UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.75 - Bertemu Sahabat Lama



"Antar kami ke pohon yang dijaga Banks!" perintah Felix.


Goldwin terlihat ragu-ragu tapi akhirnya mengiyakan juga. Memasuki hutan tapi bukan hutan karena tidak dijumpai banyak pohon lagi. Saat ini pun mereka sedang berjalan di sebuah lahan yang pohonnya terlihat habis terbakar.


Ada anak-anak yang sedang bermain padahal sedang malam hari ... bersama kakek dan nenek yang sedang membakar jagung, "Ow kalian bukan dari sini kan? ada apa datang kesini?" tanya nenek itu.


"Ada-ada saja padahal cuaca lagi dingin begini!" kata Goldwin geleng-geleng.


"Kami sedang mencari tumbuhan untuk penelitian di sekolah!" jawab Felix.


"Ow begitu ... kan sedang musim dingin! kalaupun cuaca sudah hangat pun disini sudah jarang ada tumbuhan ... padahal dulu disini pohon begitu tumbuh subur tapi entah kenapa 10 tahun belakangan jadi begini ... begitupun dengan perusahaan yang masuk ke desa, ada saja yang membuat perusahaan tidak jadi dibangun tapi sekarang ... hah ... aduh jadi keasyikan cerita, bagaimana kalau kalian singgah dulu disini makan jagung bakar bersama kami ada sup hangat juga untuk menghangatkan tubuh kalian pasti kedinginan!" kata Nenek.


"Kami mendapat tugas untuk mencari tanaman yang bisa bertahan walau di musim dingin ...." jawab Felix asal.


"Tapi kenapa mencarinya malam-malam begini? mencurigakan sekali!" kata kakek.


"Jadwal pulang sekolah kami memang malam Kek, jadi mau tidak mau harus pulang sekolah baru bisa mencari ...." jawab Cain meyakinkan.


"Bukannya anak seumuran kalian masih SD?" tanya Nenek itu.


"Iya Nek!" jawab Cain.


"Biasanya kan cepat pulang kalau masih SD?" tanya kakek itu yang sedang menambahkan batu bara di pemanggangan.


"Sekolah kami peraturannya berbeda!" jawab Felix.


"Wah ... kalian pasti lelah sekali padahal masih SD dan sudah belajar sampai malam ...." kata Nenek yang menyemprotkan Torch Gun.


"Hehe ... kami pamit dulu!" kata Cain mencegah obrolan semakin panjang.


Anak-anak yang seumuran dengan mereka terlihat asyik memanjat pohon tapi kemudian anak yang memanjat tadi langsung terjatuh membuat Kakek dan Nenek mereka berlari menghampiri.


Felix datang ke pohon itu setelah anak tadi dibawa oleh Kakek Neneknya untuk dirawat. Felix memegang ranting pohon yang hampir patah tadi dan tak lama ranting itu langsung bersatu kembali, "Kau sengaja membuat anak tadi jatuh kan?" tanya Felix pada Nucusno yang bersandar di pohon.


Nucusno yang berwajah lebah itu hanya memasang wajah datar, "Yang Mulia datang ...." jawabnya malas.


"Aku sedang mencari Banks! kau tahu pohonnya dimana?" tanya Felix.


"Yang Mulia tidak bisa menemuinya sekarang!" kata Nucusno lebah.


"Ada apa?" tanya Cain.


"Banyak yang sedang berkumpul untuk menebang pohonnya sekarang!" jawab Nucusno lebah.


"Kalau begitu bisa kau buat mereka berdua tidak terlihat supaya bisa mendekati Banks? Tuanku ini Leaure! kau bisa mengisap energinya!" kata Goldwin sambil menunjuk-nunjuk Cain.


Cain hanya tersenyum kecut, "Kalau begini, saja ... baru dianggap tuan!"


"Baiklah! sekalian dapat poin juga dari Caelvita ...." Nucusno lebah itu setuju dan mulai berdiri.


"Tapi ... satu hal! jangan buat orang terluka lagi!" kata Felix memperingatkan.


"Kalau mereka tidak menyentuh pohonku, aku juga tidak akan melukai mereka!" jawabnya ketus.


Felix menghela napas kesal dan menatap Goldwin.


"Baik, Tuan Muda!" kata Goldwin mengerti tatapan Felix.


"Memangnya ada apa?" Cain kebingungan sendiri.


Goldwin menyuruh Cain berlutut dengan mengulurkan tangan, saat Cain sudah sejajar dengannya. Goldwin langsung menancapkan kukunya pada jari telunjuk Cain, "Aw! untuk apa ini?" kata Cain terkejut.


Felix memegang tangan Cain dan mengoleskan darah Cain pada batang pohon, "Apa-apaan kalian ini?" tanya Cain tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Terimakasih!" kata Nucusno lebah menunduk pada Cain.


"Eh?!" Cain hanya memasang wajah melongo.


"Kau tidak ingat? darahmu pernah dijadikan sebagai perisai pelindung toko saat di Mundebris?" kata Felix.


"Setidaknya pohon ini akan terhindar dari para penebang pohon untuk sementara!" Goldwin melanjutkan.


"Hahh ... kalian ini memakai darahku sesuka hati begini ... sepertinya aku harus membuat asuransi untuk setiap tetes darahku ...." kata Cain membuat Felix tertawa.


