UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.332 - Bergerak Sendiri



Tiga Kembar meninggalkan Desa Quinlan saat subuh. Sedangkan Cairo masih tetap tinggal berjaga sampai matahari benar-benar sudah terbit.


Tiga Kembar bertemu Felix di stasiun kereta di Kota Pippa, "Kau juga sudah kembali ...." sapa Tan.


"Em." sahut Felix terlihat tidak bersemangat.


"Pakaianmu kelihatan bersih dan tidak ada yang robek. Jadi apa yang membuatmu lesuh begini?" tanya Teo memeriksa seluruh tubuh Felix.


"Awas!" Felix menarik Tom.


"Ada apa?" tanya Tom heran tapi beberapa detik kemudian ada motor dengan kecepatan tinggi lewat, "Ow ...." akhirnya Tom mengerti, "Hanya ingin bertanya saja ... apa aku luka parah karena motor tadi?" tanya Tom kemudian.


"Entahlah ... aku hanya melihat sampai kau dilarikan ke rumah sakit." jawab Felix.


"Hahh?! sampai segitunya?! tidak bisa dibiarkan!" Tom mengeluarkan smartphonenya dan mulai menghubungi polisi melaporkan plat motor tadi yang mengambil jalan pintas di trotoar untuk melintas.


"Eeeey kau ini keterlaluan. Lagipula kau tidak terluka juga kan. Pasti ada alasannya kenapa dia terburu-buru begitu juga ...." kata Teo.


"Aku hampir masuk rumah sakit bodoh!" teriak Tom.


"Hampir, tidak terjadi juga kan! apa masalahnya?!" teriak Teo.


Disaat adu mulut Teo dan Tom masih terus berlanjut Tan mulai mengikuti Felix yang sudah mulai berjalan lagi, "Tidak terjadi apa-apa dengan Tom tapi di ingatanmu pasti tetap tertinggal. Bagaimana kecelakaan itu terjadi, bagaimana parahnya luka Tom, bagaimana ekspresi kami saat membawanya ke rumah sakit. Semua itu tertinggal di ingatanmu tapi kami bahkan akan melupakannya beberapa hari kemudian karena tidak terjadi apa-apa. Tidak adil rasanya ...." kata Tan merasa bersalah, selama ini Felix sudah mencegah banyak kecelakaan kecil sampai kecelakaan besar terjadi pada mereka bertiga, "Meski tidak terjadi tapi trauma itu pasti akan terus membekas selamanya ...." lanjutnya dalam hati.


"Lebih menyebalkan lagi jika hal itu benar terjadi ...." kata Felix.


"Cain pernah bilang kalau ingin agar asrama sekolah bisa segera ditempati karena kemampuanmu itu. Katanya dari semua kekuatanmu dia paling benci itu. Di panti bahkan kau sulit untuk tidur nyenyak karena mencegah banyak kejadian sebelum terjadi. Apa kau tidak bisa menutup matamu dan membiarkannya terjadi saja?!" kata Tan.


"Aku sudah menahannya semampuku. Hanya yang parah saja yang kucegah ...." kata Felix.


"Benarkah? kudengar tagihan teleponmu membengkak karena terus menelepon panti ...." kata Tan menyeringai.


Felix tersentak menahan langkahnya karena ternyata Tan mengetahui hal itu. Tapi Felix melanjutkan berjalan lagi mengabaikan Tan.


***


FT3 memulai aktivitas pagi hari di sekolah lagi seperti biasanya. Tapi karena adanya Cairo ikut berjaga, jatah tidur Tiga Kembar menjadi bertambah.


"Akhirnya tidur terpanjangku tadi malam setelah sekian lama ...." kata Teo.


"Bahkan mungkin hanya beralaskan tanah saja aku bisa tidur nyenyak." kata Tan.


"Bahkan saat hujan sekalipun pasti aku akan tetap tidur." kata Teo.


"Itu berlebihan ...." kata Tom menggeleng-geleng tidak habis pikir.


"Felix dimana?" tanya Tan.


"Aku tidak tahu, saat pelajaran berakhir dia langsung keluar kelas." jawab Tom.


"Aku mulai senang karena akhir-akhir ini dia sudah mulai ceria lagi tapi dalam sekejap dia kembali murung lagi. Kembali menjadi dirinya seperti biasa lagi ...." kata Tan.


"Wajar saja dengan apa yang akan terjadi, kita hanya perlu maklum saja." kata Tom.


"Aku bahkan tidak takut atau tersinggung lagi kalau dia marah dan meninggikan suaranya ...." kata Teo sudah terbiasa dijadikan pelampiasan amarah Felix.


