UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.504 - Main Keroyokan



"Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Tan.


"Jangan bertanya padaku!" jawab Tom.


"Hanya kau yang ada disini, mau bagaimana lagi." kata Tan.


"Kalau begitu, ayo kita selamatkan dia dulu supaya kau punya teman mengobrol." kata Tom.


Tan dan Tom sebenarnya dalam mode panik tapi ini bukanlah pertama kalinya bagi mereka dalam situasi seperti ini. Jadi, mereka tahu bagaimana cara mengatasi panik yaitu dengan bercanda.


Saat Tan dan Tom akan menyelamatkan Teo, "Maaf pak ... eh professor kah?" kata Teo memegang lehernya yang sakit karena habis dicekik. Teo berhasil melepaskan diri dengan memunculkan Moshasnya memukul kepala Peneliti itu dengan bagian tumpul Moshas.


"Kau bisa melepaskan diri dengan mudah, kenapa tidak dilakukan daritadi?! kau bisa mati kalau lama dicekik!" kata Tan.


"Bukan waktu yang tepat kau mengomeliku! lagipula ... jangan menyalahkan metodeku! aku punya style sendiri dalam bertarung ataupun melindungi diri." kata Teo.


"Astaga ... kakinya terluka seperti itu, bagaimana bisa dia berdiri?!" kata Tom ngeri melihat kaki dari salah Penumpang kereta yang dekat dengannya tadi.


"Mereka sedang tidak dalam keadaan sadar, lebih tepatnya mereka saat ini sedang dirasuki oleh Zewhit ataupun Iblis ataupun keduanya." kata Tan.


"Beruntung kalau kebanyakan adalah Zewhit ...." kata Teo.


"Kita tidak pernah seberuntung itu ...." kata Tan mengingatkan.


"Tunggu, kalau begitu ... yang itu!" kata Tom menunjuk Peneliti yang tadi mencekik Teo, "Eh, kemana dia?!"


"Berarti dia dirasuki iblis karena aku tadi memegang tangannya saat dia mencekikku dan dia tidak apa-apa." kata Teo.


Tan, Teo dan Tom mulai mendekat membuat segitiga saling membelakangi dengan senjata sudah siap sedia.


"Kita tidak bisa melawan mereka juga ... bagaimanapun juga mereka hanyalah manusia biasa yang dirasuki." kata Teo sudah ragu bahkan setelah membayangkan apa yang terjadi kalau tidak melawan.


"Selamatkan dirimu dulu sebelum memikirkan keselamatan orang lain." kata Tom.


Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang yang tidak bisa dilihat sosoknya itu resmi memulai serangan. Ada sekitar ratusan orang yang ada disana melawan tiga anak manusia.


"Tidak adil, tapi ini Efrain ... jadi aku sudah terbiasa!" kata Teo memutar Moshasnya untuk menyerang dengan bagian tumpulnya saja agar tidak melukai. Tapi tentu saja itu tidaklah cukup untuk menghentikan serangan orang-orang disana.


"Kita tidak ingin melukai tapi untuk menghentikan mereka, kita tetap harus melukai atau setidaknya mematahkan tulang mereka." kata Tom.


"Kejam sekali kau mengatakan itu!" kata Teo.


Tapi ucapan Teo itu menjadi bumerang, karena hidung Teo keluar darah akibat dipukul oleh seseorang dengan tinju yang luar biasa mematikan.


"Apa-apaan?! apa dia petinju?!" Teo protes dan mulai terpaksa kasar juga karena hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan dan melindungi tubuh manusia yang sedang dirasuki.


"Bagaimana nanti kalau mereka sadar?! hahh ... ini akan menjadi peristiwa besar." kata Tan sudah memikirkan masa depan.


"Fokus! kita bisa saja tidak bisa hidup sampai itu terjadi." kata Tom.


"Tapi kuakui, tempat pertempuran ini ... sangatlah strategis! menggunakan kota mati ...." kata Teo.


Tan, Teo dan Tom tidak bisa juga asal menyentuh orang-orang disana karena sedang menggunakan gelang Alexandrite yang bisa melukai orang-orang yang dirasuki oleh Zewhit.


"Bisa saja Zewhitnya keluar ...." kata Teo ingin mencoba.


"Jangan! kita tidak boleh mengambil resiko menggunakan nyawa orang sebagai taruhan." kata Tan.


"Tidak, Felix sudah memperingatkan untuk tidak melepas gelang ini apapun yang terjadi." kata Tan yang kemudian setelah berbicara merasa kesadarannya hilang sebentar karena terlempar oleh tendangan seseorang.


Teo dan Tom juga mengalami hal yang sama. Teo terlempar ke arah tempat lubang misterius berada. Menghancurkan penghalang plastik dan hampir terjatuh masuk ke dalam lubang kalau tidak sigap.


