
Tapi lama menutup mata tidak terjadi apa-apa membuat Tiga Kembar penasaran dan terpaksa membuka mata sedikit untuk memeriksa apa yang telah terjadi. Kenyataannya mereka sudah kembali lagi di sekolah dan dunia Zewhit ternyata sudah menghilang.
"Kita sudah keluar!" seru Teo membuka maskernya untuk bisa bernapas dengan bebas.
"Berarti mereka sudah bangun juga!" kata Tom yang langsung duduk karena kakinya sangat kelelahan setelah berlari.
"Setidaknya kalian berdua! ada yang bisa diajak bekerjasama dan mengobrol. Sedangkan aku hanya sendiri ...." kata Tan masih belum bernapas normal.
"Felix, kemana sebenarnya?!" tanya Teo.
"Ya, kemana dia?!" sahut Tan dan Tom yang juga mencari keberadaan Felix.
"Kenapa mencariku?!" tanya Felix yang tiba dengan tiga botol air minum.
"Kau tidak lihat bagaimana tadi?! kedua Zewhit itu ... tidak! HANTU KURANG AJAR itu dengan sengaja mau kami menjadi target!" kata Teo heboh saking kesalnya sudah tidak mau menyebut istilah Mundebris yang membuat hantu terdengar keren itu.
"Harusnya tiga larangan yang kau jelaskan itu bukan untuk kami saja tapi kau katakan pada mereka berdua juga." kata Tan yang biasanya jarang mengeluh juga mengungkapkan pendapatnya.
"Tiga larangan itu mereka yang menjelaskannya padaku, asal kalian tahu saja. Mereka lebih tahu dari siapapun soal dunia Zewhit." kata Felix.
"Lalu, kenapa?!" Tom bingung kenapa diperlakukan seperti tadi.
"Kau tidak melihatnya?! bukankah katanya kau mengawasi dari jauh?! sebenarnya sejauh apa?! apa sampai kau tidak bisa melihat kami?!" kata Teo sarkastik.
"Aku lihat kok! mungkin terkesan kalau mereka ingin membuat kalian disentuh oleh para target tapi sebenarnya itu murni hanya untuk para terget. Karena pagi sudah mulai tiba maka mereka juga harus menyesuaikan dengan rencana untuk mempercepat gangguan ekstrem sebagai ******* sebelum bangun. Tapi karena ada kalian masuk sebagai tamu yang bukan target pastinya tidak termasuk dalam rencana mereka juga ... maka mau tidak mau, mereka hanya melakukan seperti biasa saja. Sulit menciptakan hal baru di dunia Zewhit! dan aku juga tidak bisa memaksa mereka mengatur ulang semuanya hanya karena mengkhawatirkan kalian. Jadi, bagaimana?! kalau kalian mau berhenti masuk tidak apa-apa. Kalian juga sudah tahu bagaimana rasanya di dalam dunia Zewhit, rasanya itu sudah cukup." kata Felix.
"Apa iya begitu?!" kata Tom masih belum percaya dan merasa memang ada unsur kesengajaan tadi.
"Seperti yang kukatakan, itu hanya perasaanmu saja!" kata Felix.
"Kalau tidak ada unsur kesengajaan berarti tidak ada alasan bagi kami untuk mundur." kata Tan.
"Sudah kuduga ...." kata Felix dalam hati, "Kalau begitu beristirahatlah ... nanti malam akan menjadi malam yang berat lagi. Kalian sudah tahu kan bagaimana rasanya disana, walau sebagai penonton tapi rasanya akan sama seperti menjadi target karena ikut tersiksa juga. Coba bayangkan kalau menjadi target?! pasti akan lebih berat lagi, kalian hanya jadi penonton tapi sudah mengeluh ... lagipula kedua Zewhit itu tidak akan sengaja membuat kalian menjadi target kecuali kalianlah yang memang sengaja mau. Kalian mengerti apa maksudnya kan?!" kata Felix memperjelas.
"Kecuali kami terbawa perasaan dan membantu target." kata Tan mengerti apa yang dimaksud oleh Felix karena tadi dia sempat hampir menolong Demelza karena kasihan.
***
Tiga Kembar yang kelelahan tidak tidur malam dan terus berlari di dunia Zewhit langsung tidur saat kepala menyentuh bantal. Saat bangun sudah sore lagi, tandanya mereka harus bersiap lagi untuk masuk dunia Zewhit yang menyebalkan itu.
Tan, Teo dan Tom mengeluhkan seluruh tubuhnya sakit semua sambil berjalan menuju ruang makan. Bahkan mereka tidak sempat sarapan dan langsung tidur tadi. Sore hari baru sempat makan menandakan mereka hanya makan satu kali sehari. Karena harus sudah bersiap lagi memasuki dunia Zewhit.
