, Teo dan Tom.


"Balduino, terimakasih ...." kata Cain merasa perlu mengatakan itu sebelum kembali sibuk.


"Ini bukan permintaan dari Yang Mulia, tapi ... memang misi kami dari Raja Ruleorum." kata Balduino menegaskan.


"Apapun itu, aku tetap berterimakasih ... seharusnya aku lebih baik lagi denganmu saat disekolah." kata Cain membuat Balduino tersenyum.


"Kau bahkan tidak menyapa ...." kata Dokter Mari yang datang disamping Cain.


"Cih!" Cain dengan wajah kesal tapi langsung diserang oleh Efrain, "Aku bisa sendiri!" Cain protes pada Dokter Mari yang membantunya menahan Efrain.


Sebuah lingkaran dengan simbol sihir Ruleorum muncul dibawah Tan, Teo dan Tom berada.


"Sudah terjadi ya ...." kata Heather yang barusaja muncul langsung disuguhi pemandangan tidak menyenangkan.


"Maaf, Heather ... tapi aku tidak bisa hidup tanpa mereka." kata Felix lewat pikiran.


"Tuan Muda ... suatu kehormatan saya dipilih untuk melakukan ini." kata Heather.


Banks menutup mata Teo dan Tom, sementara Tan harus menjadi paling pertama untuk disembuhkan dulu bagian matanya. Kemudian yang lainnya, Banks baru berhenti setelah tubuh mereka tidak ada luka lagi yang terlihat. Sangat mudah menyembuhkan luka pada mayat daripada orang yang masih hidup dengan kekuatan penyembuhan Mundebris.


Efrain sendiri hanya mengira itu hanyalah untuk menghibur dan menenangkan perasaan Felix saja. Membuat penampilan mereka agar tidak menyeramkan lagi untuk dipandang. Tapi setelah Banks memberi tanda kalau semuanya sudah selesai. Barulah ekspresi Efrain mulai berubah karena melihat apa yang dilakukan Felix.


Felix meletakkan tangannya diatas tanah dan membuat es muncul menggambar lingkaran simbol sihir. Banks membantu mengangkat dan menempatkan Tiga Kembar diatas lingkaran yang telah dibuat masing-masing dan saling terhubung satu sama lain itu.


Heather berhadapan dengan lingkaran milik Tan, Balduino berhadapan dengan lingkaran milik Teo. Ibu Balduino berhadapan dengan lingkaran milik Tom.


"Aku senang Teo ... menjadi seseorang yang membuatmu hidup kembali, kau selalu baik padaku di sekolah ... aku hanya menyesal tidak bisa mengatakan rasa terimakasihku ini secara langsung." kata Balduino.


"Tanpa kau beritahu, dia pasti akan tahu ...." kata Felix, "Aku ucapkan terimakasih!" Felix menunduk didepan Balduino, ibu Balduino dan Heather. Tapi Felix mendapatkan balasan penghormatan yang lebih lagi membuat Felix lebih merasa bersalah lagi.


"Apa yang akan dilakukannya dengan Zewhit yang masih berada di dalam tubuh mereka. Aku sudah mengatur kalau Zewhit mereka tidak akan keluar setelah dibunuh." kata Efrain.


"Aku berterimakasih soal itu! karena itu, semuanya juga berjalan sempurna." kata Cain.


Felix dengan menutup mata memulai dari Tan, memegang mata Tan memunculkan sinar biru dari bahu Tan bekas gigitan Kelabang raksasa yang bekasnya tumbuh batu safir. Tubuh Tan perlahan mulai hangat kembali, setelah diperiksa oleh Banks, Felix melanjutkan pada Teo kali ini. Teo pun begitu setelah Felix berpindah dan merasakan dahi Teo yang hangat. Cahaya emas tertarik dari tangan Felix masuk kebawah telapak tangan Felix yang sedang memegang mata Teo.


Tanpa membuka matanya sedikitpun, Felix menuju Tom. Kembali memeriksa suhu tubuh Tom dengan memegang tangan Tom yang juga sudah hangat. Barulah Felix memegang mata Tom, kali ini cahaya putih yang bersinar.


Masih dengan menutup mata, Felix menuju satu-satunya lingkaran yang masih kosong.


"Panjang umur Yang Mulia Caelvita-119!" kata Heather, Balduino dan ibu Balduino bersamaan.


Felix mengubah penampilannya menjadi malaikat kematian masih dengan menutup mata. Menarik sesuatu di punggungnya, sebuah kunci besar. Felix menancapkan kunci dan memutarnya, itu membuat Heather, Balduino dan ibu Balduino kelihatan mulai mencair menjadi seperti air dibawah Jembatan Ruleorum dan tertarik memenuhi Tiga Kembar. Lingkaran simbol sihir es itu juga meliliti mereka bertiga saat masih dipenuhi cairan itu seperti sebuah tali yang mengikat.


Felix berbalik dan membuka matanya menatap Efrain. Kedua matanya tidak lagi berwarna hijau semua. Salah satunya kini berwarna merah.


"Dia memberikan nyawa Caelvitanya." kata Efrain menggeram marah.


Pakaian Ruleorum Felix berubah menjadi serba emas dan simbol sayap di mahkota berhiaskan emas juga terpasang diatas kepala Felix.


"Tuan Muda berhasil membangkitkan kekuatan Leaure." kata Goldwin dengan wajah berseri-seri.


"Dia sudah menguasai keempat kekuatan inti dari kerajaan besar di Mundebris, ini tandanya dia sudah menjadi Caelvita Resmi." kata Ratu Sanguiber.


"Tentu saja ... menyelamatkan mereka adalah inti dari peperangan ini, seperti sebuah takdir yang memang harus terjadi. Tanpa mereka untuk diselamatkan, untuk membangkitkan kekuatan Leaure yang sulit itu tidak akan bisa. Membangkitkan kekuatan Leaure harus dengan menyelamatkan jumlah yang tak terhingga, Iriana sendiri harus melakukan cara ekstrem dan strategi yang rumit agar bisa membangkitkan kekuatan Leaure. Tapi dengan memberikan nyawa Caelvita adalah hal sepadan untuk itu semua. Pada akhrinya ... Felix menjadi Caelvita Resmi harus dengan diawali dengan ketidakberuntungan. Meninggalnya mereka dan kehilangan nyawa Caelvita. Kurasa tidak ada Caelvita yang menderita seperti ini dan sangat tidak beruntung seperti ini selain Felix." kata Verlin.


"Kali ini aku akan membunuhmu dengan cara paling kejam! bahkan lebih kejam dari yang pernah kau lakukan selama ini pada semua korbanmu." kata Felix menatap Ted dengan kebencian.


...-BERSAMBUNG-...