
Felix yang sebenarnya ingin ke kantor Aluias mengecek keberadaan Franklin tapi berpapasan dengan Cain dan Tiga Kembar terlebih lagi ada Petugas Anjing yang ikut bisa berkomunikasi dengan kantor pusat. Maka Felix tidak perlu lagi kesana dan kembali ke Rumah Verlin.
"Sebenarnya hanya perkiraanku saja ... tapi menurutku hal inilah yang terjadi!" kata Cain saat Felix datang duduk disampingnya.
"Kau tidak bersalah ...." kata Felix sudah tahu apa maksud dari Cain karena dirinya juga memikirkan hal yang sama.
"Aku bodoh sekali tidak menyadari jatuh ke dalam perangkap!" kata Cain.
Tan, Teo dan Tom yang dari melihat Verlin dan Zeki ikut duduk di halaman bersama Felix dan Cain.
"Bagaimana mereka?" tanya para Rumput.
"Keadaannya sangat parah!" sahut Tan.
"Tidak mengherankan bagaimana mereka tadi bertarung ... sudah seperti dibantai!" kata Rumput.
"Aku tidak habis pikir bagaimana dia bisa menyerang sahabatnya sendiri!" kata Teo.
"Rasanya mustahil! coba kalian pikirkan ... Verlin, Zeki dan Efrain kan ibaratkan kita tapi menurut kalian apa kita bisa saling menyerang dan menyakiti sampai separah itu? walau memang sudah lama tidak bertemu tapi ...." kata Tom.
"Kita tidak usah ikut campur dalam masalah Alvauden sebelumnya! yang perlu kita fokuskan sekarang adalah bagaimana cara menyelamatkan Kiana ...." kata Felix tidak ingin Alvauden nya mengkhawatirkan hal yang bisa saja terjadi pada mereka suatu saat nanti.
"Aku hanya berharap, Kiana bisa beruntung dan tidak menjadi korban permainan itu!" kata Teo.
"Jangan mengharapkan sesuatu jika tidak berusaha! setelah berusaha barulah kita bisa berharap ... ayo kita berangkat!" kata Felix.
"Tapi kalian ingat kan kata Zeki ...." kata Tan.
"Targetnya adalah orang yang tidak beruntung!" sahut Cain.
"Dan Kiana adalah salah satunya ... jadi kita tidak boleh bersantai mengharapkan Kiana tidak akan dipilih!" kata Tom.
"Tapi itu juga bisa menjadi jalan kita untuk menang!" kata Felix.
"Pasti Efrain dan Franklin ada diantara para calon korban yang tidak beruntung itu!" kata Cain.
Cain segera memunculkan Jam Junghans nya dan mengaturnya, "Apa aku panggil Goldwin supaya kita bisa kembali ke panti?" tanya Cain karena dia tidak bisa berteleportasi.
"Tidak usah! malah lebih bagus kita bisa mencari langsung di tengah kota!" kata Felix.
"Apa kebanyakan calon korban ada di kota?" tanya Teo.
"Setidaknya 21 korban yang ditemukan Verlin dan Zeki semuanya ada di kota dan sudah dicatat lokasinya, maka dari situ kita mulai mencari korban lainnya!" jawab Felix.
Mereka kembali ke Mundclariss dan mulai ke toserba untuk membeli buku catatan dan pulpen untuk mencatat informasi dari Verlin dan Zeki itu. Setelah itu mereka mulai berpencar mencari. Cain tidak bisa melarang karena saat ini Kiana lah yang menjadi prioritasnya, "Bukan hari ini kan?" tanya Cain pada Felix.
"Karena kita tumbuh besar bersama jadi perubahan tinggi tidak kita sadari ... tapi menurutku belum sekarang!" jawab Felix.
"Menurutku mereka masih perlu lebih tinggi lagi dari ini ...." kata Cain dengan nada bercanda.
Felix menyadari bahwa Cain hanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa masa depan yang dilihatnya itu belum terjadi saat ini.
"Iya ya! bahkan baju yang mereka pakai belum pernah aku lihat sebelumnya!" kata Cain.
Sangatlah dilema rasanya bagi Felix dan Cain yang tidak berhenti mengkhawatirkan Tan, Teo dan Tom. Karena disisi lain muncul hal baru untuk dikhawatirkan. Kiana yang ditemukan di tempat sampah saat masih dipenuhi darah baru saja lahir saat itu. Tidaklah pantas menjadi salah satu korban permainan. Kiana berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan berumur panjang.