Sedangkan Tom berada di dalam toko yang kacanya terlihat rusak, "Biar kita perjelas! kau yang merusaknya! aku tidak akan ganti rugi karena kaulah yang melemparku hingga kaca itu rusak." Tom bangun dengan tubuh serasa sakit semua tapi ditutupi dengan lelucon karena sedang berhadapan dengan lawan yang tangguh, "Kau siapa?! Ditte kah?! keluarlah! jangan pengecut dan bersembunyi di dalam tubuh orang lain!" Tom melihat warna aura di dalam kalungnya untuk memastikan yang didepannya memang adalah iblis.


Tan merasa kalau kakinya sakit, "Aku mohon hanya terkilir saja! jangan patah disituasi seperti ini!" dengan berusaha berdiri.


"Itu cara yang buruk untuk mendorong seseorang masuk ke dalam jurang, jangan lakukan lagi!" kata Teo juga sok kuat kembali bangkit.


Tiga Kembar berusaha sebaik mungkin untuk terlihat tegar dalam situasi itu. Tapi jelas bahwa mereka akan kalah, bukan hanya satu yang menyerang mereka tapi diserbu oleh banyak sekaligus.


"Dasar main keroyokan!" kata Teo yang ditarik dan dipukul sana-sini.


Dan seperti yang sudah diduga oleh Tan, kalau Zewhit tidak akan keluar dari dalam tubuh manusia yang dirasuki itu. Melainkan luka bakar terlihat muncul pada tubuh yang dirasuki oleh Zewhit kalau menyentuh mereka. Tapi tidak membantu sama sekali, karena mereka tidak merasakan sakit. Hanya terus menyerang sampai luka sudah sangat parah sekalipun tidak diperdulikan.


"Wah, berhenti memukulku! Kau juga akan terus terluka!" teriak Teo tapi tidak diperdulikan.


Tan, Teo dan Tom sudah dikerumuni dan dipukuli habis-habisan. Sangat menyedihkan karena mereka hanya diserang dengan tangan kosong tapi kewalahan karena ragu juga melukai mereka.


"Karena musuh terbesar dalam pertarungan ini adalah hati nurani sendiri." kata Tan menyalahkan diri sendiri tapi juga kagum disaat bersamaan, "Dan kebanyakan yang menang dalam sebuah pertarungan adalah mereka yang siap membuang hati nuraninya."


Tiba-tiba ada sebuah gelombang udara yang sangat dingin, bersamaan dengan itu orang-orang yang dirasuki itu kelihatan tertarik paksa jatuh bersamaan dengan mendaratnya seseorang yang sangat familiar.


"Verlin?!" seru Teo dengan wajah penuh luka begitu bahagia melihat Verlin datang.


"Mereka hanya keluar kalau tubuh manusia yang dirasuki ini mati." kata Verlin membantu Tan bangun.


"Itu artinya ...." kata Tan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Mereka semua harus dibunuh barulah kita bisa berhadapan dengan wujud asli musuh kita yang sesungguhnya." kata Verlin.


"Mereka semua?!" Tan tidak tega melihat terlalu banyak yang akan menjadi korban.


"Tidak ada cara lain! walaupun kau membuat mereka hidup, selamanya yang merasuki itu akan tetap berada di dalam tubuh orang itu. Karena mereka melakukan kontrak yang mengikat, bukan dirasuki biasa saja. Itu adalah kekuatan yang diciptakan oleh Ruleorum, wajar kan jika aku membenci kaumku sendiri yang selalu bereksperimen terhadap kekuatan baru sehingga banyak yang disalahgunakan juga." kata Verlin.


"Jadi, maksudmu ...." Tom mendekat.


"Kita harus membantai mereka!" kata Zeki yang membantu Teo berjalan.


"Kukira kita akan melawan Zewhit dengan dunia pikiran tapi ternyata ...." kata Teo langsung duduk setelah sampai di dekat yang lainnya.


"Itu nanti kalau mereka keluar dari dalam tubuh orang-orang ini ...." kata Zeki.


"Jadi, ini baru pemanasan ...." kata Tom menggigit bibirnya kesal tidak habis pikir.


"Jangan lemah! mereka menggunakan manusia karena tahu kalian tidak akan melukai mereka. Dan benar saja ... kalian hampir mati karena dikeroyok tanpa melawan. Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai kalau kita berhasil membuat mereka keluar semua." kata Zeki.


"Maksudmu ... kita harus membunuh mereka semua?!" Tan hampir menjatuhkan Telloppernya karena gemetaran dengan mata sudah menahan air mata untuk menetes.


"Kita tidak boleh kalah sebelum bertarung, kan?!" kata Verlin.


"Ayo, Alvauden baru! tunjukkan semangatmu!" kata Zeki maju paling depan terlihat akan memimpin serangan.


...-BERSAMBUNG-...