"Apa mereka sanggup?!" tanya Felix memandang dari kejauhan.
"Padahal dulu mereka sangat ingin bisa ikut bermain di dunia pikiran ... sekarang setelah merasakannya sendiri pasti niat itu sudah hilang." kata Felix.
"Kalau mereka ikut menjadi target, semuanya akan berubah. Bukan hanya berakibat buruk bisa membunuh mereka di dalam sana tapi juga bisa ikut membahayakan target yang bukan Alvauden dan tidak tahu apa-apa itu. Setidaknya Alvauden punya senjata dan pengetahuan yang cukup untuk bertahan hidup, tapi mereka berdua?! dunia pikiran bukanlah tempat untuk bermain, tapi tempat bagi mereka yang putus asa untuk meraih kembali semangat hidup. Itulah alasan kenapa dunia pikiran diciptakan dan Zewhit diberi akses bisa menciptakan dan menggunakannya, semata-mata untuk memberi alasan untuk para Zewhit menemukan semangat untuk hidup meskipun sebagai Zewhit. Entahlah Caelvita berapa yang memulai, tapi itu menandakan bahwa sesayang itulah kita pada Zewhit atau mereka yang telah meninggal ...." kata Iriana.
"Kudengar ada yang ingin mencoba bunuh diri tapi setelah memasuki dunia pikiran, pikiran buruk itu langsung hilang ...." kata Felix.
"Ya, banyak ... bukan hanya untuk Zewhit saja tapi untuk yang bukan Zewhit pun akan mendapatkan pengalaman hidup yang berharga disana. Setelah berhasil keluar mereka akan menjadi orang yang berbeda dan tahu bahwa setiap masalah ternyata ada solusinya tapi banyak juga yang gagal keluar dan pastinya menyesal, kenapa harus masuk kesana menyia-nyiakan hidup." kata Iriana.
"Dunia pikiran memang cara tercepat untuk mati ...." kata Felix.
"Penggunaan katamu juga, agak sedikit ...." kata Iriana kurang nyaman.
"Terserah aku! toh aku yang mengatakannya ... memangnya, aku harus memikirkan bagaimana perasaanmu dulu? kenapa aku harus menyesuaikan apa yang nyaman kau dengar sedangkan tidak nyaman kukatakan. Lucu sekali! lebih baik aku yang nyaman mengatakan apapun yang aku mau!" kata Felix.
"Itu namanya egois!" kata Iriana.
"Egois itu nama lain dari menyayangi diri sendiri. Memangnya apa di dunia ini yang lebih baik dari itu?!" kata Felix.
"Caelvita itu tidak boleh egois." kata Iriana.
"Untuk memperdulikan orang lain, pertama-tama harus mengutamakan diri sendiri dulu. Kalau diri sendiri tidak sehat, tidak akan bisa menyelamatkan orang lain juga. Intinya, mengutamakan diri sendiri adalah bentuk dari rasa peduli yang tinggi bukannya egois. Tentunya kita harus hidup kaya dulu supaya bisa membuat orang lain ikut kaya juga ... bukankah begitu sistemnya?!" kata Felix.
Iriana hanya bisa memaksakan tertawa, "Pemikiranmu selalu saja unik, tidak bisa ditebak!"
"Aku juga banyak belajar setelah masuk dunia pikiran dan sepertinya juga mulai merasakan perbedaannya ... aku jadi bisa berpikir lebih tenang dalam segala situasi dan solusi juga bisa cepat bisa kudapatkan." kata Felix.
"Kau dulu selalu menganggap dunia pikiran itu adalah hal buruk dan berbahaya tapi sekarang ... pendapatmu itu sudah berubah kan?!" kata Iriana.
"Tapi, meski begitu ... aku masih belum bisa mengikutkan mereka menjadi target. Aku hanya ingin mereka terbiasa merasakan atmosfernya saja dunia Zewhit seperti apa sehingga tidak kaget saat perang sesungguhnya nanti." kata Felix.
"Bukankah lebih baik kalau mereka mencobanya juga sekarang?!" tanya Iriana.
"Tidak, aku tidak bisa mengambil resiko itu. Mungkin memang lebih baik kalau mereka juga ikut latihan tapi sangat berbahaya ... apalagi ada orang lain yang ikut tidak tahu apa-apa yakni Osvald dan Demelza." jawab Felix.
"Apa yang membuatmu yakin kalau mereka bisa melakukannya dengan baik nanti tanpa latihan sekarang?!" tanya Iriana dengan nada menantang.
"Karena disana nanti ada orang yang kupercaya ... Cain!" jawab Felix penuh percaya diri.
...-BERSAMBUNG-...