UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.79 - Burung Hantu Putih



Felix masih ingin berkeliling dalam istana tapi mengingat waktu yang telah berlalu, ia sudah melewatkan hari liburnya, "Eh mau kemana kalian?" Felix heran melihat batu melayang tiba-tiba pergi, "Aku keluar darisini bagaimana?"


"Makanya sudah aku bilang jangan sembarangan bilang, semua yang ada di istana ini bisa mendengar perkataan kita bahkan juga pikiran." jawab Iriana.


"Jadi bagaimana?"


"Apalagi Ponito yang sangat sensitif ...." kata Iriana.


"Aw!" Felix terkena batu kecil, "Siapa itu?" tanya Felix tapi batu kecil yang mengenainya berjalan sendiri kembali menyatu dengan batu yang lainnya.


"Itu Iriana yang bilang kenapa aku yang kena!" teriak Felix.


"Karena sudah tidak bisa mengenaiku makanya dia melampiaskannya padamu!" kata Iriana tertawa.


Setelah lama membujuk Ponito untuk membentuk jalan agar Felix bisa kembali akhirnya mau juga tapi jarak batu dengan batu lainnya dibuat jauh membuat Felix kesusahan harus melompat, "Kalau jatuh ke bawah ... apa yang akan terjadi?" tanya Felix istirahat sebentar dan duduk diatas batu.


"Kau hanya akan kembali ke Mundclariss tapi dengan terjatuh dari langit ...." kata Iriana.


"Seandainya istana ini bisa dilihat orang lain bisa dibuka untuk umum Sky Diving ...." kata Felix langsung membuat Ponito menyatukan diri, "Apa ini? kalian ingin aku cepat pergi?" Felix tertawa kecil karena jalannya jadi tidak sulit.


"Jangan bilang kamu hanya tidak ingin aku cepat pergi makanya membuat rintangan seperti tadi ...." Felix menggoda.


Ponito malah langsung melayang dengan cepat mengantar Felix ke pintu utama, "Eh ... hey ... tidak usah malu-malu! Aw!" Felix masih saja usil akhirnya terkena pukulan Ponito lagi.


"Aku pergi ya!" Felix pamit.


"Haha ... kau tidak perlu pamit! aku dan istana ini selalu terhubung denganmu ...." kata Iriana membukakan pintu.


Keluar dari istana terlihat Cain yang sudah dipenuhi bunga-bunga dan peri kecil sibuk menata mahkota bunga di atas kepala Cain. Sedangkan Goldwin dan Banks hanya asyik bercerita.


"Tuan Muda mau mahkota bunga juga?" tanya seorang peri kecil membawakan setangkai bunga.


"Tidak ... tidak!" Felix langsung menolak dan mulai menertawai Cain yang seperti duduk di atas kasur bunga, "Kau mau ditanam lagi?" tanya Felix pada bunga yang dipegangnya.


"Eng ...." bunga itu lama berpikir, "Boleh!" katanya.


"Biar kami Tuan Muda yang menanamnya kembali lagi nanti!" kata peri kecil yang lainnya.


***


Felix dan Cain jadi tidak menikmati hari liburnya dan langsung ke sekolah padahal perasaan baru kemarin mereka pulang sekolah. Bahkan masih memakai seragam yang sama tanpa tidur mereka langsung berangkat untuk naik bus pertama di Desa Navaeh.


"Sampai jumpa lagi!" Cain melambaikan tangan pada Banks saat hendak naik bus.


"Karena pohonmu sudah aman sekarang, kau bisa santai melakukan hal lain yang ingin kau lakukan selama ini." kata Felix melalu pikiran Banks.


"Terimakasih Yang Mulia!" Banks mulai ikut melambaikan tangannya juga.


Diperjalanan, Felix dan Cain melihat dari jendela ada dua orang yang berjalan dengan wajah datar ditengah salju yang turun dan pakaian mereka juga terbilang tipis, "Apa mereka tidak dingin?" tanya Cain.


Tak lama terlihat ada mobil yang terparkir dijalan dengan pintu mobil terbuka, "Apa mobilnya mogok?" tanya Felix.


