
"Hanya karena saya Caelvita baru belum tentu saya tidak punya pengetahuan tentang setengah Sanguiber, terlebih lagi hanya karena saya murid ibu ... jangan pikir saya akan dengan mudahnya percaya dan patuh pada ibu!" kata Felix lewat pikiran membalas perkataan Bu Farrin tanpa menatapnya.
"Jangan bilang begitu ... ibu jadi merasa sakit hati, padahal selama ini ibu selalu membantu tanpa kau ketahui sejak sekolah disini!" kata Bu Farrin sambil tersenyum miring.
"Membantu?" Felix jadi tertawa.
Cain hanya menatap Felix dan Bu Farrin penasaran apa yang mereka bicarakan. Walau terdengar ada sedikit kata yang didengar oleh Cain karena pengendalian Felix yang masih kurang tapi tidak bisa ditebak apa maksudnya karena tidak bisa didengar secara keseluruhan.
Semua murid kini akhirnya pulang setelah dibubarkan oleh Pak Egan.
"Kau mengirim kelinci itu ke Bemfapirav kan?" tanya Cain.
Felix hanya mengangguk membuat Cain bertanya kembali karena sedang tidak melihat Felix, "Aku kan sudah mengangguk!" kata Felix kesal.
"Mana aku tahu! memangnya aku ini menatapmu terus?!" balas Cain sewot.
"Ehhemmm ...." Tan berdehem dari belakang membuat Felix dan Cain jadi berhenti.
Teo dan Tom setelah menerima sinyal dari Tan datang menengahi mereka berdua.
"Aku peringatkan ya! aku sudah muak melihat kalian bertengkar!" kata Tan.
"Memangnya kami bertengkar karena mau?!" kata Felix.
Teo dan Tom ingin memukul kepala Felix tapi tangan Cain sampai lebih dulu, "Aw!" Felix terdiam setelah mengelus-elus kepalanya dan Cain sudah berlari duluan.
"Awas saja kau kalau tertangkap!" Felix ikut mengejar.
"Tch ... mereka itu!" kata Tom dengan menyipitkan mata.
***
Mereka setuju untuk menginap di Rumah Daisy dan berakhir harus membereskan kekacauan yang ditinggalkan Daisy.
"Aku ingin sekali membantu, tapi tidak bisa ... maaf!" kata Lia merasa tidak enak melihat mereka terlihat sangat kelelahan sehabis pulang sekolah tapi harus beres-beres lagi.
Cain hanya menghela napas kesal dan menjatuhkan dirinya diatas sofa, "Aku istirahat sebentar ... 1 menit!" katanya.
"Enak saja! ayo bangun cepat!" Teo dan Tom memukul Cain dengan bantal.
Hampir tengah malam dan mereka baru bisa menyantap makan malam dengan mata sudah setengah tidur. Teo beberapa kali menjatuhkan sendoknya dan Tom daritadi tidak menarik-narik sendok dari dalam mulutnya. Akhirnya Tan menyadarkan kedua kakaknya itu dan segera menghabiskan makan malam dengan cepat.
Tanpa basa-basi Teo dan Tom segera menjatuhkan diri diatas kasur langsung tertidur pulas. Tan memberi selimut dan ikut berbaring disamping mereka berdua. Sama halnya dengan Cain yang sudah berada di alam mimpi. Lain dengam Felix yang malah bangun dan langsung bergegas keluar rumah.
"Yang Mulia mau kemana malam-malam begini?" tanya Lia.
"Kalau mereka mencariku, bilang saja pada Cain aku ke sekolah!" jawab Felix buru-buru pergi.
"Iriana?!" Felix memanggil.
"Em?" sahut Iriana.
"Apa ada cara untuk pergi ke tempat yang ingin dituju dengan cepat?" tanya Felix.
Segera Felix langsung mendatangkan gerbang emeraldnya, "Ada apa Tuan Muda?" tanya Marsden.
"Minta dia untuk mengubah dirinya menjadi gerbang Leaure!" perintah Iriana yang langsung dikatakan oleh Felix juga.
"Tuan Muda hendak kemana? apa sedarurat itu harus memakai gerbang Leaure?" tanya Marsden.
"Perasaanku tidak enak ...." jawab Felix langsung membuat Marsden mengubah dirinya menjadi gerbang emas dengan suara dentingan besi keras.
"Tuan Muda hanya perlu mengatakan akan kemana dalam hati!" kata Marsden saat Felix mulai memasuki gerbang.
