
"Siapa bilang gagal?" Anak laki-laki yang trauma akan api itu kini melangkahkan kaki masuk kedalam panti asuhan yang dipenuhi kobaran api itu.
"Felix?!" teriak Cain.
Cain yang tadinya ragu melukai Iblis tadi tapi tidak ragu sedikitpun mengikuti Felix masuk dengan sengaja ke dalam tempat yang dari luar saja sudah bisa diraskan panasnya.
"Leaure memang seperti itu Tuan Muda! tidak berani melukai seseorang karena mereka ditakdirkan menjadi pelindung ...." kata Goldwin yang langsung berteleportasi kesamping Felix yang sedang berusaha membuka pintu.
"Kau dan Leauremu! aku sudah muak mendengarnya ... tanpa gelar itupun Cain memang orang seperti itu! aku memarahinya begitu karena takut saat bertarung melawan seseorang dia juga akan seperti itu ... takut melukai dalam pertarungan sama saja dengan bunuh diri!" kata Felix yang berhasil membuka pintu sebuah ruangan.
"Jadi intinya, Tuan Muda juga hanya khawatir ...." kata Goldwin tersenyum miring, "Hahh ... aku tidak bisa mengerti dengan mereka berdua ...." Goldwin dalam hati sambil menghela napas panjang.
Anak-anak yang ada di dalam langsung berlarian keluar. Air yang keluar dari fire sprinkler tidak terlalu membantu karena seharusnya menyala saat mulai dideteksi asap tapi entah bagaimana iblis itu melakukannya, sehingga langsung saja api besar yang menyala seperti api itu hidup dan tahu betul bagaimana menghancurkan sebuah gedung dengan cepat.
Cain juga membantu anak panti lainnya untuk segera keluar tapi tangannya terluka membuat Goldwin langsung berteleportasi dari tempat Felix ke tempat Cain, "Sini tanganmu?!" perintah Goldwin.
Goldwin meniup tangan Cain dan langsung sembuh dalam sekejap mata, "Bersyukurlah karena kau Leaure!" kata Goldwin.
"Iya terimakasih banyak Tuan Penyembuh!" kata Cain bercanda tapi dalam hatinya memang sangat bersyukur karena adalah seorang Leaure. Semua Unimaris Leaure dikaruniai oleh bakat penyembuh untuk melindungi rekan Viviandemnya.
"Kau terkena apa sampai terluka parah begitu tadi?" tanya Goldwin.
Cain menunjuk lemari besi tapi malah membuat Goldwin heran, "Harusnya lukamu lebih parah lagi jika terkena itu!"
"Kau sedang menyumpahiku?!" kata Cain.
"Lukamu terbilang tidak seberapa jika terkena itu!" kata Goldwin.
"Tadi siapa yang bilang kalau aku ini terluka parah?!" Cain mengomel sendiri.
Mobil pemadam kebakaran baru datang setelah Felix dan Cain berhasil menolong semua penghuni panti keluar dan menghilang saat dicari untuk diberi ucapan terimakasih. Banyak yang terluka parah tapi tidak sampai mengancam jiwa karena langsung ditolong.
"Sini saya sembuhkan luka Tuan Muda!" kata Goldwin.
"Tidak, tidak perlu!" kata Felix.
"Cepat perlihatkan pada Goldwin, semua luka luar bisa cepat ia sembuhkan!" kata Cain mengira Felix sedang gengsi meminta bantuan.
"Tidak perlu! aku tidak punya luka sama sekali!" kata Felix.
"Bagaimana bisa tidak ada luka sama sekali?!" Cain tidak percaya, "Tadi itu seperti kita sedang sengaja memasuki tempat untuk melukai diri sendiri!" sambungnya.
"Memang tidak ada!" Felix menggulung lengan baju dan celananya untuk memperlihatkan agar Cain percaya.
Dilihat dari luar memang Felix seperti terluka parah karena pakaiannya banyak yang terkena api dan robek tapi ternyata tidak.
"Apa kau punya kekuatan kebal terhadap api atau ... terkena panas begitu?" tanya Cain.
"Ayo kita kejar!" kata Goldwin.
Tapi Cain malah melangkah mundur dan pergi ke arah berlawanan, "Kau tidak perlu merasa bersalah! kebanyakan memang semua misi pertama Leaure selalu gagal ... kau bukan satu-satunya!" Goldwin mencoba menghibur, "Yang patut disalahkan adalah peraturan dari kerajaan Leaure yang mengharuskan Leaure untuk melakukan misi resmi pertama tanpa bantuan Unimaris ... jika saja ada aku pasti kau tidak akan gagal!" lanjut Goldwin.