"Itu!" seru Felix dan Cain bersamaan saat melihat burung hantu putih besar yang pernah membawa Magdalene dulu. Segera ditekannya tombol agar bus diberhentikan membuat sopir bus heran karena tidak ada halte sama sekali. Tapi Felix dan Cain hanya langsung berlari turun dari bus tanpa menghiraukan sopir bus yang mengkhawatirkannya.


"Hei! Hei!" teriak Felix dan Cain pada burung hantu putih itu.


"Kukira hanya karena dekat dengan Istana Emerald jadi bisa merasakan keberadaan Tuan Muda ternyata memang benar Tuan Muda ada disini!" kata Burung Hantu itu.


"Disini sedang terjadi sesuatu seperti perbuatan Penyihir Salju Tuan Muda ... menghipnotis seseorang dan membuatnya jadi tersesat dijalan adalah keahlian mereka." jawab burung hantu putih itu mengabaikan pertanyaan tentang Magdalene.


"Tadi ada dua orang yang sedang berjalan di depan ...." kata Felix membuat burung hantu putih itu langsung bergegas terbang.


Felix ikut mengejar, sementara Cain mengambil jaket yang ada didalam mobil untuk dua orang tadi dan mulai ikut berlari juga. Felix kemudian melihat kedua orang tadi tergeletak di tanah tidak sadarkan diri. Cain yang juga baru datang ikut membangunkan orang tadi.


"Kenapa kami bisa ada disini?" tanya perempuan berkaos warna putih.


"Iya ... bagaimana kami bisa ada disini?" tanya laki-laki yang juga baru sadar.


Felix tidak menjawab pertanyaan mereka dan Cain hanya langsung memberikan jaket.


"Tuan Muda, saya pamit pergi dulu!" teriak burung hantu putih yang terbang dengan membawa seorang perempuan yang mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kaki burung hantu putih itu.


"Sebenarnya siapa dia?" tanya Cain ketika mengantar kedua orang tadi kembali ke mobilnya.


"Siapapun dia, dia sudah bekerja keras sekali!" jawab Felix.


Kedua orang tadi seperti tidak ingat apa-apa setelah kembali ke mobilnya dan hanya langsung menyapa Felix dan Cain dengan ceria seakan tidak ada yang terjadi.


Di tengah perjalanan terdengar berita di radio yang mengatakan banyak orang tersesat ditengah salju dan mengalami kecelakaan.


"Magdalene, jika tidak segera dijemput oleh burung hantu putih itu pasti juga melakukan kejahatan seperti tadi kan?" tanya Cain.


"Semoga saja banyak yang seperti burung hantu putih itu yang bisa mencegah Zewhit melakukan kejahatan dan menolong banyak orang." kata Felix.


***


Sampai di sekolah ... Tan, Teo dan Tom menunggu di depan pintu gerbang masuk sekolah dengan bola salju ditangan mereka masing-masing. Merasakan bahaya, Felix dan Cain saling tatap dan kemudian berlari tapi langsung juga dikejar oleh tiga kembar. Felix dan Cain juga tidak berusaha menghindari bola salju dan membiarkan dirinya terkena.


"Kalian ini darimana saja sih?" tanya Teo.


"Tidak sedang melakukan misi berbahaya lagi kan?" tanya Tom.


Felix dan Cain menatap Tan.


"Apa?" tanya Tan.


"Kau tidak bertanya?" tanya Felix.


"Bertanya apa?" Tan balik bertanya.


"Kau tidak mengkhawatirkan kami?" tanya Cain.


"Dalam rangka apa?" kata Tan membuat Felix dan Cain langsung menangkapnya dan menjatuhkannya ditanah disusul Teo dan Tom yang menaburkan salju diatas mereka bertiga.


Pak Acton menarik Felix, Cain dan Tan hanya dalam sekali tarikan dan membuat merek bertiga langsung berdiri, "Sudah, berhenti bermain dan masuk kelas sana!" kata Pak Acton mulai membersihkan salju pada pakaian mereka.


Mereka berlima menurut dan mulai berjalan masuk tapi tak lama berbalik dan melempari Pak Acton dengan bola salju, "Semangat bapak!" teriak mereka berlima dan Pak Acton tersenyum lebar tidak sesuai dengan wajahnya yang seram.


Saat berjalan, di lapangan terlihat ada Mertie yang sedang berhadapan dengan Geng Halle.


...-BERSAMBUNG-...