UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.420 - Berakhirnya Gangguan



Demelza bahkan merebut kuda yang dikendarai oleh Zewhit Badut. Untuk pertama kalinya Zewhit Badut memasang wajah cemberut seperti anak kecil yang mainannya barusaja diambil.


Disisi lainnya juga sama, Zewhit Kurcaci tidak percaya kalau boneka salju yang merupakan ciptaan kebanggaannya dengan tekad kuat untuk bertahan hidup itu meleleh disaat masih berjuang terus maju melangkah.


Zewhit Badut dan Kurcaci menatap dengan tatapan melotot. Zewhit Badut menyeringai sampai merobek mulutnya sendiri, kini mulutnya menjadi selebar wajahnya bahkan sudah sampai ke belakang kepalanya. Sedangkan mata Zewhit Kurcaci terlihat sudah mau keluar karena terus dibuat membesar dan seperti akan meledak.


"Auuuh, apa hanya aku yang melihat itu?!" kata Teo menutup matanya tidak tahan melihat Zewhit Kurcaci terus mengeluarkan air mata darah dengan mata sudah lebih besar dari wajah Zewhit Kurcaci sendiri.


"Kau tidak berhalusinasi, aku juga melihatnya!" kata Osvald terus mengalihkan pandangannya karena tidak kuat melihat itu.


"Dengan mulut selebar itu, dia bisa makan dengan mangkuk bahkan dengan nampan nya sekaligus ...." kata Tom.


"Bisa-bisanya kau bercanda disaat seperti ini ...." kata Demelza yang daritadi menahan dirinya agar tidak muntah. Sementara penampilan Zewhit Badut terus terlihat menyeramkan. Saat ini giginya membesar dan dari gusinya keluar darah.


"Anggap saja dia murah senyum, siapa lagi yang akan memberikan senyuman selebar itu kalau bukan dia." kata Tan.


"Bahkan kau juga!" kata Demelza kesal pada Tan dan sudah tidak bisa menahan mualnya dan muntah saat itu juga.


Tanah mulai bergetar, ikut mempengaruhi juga pertarungan Felix, Zeki dan Verlin saat itu. Dari dalam tanah muncul wahana permainan yang sudah berkarat. Demelza yang masih dalam keadaan seperti mabuk kendaraan itu tidak punya pilihan lain selain harus kembali fokus.


"Aku sudah membuatnya marah, pasti saat ini dia akan menyerang dengan habis-habisan ...." kata Demelza dalam hati.


Zewhit Kurcaci mengubah apa yang dipijaki oleh mereka berlima menjadi es kemudian dihancurkan. Tentunya mereka semua langsung terjatuh masuk ke dalam air es itu.


"Tunggu, kenapa tidak dingin?!" tanya Tom heran tapi saat melihat Osvald, Tom sadar apa yang sedang terjadi, "Bagaimana kau melakukannya?! mustahil!"


"Tidaklah mustahil, dia hanya membuat otak kita tidak merespon dingin ... tapi yang jadi pertanyaan bagaiamana dia mengakses pikiran kita semua?!" kata Tan.


"Makanya aku bilang mustahil ...." kata Tom kesal karena tentunya dia juga sudah memikirkan itu sebelum berbicara tidak seperti Teo yang biasanya berbicara dulu baru berpikir.


Zewhit Badut merubah tempat mereka berlima yang seperti kolam itu menjadi bagian dari permainan Whac a mole. Dimana muncul banyak lubang lainnya dan juga tikus tanah yang terus berpindah-pindah. Zewhit Badut mulai memegang sebuah palu besar yang tentunya bukan palu yang biasanya dipakai untuk permainan itu melainkan palu besi besar.


"Kita harus segera keluar!" kata Teo mulai panik melihat palu besar Zewhit Badut.


Tapi masalahnya adalah bagaimanapun mereka mencoba keluar dari kolam itu tidak pernah bisa. Sekeliling pinggir kolam sangat licin dan rapuh. Saat mereka naik akan terpeleset jatuh kembali atau es sekitar kolam hancur dan itu membuat kolam menjadi lebih luas lagi.


