
Tan dan Tom tidak punya pilihan lain selain harus kembali ke Mundclariss padahal belum melakukan satupun kontrak dengan tanaman atau hewan. Karena terhalang harus mengikuti syarat dari hewan Albumus quamag cuthantis yakni tikus putih sebesar gajah yang menginginkan dibuatkan ramuan yang resepnya hanya ada di dalam buku ramuan tingkat menengah.
Untuk membuka buku ramuan tingkat menengah harus membuat ramuan yang diminta oleh sampul buku. Setelah dites kebenaran dari ramuan itu maka buku baru bisa terbuka.
"Apa untuk melakukan kontrak dengan satu hewan haruslah dengan banyak rintangan begini ...." keluh Teo.
"Membuka buku haruslah dengan ramuan, kemudian baru bisa membuat ramuan yang diinginkan oleh Albumus itu. Awas saja kalau harus menunggu hasil dari ramuan itu dulu baru mau melakukan kontrak." kata Tom mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Bukan hanya satu, tapi semua jenis Albumus quamag cuthantis. Sebenarnya melakukan ini sebandinglah ... coba bayangkan jika ada ratusan jenis dari Albumus itu, maka sebanding dong dengan semua kerja keras kita ... tidak ... malah kurang sebenarnya. Kita hanya perlu meyakinkan satu hewan untuk mendapatkan kontrak dengan seluruh jenis hewan adalah hal yang sangat mudah menurutku ...." kata Tan.
Teo dan Tom menatap Tan dengan tatapan memaki. Bahkan tanpa mengeluarkan kata makian dari mulut, tatapan mereka berdua sudah mewakili seluruh macam makian yang ada di Yardley.
"Felix dimana?" tanya Tan mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum pernah melihatnya datang ...." jawab Teo yang terus berada di Mundclariss.
"Kami kira, Felix akan datang menjemput sehingga kami bisa berlama-lama di Mundebris tapi dia tidak datang-datang juga jadi kami terpaksa harus kembali walau baru sebentar." kata Tom.
Tiga Kembar berusaha memanggil Felix lewat jaringan Alvauden tapi tidak ada jawaban.
"Jaringannya terbuka kok ... kenapa Felix mengabaikan panggilan kita?" tanya Teo.
"Apa sudah ada di kelas ...." kata Tom.
Tan, Teo dan Tom pergi ke kelas Felix tapi tidak ditemukan keberadaan Felix. Bahkan karena masih pagi jadi kelas masih kosong tanpa murid satupun juga.
Hari ini adalah pembagian hasil ujian, memang pembelajaran belum dimulai kembali jadi tidak perlu adanya absensi. Biasanya yang tidak hadir hanyalah anak-anak yang merasa nilainya kurang. Tapi Felix mendapat nilai tertinggi lagi dan naik ke kelas 6 dengan peringkat 1.
"Entah bagaimana ... tapi ayo kita tetap tepuk tangan walau Felix tidak ada disini." kata Pak Egan mengajak anak-anak tepuk tangan.
Tan dan Tom juga peringkat 1 di kelasnya sedangkan Teo mendapat peringkat 5. Setelah penerimaan hasil nilai ujian, biasanya akan ada acara yang diadakan di aula besar sekolah untuk menghibur murid yang lelah belajar untuk final, menghibur murid yang mendapatkan nilai buruk dan menyelamati murid yang mendapat nilai baik.
"Kita sudah kelas 6 ... tidak terasa ya ...." kata Teo.
"Setahun ini serasa berlalu begitu saja karena tidak ada Cain ...." kata Tan.
"Bukankah kita harusnya mencemaskan Felix?!" kata Tom menghentikan suasana melow mereka berdua.
"Dia juga sedang mendengarkan kita sekarang ... tapi mengabaikan kita. Tidak usah khawatir!" kata Teo kesal, "Bahkan aku lebih memilih kita menggunakan handphone saja untuk berkomunikasi. Setidaknya kan kalau tidak bisa dihubungi kita bisa menebak kalau jaringan sedang buruk atau kalau pesan tidak dibaca kan bisa dilihat kalau belum dibaca. Tapi ini jelas-jelas tidak ada masalah dengan jaringan, kita tahu betul juga kalau dia sedang mendengarkan ... menyebalkan sekali!"
"Ada apa?" akhirnya Felix muncul setelah omelan panjang Teo itu.
"Aku sedang memburu Iblis!" jawab Felix.