Tak lama Felix langsung tiba di halaman sekolah dan ingin segera masuk ke Bemfapirav, "Tunggu!" kata Iriana.
"Ada apa?" tanya Felix membuka matanya lagi.
"Aku tahu sekarang apa yang membuat perasaanmu tidak enak, kalau ingin masuk ke Bemfapirav ... tarik peralatan yang ada dibelakangmu yang seperti ikat pinggang!" kata Iriana.
Felix segera menarik dan memasang ikat pinggang emerald yang memang sudah siap, tinggal ditarik dari sisi kanan dan kiri untuk dipasang dan mulai masuk ke Bemfapirav. Setibanya disana, Felix berada di sebuah kerumunan orang yang seperti sedang berpesta dengan gelas minuman masing-masing ditangan mereka. Hanya saja minuman yang berada di gelas itu jelas-jelas adalah darah. Felix berkeliling melihat perkumpulan itu yang memakai jubah merah dengan wajah tidak terlalu kelihatan karena tudung kepala mereka.
"Mereka ini apa?" tanya Felix.
"Yang akan selalu menjadi masalah setiap generasi Caelvita adalah perkumpulan Setengah Sanguiber!" jawab Iriana.
"Apa donatur sekolah Gallagher ada hubungannya dengan mereka?" tanya Felix, "Sekarang tidak menjadi pertanyaan lagi bagaimana sekolah bisa mendapat banyak sumbangan untuk pembangunan serta fasilitas sekolah ...."
"Itu adalah tugasmu mulai sekarang, tapi perlu aku beritahu ... menghadapi setengah Sanguiber tidak bisa dilakukan jika kau tidak memanggil Optimebris sebagai garis depan prajurit terbaik dan peperangan dengan perkumpulan setengah Sanguiber tidak pernah tidak memakan korban banyak ... dan dari korban itu banyak Viviandem berbakat akan gugur ...." kata Iriana membuat Felix jadi sakit kepala.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Felix jadi duduk diantara kerumunan itu dengan Setengah Sanguiber yang berjalan menembusnya. Felix menyadari hal itu dan mulai bertanya. Iriana juga langsung menjawab pertanyaan itu, "Guna ikat pinggang itu tidak seperti pelindung lainnya yang hanya sebatas membuat tidak terlihat tapi membuat tidak terdeteksi juga seperti pelindung Leaure dan bahkan lebih dari itu ... namanya adalah Idibalte." kata Iriana.
Felix hanya diam mendengar penjelasan itu dan tak lama ada sebuah tangan memegang bahunya membuat ia langsung terperanjat kaget, "Bagaimana ada yang bisa melihatku? Heh ... Cain?" kata Felix mulai melihat Cain dengan jelas dan senyuman khasnya, "Bagaimana kau bisa ada disini? tidak ... apa yang kau lakukan disini! disini berbahaya ... tapi bagaimana kau bisa melihatku?" tanya Felix jadi heboh sendiri.
"Perlindungan ini tidak berlaku bagi Alvauden, mereka bisa menemukan kita dengan mudah ... tapi hebat juga dia sudah bisa menggunakan garis pelindung juga ...." kata Iriana.
"Bukan saatnya memuji sekarang!" kata Felix kesal.
"Em? kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Cain.
"Kau tidak perlu tahu! sekarang pergi darisini terlebih dahulu! perintah Felix dan langsung menarik Cain pergi dari kerumunan itu.
"Bukannya kau ingin mencari keberadaan kelinci tadi?" tanya Cain saat ditarik oleh Felix.
"Sepertinya ini salahku ingin melindungi mereka tapi berakhir malah membuat mereka masuk perangkap ... hahh ... harusnya setelah aku membuka jalan ke Bemfapirav dan merasakan hal aneh ... harusnya aku segera masuk kesana dan mencari mereka tapi aku juga tidak bisa karena ada Teo, Tan dan Tom ...." Felix melepaskan tangan Cain dan mulai memukul kepalanya sendiri kesal.
Cain hanya senyam-senyum sendiri mendengar Felix yang sedang merasa bersalah.
"Hem?" kata Felix melihat ekspresi Cain itu.
"Ah, Haha ... tadi aku langsung ingin bilang tapi kau sibuk berbicara sendiri ... jadi ya ...." kata Cain membuat Felix jadi diam menunggu lanjutan, "Aku bertemu mereka tadi ... kelinci yang tadi, mereka semua selamat!"
...-BERSAMBUNG-...