"Osvald!" teriak Teo.


"Jangan ganggu dia! bersyukur saja kita tidak merasakan dingin saat ini ...." kata Tom.


"Hanya karena kita tidak merasakan dingin bukan berarti tubuh kita baik-baik saja. Kita hanya tidak merasakannya tapi dampaknya pada tubuh akan tetap terjadi. Itulah mengapa sensor suhu pada kulit adalah alarm yang sangat penting agar kita segera menghindari dingin atau melakukan sesuatu untuk melindungi diri. Karena kalau kita tidak punya itu, kita akan mati tanpa tahu apa-apa." kata Tan.


Zewhit Badut datang memukul tikus tanah yang muncul. Untungnya bukan di lubang yang ada mereka didalamnya. Tapi melihat kerusakan yang terjadi setelah dihantam palu Zewhit Badut, semuanya kecuali Osvald yang sedang berkonsentrasi mencoba untuk keluar dari kolam itu apapun yang terjadi. Kolam mereka semakin melebar dan memperbanyak volume air yang ada.


"Mati kita!" kata Tom.


Tikus tanah yang lucu muncul di dalam kolam mereka dengan membuat suara menyebalkan.


Teo berenang cepat menutup mulut tikus tanah itu. Sedangkan Tom datang menenggelamkannya, "Kau pikir itu cukup?!" kata Tom yang meledek Teo hanya membungkam mulut tikus tanah itu saja. Sementara tikus tanah itu berontak dan terus mengeluarkan gelembung di dalam air.


"Eh?!" tikus tanah yang dipegang oleh Tom menghilang dan muncul di lubang lainnya, "Hahh ...." semuanya bisa bernapas lega hingga pada akhirnya bukan hanya satu tikus tanah tapi sudah ada puluhan.


Perkataan adalah doa, seperti yang baru saja dikatakan Tan terjadi juga. Semua puluhan tikus tanah muncul di dalam kolam mereka. Zewhit Badut berlari dengan riang dengan palu besarnya.


Tom memunculkan Sesemax tapi langsung terjatuh masuk ke dalam air karena tangannya tidak bisa menggenggam Sesemax. Benar yang dikatakan Tan, mereka hanyalah tidak merasakan dingin tapi tubuh mereka tetap terkena dampaknya. Tanpa senjata mereka akan diserang oleh palu besar.


Disaat Tiga Kembar sedang berteriak kebingungan bagaimana menghadapi palu besar itu, Demelza berteriak lebih kencang lagi seperti suara lumba-lumba memekakkan telinga dan bersamaan dengan itu muncul sarung tinju besi besar dari dalam kolam tempatnya berada melawan palu besi besar Zewhit Badut.


Tentunya Zewhit Badut kalah telak dan terlempar. Mesin permainan besar yang dibuat dengan desain es itu kemudian perlahan retak dan hancur berkat Osvald yang daritadi fokus berpikir sementara Demelza melakukan serangan balik mendadak. Akhirnya mereka bisa terbebas dari permainan itu terlebih dari kolam es yang dingin itu.


"Mereka jadi lebih berguna daripada kita ...." kata Teo tertawa kecil.


"Ini sebenarnya memang pertarungan mereka." kata Tom.


Selanjutnya serangan demi serangan terus datang dari kedua Zewhit itu tanpa jeda. Tapi Osvald dan Demelza berhasil bertahan walaupun tidak ada kesempatan untuk menyerang. Osvald yang sudah lihai menggunakan es dan salju yang menyiksanya selama ini menjadi kekuatannya untuk melawan Zewhit Kurcaci.


Demelza menggunakan segala macam jenis wahana permainan yang sudah menjadi tempatnya berkeliling selama enam malam untuk melawan Zewhit Badut. Tiga Kembar hanya membantu jika ada yang terlewat oleh pengawasan mereka berdua atau mereka dalam bahaya.


