UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.475 - Perburuan Harta Karun Terakhir Masa SD Part 3



"Iya, berbeda ...." kata Tan yang setuju setelah membandingkan dengan petunjuk pertama yang disimpannya.


"Benarkah?!" Teo juga mengeluarkan petunjuk pertama, "Bagiku sama saja ...."


"Perhatikan baik-baik!" kata Tom.


"Sudah! mataku sudah melotot, tapi sama saja." kata Teo.


Tan dan Tom menyerah juga setelah lama menjelaskan detail kecil yang menjadi perbedaan itu. Tapi Teo tetap mengatakan tidak ada perbedaan sama sekali.


"Sebenarnya ini apa?! jalan?! atau apa ... hanya dua garis panjang." Teo terus membolak-balik kertas petunjuk.


"Kita masih butuh tambahan petunjuk, karena sudah tahu kalau petunjuk tidak terlihat langsung melainkan tersembunyi seperti itu. Sepertinya aku harus kembali dari awal memeriksa lagi ...." kata Tan tidak puas karena kepribadiannya yang perfeksionis maka merasa ada yang kurang dari yang dilakukannya, "Pencarianku belum sempurna."


"Aku juga." kata Tom setuju.


"Berterimakasihlah denganku, berkat aku yang menemukan petunjuk ... kan kalian juga jadi tahu seperti apa tempat petunjuk itu." kata Teo.


"Iya ... iya ... nanti aku belikan minuman di tempat pengelola perkemahan, kulihat disana ternyata ada kafe." kata Tan.


"Nanti aku yang belikan kue." tambah Tom.


"Sejak kapan berterimakasih dengan memberika sesuatu, aku tidak butuh itu. Yang kubutuhkan hanya kata saja ...." kata Teo.


"Benarkah?! kalau begitu lebih bagus lagi dong ... kau cuma mau kami mendengar kata terimakasih? terimakasih kalau begitu. Kukira kau lebih suka kalau diberi sesuatu." kata Tom.


"Terimakasih Teo, aku bisa hemat kalau begitu." kata Tan.


Teo sudah mendapatkan apa yang ia mau, tapi rasanya ada yang janggal, "Ternyata kekuatan sebuah kata tidak sebanding dengan barang." Teo menyesalkan dirinya tidak menerima tawaran traktiran Tan dan Tom.


Teo selesai makan siang, walau makan di bawah meja tapi Teo tetap lahap dan menambah makanan, "Wah, napsu makanku akhir-akhir ini luar biasa ...." Teo juga heran dengan dirinya sendiri.


"Okey, jadi ... kita mulai lagi! Pak Egan sudah ... kalau aku adalah Ms. Latoya, aku akan menyembunyikannya dimana ya ...." Teo memulai lagi penyelidikannya dengan menganggap dirinya sebagai yang menyembunyikan, "Kalau Ms. Latoya sepertinya hanya akan menaruh di tempat yang sering didatanginya saja ... dengan selalu memakai sepatu hak tinggi mana bisa berjalan jauh atau menyembunyikan disegala tempat." akhirnya Teo menuju tempat yang paling sering didatangi oleh Bu Latoya yakni kafe yang ada di lobby kantor pengelola perkemahan.


Teo ke kantor pengelola perkemahan yang ada di depan atau kalau Teo lebih memilih menyebutnya rumah pemilik perkemahan. Karena desain dan interiornya tidak seperti kantor pada umumnya. Sampai disana, Teo kesulitan memeriksa petunjuk karena ada banyak pegawai pengelola. Sementara dirinya sendiri sedang tidak bisa terlalu fokus saat ini.


Tan yang kembali menyisir daerah bagiannya untuk mencari belum mendapatkan hasil. Bahkan sudah kembali ke tempat semula saat terakhir berhenti, tapi tidak melihat adanya petunjuk. Tan sudah membongkar apapun yang kelihatan mencurigakan tapi tidak ditemukan apa-apa.


Setidaknya Tom mendapatkan satu petunjuk karena kebetulan. Saat tersandung batu, Tom melihat ada sesuatu yang terkubur di dalam tanah. Tidak dalam tapi hanya dibagian permukaan tanah saja. Seakan sengaja untuk cepat dan mudah ditemukan, "Pasti Pak Egan ...." Tom asal menebak saja.


Tom membuka petunjuk tapi masih dengan pola yang sama. Dua garis panjang yang disebut jalan oleh Teo itu, "Berbeda ...." Tom memperhatikan dan menyadari kalau ada lagi perbedaan dari petunjuk sebelumnya. Cara tarikan garis yang putus-putus, "Apa ini digambar oleh anak TK?!"


"Gambar anak TK lebih bagus darimu." kata Teo menyindir.