Nucusno lebah itu kemudian memegang pundak Felix dan Cain yang masih tertawa dan tak lama tubuh mereka berdua menjadi tak kasat mata.


"Wah! aku jadi tidak bisa melihat tanganku!" kata Cain.


"Ini bekerja sampai berapa lama?" tanya Felix.


"Agak lama! karena saya menggunakan kekuatan tadi dengan mengisap energi Leuare!" jawab Nucusno lebah.


"Bagaimana caranya melakukan hal seperti ini?" tanya Cain penasaran karena kekuatan seperti ini sangat berguna dipakai menyusup.


"Ini kemampuan dasar iblis ... bukankah Leaure juga punya kekuatan seperti ini? bahkan lebih kuat dari ini?" jawab Nucusno lebah.


"Oiya!" Cain jadi lupa kalau dia bisa membuat garis pelindung.


"Kau tidak pusing?" tanya Goldwin pada Cain yang sebenarnya bertujuan untuk menghentikan pertanyaan konyol Cain yang bisa membuatnya lebih malu.


Cain hanya menggeleng-geleng sambil mengingat-ingat.


"Namamu?" tanya Felix sebelum pergi.


"Hadwin, Yang Mulia!"


"Sampai bertemu lagi Hadwin!" kata Cain melambaikan tangan.


"Dia itu terlalu sensitif ... untuk melindungi pohonnya dia bahkan melukai kalau ada yang berani menyentuhnya ... dan jika ada yang berani mengambil buah dari pohonnya tanpa meminta dulu akan dibuat sial selama sehari ...." kata Felix sambil berjalan.


"Tuan Muda membaca ingatannya? dia pasti mengalami banyak hal sulit ... apalagi hanya pohonnya yang masih bertahan saat pohon lainnya sudah ditebang ...." kata Goldwin.


Suara mesin sedang menyala membuat Felix dan Cain bergegas, tapi sampai disana terlihat Banks kesusahan melindungi pohonnya dengan seluruh tubuhnya agar tidak bisa ditebang.


"Yang Mulia!" sapa Banks riang tapi terdengar sangat kelelahan.


Felix dan Cain mulai berjalan melewati banyak orang yang sedang menonton dan memegang alat masing-masing untuk menebang pohon ... tapi tak ada yang melihatnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Felix.


Banks hanya mengangguk sambil memaksa tersenyum saja dan masih menahan mesin gergaji dengan perutnya sementara Goldwin hanya bisa melihat dari jauh. Banks melihat kedatangan Goldwin seperti mendapat kekuatan dan mulai berdiri mengumpulkan kekuatan. Gergaji mesin itu kemudian patah.


Saat Banks mulai lega seorang dukun mulai datang menggelar tikar dan meletakkan banyak peralatan kemudian mulai komat-kamit dan membunyikan lonceng.


Cain mulai meraba tangannya untuk menggigit jarinya sendiri dan mengoleskan darahnya pada pohon. Banks yang melihat itu senang dan bisa bernapas lega dan mulai duduk bersandar di pohon.


"Wahai sang penjaga pohon ... biarkanlah kami menebang pohon ini untuk membangun sebuah perusahaan besar yang akan berguna bagi masa depan negeri ini!" kata dukun itu sambil berteriak.


"Kalau aku biarkan, aku bisa dipecat ... hehe!" jawab Banks membuat Cain tertawa.


Felix yang merasakan kesedihan dibalik candaan Banks tidak bisa ikut tertawa. Dia mulai berjalan ke arah dukun itu dan duduk tepat berhadapan dengan dukun itu kemudian memegang bahu dukun itu, "Nek, pohon ini tidak akan bisa ditebang! suruh semuanya pulang sebelum semua yang terkait dengan penebangan pohon yang ada disini akan aku buat sial 7 generasi!" Felix mengancam.


Dukun itu mendengar dan langsung berlari ketakutan.


"Memangnya kau bisa melakukan itu?" tanya Cain.


"Tentu saja ... tidak bisa!" kini Felix sudah bisa tertawa.


Dukun itu menjelaskan apa yang didengarnya tadi tapi tiba-tiba ada seseorang yang memakai setelan jas berlutut dihadapan pohon Banks, "Tolong ... kami sudah kehabisan waktu dan harus segera memulai pembangunan ... kalau tidak, saya akan dipecat dan istri serta anak saya akan tinggal dijalanan ...." sambil memohon dengan kedua tangan.


Banks hanya memukul kepalanya sambil menghela napas, "Hahh ... tau deh!" kata Banks menyandarkan kepalanya.


Felix mulai kesal dan berjalan menuju laki-laki itu tapi Goldwin lebih dulu sampai. Goldwin langsung mengubah bentuknya menjadi singa kemudian mengaum kencang membuat gelombang udara panas dan mencarikan salju. Para penebang pohon dan karyawan perusahaan langsung melarikan diri darisana.


Felix membuka jaketnya karena langsung berkeringat.


"Lama-lama kau nanti membuatku tuli!" kata Cain.


"Mereka beruntung aku tidak membakarnya dengan api!" kata Goldwin.


"Sudah lama ya!" sapa Banks.


...-BERSAMBUNG-...