"Hahh?!" Tiga Kembar bersamaan.
***
Setelah meninggalkan Banks, Felix langsung menuju tengah kota dan memfokuskan diri untuk melihat aura Iblis. Setelah mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Cain sekarang membuat Felix merasa tidak bisa diam saja. Felix ingin memulai misinya untuk memberantas kejahatan yang disebabkan oleh Iblis dimulai dari pusat kota.
"Tidak boleh ada lagi manusia yang melakukan kejahatan karena ulah Iblis dan tidak boleh ada lagi yang dipenjara bukan karena kejahatan yang dilakukan melainkan karena tipu daya Iblis." Felix menggertakkan giginya.
Felix melihat warna aura jingga dibaluti oleh aura hitam, "Disana!" Felix mulai berlari menuju arah aura itu.
Pola Iblis susah ditebak setelah mereka berhasil menemukan kumpulan Iblis di stasiun kereta bawah tanah waktu itu. Memang kini pola permainan Iblis untuk membunuh berpindah ke desa tapi masih belum ada tanda-tanda mencurigakan setelah kejadian baru-baru ini. Jadi Felix memulai pencariannya dari titik awal lagi, yakni tengah kota.
Felix sampai di depan seorang manusia yang memiliki aura Iblis, "Kau ada di dalam sana kan?" tanya Felix menatap mata laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya menyeringai dengan gigi yang diperlihatkan dan mata yang melotot, "Yang Mulia!" sapanya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh manusia ini?" tanya Felix.
"Tidak melakukan apa-apa!" jawab Manusia yang sedang dirasuki oleh Iblis.
Felix yang bertemu laki-laki itu sedang lari pagi di taman. Untungnya taman itu masih sepi dan saat ini hanya ada dua orang disana. Felix menarik pedangnya dari punggung tapi baru setengah dan masih menempel di punggungnya, melihat itu Iblis langsung keluar dari dalam tubuh manusia itu. Felix ingin mengejar Iblis yang kabur itu tapi laki-laki yang barusan dirasuki tersungkur ke tanah.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Felix membantunya berdiri, "Apa ini ...." Felix yang memegang tangan laki-laki itu masih merasakan aura Iblis padahal setelah Iblis keluar dari tubuh manusia, aura Iblis seharusnya ikut menghilang bersama dengan Iblis yang datang. Felix menatap mata laki-laki itu dan membaca pikirannya baik-baik.
"Terimakasih sudah membantu!" kata Laki-laki itu, "Apa yang baru saja terjadi? saya pingsan? saya tidak ingat apa-apa padahal tadinya masih di pintu masuk taman tapi sudah sampai disini ...."
Felix hanya terdiam dan terus menatap mata laki-laki itu. Membuat laki-laki itu merasa tidak enak dan menawarkan akan memberi hadiah pada Felix yang menolongnya, "Adik, mau hadiah apa?"
Felix mengulurkan tangan kanannya, "Ucapan terimakasih sudah cukup." sambil tersenyum.
"Baiklah, terimakasih." Laki-laki itu menerima tangan Felix untuk bersalaman, "Hahh ...." setelah bersalaman Laki-laki itu menghela napas begitu lega, "Perasaan apa ini?"
"Bahkan jika hanya sekedar dirasuki saja bisa membuat pikiran seseorang berubah. Pikiran buruk yang selama ini dipendam dan diabaikan, setelah dirasuki oleh Iblis semuanya langsung muncul ke permukaan dan membuat seseorang bersemangat untuk melakukannya. Memang benar jika Iblis tadi tidak melakukan apa-apa. Tapi dengan kehadirannya saja di dalam tubuh manusia sudah seperti virus. Tidak sengaja didapatkan dimana tapi setelah masuk kedalam tubuh akan merusak tubuh perlahan-lahan dan mengakibatkan hal buruk pada orang lain juga. Ini tidak bisa dibiarkan ... jika terus begini Mundclariss akan hanya dipenuhi oleh orang-orang jahat saja." kata Felix dalam hati mulai meninggalkan laki-laki tadi yang mulai melanjutkan lari paginya.
"Inilah kenapa saat kejadian di stasiun waktu itu aku tertipu. Walau iblis telah keluar dari dalam tubuh manusia, akan tetap tertanam virus dari iblis itu. Dan Virus ... adalah hal yang menular, tidak akan berhenti hanya dengan memakan satu korban saja ...." Felix melihat laki-laki tadi sudah menjauh.
...-BERSAMBUNG-...