Mustahil jika Osvald dan Demelza tidak terluka selama bertarung melawan Kedua Zewhit itu tapi tidak mustahil jika ada Tiga Kembar yang melindungi. Osvald dan Demelza hanya perlu terus memikirkan cara bertahan, tidak perlu memikirkan bahaya karena ada yang melindungi.


Semua itu berlangsung lama dan tidak ada habisnya. Cara Osvald dan Demelza bertahan adalah menggunakan pikiran tapi tentunya pikiran bisa lelah dan itu sangat mempengaruhi keadaan fisik. Mereka berdua sudah lelah berpikir dan itu membuat tubuh mereka juga merespon untuk diistirahatkan.


"Sepertinya ini tidak akan ada habisnya, mereka sudah terlihat seimbang tapi tetap saja tidak berpengaruh apa-apa. Mereka tidak akan menang tapi juga tidak akan kalah ... apa yang harus dilakukan untuk menghentikan semua ini ...." kata Tan dalam hati.


Demelza yang tadinya terus melawan dengan memunculkan wahana permainan dan menggunakan itu sebagai senjatanya. Kali ini memunculkan sesuatu yang berbeda.


"Itu ... rumah?!" tanya Teo melihat rumah mewah besar muncul.


"Rumahku ... kalian tidak tahu ya?! rumahku bisa sangat menyeramkan ... dan terkadang bisa berubah menjadi monster." kata Demelza membuat rumahnya itu berubah hidup, dimulai dengan munculnya wajah kemudian tangan dan kaki.


Osvald bukannya memunculkan sesuatu seperti Demelza melainkan berjalan menuju Zewhit Kurcaci berada.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Tom.


"Tidak, kita lihat saja dulu!" kata Tan menahan Tom untuk mendekati Osvald.


Serangan demi serangan dari Zewhit Kurcaci, tapi Osvald bisa melawan balik dan terus melangkah maju.


Monster rumah Demelza itu maju bertarung dengan patung robot mainan Zewhit Badut yang biasanya patung itu berada di tengah-tengah taman hiburan dekat kolam air mancur.


Entah bagaimana tapi terlihat Osvald dan Demelza lebih unggul dengan menggunakan cara yang berbeda dari sebelumnya yang selalu meniru Zewhit Kurcaci atau Zewhit Badut. Osvald semakin dekat dengan Zewhit Kurcaci dan Demelza sudah menghancurkan lengan dan kaki patung robot Zewhit Badut tinggal satu pukulan dan itu akan menjadi kemenangan Demelza.


"Apa yang ...." Tan, Teo dan Tom melongo melihat apa yang dilihatnya.


Osvald terlihat memunculkan selimut dan menyelimuti Zewhit Kurcaci, "Selama ini kau selalu melakukan sesuatu dari jarak jauh, jarang muncul ... karena kelemahanmu adalah ini ... kau tidak terbiasa saat ada yang datang mendekatimu, karena memang tidak pernah ada yang melakukan itu ... kesepian bukanlah sesuatu yang memalukan ... terkadang kitalah yang harus mendekati orang lain agar tidak kesepian bukannya menunggu didatangi, walau terkadang ada yang menyakiti tapi ada juga yang akan merangkulmu seperti aku saat ini ...." Osvald memeluk Zewhit Kurcaci yang perlahan berubah menjadi anak kecil normal.


Monster Rumah Demelza berubah menjadi rumah normal lagi dan pintunya langsung terbuka, "Kau mau masuk ke rumahku?!" tanya Demelza dengan suara serak, "Walau aku membencinya karena selalu sendirian tapi tetap saja itu adalah rumahku seperti kau membenci taman bermain yang ramai tapi kau selalu saja merasa sendiri dikeramaian itu, tapi bagaimanapun juga juga rumah adalah rumah ...." lanjutnya dengan terisak.


Felix melihat itu, "Sepertinya sudah mau berakhir ...."


...-BERSAMBUNG-...