Bagi Felix, Kiana adalah sosok istimewa dibanding anak lainnya. Alger dulu yang selalu menyimpankan cemilan untuknya di panti asuhannya yang dulu, kali ini di panti asuhan sekarang Kiana malah sebaliknya yang selalu diam-diam mengambil cemilan di tasnya.
Awalnya sangat menyebalkan bagi Felix tapi lama kelamaan malah ia sendiri yang sengaja membeli cemilan untuk disimpan ditasnya agar diambil Kiana.
Lain lagi bagi Cain dan Tiga Kembar yang punya kenangan lebih banyak lagi dari Felix. Mereka bertigalah yang menemukannya di tempat sampah saat masih di taman kanak-kanak dulu. Bagi Felix yang baru kenal lebih dari satu tahun saja itu tidak rela rasanya harus melepas Kiana apalagi bagi Cain dan Tiga Kembar.
Ada Efrain yang menjadi salah satu kemungkinan yang akan membunuh Tan, Teo dan Tom di masa depan tapi Cain meyakinkan dirinya bahwa masih bukan hari ini. Karena hari ini mereka harus menyelamatkan Kiana terlebih dahulu.
Mereka berlima masing-masing sudah sampai di ujung lokasi terakhir para calon korban sesuai informasi yang dikumpulkan Verlin dan Zeki. Mereka mulai lagi mengikuti kemana arah benang merah itu berada.
Felix berhenti di sebuah Rumah Sakit, walau benang merah itu masih terlihat menuju tempat lain tapi jelas jika ada satu korban di Rumah Sakit itu. Jam kunjungan sudah habis jadi Felix diam-diam menghindari Perawat atau Petugas lainnya yang sedang berjaga untuk mencari siapa pemilik benang merah itu. Felix berhenti di kamar 730, dilihatnya nama pasien di samping pintu masuk tapi hanya ada satu pasien disana.
Dibukanya pintu kamar pasien dan perlahan Felix mengintip. Pasien yang dilihatnya adalah seorang Nenek yang berusia sekitar 70 tahun, "Harusnya Nenek itu masih memiliki umur yang panjang tapi tanpa sengaja ikut dalam permainan yang tidak diketahuinya!" kata Felix dalam hati.
Setelah mencatat nama dan lokasi Nenek itu, Felix mulai berjalan mencari korban selanjutnya. Benang merah itu seperti tidak ada habisnya, "Menghalangi pandangan ke langit saja!" gerutu seseorang.
"Siapa itu?!" Felix mencari asal suara itu tapi tidak menemukannya dimanapun. Sangat jelas jika yang berbicara tadi bisa melihat benang merah itu juga, "Tapi siapa? bukankah yang bisa melihat hanyalah yang pernah ke Mundebirs?!"
Matahari mulai datang menyapa dan malam mulai berpamitan. Mereka berlima tidak pernah tidur karena mencatat lokasi tempat calon korban Permainan Tukar Kematian itu. Tapi tidak sia-sia, berkat mereka yang berpencar akhirnya tidak ditemukan lagi benang merah yang melayang-layang di atas atap rumah setelah korban terakhir ditemukan.
Tiga Kembar dan Cain bertemu di depan pintu gerbang sekolah dan saling berbagi informasi. Tak lama Felix juga datang dengan meminum susu kotak.
"Bagaimana?" tanya Teo dan Tom bersamaan mengharapkan Felix juga sudah berhasil sampai ke benang merah terakhir.
"Masih ada!" sahut Felix mulai membuang susu kotaknya yang sudah kosong ke tempat sampah.
"Apa?!" Teo dan Tom tidak percaya orang seperfeksionis Felix gagal sampai di benang terakhir.
"Benangnya menuju desa terpencil!" kata Felix.
"Oooh!" Teo dan Tom salah paham.
"Sehabis sekolah baru kita berangkat bersama ke lokasi Benang terkahir itu!" kata Tan.
Masuk ke dalam kelas dan mulai menggambar lokasi para pemain dan mulai dihubungkan dengan garis merah. Total Pemain Permainan Tukar Kematian adalah 100 pemain, jika yang dimaksud Felix di Desa Terpencil itu benar pemain terakhir.
"Berarti akan ada 50 korban!" kata Teo berhenti menggambar.
"Yang perlu kita pikirkan hanyalah membuat Kiana tidak menjadi salah satu diantara 50 itu!" kata Felix.
Mungkin terkesan egois tapi yang dikatakan Felix lamgsung disetujui Cain, Tan, Teo dan Tom.
...-BERSAMBUNG-...