"Walau dia marah sekalipun kita harus tetap disampingnya ...." kata Tan.


Bunyi handphone mereka bertiga bersamaan berbunyi mendapatkan notifikasi.


"Ada apa kak?" tanya Tan.


"Warga desa yang dari liburan sudah kembali semua. Tapi ada yang langsung mau bunuh diri setelah sampai rumah. Setelah kuselidiki dia adalah keluarga salah satu orang yang hilang itu." balas Cairo.


"Sepertinya kita harus mengekspos kuburan itu ...." kata Tan.


"Bagaimana caranya? apa kita pura-pura saja menggali harta karun, begitu?!" kata Teo.


"Ada bagusnya juga itu terekspos, setidaknya desa akan ramai oleh polisi dan wartawan." kata Tom.


"Menurutku Iblis ini tidak suka melakukannya secara terang-terangan. Dia membunuh secara diam-diam dan bahkan menggunakan cara yang tidak biasa sehingga hampir membuat kita tertipu juga kalau ini hanya kasus biasa. Kira-kira iblis mana ya yang bertanggung jawab melakukan misi di desa itu?" kata Tan memikirkan bahwa ternyata ada iblis yang cerdas juga melakukan sesuatu seperti bukan pekerjaan iblis tapi seperti perbuatan tangan manusia.


"Nanti Felix juga akan kesana membaca pikiran. Jadi nanti kita bicarakan lagi ...." Tom menutup obrolan grup.


***


"Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk perkemahan sekolah." kata Felix pada Mertie yang baru saja berbalik kaget dan membuat Mertie batuk mengeluarkan semua minuman dimulutnya mengenai wajah Felix.


"Kau sengaja melakukan ini kan?!" Felix menyeka wajahnya.


"Makanya ... jangan langsung datang tiba-tiba tanpa suara seperti hantu!" kata Mertie.


"Ini alamatnya!" Felix menyerahkan kertas.


"Jauh sekali! ini di luar kota ...." kata Mertie.


"Hutan di kota ini sekarang tidak aman." kata Felix.


"Kau yakin ini luas? bisa menampung seluruh tingkat SD? kita ada ribuan, kau tahu itu kan?" tanya Mertie.


"Bahkan lebih luas dari semua tempat perkemahan yang selama ini ...." kata Felix.


"Kau masuk disini di kelas tiga! kau tidak tahu tempat sebelumnya bagaimana ...." kata Mertie menyela perkataan Felix yang membandingkan tanpa data yang jelas.


"Yang jelas ... tempat itu aman!" kata Felix mulai pergi.


"Kau jadi lembek begini?! ada apa?! kemana taringmu?! atau kau tiba-tiba berubah dari singa menjadi kucing penakut?!" teriak Mertie pada Felix yang tidak membalas bahkan setelah diusili tadi.


Felix tidak perduli, hanya terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun, "Aku bahkan kehilangan kekuatanku untuk marah sekarang ... seluruh tubuhku seperti bergerak sendiri tanpa aku perintahkan, sementara pikiranku sedang sibuk dengan hal lainmya." kata Felix yang sebenarnya ingin ke tempat tenang sehingga bisa fokus berpikir tapi dia tidak bisa melakukan itu. Aktivitasnya sebagai siswa terus berjalan sementara otaknya berlari mencari solusi.


Pulang sekolah, kelas ribut karena berita yang beredar di internet. Pengumuman penghentian batasan pulang malam akan berakhir besok. Semuanya akan kembali seperti semula lagi.


"Itu tandanya kita akan terlambat bergerak lagi ...." kata Tan.


"Karena tidak ada kejadian secara terang-terangan oleh iblis lagi makanya pembatasan jam pulang diberhentikan juga. Kita akan kecapean karena sampai malam lagi belajar kemudian lanjut melakukan misi yang tidak tentu bisa membuat kita tidur kemudian aktivitas esok kembali terulang lagi. Bisa jadi kita mati karena kelelahan! mati muda .... hahahaha." kata Teo membuat Tan tidak bisa menahan tawanya.


"Ayo kita ke kelas Felix dan Tom!" ajak Tan.


"Aku bahkan masih mengkhawatirkan soal tinggi badanku karena kurang tidur ...." keluh Teo sambil mengeluarkan susu dari dalam tasnya.


"Lama-lama kau akan kecanduan kalsium!" kata Tan yang memeriksa isi tas Teo yang penuh susu dan obat yang mengandung kalsium.


"Kurang tidur bisa membuat pendek tahu!" Teo meminum susu tiga kotak sekaligus.


...-BERSAMBUNG-...