"Saat tadi kau datang menunjukkan undangan misi resmi pertama dan itu ada dekat dari sekolah ... sebenarnya aku sangat peraya diri bisa sukses ... beginilah, semuanya karena kesombonganku ...." kata Cain mulai duduk di depan toserba.
"Bukan karena kau begitu percaya diri dan mulai sombong tapi karena kau sudah berusaha berlatih keras dan memang sungguh berusaha keras untuk menolong ... bukannya hanya untuk sekedar menyelesaikan misi saja!" kata Goldwin.
"Jika aku tidak ragu tadi, pasti Alexavier itu tidak akan menghilang!" Cain tidur diatas meja dengan tangan terlipat sebagai bantal.
"Aku tidak menyalahkanmu dan kau juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri ... Leaure adalah simbol pelindung, sulit memang jika dihadapkan pada misi seperti ini!" kata Goldwin yang duduk diatas meja dan menepuk-nepuk rambut Cain.
"Kau ingin mengatakan kalau kau itu memihakku begitu?!" kata Cain mulai bangun.
"Aku memang dan akan selalu dipihakmu! kalau disuruh memilih antara kau dan Tuan Muda Felix, aku akan memilihmu!" kata Goldwin.
"Padahal Leaure sangat menghormati Alexavier karena tugasnya yang mulia ...." kata Cain merasa bersalah.
"Walau begitu kita harus memprioritaskan nyawa orang yang hidup! sangat disayangkan Alexavier itu menghilang tapi yang perlu disyukuri adalah tidak adanya korban jiwa ... sebenarnya bisa dikatakan kalau misi pertamamu ini berhasil!" kata Goldwin.
Suara handphone dari seseorang yang duduk di meja sebelah mendengar berita tentang kebakaran panti asuhan tadi, "Dilihat dari seragamnya, mereka berdua adalah siswa Gallagher ... kami berterimakasih sekali dengan bantuan mereka yang membukakan pintu yang tiba-tiba saja semua pintu langsung tertutup dan tidak bisa dibuka saat kebakaran terjadi! sekali lagi terimakasih sudah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kami ... sampai kapanpun, kami akan hidup dengan terus berterimakasih!"
"Kau dengar itu?" Goldwin menendang-nendang tangan Cain mendengar ucapan terimakasih dari anak panti yang sudah diselamatkan Cain tadi.
"Kebakaran panti asuhan yang terjadi siang hari dan tidak diketahui penyebab jelasnya masih diselidiki oleh petugas yang berwenang. Beruntungnya tidak ada korban jiwa berkat bantuan dari dua siswa sekolah Gallagher. Dari informasi yang didapatkan bahwa memang ada dua siswa yang sedang tidak ada di sekolah saat kejadian itu terjadi. Siswa itu bernama Felix Fane Farrel dan Cain Vale Wilmer. Terimakasih kepada kedua pahlawan cilik!" kata pembawa acara berita.
"Felix akan menuntut pembawa berita itu!" Cain mulai tersenyum.
"Kenapa? harusnya malah senang kan?" tanya Goldwin.
"Felix paling tidak suka hal seperti itu!" jawab Cain dengan tawa kecil membuat Goldwin akhirnya merasa lega.
Felix tidak pulang ke rumah Daisy maupun pulang ke panti, begitupun Cain. Mereka berdua dicari-cari oleh Bu Corliss dan Daisy karena mendengar berita di tv menyebut nama mereka. Takut jika terjadi apa-apa dan mereka takut pulang karena terluka, baik itu Felix dan Cain langsung mengabari bahwa baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan juga tidak perlu dicari.
Cain memang harus langsung merenungi kesalahan karena misi gagal. Sudah peraturan mutlak bagi seorang Leaure tapi Felix juga tidak bisa kembali tanpa Cain, jadi ikut tinggal di Mundebris tanpa sepengetahuan Cain.
"Tuan Muda seharusnya kembali ke Mundclariss saja untuk istirahat!" kata Goldwin lewat pikiran.
"Hebat juga kau bisa merasakan auraku bahkan dengan jarak yang jauh begini ... juga bisa masuk sendiri dan berbicara lewat pikiran begini denganku ... jangan katakan pada Cain bahwa aku juga sedang di Mundebris!" kata Felix yang sedang berada di dalam Istana Emerald.
"Bulan purnama! mana mungkin saya tidak tahu, Tuan Muda padahal sedang ada di perpustakaan langit ... bahkan tanpa itupun Cain sudah bisa membedakan aura padahal tidak bisa melihat aura itu sendiri. Tuan Muda tidak bisa membodohi Cain lagi!" kata Goldwin.
"Padahal aku ingin memujimu ... tapi kau malah memuji Cain, dasar!" Felix berdecak kesal.
...-BERSAMBUNG-...