"Tapi karena itu juga ... kita bisa menyadari perbedaan antara masing-masing petunjuk. Bayangkan kalau gambarnya terlalu bagus, tidak ada garis yang putus-putus. Bagaimana kita tidak bisa menyadari perbedaannya?!" kata Tan selalu mengambil sisi positifnya.


Teriakan demi teriakan terus terdengar, menandakan banyak anak-anak yang terus tertangkap seiring waktu berjalan.


"Petak umpet dengan guru yang mencari, tidak ada hal lain yang dilakukan selain hanya bersembunyi ... harusnya sudah banyak yang curiga." kata Tan.


"Felix ...." Teo memanggil.


"Tidak mau." balas Felix datar.


"Kau sangat mudah ditebak, pasti memintaku untuk mencarikan petunjuk karena sudah terdesak." kata Felix.


"Makanya ... kau tahu betul sahabatmu sedang menderita, seharusnya kau tolong tapi kau abaikan." kata Teo mendramatisir.


"Menderita darimananya?! memangnya kau mengumpulkan kayu bakar sendirian?! tidak kan! kau belum makan siang?! sudah kan! mana yang membuatmu menderita?!" kata Feliix.


"Hahh ... lama sekali dia ngambek." keluh Teo dalam hati, "Kalau ngambek juga dia jadi ingat semua kesalahan ....."


"Kalau kau takut anak-anak sudah curiga, maka cepat-cepat cari petunjuk! permainan petak umpet soal waktu. Semakin waktu berlalu pasti semakin banyak yang sudah tertangkap. Sehingga gerakan kecil dan suara kecilpun akan mudah dilihat kalau tinggal sedikit peserta yang akan dicari." kata Felix hanya berjalan tidak jelas di dalam hutan.


"Aku sudah mencari di kafe ... bahkan seluruh lantai satu tapi tidak menemukan apa-apa. Sepertinya kita semua harus mencari sama-sama disini." kata Teo.


"Bagaimana dengan Osvald dan Demelza?! kenapa tidak ada kabar dari mereka ... jangan bilang, mereka belum mendapatkana petunjuk satupun." kata Tom.


"Tom, aku juga belum mendapatkan petunjuk." kata Tan tertawa kecil.


"Mungkin ditempatmu memang tidak ada petunjuk." kata Tom.


"Dengan petunjuk yang begitu banyak ditemukan Felix di dalam hutan, pasti petunjuk yang ada disini hanya sedikit. Petunjuk pertama saat mengambil kayu bakar sama seperti saat kelas tiga dilakukan untuk mengungkapkan dengan mudah perburuan hartu karun telah dimulai. Sehingga petunjuk yang ada di perkemahanlah pelengkapnya. Kalau kita tidak mendapatkan semua petunjuk disini, akan terjadi pertumpahan darah." kata Tom setelah beberapa saat berlalu.


"Pertumpahan darah?! jangan berlebihan!" kata Tan tertawa, sudah lama tidak mendengar Tom menjadi drama queen.


"Tentu saja! kalau petunjuk terbagi-bagi ... tidak ada cara lain selain harus merebutnya dari orang lain yang menemukan." kata Teo setuju dengan Tom.


"Ow, bikin kaget saja!" kata Tan mengira kalau bayangan yang mendekatinya adalah guru.


Ternyata itu adalah Dallas, "Kau bersembunyi disini rupanya ...." kata Dallas buru-buru memasukkan secarik kertas ke dalam sakunya.


"Dallas punya petunjuk." kata Tan lesuh melaporkan lewat Jaringan Alvauden.


Dallas sendiri hanya sekedar menyapa Tan kemudian cepat-cepat pergi darisana dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh guru yang sedang mencari.


"Sudah kuduga ... pasti sudah banyak yang mendapat petunjuk. Sehingga kita tidak menemukan apa-apa lagi." kata Teo.


"Tidak, pasti masih ada. Petunjuk kali ini lebih sulit ditemukan dibandingkan dari sebelum-sebelumnya." kata Tom.


"Walau begitu, kita harus bersiap kalau benar begitu. Aku percaya diri bisa melawan anak-anak seangkatan kita sendirian." kata Teo sombong.


"Maksudmu kau mau bertarung dengan teman seangkatan kita yang hanya manusia biasa dan hanya anak usia 13 tahun?! kau sudah gila ya?!" kata Tan mengira kalau Teo sudah kehilangan akal sehatnya karena perburuan harta karun.


"Aaaaaaaa!" teriak Teo.


"Kau keluar Teo!" kata Pak Egan begitu riang berhasil menemukan Teo.


"Hahh?! bapak bisa melihat saya?!" tanya Teo begitu panik.


"Tentu saja, apa maksudmu?! kau pikir tidak terlihat begitu?!" Pak Egan tertawa.


...-BERSAMBUNG-...