UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.364 - Rumor Yang Memunculkan Keberanian



Tan dan Tom semalaman begadang menjaga kedua Zewhit itu yang ternyata tidak hanya diam pada targetnya saja tapi berkeliling menyebarkan rasa takut pada semua orang yang ada di sekolah.


"Kalau kau terus melakukan ini, bisa-bisa tidak akan ada yang tinggal di asrama dan bahkan seluruh sekolah akan kosong saat malam nantinya ...." kata Tan mencoba menghentikan Zewhit Badut yang terus menakut-nakuti petugas dapur yang sedang menyiapkan makanan untuk besok.


Zewhit Badut hanya berbalik tertawa pada Tan. Akhirnya Tan bukan lagi takut melainkan sudah muak dengan kelakuan itu, "Hahh ... sabar!" Tan mengelus-elus dadanya.


Sementara Tom tidak kalah muaknya juga dengan Zewhit Kurcaci saat ini. Bahkan hewan pun juga ditakut-takuti. Anjing peliharaan guru yang dibawa ke sekolah karena lembur juga diganggu.


Guru yang sedang lembur terpaksa harus pulang karena anjing peliharannya tidak berhenti mendengking seperti kesakitan kemudian menggonggong ingin mrlawan dan terus menerus menabrakkan dirinya pada pet carrier nya mencoba untuk kabur.


"Ckckck kau ini luar biasa!" kata Tom yang duduk disamping Zewhit Kurcaci.


Zewhit Kurcaci berteriak di depan wajah Tom untuk ditakuti tapi Tom juga melakukan hal yang sama berteriak lebih keras lagi membuat Zewhit Kurcaci langsung pergi.


"Mau kemana kau?!" teriak Tom.


Tanpa sengaja Tan dan Tom bertemu dengan wajah lesu, "Rasanya aku bisa ikut gila kalau terus mengikutinya ...." kata Tom.


"Jangan bilang ... lama-lama aku mungkin akan berubah menjadi Zewhit juga." kata Tan.


Suara Zewhit Badut dan Kurcaci terdengar. Tan dan Tom segera mengikuti suara Zewhit yang diawasinya masing-masing dengan berlari berlawanan arah.


Begitulah tugas jaga Tan dan Tom malam itu terus mengawasi kedua hantu yang tidak bisa tinggal diam walau hanya sebentar saja.


Pagi hari tiba dengan Teo yang berjalan dengan wajah segarnya yang hampir tidur sehari semalam. Sedangkan Tan dan Tom merasa kakinya akan terpisah-pisah karena terus berlari kesana-kemari tanpa henti tadi malam.


"Felix belum pulang?!" tanya Teo.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Teo itu.


"Aku tanya! Felix belum pulang?!" teriak Teo karena tidak suka diabaikan.


"Mana aku tahu! kita dari kamarnya bersama-sama. Bagaimana bisa aku lebih tahu darimu!" balas Tom dengan teriakan tidak kalah keras dari Teo.


"Kalau dia tidak ada berarti jelas belum pulang, Teo ... kenapa harus dipertanyakan lagi?!" kata Tan mencoba menahan emosinya dan berbicara dengan menggertakkan giginya.


"Kalian tidak khawatir terjadi sesuatu dengannya?!" kata Teo.


"Orang yang tidur nyenyak seharusnya tidak mengatakan hal itu!" kata Tom.


"Ya, kalau aku tahu Felix akan keluar ... aku juga akan keluar tapi bagaimana aku tahu?! aku kan dapat jadwal istirahat." kata Teo dengan nada menyebalkan, "Aw!" teriak Teo setelah ditendang oleh Tan dan Tom bersamaan.


"Kalau kau tidak diam, aku bisa saja tidak sadar akan membunuhmu!" kata Tom.


"Kau bisa saja tidak sadar aku sudah membunuhmu duluan!" balas Teo.


Situasi di sekolah menjadi ribut karena menggosipkan apa yang terjadi tadi malam. Masing-masing orang menceritakan pengalaman mereka. Ada juga yang dilebih-lebihkan dan ada juga yang dikurangi.


Banyak anak-anak yang ingin keluar dari asrama tapi karena sudah mau ujian semester maka ada yang mengurungkan niat juga untuk pulang karena nilai ujian lebih menakutkan lagi dari hantu jika bersekolah di Gallagher. Pulang ke rumah disaat akan ada ujian, sementara bisa terus belajar di sekolah saat pulang sekolah tanpa harus terganggu oleh perjalanan pulang ke rumah tapi bisa langsung belajar di perpustakaan dan makanan sudah disedikan oleh sekolah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda diri tidak belajar.


Sehingga rumor mulai beredar bahwa ada yang sengaja melakukan itu. Sengaja menakut-nakuti untuk membuat pesaing menurun.


"Lihat saja! aku akan membuat siapapun yang melakukan itu menyesal!" kata Demelza begitu bertekad karena dirinyalah yang merasakan gangguan itu lebih dari siapapun. Rasa takut Demelza pun mulai menghilang.


"Seharusnya kau mematuhi jadwal dan beristirahat jika waktumu untuk beristirahat!" kata Tan.


"Aku baru saja keluar! jam 4 subuh aku baru meninggalkan sekolah ...." kata Felix berbohong.


"Tapi penampilanmu sudah seperti ini?!" Tom tercengang melihat pakaian Felix yang compang-camping.


"Aku akan ke asrama mengganti baju, kalian duluan saja!" kata Felix buru-buru.


"Bau Felix jadi tercium seperti bau Zewhit Badut ...." kata Tan mengendus-endus Felix yang ditahannya untuk pergi.


"Itu karena kau terlalu lama bersama dengannya!" kata Felix melepaskan tangan Tan.


Felix sudah berlari pergi, "Tentu saja aku berbau Zewhit ... karena sudah terkurung 10 hari di ruang pikiran." Felix menyeringai, "Dia bahkan sudah bisa membedakan bau ... hebat juga kau Tan!"


"Bau apa?!" Tom heran.


"Entahlah ... seperti bau menyengat rempah-rempah yang dibakar begitu ... bagaimana cara menjelaskannya ya ... pokoknya begitulah ...." kata Tan heran sendiri, "Aw! kenapa kau memulku?!"


"Kau sudah gila ya?! mana ada bau seperti itu tertempel pada tubuh!" kata Tom yang habis memukul Tan tanpa merasa bersalah sama sekali.


Tiga Kembar sampai di lobby gedung sekolah tingkat SD setelah melewati jalan panjang dari asrama yang dirasakan lebih lama daripada sebelumnya menurut Tan dan Tom yang kakinya sangat sakit.


"Kalian terlalu sibuk belajar, ya?! sampai-sampai kaki kalian sakit!" kata Kayle yang muncul tiba-tiba.


"Mana ada kaki sakit karena belajar!" kata Teo menyipitkan matanya.


"Makanya ...." kata Kayle menggoyangkan bahunya.


"Ada apa?! pagi-pagi begini?!" tanya Tom.


"Aku tidak sabar bertemu dengan calon penerima beasiswa Universitas Yardley ...." kata Kayle yang melirik ke arah bagian penerima tamu yang sedang mengawasi.


Tiga Kembar menyadari itu mulai berjalan menjauh darisana agar bisa mengobrol dengan bebas.


"Felix sudah membantu menangkap 16 orang hilang dari Desa Quinlan termasuk anak kecil itu. Jadi ada apa lagi?!" kata Tan yang sebenarnya kurang nyaman jika selalu dikunjungi oleh Agen Y.B.I.


"Orang-orang terus meninggal di tempat lain, bukan hanya di satu tempat saja tapi hal itu terjadi hampir dimana-mana sekarang. Walau ada yang dirahasiakan dan belum diketahui kebenarannya tapi jika dihitung jumlah korban yang meninggal akan membuat seluruh dunia panik ... apa yang sebenarnya terjadi?! bagaimana cara menghentikan hal ini terjadi?!" kata Kayle.


Tiga Kembar saling pandang apa harus memberitahu Kayle soal gerbang neraka itu atau bagaimana. Karena bagaimanapun Kayle hanyalah manusia biasa berbeda dengan Cairo yang memang keturunan Aluias.


"Gerbang neraka! itu yang iblis coba buat ...." kata Felix yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka tanpa disadari.


"Felix tapi ...." Tom mencoba menghentikan.


"Tidak masalah ...." kata Felix santai tidak mempermasalahkan jika Kayle tahu.


"5 orang akan mati disetiap titik atau tempat. Jika berhasil maka setiap titik itu akan terhubung dengan titik lainnya dan mencipatkan gerbang neraka. Gerbang yang membuka jalan dari dunia kegelapan menuju dunia manusia ini ...." kata Felix yang membuat Tiga Kembar tercengang karena Felix menyebut sendiri Mundebris sebagai dunia kegelapan padahal dirinya sangat benci mendengar jika itu dikatakan dari mulut orang lain.


...-BERSAMBUNG-...